JEJAK PENA SEORANG TENTARA: Trisnoyuwono di Mata Anak, Teman, dan Karyanya
Trisnoyuwono, seorang dengan latar belakang kompleks. Ia tentara, jurnalis, dan sastrawan. Satu karyanya menggambarkan konflik batin di masa revolusi.
Ernawatie Sutarna
Ibu rumah tangga, peminat sejarah, anggota sejumlah komunitas sejarah di Bandung.
10 Januari 2026
BandungBergerak - Tidak banyak yang mengenal kiprah Trisnoyuwono sebagai seorang tentara. Namanya lebih dikenal sebagai seorang sastrawan dan jurnalis yang melahirkan banyak karya. Beberapa di antara karyanya meraih berbagai penghargaan. Di mata putra-putri dan keluarga Trisnoyuwono adalah sosok yang tegas.
“Bapak orangnya sangat keras, sangat disiplin. Ketika kami putra-putrinya ada janji dengan bapak pukul lima tepat, jika kami datang pukul lima lebih lima menit saja sudah pasti kami akan ditinggal,” ucap Sinta Trisnoyuwono.
“Bapak juga cuek, semau gue, tidak suka diatur-atur. Bapak lebih senang pakai celana pendek kalau pergi-pergi,” tambahnya lagi.
Dalam kenangan Sinta, ayahnya tak pernah terang-terangan memuji putra-putrinya walaupun mereka berprestasi. Akan berbeda jika sang tentara itu berbincang tentang putra-putrinya di depan kawan-kawannya. Dia pasti akan membanggakan putra-putrinya. Kedisiplinan Trisnoyuwono yang lain juga berupa ketelatenannya merawat mobil kesayangannya.
“Untuk urusan mobil, bapak tidak pernah sembarangan. Saat mencucinya saja harus benar-benar bersih. Bahkan semua ban mobil itu harus dilepasnya satu per satu, sampai benar-benar tidak tersisa kotoran yang menempel di mobilnya.”
Hal itu juga berlaku untuk anak-anaknya. Ketika mereka menggunakan mobil, maka ketika selesai mobil itu harus langsung dibersihkan, tak peduli jam berapa pun sampai ke rumah. Tidak ada alasan ngantuk atau lelah. Dengan begitu mobil akan lebih awet, ucap Trisnoyuwono pada anak-anaknya.
Bapak, Sosok yang Ngangenin
Tapi di balik sikap keras sang Ayah, Sinta mengungkapan bahwa sang ayah adalah figur yang sangat membuatnya rindu. Sinta cukup dekat dengan ayahnya. Banyak peristiwa yang ia lewatkan bersamanya, yang menjadi kenangan baik untuknya. Misalnya saja hukuman rendam atau jemur di atas genting yang mungkin nampak kejam, tapi meninggalkan kesan mendalam untuknya.
Di lain peristiwa, sebuah tamparan didapatkan Sinta pada acara pelantikan Resimen Mahasiswa pada tahun 1986. Sinta yang tidak menyangka akan mendapatkan tamparan, walau pelan, mundur karena kaget. Dan sikapnya itu malah melahirkan bonus satu seri push up dari ayahnya. Tapi tentu saja peristiwa itu diakhiri pelukan dan kecupan bangga dari Trisnoyuwono.
Menurut Sinta, semua kedisiplinan dan sikap tegas yang diterapkan ayahnya padanya membentuk karakter sebagai seorang perempuan yang kuat. Bapak, thank you for making me the tough and strong woman I am today, tulis Sinta pada laman media sosialnya tepat di hari ulang tahun Trisnoyuwono yang ke-98 tahun.
Ketika Trisnoyuwono sakit, Sinta sedang mengandung putra ketiganya. Usia kandungan Sinta saat itu sekitar tiga atau empat bulan. Suatu hari, giliran Sinta yang bertugas mengantarnya ke dokter. Di tempat praktik dokter itu terdapat beberapa anak tangga. Sang tentara sastrawan yang sedang lemah itu menolak untuk dipapah, tapi justru meminta Sinta menggendongnya. Kekuatan cinta anak pada ayahnya membuat Sinta mempunyai energi yang lebih besar untuk memenuhi permintaan ayahnya.
“Apa kata gua juga, lu kuat kan gendong gua?” ucap Trisnoyuwono pada putrinya itu.

Trisnoyuwono di Mata Us Tiarsa
Karir jurnalistik Trisnoyuwono di antaranya adalah menjadi seorang redaktur pada surat kabar Pikiran Rakyat. Pada saat itulah, di sekitar tahun 1970-an, Us Tiarsa mulai mengenal Trisnoyuwono sebagai senior di bidang tulis menulis dan jurnalistik. Sebelumnya di tahun 1960-an, Us Tiarsa sudah sering melihat aktivitas Trisnoyuwono.
“Waktu itu, saat SMA, Ua dan teman-teman sering berkumpul di rumah seorang teman sekolah di Gang Saad,” tutur Ua Us mengawali kisahnya saat penulis temui di kediamannya.
Di sebuah rumah di Gang Saad itulah Us muda sering melihat Trisnoyuwono melakukan aktivitas kepenulisannya. Jika Us dan teman-temannya sedang berkumpul, nampak Tris sedang sibuk dengan mesin tiknya. Kesan yang didapatkan oleh Us dan teman-temannya saat itu Tris adalah sosok yang cuek, tidak begitu ramah dan tak pernah bertegur sapa. Sahabat Us Tiarsa saat itu adalah adik dari Nunung yang kemudian menjadi istri Trisnoyuwono.
“Di tahun 1972, ketika saya sudah mulai aktif menulis di Pikiran Rakyat, saya mulai banyak berinteraksi dengan Mas Tris dan Suyatna Anirun yang mengasuh rubrik kebudayaan,” tambah Us Tiarsa.
Dan di tahun 1980-an, ketika sudah bergabung dengan Pikiran Rakyat, mereka tinggal di komplek perumahan yang sama, di Komplek Wartawan Baleendah. Saat itulah mulai ada interaksi yang cukup dekat antara Us Tiarsa dan Trisnoyuwono. Mas Tris — begitu Us Tiarsa menyebut Trisnoyuwono —sering mengajaknya berangkat bersama menuju kantor Pikiran Rakyat. Dan perjalanan menuju tempat mereka bekerja itu selalu saja diseling perjalanan lain sebelumnya.
“Ua sok diajak ngider heula, sakapeung nyimpang ka rerencanganna, atawa ka bengkel heula, aya weh sumpang-simpang samemeh ka kantor the [suka diajak berkeliling dulu, terkadang mampir ke (rumah) temannya, atau ke bengkel dulu, selalu ada tempat untuk didatangi dulu sebelum tiba di kantor],” kenang Us Tiarsa.
Di lingkungan pekerjaannya, Tris bukan orang yang gampang akrab dengan rekan kerja. Dia cenderung bersikap seperlunya, tak suka mengobrol lama atau berakrab-akrab. Jika pekerjaannya sudah diselesaikan dia pun segera beranjak pulang, tentu saja dengan mengajak Ua Us Tiarsa untuk pulang bareng. Dan perjalanan pulang mereka pun selalu diselingi perjalanan-perjalanan lain.
Di suatu waktu perjalanan itu malah lebih panjang lagi, Tris mengajak Us “mampir” sampai ke Taman Ismail Marzuki. Jika Tris sangat seperlunya di lingkungan pekerjaan sebagai jurnalis, lain halnya jika Tris ada di lingkungan teman-teman sesama seniman, dia ramah dan suka berkelakar.
Satu cerita menarik dari Us Tiarsa adalah saat diselenggarakan Pekan Olahraga Wartawan di Semarang. Saat itu Tris akan melakukan terjun payung, sebelum terjun dia menghubungi Us Tiarsa. Saat itu Us Tiarsa mengabarkan bahwa dirinya masih berada di lokasi sekitar Simpang Lima, Semarang. Dan tanpa diduga, Trisnoyuwono melakukan penerjunan sendirian di Simpang Lima Semarang, bukan di tempat seharusnya di stadion tempat penyelenggaraan Pekan Olahraga Wartawan.
Baca Juga: JEJAK PENA SEORANG TENTARA: Seabad Sastrawan Trisnoyuwono
Tinggul, Konflik Batin Seorang Tentara
Dari sekian banyak jejak pena Trisnoyuwono adalah sebuah cerita pendek berjudul Tinggul yang mendapatkan hadiah dari Majalah Kisah pada tahun 1956. Cerpen ini berlatar pergolakan dan konflik di Indonesia yang terjadi pada masa setelah perang. Ceritanya tentang suatu masa saat ketika tentara harus berhadapan dengan satu pihak yang dinamakan gerombolan, kemungkinan berlatar di suatu tempat di Jawa Barat.
Tokoh “Aku” adalah seorang tentara berpangkat Sersan Mayor yang bertugas untuk memproses tawanan yang diduga berpihak pada gerombolan. Para tawanan itu sebagian besar adalah rakyat biasa.
Di antara para tawanan itu terdapat satu sosok laki-laki setengah baya yang berperawakan gemuk dan bersih. Karena kejujurannya, si Gemuk kemudian menjadi dekat dengan sang Sersan Mayor. Bahkan beberapa kali memberikan informasi yang dibutuhkan pihak tentara. Namun apa daya, Kapten, atasan Sersan Mayor itu, memiliki keputusan sendiri. Semua tawanan mendapat hukuman mati tanpa kecuali. Termasuk si Gemuk yang jujur dan banyak membantu Sersan Mayor.
Terjadi pergolakan batin pada diri Sersan Mayor yang tidak mampu menentang keputusan kaptennya sebagai atasannya. Ia menyesal karena tidak mampu melakukan pembelaan untuk si Gemuk yang bernama Tinggul.
Sebagian besar latar belakang tulisan fiksi Trisnoyuwono memang berakar pada pengalamannya sebagai seorang tentara yang terlibat pada revolusi fisik di Indonesia.
*Kawan-kawan yang baik, silakan menengok tulisan-tulisan lain Ernawatie Sutarna atau artikel-artikel lain tentang Sejarah Bandung

