Memaknai Hubungan Manusia dan Alam di Pameran Anima Animo
Kepompong, figur manusia berbunga matahari, lukisan kuda, hingga sosok perempuan bergaun merah di tengah hutan hadir sebagai rangkaian karya di String, Bandung.
Penulis Retna Gemilang27 Januari 2026
BandungBergerak – Sebuah instalasi seni media campuran menyerupai kepompong hadir berbalut aneka kain bekas berwarna-warni dengan ragam tekstur. Perca dirangkai menjadi bunga, denim, dan pita menjuntai lembut, sementara bola-bola kain memenuhi permukaannya, menciptakan kesan kaya dan hidup. Instalasi ini bertajuk “The Praise of Aananthamaya”, diambil dari bahasa Sanskerta yang berarti penuh kebahagiaan—sebuah pujian yang dirayakan dalam limpahan suka cita.
Suka cita itu tercermin dalam transformasi kepompong menjadi kupu-kupu. Kepompong menjadi ruang organik tumbuh kembang makhluk hidup. Setiap pengunjung pameran diajak berinteraksi dengan memasuki Aananthamaya untuk menciptakan ruang kepompong dari versinya masing-masing. Mereka diajak menyadari, berkontemplasi, menerima, hingga akhirnya lahir kembali menjadi kupu-kupu yang siap menaklukan dunia.
Instalasi “The Praise of Aananthamaya” hadir di pameran pameran kolektif Anima Animo bersama 85 seniman lainnya di String, Jalan Panaitan No. 23, Bandung, 22-24 Januari 2026.
Aananthamaya lekat kaitannya dengan makrokosmos dan mikrokosmos di alam. Menurut senimannya, Debora Ayu Quinta atau biasa disapa dengan Boya, instalasi ini diciptakan dengan latar belakang bahwa masih banyak masyarakat yang merasa asing dengan lingkungan. Padahal semua yang ada di bumi terkoneksi dengan seluruh makhluk hidupnya. Alam semesta sebagai makrokosmos dan manusia menjadi mikrokosmosnya. Dari situ tercipta keseimbangan.
"Kita adalah mikrokosmos dalam makrokosmos (alam). Tapi sebaliknya, kita juga adalah makrokosmos buat bakteri, buat virus-virus dalam diri kita. Segala partikel itu 'kan alam juga sebenarnya," terang Boya, saat ditemui BandungBergerak di String, Kamis, 22 Januari 2026.
Perempuan 27 tahun tersebut menuturkan, penggunaan kain dan tekstil bekas menjadi kekuatan utama dalam Aananthamaya. Selama berproses Boya mengusung semangat pelestarian lingkungan dengan meminimalkan sampah. Keluarganya di rumah aktif menjahit. Ia menggunakan limbah sisa menjahit, seperti kain dan pita, untuk membuat instalasi Aananthamaya. Begitu juga juntai-juntaian denim yang didapatkan dari vendor tekstil.
"Jadi mereka itu banyak banget yang memang denim-denim itu berceceran di lantai dan memang akan terbuang. Jadi aku ambil banyak (untuk karya)," paparnya.
Boya yang sekaligus event manager Anima Animo, menceritakan awalnya Anima Animo akan menjadi pameran tunggal Aananthamaya. Tapi, Boya menginginkan pameran ini menjadi ruang kolektif yang inklusif. Dengan begitu semua orang dari lintas usia, lintas disiplin, profesi, hingga daerah bisa berkarya. Baginya, mengekspresikan seni menjadi hak semua orang.
"Aku ngerasa, ini momen yang tepat juga untuk aku, justru pengin ngasih lihat kalau banyak seniman-seniman yang enggak harus berstatus seniman, tapi bisa bikin karya, bisa menikmati karya," jelasnya perempuan yang berprofesi sebagai guru seni di Santo Aloysius Bandung.
Anima Animo dibuka dengan performance art dari kolaborasi Ica dan Glenn Eliezer yang bertajuk "Lucid Chaos". Drama solilokui ini menceritakan tentang serangkaian kekacauan dalam keteraturan yang dipadu dengan seni suara yang memikat hati pengunjung secara dramatis.
Anima Animo hadir dengan berkolaborasi bersama Unit Kegiatan Mahasiswa Seni Rupa Desain (UKM SRD) UIN Bandung, Ame Vinci sebagai ekskul seni sekolah Santo Aloysius, Gummy Art Studio, dan Stud dari Yogyakarta.
Total ada 86 karya yang menginterpretasikan kembali tentang jiwa, diri, dan tujuan seniman dalam alam semesta. Media dan pendekatan karya-karya yang dihasilkan pun beragam. Dari seni lukis, tekstil, seni digital, rajut, hingga clay yang kembali mendefinisikan semesta alam melalui makhluk hidup, tanaman, dan hewan.
Baca Juga: Pameran Seniman Muda di ArtSociates dan Hybridium, Mengekspresikan Keberagaman Imajinasi
Keluh Kesah Seniman Bandung di Hadapan Wali Kota Muhammad Farhan: Pemajuan Kebudayaan Jalan di Tempat
Instalasi Karya Lainnya
Salah satu seniman cilik sekaligus murid Boya di SMP Santo Aloysius Sultan Agung, Chavon Fersa Haganta Depari, 13 tahun, turut memajang karyanya yang terbuat dari clay. "Human Sunflowers" menjadi karyanya, memperlihatkan seorang manusia yang ingin menjadi bagian dari alam, sehingga kepala dan bagian dalam tubuhnya keluar bunga matahari.
Sebagai salah satu anggota ekskul Ame Vinci, Chavon getol membuat karya seni. Bersama ibunya, Chavon juga turut membuka stand di Pasar Seni ITB 2025 lalu dengan menjual karya bunga matahari dan tulip dari pipeline. Eksistensinya dalam berkesenian kembali hadir di Anima Animo ini.
Peserta pameran lainnya, Badia Manurung, 58 tahun, memamerkan karya lukisannya dari krayon. Lelaki berprofesi pengacara sekaligus paman Boya ini melalui lukisannya menghadirkan guratan-guratan tegas, dengan warna tajam dan kontras untuk menghasilkan lukisan kuda yang ciamik dengan tajuk "Captivating Aura". Dari lukisannya, terpancar energi yang anggun dan aura yang memikat jiwa demi mengambil langkah dan menembus kabut.
"Terlihat kuat namun elegan," ujar Badia.
Badia bercerita, sejak SMA dia senang dengan pelajaran seni dan mencorat-coret. Meski sejak sekolah dia berada di jurusan eksak dan kini aktif di dunia hukum, darah seni dari keluarganya tetap melekat kuat. Terlihat dari guratan karyanya yang elegan dan kesenangannya dengan kuda.
"Jadi, ya, aku senang kuda karena itulah, ada 'kan horse power ya, tenaga kuda, berpacu gitu, tapi juga indah, elegan," paparnya.
Masih dalam satu keluarga yang sama, pensiunan hakim di Denpasar sekaligus ibu Boya, Erlina Manurung, 69 tahun, juga ikut memajangkan karya lukisnya dari cat akrilik. Berkarier menjadi hakim selama 40 tahun, tidak membuat dirinya menjauh dengan seni.
Selama di Denpasar dan jauh dari sanak keluarga saat Covid 2021 lalu, membuat dia cukup merasa terisolasi. Dari kesendiriannya, Erlina menghasilkan karya lukis seorang wanita bergaun merah dan berpayung berjalan kaki di hutan. Bertajuk "Menanti Kekasih", mampu memikat pengunjung dengan warna dominan abu yang menunjukkan kesedihan dan kesepian dengan kontras wanita bergaun merah berjalan menuju kekasihnya dengan berharap.
"Seorang kekasih lagi sendirian, jadi kayak kita merindukan orang-orang yang kita kasihi gitu," jelas Erlina.
Boya Studio Art Club
Perjalanan pameran ini tidak berhenti di Anima Animo saja. Langkah nyata dalam mewujudkan berkesenian yang inklusif, melahirkan komunitas Boya Art Studio Club yang diresmikan bersamaan dengan pembukaan Anima Animo.
Diinisiasi oleh Boya dan saudarinya Marta Defitriana, Boya Art Studio Club menjadi ruang yang aman bagi siapa pun yang ingin berkesenian, sesuai dengan slogannya "A safe place to grow". Tidak harus menjadi praktisi seniman untuk menjadi anggota, siapa pun bisa untuk tumbuh bersama-sama melahirkan seni yang lekat dengan bagian kehidupan itu sendiri.
Nantinya, komunitas ini akan membuka ruang untuk seni lukis, clay, teater, personal branding, dan lainnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

