• Berita
  • Belajar Bertahan di Usia Senja: Lansia Bandung Dibekali Langkah Awal Hadapi Bencana

Belajar Bertahan di Usia Senja: Lansia Bandung Dibekali Langkah Awal Hadapi Bencana

BPBD Kota Bandung memberikan edukasi dan simulasi kebencanaan bagi lansia di Sekolah Lansia Bahagia untuk meningkatkan kesiapsiagaan kelompok rentan.

Petugas memberi contoh cara berlindung saat gempa terjadi di dalam ruangan saat edukasi tentang kebencanaan untuk murid Sekolah Lansia Bahagia di Bandung, 21 Januari 2026. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Penulis Riani Alya23 Januari 2026


BandungBergerak - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bandung memberikan edukasi langkah awal perlindungan diri dari bencana kepada para lansia di Sekolah Lansia Bahagia, yang berlangsung di aula Bandung Creative Hub, Rabu, 21 Januari 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kapasitas lansia dalam menghadapi potensi bencana di Kota Bandung seperti banjir, gempa bumi, dan kebakaran.

Lansia dinilai menjadi kelompok rentan karena keterbatasan fisik dan kecepatan respons saat terjadi keadaan darurat. Salah satu peserta mitigasi bencana, Wati Karawati, 72 tahun, mengaku edukasi ini sangat membantunya, terutama karena ia tinggal seorang diri. Ia mengatakan kegiatan tersebut membuatnya lebih percaya diri dan siap menghadapi kemungkinan bencana.

“Edukasi ini penting, karena kan disini (lansia) awam ya, jadi bisa waspada. Dengan adanya edukasi seperti ini, sudah ada dasar jadi kalo ada bencana nyebut nama tuhan sambil melakukan apa yang sudah diajarkan,” ucap Wati.

Analis kebencanaan BPBD Kota Bandung, M. Nazrul, mengatakan bahwa risiko bencana tidak selalu dapat dihilangkan, namun dapat dikurangi melalui kesiapsiagaan dan pengetahuan yang tepat.

“Kalau bencana ini bisa dihilangkan, kita hilangkan. Kalau bisa dicegah, kita cegah, tapi ketika bencana itu tidak bisa dihilangkan dan dicegah maka kita harus berdamai dengan potensi yang ada, dengan cara mengurangi resiko,” ucap Nazrul, saat memberikan materi kepada para lansia.

Nazrul menjelaskan bahwa kebakaran merupakan salah satu bencana yang sering terjadi akibat korsleting listrik dan kelalaian saat memasak. Ia mengimbau masyarakat, khususnya lansia, untuk menggunakan kabel listrik berstandar SNI dengan masa pakai maksimal 15 tahun serta tetap fokus saat memasak.

BPBD juga menekankan pentingnya penataan rumah yang ramah bagi lansia. Di wilayah rawan banjir, kamar lansia disarankan berada di lantai dua, sementara di wilayah rawan gempa, kamar sebaiknya berada di lantai satu dan dekat dengan pintu keluar. Selain itu, furnitur yang digunakan sebagai tempat berlindung harus kuat, kokoh, dan memiliki jarak ketinggian dari lantai.

“Karena ketika bangunan runtuh, ibu akan dilindungi oleh benda tersebut (memiliki ketinggian yang berbeda dengan lantai),” ucap Nazrul.

Pada sesi simulasi gempa bumi, para lansia diajarkan untuk tidak berlari, melainkan segera berlindung. Langkah yang dilakukan yakni menurunkan tubuh ke posisi rendah menyerupai sujud, menempelkan tubuh pada benda pelindung, serta melindungi bagian kepala belakang bawah dan atas. 

Simulasi dilakukan dengan bunyi sirine sebagai tanda terjadinya gempa. Seluruh peserta mengikuti arahan BPBD, mulai dari berlindung di dalam ruangan hingga evakuasi keluar dengan melindungi kepala menggunakan tangan atau barang yang dimiliki, seperti tas.

“Bagian penting yang harus dilindungi adalah kepala belakang bagian bawah karena terdapat otak kecil, lalu kepala bagian belakang atas,” tambah Nazrul dibantu rekannya dalam mempraktikkan posisi yang benar.

BPBD menegaskan bahwa keselamatan merupakan hak semua orang, termasuk lansia. Oleh karena itu, kesiapsiagaan bencana tidak hanya menjadi tanggung jawab individu lansia, tetapi juga memerlukan dukungan lingkungan dan keluarga. Lansia menjadi kelompok prioritas yang harus dilindungi, terutama saat terjadi bencana.

Baca Juga: Data Penyebab Kebakaran di Kota Bandung Tahun 2007-2021: Listrik Menjadi Masalah Utama
Data Jumlah Kejadian Kebakaran dan Korbannya di Kota Bandung 2007-2021: Jumlah Kejadian tidak Pernah Kurang dari 100 Kasus per Tahun

Perwakilan siswa mengikuti simulasi berlindung dari bencana gempa di aula Bandung Creative Hub, Rabu, 21 Januari 2026. (Foto: Riani Alya/BandungBergerak)
Perwakilan siswa mengikuti simulasi berlindung dari bencana gempa di aula Bandung Creative Hub, Rabu, 21 Januari 2026. (Foto: Riani Alya/BandungBergerak)

Data Lansia dan Bencana Kota Bandung

Saat ini, jumlah lansia di Kota Bandung mencapai 266.552 jiwa (Dinas Sosial Kota Bandung). Sementara itu, Kota Bandung memiliki potensi bencana alam yang cukup tinggi, terutama banjir, longsor, gempa bumi, kekeringan, dan dampak aktivitas gunung api.

Buku Kota Bandung Menuju Kota Tangguh Bencana dan Berketahanan Perubahan Iklim merangkup beberapa potensi bencana di Kota Bandung, pertama banjir. Sejumlah kejadian banjir tercatat sejak 1994 hingga 2014, dengan dampak berupa korban jiwa, rumah terendam dan rusak, serta ribuan kepala keluarga terdampak. Banjir terparah terjadi pada 2010–2012, yang mengakibatkan ribuan rumah rusak di berbagai kecamatan.

Tanah longsor menjadi kewaspadaan tersendiri di Kota Bandung, umumnya terjadi saat curah hujan tinggi. Wilayah rawan longsor meliputi Cibiru, Mandalajati, Ujungberung, Cibeunying Kaler, Cidadap, dan Coblong. Sepanjang 2010–2014 tercatat belasan kejadian longsor, sebagian di antaranya menyebabkan kerusakan rumah, infrastruktur penahan tanah (kirmir), serta korban jiwa.

Bencana kekeringan bukan kekecualian. Tercatat kekeringan terjadi pada 1 Juli 2008. Peristiwa tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun menunjukkan adanya potensi krisis air bersih di Kota Bandung.

Gempa juga menjadi bencana yang patut diwaspadai di Kota Bandung yang dilintasi patahan geologi aktif, di antaranya patahan Lembang. Gempa bumi pada 2009 menyebabkan kerusakan ratusan rumah, puluhan warga luka-luka, serta kerusakan pada sejumlah sekolah di 18 kecamatan. Wilayah rawan gempa meliputi antara lain Bandung Kulon, Batununggal, Coblong, Cicendo, Kiaracondong, dan Sukajadi.

Potensi bahaya gunung api di Kota Bandung berasal dari Gunung Tangkuban Parahu. Ancaman utama meliputi aliran lava, lahar panas, awan panas, serta lahar dingin yang dapat mengalir melalui Sungai Ciujung, Cibeureum, dan Cikapundung, dengan wilayah terdampak hingga kawasan Lembang dan sepanjang aliran menuju Sungai Citarum.

Selain itu, kebakaran juga patut diwaspadai. Data kebakaran di Kota Bandung yang dirangkum BandungBergerak dan open data Bandung menunjukkan tren peningkatan signifikan, dengan lebih dari 100 kasus per tahun (2007-2021), mencapai 352 kejadian pada 2023. Pusat Kota Bandung adalah kawasan terawan, dengan penyebab utama kebakaran didominasi oleh masalah listrik dan sering terjadi di pemukiman padat.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//