• Berita
  • Susur/Langkah Beni Hidayat: Menelusuri Jejak Ayah di Atas Truk

Susur/Langkah Beni Hidayat: Menelusuri Jejak Ayah di Atas Truk

Pameran karya Beni Hidayat di Griya Seni Popo Iskandar tidak sekadar memamerkan karya visual, tapi menyuguhkan pengalaman hidup kelas pekerja sopir truk.

Beni Hidayat di Pameran Susur/Langkah, Griya Seni Popo Iskandar, Bandung 15 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi21 Januari 2026


BandungBergerak – Gambar-gambar truk, ada yang ditampilkan utuh, ada pula yang terpotong-potong, dipamerkan di Griya Seni Popo Iskandar, Bandung. Salah satunya menampilkan kepala truk yang tengah melaju, sementara karya lain mengajak pengunjung menengok bagian dalam kendaraan itu: ruang tidur di balik kemudi. Di antara visual-visual tersebut, terselip pula adegan tragis, ketika sesosok tubuh terkapar di bawah ban truk.

Karya-karya tersebut tampil di pameran bertajuk Pameran Susur/Langkah. Senimannya, Beni Hidayat, menciptakannya dengan teknik cukil di atas media dasar karet yang diolah dengan desain grafis cetak tinggi. Seluruh karyanya ia produksi di ruang kos berukuran 2,5 x 2,5 meter persegi yang disulap menjadi ruang produksi.

Dari ruang sempit yang dipenuhi bau thinner, Beni menjalani proses panjang sebelum bisa pameran. Kurang lebih ada 50 karya dengan detail kuat. Selama berkarya, ia dibantu alat manual berupa centong nasi yang dimodifikasi.

Pameran karya Beni Hidayat di Griya Seni Popo Iskandar berlangsung hingga 30 Januari 2026. Pameran ini tidak sekadar memamerkan karya visual, tapi menyuguhkan pengalaman hidup kelas pekerja yang dibaca dari jarak terdekat, dari tubuh sang ayah, dan ketakutan yang diwariskan secara diam-diam. Langkah ini menjadi penanda waktu yang dihayati seorang ayah yang bekerja di jalan dan anak yang bekerja di ruang seni.

Jalan Panjang Seorang Juru Mudi Truk

Beni kecil tumbuh di Pematang Bulagor, Kabupaten Pandeglang, Banten. Profesi sebagai juru mudi truk bukan hanya sekadar pekerjaan, tapi warisan turun-temurun. Sejak bangku sekolah dasar ia telah akrab dengan kabin truk, menjadi kenek, lalu perlahan mengambil alih kemudi. Sekolah kerap terhenti di tengah jalan.

Ayah Beni menjalani profesi sopir truk sejak 2007 hingga kini. Kerja di jalan harus beriringan dengan risiko seperti kecelakaan, cedera permanen, bahkan kematian. Tahun 2014, ayah Beni mengalami kecelakaan jatuh ke jurang. Ia selamat, tapi kondisi fisiknya tak lagi sama. Tubuhnya merekam jejak trauma, ritme kerja tak lagi sama, jarak tempuh dibatasi. Semua dilakukan agar sang ayah bisa kembali bertemu anaknya.

Bagi Beni, risiko itu tidak sepenuhnya terbaca. Ketika ia dewasa dan melalui serangkaian peristiwa termasuk kematian teman ayahnya akibat kecelakan tunggal, ia pun menyadari bahwa pekerjaan ayahnya adalah pertaruhan hidup.

“Kalau nggak selamat, cacat. Tapi kalau nggak cacat ya wafat,” ucapan sang ayah terus teringat di benak Beni.

Selama proses berkarya, Beni berusaha keras memahami ayahnya. Sang ayah kerap kali menolak Beni untuk ikut bekerja, bahkan sekadar mengamati. Ia ingin Beni memutus rantai profesi itu melalui pendidikan. Larangan itu pada awalnya terasa sebagai jarak, meski akhirnya Beni menemukan ruang untuk berkarya.

Seni dan Risiko

Kesadaran atas risiko itulah yang kemudian diterjemahkan Beni ke dalam ruang seni. Ia menggunakan teknik cetak tinggi dengan metode reduksi dengan bahan dasar karet, sebuah teknik yang menuntut keberanian karena tidak memberikan ruang kesalahan. Sekali matriks dicukil, maka karya tidak bisa kembali.

Teknik tersebut menjadi titik temu dengan profesi ayahnya, yaitu sama-sama bekerja dalam ketidakpastian dan risiko. Proses berkarya ini mengandalkan ketepatan, pengalaman, dan intuisi, serta menyimpan kemungkinan gagal yang berakibat fatal.

Karya seni yang Beni tampilkan di pamerannya tidak hanya hasil cetak, namun juga matriks dan sisa proses pencukilan. Seolah terdapat korelasi yang sejalan antara seni dan jalan kerja ayahnya, yaitu lahir dari proses panjang yang jarang terlihat tetapi risiko yang terus menghantui.

Secara visual, karya-karya Beni didominasi warna cokelat, merujuk pada karat sebagai jejak dari waktu, kerja, dan kelelahan dengan menegaskan panas dan kerasnya kehidupan seorang juru mudi truk. Sementara warna biru hadir sebagai percobaan emosi dingin agar memberikan elemen seimbang.

Baca Juga: South of Heaven di Bandung Selatan, Menjaga Skena Musik Lokal Lewat Ruang Alternatif
Wayang Potehi di Tjap Sahabat, Menghidupkan Kembali Tradisi Tionghoa di Era Kontemporer

Deretan Karya Seni Beni Hidayat di Pameran Seni Susur/Langkah, Griya Seni Popo Iskandar,Bandung 15 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)
Deretan Karya Seni Beni Hidayat di Pameran Seni Susur/Langkah, Griya Seni Popo Iskandar,Bandung 15 Januari 2026. (Foto: Muhammad Andika Putra Nugraha/BandungBergerak)

Ayah, Bakti, dan Cinta Seorang Anak

Di balik persoalan profesi dan risiko, bagi Beni pameran Susur/Langkah menjadi garis relasi ayah dan anak. Beni menyadari bahwa cinta kepada seorang ayah sering kali bersyarat. Tanpa sentuhan fisik namun tetap hadir melalui kerja yang tak pernah berhenti, melalui tubuh yang dipertaruhkan.

Pameran Seni Susur/Langkah dibuka secara simbolik dengan adegan dosen kuliah Beni yang mencuci kakinya, sebuah gestur bakti yang lazim dilekatkan pada ibu. Air cucian kaki itu diminum Beni sebagai pernyataan bahwa ayah pun menyimpan surga dari pengorbanannya.

“Aku minum air cucian kaki itu sebagai simbol bahwa, masih tersisa surga di seorang ayah yang rela tulang punggungnya patah demi keluarga,” ucapnya, ketika ditemui di Griya Seni Popo Iskandar, Kamis, 15 Januari 2026.

Melalui Susur/Langkah, Beni tidak hanya bercerita tentang dirinya semata atas karya yang ia hasilkan. Ia membuka ruang bagi apresiator untuk menengok kembali atas pengorbanan orang tua. Dengan rasa cinta kepada ayah yang kemudian menjelma menjadi kesaksian atas pengorbanannya, ia menunjukkan bahwa profesi juru mudi truk menjadi gambaran kasih yang tidak diucapkan, kasih yang bekerja dalam diam, yang menggerakkan tubuh dari satu kota ke kota lain dalam mempertaruhkan keselamatan demi kesejahteraan keluarganya.

Tunduk Kasih dalam Panggung Pameran

Kurator pameran Anton Susanto mengungkapkan, Susur/Langkah memperlihatkan bagaimana Beni menggunakan medium seni sebagai sebuah alat dan metode untuk menghayati sebuah kehidupan dengan mengelaborasi proses studi, observasi, analisis, serta proses empirisnya pada kehidupan ayahnya sebagai juru mudi truk. Melalui figur ayahnya, Beni masuk ke perjalanan sosial kehidupan kelas pekerja. Seorang lulusan SD, ayah Beni tampil menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Sebagai seniman pemula yang masih mengemban pendidikan di perguruan tinggi pada semester akhir, Beni bisa memamerkan karyanya di galeri. Susur/Langkah menurut Anton, bisa menjadi peluang bagi seniman mahasiswa yang masih tertatih menyusun karier.

Pengalaman berbeda dirasakan salah seorang pengunjung, Ella, mahasiswi Seni Rupa Murni Universitas Kristen Maranatha. Menurutnya, melalui pameran ini pengunjung diajak untuk mengikuti proses bagaimana karya seni bisa tercipta.

*Reportase ini dikerjakan reporter BandungBergerak Malika Shafa Nur Fadiya dan Khoirunnisa Febriani Sofwan 

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//