Sempat Diremehkan di Negeri Sendiri, Dua Pemuda Sumatra Bikin Mesin Potong Rumput Ramah Lingkugan
Mesin potong rumput berteknologi robotika Kilatsoon buatan mahasiswa ITB sempat diremehkan pejabat karena diramal akan kalah oleh produk China.
Penulis Awla Rajul9 Januari 2026
BandungBergerak.id – Sejak awal perkenalan, dua mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB) Rafif Reinhart Al Aflah dan Muhammad Fiqi Al Farisi Sitepu memiliki visi yang sama: mendirikan perusahaan otomasi dan Internet of Things (IoT) berbasis teknologi hijau dengan fokus pada pengembangan robotika. Dari kesamaan gagasan itu, mereka kemudian mendirikan perusahaan rintisan bernama Kilatsoon.
Rafif dan Fiqi sama-sama berusia 20 tahun. Rafif berasal dari jurusan Teknik Elektro, sementara Fiqi—yang akrab disapa Alfa—menempuh studi Teknik Mesin. Mereka mengembangkan mesin pemotong rumput listrik hemat energi dan rendah emisi yang dapat dikendalikan jarak jauh.
Robot pemotong rumput berkelir merah ini memiliki tinggi sekitar 30 cm, lebar 75 cm, panjang 100 cm. Empat roda kekar dipasang, yang mampu berjalan di medan dengan kemiringan maksimal 30 derajat. Tiga saklar di bagian belakang, lampu, kamera pengawas, serta logo Kilatsoon di bagian depan melengkapi penampilannya. Tak lupa, terpasang pula panel surya yang otomatis mengisi daya ketika disinari matahari.
Purwarupa teranyar yang mereka kembangkan ini dapat dikontrol dari radius 400 meter menggunakan remot. Sementara panel surya yang terpasang menopang energi sebanyak 30 persen dari total keseluruhan daya. Kapasitas baterai yang tertanam bisa beroperasi maksimal selama satu jam. Dengan asumsi itu, 45 menit berasal dari energi listrik yang tersimpan di dalam baterai melalui pengecesan, dan 15 menit ditopang energi dari panel surya.
“Di sini kami sudah ngembangin lagi dari segi desainnya, panel surya sudah kami tambah. Dan untuk torsi bahkan untuk medan yang dilalui itu sudah lebih cukup agile untuk berbagai kontur, walaupun ada beberapa kontur yang masih belum bisa. Cuma dari yang awal ini sudah cukup banyak perkembangan,” demikian Rafif membuka cerita, pendiri dan Chief Technology Officer (CTO) Kilatsoon, ketika ditemui BandungBergerak di Cisitu, kawasan Dago, Minggu, 7 Desember 2025.
Kilatsoon mengklaim robot pemotong rumput berbasis elektrik mereka rendah emisi. Mesin pemotong rumput konvensional – yang digendong bertenaga bensin – menghasilkan 1,5 kg karbon dioksida per jamnya. Sementara robot mereka hanya menghasilkan sekitar 0,3 kg per jam. Emisi yang dikeluarkan itu pun bukan secara langsung dihasilkan dari mesin mereka.
“Itu bukan berarti kita menghasilkan karbon dioksida. Tapi itu adalah pemakaian listrik yang diasumsikan masih menggunakan pembangkit tenaga batu bara. Jadi asumsinya ngecas baterai dan aliran listriknya dari PLTU gitu,” sambung Alfa, pendiri dan Chief Executive Officer (CEO) Kilatsoon.
Selain itu, robot pemotong rumput Kilatsoon juga diklaim minim kebisingan. Mesin pemotong rumput biasa menghasilkan kebisingan sekitar 80 desibel dari motor. Sedangkan robot mereka hanya mengeluarkan “kebisingan” sekitar 30-40 desibel. Suara yang dihasilkan pun bukan berasal dari motor, tapi gesekan antara bilah pisau dengan rumput.
Keduanya menyebutkan, robot pemotong rumput yang mereka kembangkan lebih efisien dan minim kecelakaan kerja. Aktivitas memotong rumput bisa dilakukan di malam hari, dibantu fitur penerangan dan kamera pengawas. Operator dapat terhindar dari kecelakaan kerja, karena berada jauh dari mesin pemotong. Sehingga risiko kena bilah pisau, batu yang terpental, ancaman hewan liar dari balik semak-semak, dan lainnya dapat dihilangkan.
“Jadi kami substitusi dengan pakai remote control, kita enggak perlu langsung megang alatnya. Jadi dikendalikan dari jarak jauh. Sehingga untuk (kerja) perawatan itu bisa meminimalisasi risiko kecelakaan bahkan risiko lainnya,” kata Rafif memperkenalkan kelebihan purwarupanya.
Membangun Tim Lomba Perusahaan
Alfa bermimpi membangun perusahaan. Maka salah satu kebutuhan untuk mencapai tujuan ini adalah menemukan partner yang punya kesamaan visi. Di lain sisi, Rafif, sama sekali tidak tahu-menahu soal perusahaan, apalagi bisnis. Satu hal yang pasti, ia sangat tertarik dengan robotika dan IoT.
Rafif kenal dengan Alfa setelah dikenalkan oleh kawan SMA-nya – sesama mahasiswa asal Sumatera Barat yang berkuliah di ITB. Dari perkenalan pertama, Alfa sudah menyampaikan visi dan mimpinya. Mendirikan perusahaan, setidaknya untuk diri sendiri, bisa menjadi pohon yang meninggalkan buah warisan di masa depan. Adapun faktor eksternalnya adalah potensi sumber daya alam dan luas lahan Indonesia. Potensi yang sayangnya belum diimbangi dengan penguasaan teknologi dan hilirisasi.
“Dari detik awal kita bertemu memang diniatkan ini untuk membangun perusahaan, bukan ngebangun tim lomba atau ngebangun relasi aja,” kata Alfa percaya diri, mahasiswa asal Sumatera Utara.
Rafif tertarik dengan visi Alfa bahwa bidang robotika bisa berguna untuk banyak orang jika produknya dipasarkan. Ditambah akan menjadi potensi pemasukan finansial jika menjadi bisnis. Setelah memiliki kesamaan pandangan, Rafif dan Alfa lantas klik! dan sepakat mendirikan Kilatsoon.
Nama Kilatsoon terdiri dari dua bahasa, yaitu kilat (bahasa) dan soon (Inggris). Masing-masing berarti cahaya/kecepatan dan segera. Sementara jika digabung, Kilatsoon adalah bahasa Cina yang berarti kesempurnaan – harapan pendiri. Perusahaan rintisan ini dibentuk tahun 2024, ketika keduanya masih duduk di bangku semester 3. Per Agustus 2025, mereka resmi mendaftarkan Kilatsoon sebagai badan usaha PT (Perseroan Terbatas).
Ide membuat dan mengembangkan robot pemotong rumput datang dari Alfa. Ia tumbuh dan dibesarkan dari orang tua yang bekerja di bidang perkebunan kelapa sawit. Ia cukup paham seluk-beluk bidang ini. Alfa merujuk data tahun 2024 yang menyatakan luas lahan kebun kelapa sawit Indonesia mencapai 960.000 hektare. Tapi sayangnya, Indonesia mengalami kerugian sekitar 105 trilliun rupiah per tahun karena tata kelola lahan yang buruk, salah satunya disebabkan hama.
“Hama itu kayak gulma, semak-semak, dan itu kalau enggak diberantas bakal menurunkan produktivitas tanaman sawit. Kalau di-break down setiap lima detik kita kehilangan 11,7 juta rupiah. Dengan unmanned vehicle yang kami kembangkan, harapannya itu kita dapat mengurangi risiko dari operatornya kelelahan dan bahkan ketemu sama ular atau kalajengking di lapangan,” kata Alfa antusias.
Rafif kemudian mempelajari ide ini. Ia membandingkan mesin pemotong rumput konvensional yang banyak digunakan di perkebunan-perkebunan. Mesin konvensional yang digendong, bertenaga BBM, dengan tongkat yang diayunkan ke rumput terbukti berisiko bagi pekerja. Risiko kecelakaan kerja ini menimbulkan biaya jika terjadi. Makanya, robot pemotong rumput yang mereka ciptakan perlu dihadirkan untuk mengurangi kecelakaan dan supaya kerja lebih efisien.
Secara jangka panjang, keduanya mencanangkan robot mereka akan sepenuhnya tanpa awak (fully autonomous). Dengan begini, kerja-kerja perawatan di perkebunan, lapangan, pertamanan, atau fasilitas lain bisa dilakukan efisien dan efektif.
Menang Lomba, Supaya Tidak Jadi Rongsokan
Alfa dan Rafif memulai Kilatsoon bukan sekadar untuk mengikuti lomba, melainkan dengan niat sungguh-sungguh membangun perusahaan sejak detik pertama mereka bertemu. Mereka memilih jalur deeptech (teknologi mendalam) meskipun sulit, karena mereka ingin membantu Indonesia dalam hal hilirisasi dan penguasaan teknologi. Dan terutama karena mereka masih muda.
Untuk mendanai riset awal, kedua pendiri berkomitmen melakukan bootstrapping atau menggunakan modal sendiri. Namun seiring berjalannya waktu, mereka sadar bahwa penelitian dan pengembangan robot mereka membutuhkan modal besar.
“Ngembangin teknologi itu enggak semudah ngembangin produk makanan. Kita bisa menghabiskan puluhan juta hanya untuk satu produk yang menjadi rongsokan di bengkel,” kata Alfa, berkaca dari perjalanan pengembangan purwarupa robot mereka.
Maka bermodalkan dana pribadi hingga mencapai purwarupa pertama, mereka mulai mengikuti berbagai program mentoring, perlombaan, dan inkubasi bisnis. Kilatsoon memenangkan berbagai macam penghargaan dan meraih berbagai kesempatan. Keuntungan yang didapat dari sini menjadi tambahan modal untuk pengembangan dan penelitian (research and development-RND), maupun modal pemasaran.
“Kami di bulan September baru balik dari Kota Nanning, Tiongkok. Kami alhamdulillah berhasil memenangkan kategori Best Creative Stars of The 3rd dari China-Asean Innovation and Entrepreneurship Competition 2025,” timpal Rafif.
Yang disebutkan itu merupakan salah satu penghargaan yang paling membanggakan bagi Alfa dan Rafif yang diraih Kilatsoon sepanjang 2025, selain meraih Juara 1 Talenta Wirausaha BSI Kategori Pemula 2025. Selain dua penghargaan ini, Kilatsoon telah meraih NUS Summerprogramme in Entrepreneurship 2025 di Singapura, Juara 2 Ideathon Spark Arc BNI Ventures 2025, Top 15 Finalis AKSARA Jawa Barat 2025, Top 7 Finalis Pertamuda Early-Stage Startup 2025, Top 15 Startup Kinetik-Nexus, Top 7 PLN ICE 2025 di Surabaya, dan Incubate of PMW ITB 2024-2025, DKST ITB, Bandung Technopark.
Masukan-masukan dari berbagai program yang mereka ikuti mengantarkan Kilatsoon pada purwarupa mutakhir, yang diklaim hampir siap ke tahap produksi massal. Kini mereka perlu meningkatkan kesiapan teknologi sebelum diproduksi secara massal dengan model bisnis small batch manufacture.
Dalam cetak biru teknologi yang mereka canangkan, Kilatsoon berkomitmen pada teknologi hijau yang ramah lingkungan dan rendah emisi. Sejauh ini mereka memilih energi dari panel surya karena dinilai paling efisien untuk robot mereka, paling murah, dan mudah bagi pengguna. Namun begitu, mereka tidak menutup kemungkinan untuk pilihan energi lain, selama ramah lingkungan, efisien, sesuai dengan teknologi, murah, dan mudah.
“Dari blueprint kami memang komit untuk membantu Indonesia mencapai net zero emission 2060. Sudah menjadi tekad,” kata Alfa. “Tapi kami tidak menjamin di scope 2 dan 3, itu di luar kontrol kami. Satu hal yang pasti, selama itu bagian dari tanggung jawab kami (scope 1), kami akan berusaha menggunakan teknologi hijau.”
Kilatsoon merencanakan punya tiga produk, yaitu robot Sigap (level 1), robot Senyap (level 2), dan robot Sergap (level 3). Robot Sigap diperuntukkan bagi medan yang cenderung landai, seperti lapangan bola, golf, dan taman. Robot Senyap diproyeksikan untuk medan yang lebih berat dan bervariasi. Robot level 2 ini akan diintegrasikan dengan rubber track, memiliki sistem gerak dari hidrolik yang bisa mengukur otomatis ketinggian permukaan dan panjang rumput, serta sepenuhnya dapat dikendalikan jarak jauh menggunakan handphone.
“Jadi user atau operator hanya bertugas menggambar peta yang mau dipangkas rumputnya, tekan tombol, dia bakal beroperasi secara mandiri, bahkan enggak perlu kita kontrol lagi. Kita hanya perlu memonitor dari layar HP,” kata Rafif.
Sementara robot Sergap, memiliki fitur yang sama dengan Senyap. Bedanya, robot level 3 ini dilengkapi fitur yang diperuntukkan bagi kebutuhan masing-masing pengguna yang berbeda-beda. Misal, memiliki lengan eskavator atau leaf blower. Secara jangka panjang, Kilatsoon hendak menyediakan robot yang bisa mengakomodosi kebutuhan setiap pengguna.
“Untuk Sergap kita desain modular. Artiya modul-modul itu bisa disesuaikan tergantung dengan kebutuhan user. Sehingga robot itu tidak hanya mampu memotong rumput saja, tapi bisa disesuaikan, bahkan untuk mengutip buah, atau diintegrasikan dengan leaf blower untuk pembersihan,” sambung Alfa.
Baca Juga: Panel Surya Bukan Sekadar Estetika Kota
Mengenal Inovasi Sepeda Tenaga Surya Buatan Unpad

Menjawab Tantangan Yang Meremehkan
Mimpi Alfa dan Rafif melalui Kilatsoon adalah menghadirkan solusi inovatif di bidang IoT dengan teknologi hijau. Keduanya membangun perusahaan rintisan perangkat keras karena diklasifikasikan sebagai teknologi mendalam (deep tech). Pilihan ini pun diakui sebagai jalan yang sulit. Namun mereka tetap memilihnya, karena masih muda. Maka membangunnya lebih awal adalah langkah tepat.
Kilatsoon mengembangkan purwarupa robot mereka dari kosan dan sebuah workshop di kawasan Jatayu. Bukan mudah jalan yang mereka tempuh. Salah satu yang mereka hadapi adalah terbatasnya produsen bahan baku yang berbasis otomasi dari dalam negeri. Sehingga mereka perlu mengimpor dari China.
Mengadopsi teknologi macam ini bukannya tanpa tantangan. Kilatsoon pernah diremehkan oleh pejabat teras pemerintahan, ketika booth mereka dikunjungi di salah satu kegiatan. Secara terbuka, pejabat ini mengatakan bahwa upaya Kilatsoon sia-sia. Pada waktunya akan kalah dengan produk-produk China yang harganya lebih murah dan teknologinya lebih mutakhir.
Kata-kata yang meremehkan itu ditelan dalam-dalam oleh dua pemuda pendiri Kilatsoon. Mereka kecewa, alih-alih memberikan semangat dan mendukung, pemerintah sendiri malah memadamkan semangat mereka. Kenyataan pahit yang didapatkan di negara sendiri saat produk mereka justru mendapatkan penghargaan dari China.
“Kami merasa cukup kecewa. Siapa pun yang meremehkan kami, Insya Allah kami bakal tetap jalan,” kata Alfa yakin. “Tolong kasih kami kesempatan untuk membuktikan diri kami. Dan it’s okay diremehkan, kita juga udah sering diremehkan. Tapi tolong kasih kami ruang untuk berbenah dan membuktikan diri kami.”
Kilatsoon mengunyah kata-kata meremehkan dari pejabat itu sebagai kayu bakar yang mengobarkan semangat mereka. Yang dilakukan perusahaan rintisan milik dua pemuda asal Sumatera ini adalah adopsi teknologi. Sebuah upaya yang dilakukan oleh China empat dekade lalu.
China mengadopsi teknologi dari berbagai negara. Mereka meniru, memodifikasi, mengembangkan, lalu memasarkan. China memang sempat dicap sebagai negara peniru bahkan penjiplak. Namun kini, China adalah negara paling berpengaruh di dunia dalam pengembangan teknologi. Dan persis jejak itulah yang tengah dilalui oleh Kilatsoon.
“Dulu China di-underestimate sebagai peniru. Tapi pemerintahnya percaya dengan kemampuan rakyatnya, pemerintahnya mensupport. Mereka terus bergerak, berlanjut, bahkan sekarang menjadi pemimpin dari inovasi. Karena memang inovasi itu tanpa adopsi teknologi enggak mungkin,” tegas Alfa.
Rafif juga menyatakan, bukan tidak mungkin penelitian dan pengembangan yang mereka lakukan akan menghasilkan inovasi baru. Makanya ia bertekad untuk menggali lebih dalam tentang sistem penggerak mereka. Sebab jika resep utamanya ditemukan, bukan isapan jempol, Kilatsoon bisa bergerak ke bidang otomotif, seperti sepeda motor dan mobil, atau menerbangkan roket ke luar angkasa.
“Kalau sistem penggeraknya ini memang kami masih adopsi impor. Karena kalau sistemnya kami udah punya, kita buat apapun bentuknya, mobil, motor pun bisa. Asal ada sistemnya. Jadi saya harap, kami dapat dipercaya untuk membuktikan diri,” kata Rafif menjawab tantangan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

