Belajar Mendengar dengan Mata Bersama Teman Tuli
Ruang Rasa mengajak publik memahami bahasa isyarat dan dunia Teman Tuli secara inklusif dan setara. Diinisiasi komunitas perempuan Growing Sisters.
Penulis Riani Alya28 Januari 2026
BandungBergerak - Sepasang tangan bergerak lincah menyusun makna melalui bahasa isyarat, sementara riuh percakapan perlahan mereda dan memberi ruang bagi bahasa tanpa suara Teman Tuli, sebutan bagi kawan difabel pendengaran dan wicara. Suasana itu mengawali penyelenggaraan “Ruang Rasa: Merangkul Jarak, Menenun Makna” yang digelar Minggu, 27 Januari 2026, di Balubur Town Square, Bandung.
Ruang Rasa diinisiasi oleh komunitas perempuan Growing Sisters untuk menjembatani komunikasi antara Teman Tuli dan teman dengar melalui pembelajaran bahasa isyarat serta pengenalan dunia Teman Tuli secara setara.
Nurul, salah satu Teman Tuli yang didampingi Juru Bahasa Isyarat (JBI), menjelaskan bahwa bahasa isyarat merupakan bahasa yang digunakan masyarakat Tuli untuk berkomunikasi. Bahasa ini tumbuh secara alami sejak lahir, berangkat dari gerakan sederhana seperti makan dan minum. Menurutnya, bahasa isyarat bukan sekadar rangkaian gerakan tangan, melainkan bagian dari pengalaman hidup dan budaya Teman Tuli.
Hal inilah yang coba dihadirkan dalam Ruang Rasa. Peserta tidak hanya diajak mempelajari bentuk-bentuk isyarat, tetapi juga memahami keberagaman pengalaman hidup Teman Tuli.
Nurul menjelaskan bahwa kondisi Tuli sangat beragam: ada yang Tuli sejak lahir dengan orang tua dengar sehingga tidak memperoleh akses bahasa sejak bayi, ada pula yang kehilangan pendengaran saat remaja atau dewasa namun masih memiliki sisa persepsi bunyi. Karena latar belakang itu, tidak semua Teman Tuli menggunakan bahasa isyarat sepenuhnya—sebagian tumbuh dengan bahasa verbal.
“Ada Tuli yang menggunakan bahasa isyarat full dan ada Tuli yang tidak menggunakan bahasa isyarat karena sejak lahir menggunakan bahasa verbal,” Ucap Nurul.
Ia juga menekankan etika dasar berkomunikasi dengan Teman Tuli. Untuk memanggil perhatian, cukup dengan menepuk ringan, bukan berteriak. Saat berkomunikasi, kontak mata sangat penting karena Teman Tuli mengandalkan penglihatan. Jika menggunakan telepon genggam, komunikasi sebaiknya dilakukan melalui panggilan video. Nurul menambahkan, penggunaan istilah “Tuli” dengan huruf kapital penting bagi identitas mereka.
“Kalau pakai T besar kami senang, tapi kalau T kecil kami tidak suka,” katanya.
Kegiatan Ruang Rasa diawali dengan Teman Tuli memperagakan isyarat huruf A hingga Z, yang kemudian diikuti para peserta untuk mengeja nama masing-masing. Peserta lalu dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil yang masing-masing didampingi satu Teman Tuli. Setiap kelompok mempelajari topik berbeda, seperti nama-nama kota di Indonesia atau memperkenalkan diri menggunakan kalimat isyarat yang lebih panjang. Meski sempat kebingungan, peserta perlahan mulai memahami melalui pengulangan, gerakan mulut, dan saling mengangguk sebagai tanda pengertian.
Selain belajar bahasa isyarat, Ruang Rasa juga menghadirkan sesi bermain permainan tradisional seperti bola bekel, gobak sodor, yoyo, hingga permainan stik es krim. Suasana dipenuhi tawa dan canda, dengan peserta saling membantu tanpa sekat antara Teman Tuli dan teman dengar. Semua terlibat setara, belajar dan bermain bersama.
Nurul menegaskan pentingnya memahami bahasa isyarat, terutama di bidang pendidikan dan kesehatan.
Ketertarikan masyarakat untuk belajar pun terus tumbuh. Salah satunya datang dari Riska, teman dengar yang hadir dalam Ruang Rasa, yang melihat bahasa isyarat sebagai jembatan penting untuk menciptakan komunikasi yang inklusif.
“Aku memang tertarik untuk belajar bahasa isyarat, sebelumnya juga aku udah sedikit-sedikit belajar bahasa isyarat, dan kebetulan ada ini (Ruang Rasa) langsung ikutan,” ucap Riska.
Ketertarikan Riska terhadap bahasa isyarat dimulai dari pandangannya yang merasa jarang sekali ada orang yang bisa bahasa isyarat. Dia berpikir bagaimana orang Tuli berkomunikasi jika caranya terbatas, sedangkan semua orang di bumi ini berhak untuk berkomunikasi dengan banyak orang, termasuk Teman Tuli. Karena dengan komunikasi, setiap orang akan menambah banyak pengetahuan.
“Ternyata gak semudah itu, karena yang dipelajari masih terbatas, banyak yang belum tahu, tapi ternyata waktu komunikasi itu asal tahu huruf karena mereka (Teman Tuli) akan memahami dengan gerak bibir,” katanya.
Baca Juga: Literasi Keuangan dan Investasi untuk Teman Tuli
PROFIL KOMUNITAS KARYA SENI TULI: Mendengarkan yang Tak Terdengar
Saling Berempati
Melalui Ruang Rasa, Riska belajar, setiap manusia harus terus berkambang dan belajar banyak hal. mungkin bahasa isyarat tidak wajib dipelajari. Namun ketika kita mempelajarinua ada dampak berarti bagi Teman Tuli.
Linda, founder Growing Sisters menjelaskan bahwa jarak antara Teman Tuli dan teman dengar bukan tentang seberapa jauh mereka terpisah, melainkan terjadi karena perbedaan cara komunikasi dan memahami.
Ruang Rasa digagas oleh Rosa sebagai Co-Founder. Komunitas ini dilatarbelakangi keinginan Rosa untuk membuat kegiatan belajar bahasa isyarat sekaligus memberi ruang bagi Teman Tuli. Lebih dari itu, Ruang Rasa menjadi jembatan untuk saling berempati dan memahami bagaimana cara mendengar tanpa telinga dan berbicara tanpa suara.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

