Menengok Namu Buku
Namu Buku salah satu toko buku baru di Yogyakarta. Kota gudeg ini sedikitnya memiliki sekitar 29 toko buku.
Penulis Virliya Putricantika28 Januari 2026
BandungBergerak - Bagi beberapa orang, Yogyakarta tumbuh menjadi kota urban yang memiliki banyak ruang baca. Saya salah satunya yang menganggap begitu. Antusiasme ini tidak hanya berhenti di satu atau dua tempat baca favorit, tapi juga berlaku bagi ruang literasi yang baru hadir. Termasuk hadirnya Namu Buku di sisi utara kota ini.
Akhir pekan lalu, Minggu 25 Januari 2026, saya berkesempatan hadir di agenda rutin mereka yang dinamai Among Namu. Bersepeda motor dari tempat tinggal menuju Sleman ternyata cukup jauh, tapi saya yakin kalau di Bandung dengan waktu tempuh yang sama paling-paling saya hanya bergeser setengah perjalan dari target. Lokasi tempat buku dengan konsep ala Korea ini berada di Bimomartani, Sleman, Yogyakarta.
Menghabiskan waktu 40 menit di perjalanan kali terasa unik. Setelah melewati jalanan Kaliurang yang begitu panjang dan menanak itu akhirnya saya berbelok ke kanan, memasuki wilayah perkampungan. Jujur, rasanya seperti pergi berlibur dan bersyukurnya saya merasakan itu. Sebagai pendatang, beberapa kali tersesat karena hilang sinyal menjadi bahan tertawaan sendiri. Itu juga yang saya ceritakan ketika sesi Among Namu yang kedua dimulai.
Satu per satu dari kami yang hadir di perpustakaan dengan dinding berwarna putih itu mulai berkenalan. Lucunya, baru kali ini rasanya saya berkenalan dengan menyebut tipe kepribadian. Ruangan itu segera terlihat penuh ketika sembilan manusia duduk lesehan bersama di sana.
Namun saya kira, Nining, pengelola Namu Buku, berhasil membangun kehangatan itu tanpa butuh waktu yang lama. Ia menjelaskan rangkaian agenda hari ini diiringi dengan senyumannya. Di depan Nining tersedia meja kecil berwarna merah muda, ada peta Yogyakarta, kertas ukuran A4 berwarna hijau, dan alat tulis lainnya untuk kami membuat pembatas buku.

Menandai Toko Buku di Yogyakarta
Nining menyimpan peta Yogyakarta yang didominasi warna hijau dan sedikit merah muda untuk wilayah kota. Ia terinspirasi dari pengalamannya ketika berada di Pulau Jeju, Korea Selatan. Di pulau yang dikenal dengan profesi haenyeo (penyelam tradisional perempuan) itu memiliki peta titik-titik literasi yang banyak dan mereka menandai itu, sehingga menurut Nining itu memudahkan wisatawan yang memang menggemari buku.
“Uniknya di sana (Jeju) toko bukunya itu tidak selalu selalu berlabel toko buku. Jadi, bahkan ada yang itu dibangun di bangunan bekas pabrik gula dan itu papan tanda pabrik gulanya enggak di copot,” ceritanya saat memulai sesi Among Namu.
Setelah Nining bercerita, beberapa dari kami bergantian menyebut tempat dan toko buku yang pernah dikunjungi, juga menyebutkan yang masih dalam wishlist. Ada sekitar 29 tempat buku yang tercatat, tentunya kebanyakan terletak di sisi utara Yogyakarta. Kami mulai menandai peta hijau dengan kertas bundar yang hanya berdiameter lima milimeter disertai nomor urut yang telah disusun.
Kami yang hadir di agenda Among Namu tidak memungkiri bahwa tempat buku menjadi safe place yang paling dicari di tengah ragam kondisi setiap harinya. Perpustakaan independen tidak hanya dipenuhi buku di kanan-kirinya saja, tapi tempat ini juga menjadi teman yang paling akrab saat mencari keheningan.
“Toko buku selalu berhasil membawa aku kembali ke situ. Buatku wajar untuk meromantisasi kehadiran toko buku,” cerita Salsa yang mengenakan kebaya encim merah jambu, yang sudah berkunjung untuk kali kedua ke Namu Buku.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Bisri Muhamad dan Mawar Tanpa Mengapa
RESENSI BUKU: Ketika Kekerasan Seksual di Ruang Digital Merembet ke Fisik
Makna Toko Buku
Kertas ukuran A4 berwarna hijau itu mulai dibagikan. Ada huruf hangul di sana, tentu kami kebingungan, tapi Nining yang telah menempuh pendidikan sastra Korea, sabar menjelaskan makna kalimat di sana. Sederhananya kami menceritakan arti toko buku.
Kami mulai menulis dengan pena masing-masing. Hanya terdengar instrumen musik dari pengeras suara di pojok ruangan yang berukuran sembilan meter persegi itu. Semuanya terfokus pada cerita masing-masing. Selepas itu kami membagikan sedikit cerita tentang makna dari toko buku.
“Toko buku bukan sekedar ruang kosong tapi juga tempat bertemu satu sama lain,” penggalan cerita Rona yang menuliskan kisahnya dengan apik.
Nantinya cerita yang kami tulis akan dikumpulkan menjadi zine digital yang dapat diakses pengunjung lainnya.
Untuk melengkapi rangkaian acara, kami pun membuat pembatas buku. Saya membuat dua, memaksimalkan bahan yang ada dan kutipan dari buku Pram menjadi pilihan saya untuk mengisi pembatas buku. Tak lupa merepotkan Nining untuk menulis dengan huruf hangul di sana.
Pertemuan tiga jam itu terasa singkat, tidak terasa sudah menukar 120 menit dengan cerita dan senyuman di sana. Kami menutup pertemuan dengan mimuman khas Namu dan roti yang dibagikan seorang kawan yang sedang merayakan hari lahirnya.
Kami pulang menuju tempat tinggal masing-masing sambil terus mencintai buku dan ruang-ruang literasi yang harapannya terus tumbuh. Tidak perlu berlebihan untuk bersikap romantis pada toko buku. Barangkali dengan menengoknya secara berkala, memastikan suara ‘srek-srek’ dari halaman yang terus berganti di sana menjadi salah satu cara untuk mencintai toko buku.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

