• Berita
  • South of Heaven di Bandung Selatan, Menjaga Skena Musik Lokal Lewat Ruang Alternatif

South of Heaven di Bandung Selatan, Menjaga Skena Musik Lokal Lewat Ruang Alternatif

Dengan filosofi tumbuh dari mulut ke mulut, South of Heaven menjadi tempat mengasah kreativitas bagi band-band yang terpinggirkan. Dari punk hingga seni tradisional.

Lina Marliana, pegiat musik hardcore punk ikut bernyanyi di gigs South of Heaven, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 21 Januari 2026


BandungBergerak - Lokasi gigs South of Heaven hanya diketahui dari mulut ke mulut. Tidak ada alamat di peta, tidak ada poster di media sosial, tidak ada band besar yang mereka undang, dan tidak semua orang bisa datang begitu saja. Gigs di South of Heaven hanya mengumumkan acara-acara musiknya untuk kalangan terbatas. Dengan cara tersebut mereka justru bisa bertahan dan berkelanjutan di tengah semakin menyempitnya ruang-ruang pertunjukan musik di Bandung Raya.

Pengalaman masa lalu, seperti pembubaran acara dan tingginya biaya sewa tempat, memotivasi mereka untuk menciptakan venue yang dapat menopang skena musik lokal dalam jangka panjang.

“Bukan soal takut, tapi lebih kepada pengalaman bahwa jika suatu tempat kolektif terlalu ramai, skena di sana cenderung menjadi tidak kondusif,” ujar Diky, salah satu penggerak komunitas South of Heaven, kepada BandungBergerak, 4 Januari 2026.

South of Heaven (diambil dari judul lagu Slayer) berdiri pada 2013 di sekitar Kabupaten Bandung, dimulai oleh band Pagar Kawat, sebuah band crust punk/hardcore punk. South of Heaven memilih untuk tetap sunyi di era sekarang yang penuh validasi media sosial.

Sebelum memiliki lokasi tetap, arena bermain mereka sering berpindah tempat, mulai dari pusat kota seperti di Tamansari, villa-villa sekitaran Bandung, di kawasan pegunungan seperti Ciwidey, Pangalengan, Arjasari, dan masih banyak lagi.

Venue mereka yang sekarang hadir setelah hampir satu tahun proses pembangunan pada 2023. Tempat ini dibangun untuk menyediakan ruang berkelanjutan bagi aktivitas musik independen di Kabupaten Bandung, agar skena musik lokal tetap bertahan dan berkembang.

Ruang yang kini mampu menampung sekitar 100 orang ini awalnya hanyalah ruangan kosong di rumah salah satu personel Pagar Kawat. Pembangunannya dilakukan secara swadaya, mulai dari pengecoran, pengecatan, hingga pemasangan peralatan, semuanya dikerjakan oleh tangan-tangan kolektif mereka sendiri. Donasi yang mereka terima, baik dalam bentuk uang maupun barang seperti semen, cat, perkakas, alat musik, dan mixer, turut mendukung kelancaran pembangunan.

“Kalau dihitung-hitung, estimasinya sekitar 35 juta rupiah, itu juga nyicil, pelan-pelan. Ada teman-teman yang punya uang lebih, ditambahin. Ada gigs, sisa keuntungannya buat bangun venue,” kata Diky.

Gigs mereka diadakan setiap hari Minggu, dari siang hingga sebelum adzan magrib. Pembatasan waktu ini adalah upaya menghormati lingkungan sekitar, karena masjid pun hanya berjarak sekitar 100 meter. Selain itu, aturan ini juga dibuat untuk mencegah kerumunan malam hari yang rentan menimbulkan masalah dengan masyarakat sekitar. Peredam suara di tempat mereka belum tersedia karena biaya yang tinggi, sehingga pengelola memilih untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Walaupun tempat mereka kecil dan terbatas, South of Heaven justru menjelma menjadi ruang alternatif penting bagi band-band Kabupaten Bandung yang selama ini merasa harus "naik" ke kota agar diakui.

Tidak bisa dipungkiri bahwa skena musik di Kota Bandung sangat beragam, dan masing-masing kolektif memiliki cara dan tujuan yang berbeda dalam bermusik. Namun, di South of Heaven, mereka bisa bermain tanpa tertekan oleh tuntutan komersialisasi yang kerap mengikat skena kota.

“Banyak band kabupaten yang malah mengaku dari Bandung kota, memaksakan sosialnya menjadi anak kota, padahal enggak apa-apa kok bilang dari Soreang, Banjaran, Dayeuhkolot, dari Selatan Bandung, di sini juga hidup skenanya,” ujar Diky.

Vokalis Total Moron melakukan Stage Dive di area penonton pada acara Distorside Showcase, Kabupaten Bandung, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)
Vokalis Total Moron melakukan Stage Dive di area penonton pada acara Distorside Showcase, Kabupaten Bandung, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

Sejak berdiri dengan nama South of Heaven pada 2013, kolektif ini tidak dibangun dengan ambisi besar. Mereka lahir dari keresahan dasar para pegiat musik: jika ingin band bermain, maka gigs harus ada. Jika gigs tidak tersedia, maka harus dibuat ruang. Prinsip kolektif menjadi pegangan mereka, dan tidak ada target profit tertentu. Uang yang masuk hampir selalu habis untuk kebutuhan teknis seperti kabel putus, mic rusak, bahkan speaker jebol.

“Kalau mau cari untung, kita bisa pasang harga mahal, tapi di sini kita enggak mau memberatkan. Band anak SMP atau SMA yang mau berkarya dan membuat acara, kita kasih ruang, kita fasilitasi. Bahkan kadang 100 ribu satu band juga enggak apa-apa untuk anak-anak sekolahan,” kata Diky.

Inklusivitas menjadi salah satu nilai penting bagi South of Heaven. Meskipun dikenal sebagai venue untuk genre hardcore punk, grindcore, trash metal, dan musik keras lainnya, tempat ini tetap terbuka untuk genre lain, bahkan kesenian tradisional. Beberapa kali, venue ini digunakan untuk acara dangdut, hip-hop, DJ angkot, hingga pertunjukan benjang dan reog Bandung Timur yang digelar oleh komunitas ojek online.

Namun, inklusivitas ini bukan berarti tanpa aturan. South of Heaven memiliki peraturan internal yang ketat: pembatasan waktu, skala kecil, penolakan terhadap sorotan media arus utama, dan sama-sama menjaga ketertiban. Bagi mereka, sorotan berlebihan justru bisa menjadi ancaman. Langkah ini diambil untuk menciptakan kolektif yang berkelanjutan.

Sikap mereka yang terbuka terhadap lintas genre juga merupakan upaya mereka untuk mewujudkan ulang bagaimana kolektif itu seharusnya dirasakan oleh semua pihak yang ingin berkreasi. Ini juga berkaitan dengan stigma yang melekat pada wilayah Soreang dan sekitarnya, yang sering dicap sebagai wilayah ormas. Melalui gigs-gigs kecil ini, South of Heaven berupaya mematahkan stigma tersebut.

“Di sini juga banyak orang-orang kreatif,” ujar Diky.

Salah satu kebiasaan unik di South of Heaven adalah tradisi ngaliwet bersama setelah gigs. Di hari-hari tertentu ketika gigs berakhir, mereka duduk melingkar menikmati nasi liwet yang dimasak bersama. Momen ini menjadi ruang jeda dari liarnya panggung hardcore, sekaligus menjadi tempat kebersamaan bagi band-band yang hadir, tempat di mana obrolan mengalir tanpa harus membahas hal yang itu-itu saja.

“Obrolan bisa dari membahas teknis sound yang rusak, mic wireless yang mati, sampai rencana acara berikutnya,” kata Diky.

Di antara band yang pernah tampil di South of Heaven, terdapat Total Moron, band punk asal Ciamis yang telah berdiri sejak 1998. Para personelnya kini bekerja di sektor formal, seperti PNS dan petugas DLH. Mereka telah berkeluarga, bahkan ada yang sudah memiliki cucu. Namun, bermusik bagi mereka tidak mengenal kata pensiun.

“Kerja ada masa pensiun, bermusik enggak ada pensiunnya,” kata Andri, gitaris Total Moron.

Bagi mereka, musik tetap menjadi sarana untuk menyuarakan kritik terhadap sistem, solidaritas, dan kepedulian sosial. Mereka bahkan pernah menggalang dana untuk korban bencana di Sumatera. “Hati yang bergerak” menjadi semangat utama mereka, bahwa perlawanan tidak selalu berarti menolak seluruh sistem, tetapi tentang menjaga keberpihakan dan solidaritas, bahkan dalam keterbatasan.

Penampilan Total Moron di acara Distorside Showcase, South of Heaven, Kabupaten Bandung, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)
Penampilan Total Moron di acara Distorside Showcase, South of Heaven, Kabupaten Bandung, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

Musisi Perempuan di South of Heaven

South of Heaven bukan hanya sekadar tempat konser; venue ini menjadi ruang penting bagi acara berskala kecil dengan anggaran terbatas. Lina, vokalis perempuan dari band Little Chaos, menginisiasi acara Distorside Showcase di South of Heaven. Harga yang ramah di kantong adalah hal yang menjadi pertimbangan utama bagi Luna sebagai penyelenggara yang mencari venue gigs.

Menurut Lina, South of Heaven, bukan sekadar venue gigs kecil. Venue ini menjadi arsip hidup dari praktik kolektif, tempat di mana skena hardcore punk bertahan di tengah keterbatasan ruang, dana, dan stigma masyarakat. Gigs tidak hanya dipandang berdasarkan skala besar atau kecil, melainkan sebagai cara untuk menjaga nafas skena agar tidak berhenti di tengah jalan. Sunyi bukan berarti pasif, tetapi strategi untuk bertahan.

Lina juga melihat perkembangan positif pada venue-venue di kabupaten yang semakin tertata, dan bagi dirinya, band-band dari daerah tidak boleh terkurung dalam wilayahnya sendiri.

“Di kabupaten harus eksis, di kota juga harus. Jangan diem di kandang,” ujarnya.

Bagi Lina, kemampuan untuk berkarya di kota dan kabupaten adalah hal yang perlu diupayakan oleh setiap band, terutama yang berasal dari daerah yang jauh dari pusat keramaian.

Perjalanan Lina dalam dunia hardcore punk dimulai sejak ia duduk di bangku SMP. Ia terinspirasi oleh vokalis perempuan seperti Aci dari band Gugat dan mulai mengenali band-band punk melalui warnet.

Anak kecil menonton gigs dari kejauhan di acara Distorside Showcase, South of Heaven, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)
Anak kecil menonton gigs dari kejauhan di acara Distorside Showcase, South of Heaven, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

“Lihat vokalis cewek scream di warnet, rasanya oh, gini doang saya juga bisa,” kata Lina mengenang masa-masa awalnya.

Lina kemudian terjun ke dunia musik dan aktif dalam berbagai band punk di Kota Bandung, seperti Tikam Balik, Bothsides, Radical System, BBM Chaos, dan Hamassunda, sebelum akhirnya berlabuh di Little Chaos.

Bagi Lina, keberadaan perempuan dalam skena hardcore punk sangat penting. Ia menegaskan bahwa perempuan memiliki peran yang aktif, bukan hanya sebagai pelengkap semata. Di atas panggung, Lina merasakan adrenalin dari moshing penonton, namun juga tidak jarang merasakan sisi keras dari panggung, seperti mic yang direbut, dorongan-dorongan dari penonton, bahkan kepentok mikrofon sendiri.

Semua itu merupakan bagian dari proses dan tantangan yang dihadapi seorang perempuan dalam dunia musik keras.

Keberadaannya di atas panggung merepresentasikan bagaimana hardcore punk adalah ruang ekspresi yang inklusif, di mana perempuan tidak hanya hadir untuk diwakili, tetapi juga berperan aktif, mengatur acara, dan menentukan arah skena itu sendiri.

Baca Juga: Tragedi AACC 14 Tahun Lalu, masihkah Bandung Takut pada Musik Underground?
Kecamatan Ujung Berung: Zaman Intel Belanda dan Musik Cadas ala Ujungberung Rebels

Siasats, band tuan rumah pada acara kali ini menunjukkan tajinya, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)
Siasats, band tuan rumah pada acara kali ini menunjukkan tajinya, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

Sekelumit Ulasan Musik Bandung Selatan 

Menulis, mendokumentasikan, mengarsipkan skena musik di Bandung selatan memiliki kesan khusus bagi saya. Komunitas-komunitas di pinggiran Bandung ini sejatinya tidak perlu lampu sorot agar orang lain tahu siapa mereka, tapi ini tentang bagaimana pentingnya sebuah pengarsipan skena kecil yang memiliki dampak besar.

Contohnya Lina dan South of Heaven yang mengingatkan kita bahwa sebuah komunitas musik keras kecil seperti ini tidak perlu mendapatkan sorotan besar dari media. Sebaliknya, pentingnya pengarsipan skena kecil yang memiliki dampak besar adalah hal yang lebih relevan.

Komunitas-komunitas musik ini hadir tanpa senioritas abang-abangan dengan selera musik yang tinggi dan tanpa merendahkan para pelaku seni yang mencari ruang bermain. Ia meyakini selama masih ada orang-orang yang percaya bahwa bermain musik tidak mengenal pensiun, ruang kecil seperti South of Heaven akan terus diaktivasi dengan cara mereka sendiri dan semangat yang mereka miliki.

Mawar Berduri

Mawar Berduri bergerak di ranah hardcore era 80–90-an dengan penambahan riff gitar d-beat yang sangat khas, mengingatkan pada band legendaris Discharge, terutama dalam lagu-lagu politis seperti Politic Shits. Musik mereka memiliki karakter yang padat dan efektif untuk aksi headbang, menggabungkan elemen metal dan hardcore yang mengarah ke grindcore. Vokal pig squeal yang melengking disajikan dengan keras dan lantang, menegaskan lirik-lirik mereka yang frontal dan tegas, sebagaimana terdengar dalam lagu Menatap Dunia.

Beberapa bagian dari musik Mawar Berduri juga menyelipkan nuansa straight edge, sementara dominasi notasi rendah menciptakan atmosfer gelap yang konsisten. Secara keseluruhan, band ini menampilkan agresivitas yang terkontrol, dengan identitas musik yang kuat dan tidak berusaha terdengar ramah—melainkan jujur pada akar kerasnya.

Musik Mawar Berduri mengingatkan pada fase awal hardcore sebagai ekspresi ketidakpuasan kelas pekerja, sebagaimana yang diusung Discharge atau Amebix pada era krisis industri di Inggris. Musik mereka terasa seperti kemarahan yang ditahan lama, lalu dilepaskan tanpa perlu penjelasan lebih jauh.

Penampilan band Siasats pada acara Distorside Showcase, South of Heaven, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)
Penampilan band Siasats pada acara Distorside Showcase, South of Heaven, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

Siasats

Siasats mendefinisikan dirinya sebagai Indonesian crusty grindcore bastards, label yang sangat tepat jika mendengarkan materi musik mereka. Band punk ini banyak mengadopsi elemen grindcore dengan pendekatan yang langsung, kasar, dan tanpa basa-basi. Dalam dua tahun terakhir, Siasats telah sangat produktif, merilis dua album, yaitu Aku Bunuh Dirimu dan Kill Zionist Fascist.

Hampir seluruh lagu mereka disajikan dengan keras, cepat, dan to the point. Riff berat khas hardcore 90-an sering dipadukan dengan riff bernada tinggi yang mengingatkan pada band seperti Bane, seperti yang terdengar dalam lagu Some Came Running dari album Kill Zionist Fascist. Variasi pola musik punk dalam satu lagu juga menjadi ciri khas Siasats—mereka tidak terpaku pada pakem punk semata. Misalnya, dalam lagu War in Hell, mereka menggabungkan unsur beatdown dengan grindcore, menciptakan dinamika agresi yang tidak monoton.

Siasats melangkah lebih jauh, dimana grindcore mereka bukan sekadar ekstremitas sonik, melainkan sebuah sikap politik yang menolak kompromi. Keberanian mereka untuk menyebut dan melawan fasisme secara terang-terangan membuat mereka sejalan dengan tradisi band-band perlawanan seperti Napalm Death atau Extreme Noise Terror.

Seorang anak kecil ikut menikmati acara ini bersama ayahnya, di South of Heaven, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)
Seorang anak kecil ikut menikmati acara ini bersama ayahnya, di South of Heaven, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

Negative Parallax

Berbeda dengan kedua band sebelumnya, Negative Parallax lebih banyak dipengaruhi oleh punk rock dan pop punk, terutama dari sisi riff gitar. Musik mereka terdengar lebih ringan, komunikatif, dan lebih mudah diterima oleh pendengar awam. Band ini juga cukup aktif terlibat dalam berbagai gigs yang beririsan dengan pergerakan sosial, seperti aksi solidaritas di Dago Elos, dan mereka telah merilis album seperti “Sabda” dan “Senjata” (2025).

Keunggulan Negative Parallax terletak pada lirik-lirik mereka yang lugas dan dekat dengan keseharian, tanpa menggunakan metafora berlapis atau ambiguitas berlebihan. Lagu Ayah Segera Pulang, misalnya, menghadirkan narasi sederhana namun sangat personal, berupa doa dari seorang ayah yang meminta anaknya untuk mendoakan ia yang bekerja jauh dari rumah.

Lirik ini juga menyentil sindiran nakal mengenai godaan janda dan tanggung jawab sebagai ayah. Sementara itu, lagu Stigma berbicara tentang cap negatif terhadap anak punk yang masih kerap dilekatkan secara generalisasi. Pendekatan yang langsung dan jujur seperti ini membuat Negative Parallax menjadi jembatan antara skena punk dan pendengar yang lebih luas.

Seorang penonton ikut bernyanyi di atas panggung, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)
Seorang penonton ikut bernyanyi di atas panggung, 4 Januari 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

Pagar Kawat

Pagar Kawat merupakan band hardcore punk yang telah berkiprah sejak awal 2000-an. Mereka terpengaruh kuat oleh band-band punk legendaris seperti Total Chaos, dengan spektrum musikal yang sempat menyentuh street punk dan crust punk, meski kini memilih untuk menyebut diri mereka sebagai hardcore punk.

Tema lagu-lagu Pagar Kawat sering kali menyoroti persoalan struktural dan sosial. Sebagai contoh, lagu Money Is God mengkritik manusia yang menuhankan uang dan menghalalkan segala cara demi kepentingan material. Sementara lagu Persona Non-Grata menggambarkan keresahan terhadap individu atau kelompok dalam organisasi yang bergerak demi kepentingan pribadi atau golongan, menciptakan rasa takut dan ketidaknyamanan di tengah masyarakat.

Tema-tema tersebut sangat relevan dengan konteks sosial saat ini, ketika banyak organisasi masyarakat yang tidak lagi mewakili kepentingan publik secara luas.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//