MAHASISWA BERSUARA: Ketika Braga Tak Pernah Sepi dan Catcalling Tak Pernah Berhenti
Catcalling di ruang publik menjadi cerminan budaya yang masih menormalisasi pelecehan secara verbal. Keramaian menjadi tameng pelaku dan kesunyian bagi para korban.

Winda Ariqah Khairunnisa
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Padjadjaran (Unpad)
28 Januari 2026
BandungBergerak.id – Ketika mendengar nama Kota Bandung, apa yang pertama kali terlintas di kepala kita? Dilan, Paris van Java, atau justru Braga. Kota yang terletak di Jawa Barat ini dikenal sebagai kota metropolitan yang ramai oleh aktivitas pendidikan, khususnya para mahasiswa, sekaligus kota wisata dan kota dengan jejak sejarah yang kuat. Tak heran jika Bandung kerap menjadi tujuan banyak orang untuk berlibur, bahkan sekadar healing sejenak dari hiruk pikuk kehidupan sehari-hari.
Sebagai kota wisata, Bandung menawarkan beragam destinasi, mulai dari wisata alam hingga pusat perbelanjaan modern. Lembang, Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda, kawasan Asia Afrika, Saung Angklung Udjo, museum-museum sejarah, wisata pegunungan, Trans Studio Bandung, hingga kawasan Braga menjadi magnet yang terus menarik jutaan pengunjung setiap tahunnya. Kota ini seolah tak pernah benar-benar tidur.
Di antara sekian banyak destinasi tersebut, Braga menempati posisi istimewa. Kawasan ini merupakan salah satu jalan legendaris dan paling ikonik di Kota Bandung. Deretan bangunan bergaya arsitektur kolonial Belanda masih berdiri kokoh, berdampingan dengan kafe-kafe populer, restoran, ruang seni, pedagang kaki lima, serta berbagai spot foto yang estetik. Para seniman menjajakan karya mereka di pinggir jalan, musik jalanan mengalun, dan lampu-lampu malam menciptakan suasana yang romantis sekaligus hidup.
Baik di hari kerja maupun akhir pekan, Braga nyaris tak pernah sepi. Pengunjung datang dari berbagai latar belakang dan usia: anak-anak sepulang sekolah, mahasiswa, ibu-ibu, keluarga, pekerja, hingga wisatawan dari berbagai daerah. Braga juga menjadi salah satu pusat pergerakan ekonomi warga Bandung, dengan perputaran perdagangan dan peluang usaha yang terus tumbuh. Data menunjukkan bahwa Kota Bandung mencatat sekitar 8,5 juta kunjungan wisatawan pada tahun 2024 dan sekitar 6,5 juta kunjungan hingga kuartal ketiga tahun 2025. Braga menjadi salah satu destinasi utama yang menyumbang angka tersebut, didukung oleh lokasinya yang strategis di pusat kota serta jalan yang relatif aman dan ramah pejalan kaki.
Namun, di balik keramaian dan estetika kota itu, ada realitas yang kerap luput dari sorotan: catcalling. Pertanyaannya kemudian, apakah ramainya pengunjung di Braga menjamin rasa aman bagi semua orang? Jawabannya justru sebaliknya. Semakin ramai, catcalling seolah tak pernah berhenti.
Baca Juga: MAHASISWA BERSUARA: Dinamika Hukum dalam Penanganan Kasus Kekerasan Seksual
MAHASISWA BERSUARA: Melawan Budaya Diam, Memerangi Kekerasan Seksual di Dunia Pendidikan
MAHASISWA BERSUARA: Ketika Kekerasan Seksual pada Tragedi Mei 1998 Dianggap Hanya Cerita
Cattcalling yang Melelahkan
Pengalaman saya ke Braga beberapa waktu lalu menjadi bukti nyata. Niat awal saya sederhana: menikmati suasana kota dan bermain bersama teman-teman. Namun belum genap beberapa menit melangkah, suara siulan dan panggilan mulai terdengar. Awalnya satu, lalu disusul yang lain. Dalam satu hari, kita mengalami belasan kali catcalling sesuatu yang mungkin terdengar sepele bagi sebagian orang, tetapi sangat melelahkan bagi mereka yang mengalaminya langsung.
Catcalling yang saya dan teman-teman temui di Braga hadir dalam berbagai bentuk. Mulai dari siulan, panggilan bernada menggoda, hingga komentar verbal seperti “kiw-kiw cewek”, “cantik banget ih kayak artis”, “hai” (dengan nada menggoda), “meuni geulis pisan euy”, bahkan “dedek gemes”. Pelakunya pun beragam: tukang parkir, pedagang, hingga pengunjung lain yang lalu-lalang. Bahkan, dalam beberapa situasi, perempuan pun dapat melakukan hal serupa dan tetap menimbulkan rasa tidak nyaman bagi perempuan lainnya. Tidak jarang pula catcalling muncul dengan dalih promosi dagangan yang berlebihan, tetapi tetap melanggar batas kenyamanan pengunjung.
Catcalling sering kali dianggap bercanda atau bahkan pujian. “Ah, cuma iseng”, “anggap saja pujian”, atau “berarti kamu menarik”, adalah respons yang kerap muncul. Namun, catcalling membuat seseorang merasa takut, terintimidasi, atau ingin segera menjauh dari suatu tempat. Catcalling adalah tentang kuasa, tentang seseorang yang merasa berhak mengomentari tubuh orang lain tanpa izin, di ruang publik yang seharusnya menjadi ruang aman bagi semua.
Yang membuat situasi ini semakin menyedihkan adalah lokasi terjadinya. Braga merupakan kawasan wisata dan ruang publik yang dipromosikan sebagai tempat aman, inklusif, dan ramah. Namun realitas di lapangan menunjukkan sebaliknya. Bagi perempuan, berjalan di ruang publik sering kali bukan aktivitas yang netral. Ada pertimbangan pakaian, waktu, rute, hingga ekspresi wajah. Ada kewaspadaan yang terus-menerus menyertai setiap langkah.
Belasan kali catcalling dalam satu malam bukanlah kebetulan, melainkan cerminan dari budaya yang masih menormalisasi pelecehan secara verbal. Ketika perilaku ini dilakukan secara terbuka di ruang ramai tanpa konsekuensi, itu menandakan adanya pembiaran sosial dan rasa tidak peduli atas kurangnya edukasi. Tawa pelaku, diamnya orang sekitar, dan anggapan bahwa hal tersebut “biasa saja” membuat catcalling terus berulang. Keramaian justru menjadi tameng bagi pelaku dan kesunyian bagi para korban.
Ruang Publik yang Aman
Dampak catcalling tidak berhenti pada momen itu saja. Ia meninggalkan jejak psikologis: rasa tidak nyaman, cemas, bahkan takut untuk kembali ke ruang publik tertentu. Ketika seseorang memilih pulang lebih cepat, menghindari berjalan sendirian, atau mengurungkan niat untuk menikmati tempat wisata karena takut dilecehkan, di situlah kebebasan perlahan dirampas. Pertanyaannya menjadi semakin penting: siapa yang sebenarnya kehilangan hak atas rasa aman dan kehilangan hak atas kebebasan berjalan tanpa rasa takut?
Masalah catcalling tidak bisa dilepaskan dari budaya patriarki yang masih mengakar. Tubuh perempuan kerap diposisikan sebagai konsumsi publik, menjadi sesuatu yang sah untuk dinilai, dikomentari, bahkan diklaim. Dalam situasi seperti ini, korban justru sering diminta untuk maklum, lebih berhati-hati, atau menyesuaikan diri. Padahal, tanggung jawab sepenuhnya ada pada pelaku dan pada sistem sosial yang membiarkan perilaku tersebut terus terjadi.
Kita pulang dari Braga malam itu dengan perasaan lelah yang sulit dijelaskan. Bukan lelah karena berjalan jauh, melainkan lelah karena harus terus menjadi diri dan satu sama lain dari perbuatan orang-orang yang tak bertanggungjawab. Mengatur langkah, menahan ekspresi, dan berpura-pura tidak terganggu demi keselamatan diri.
Braga memang tak pernah sepi. Namun selama catcalling terus dianggap hal sepele, ruang publik akan tetap menjadi ruang yang tidak sepenuhnya ramah. Kota yang benar-benar hidup bukan hanya tentang lampu yang menyala, bangunan indah, dan masyarakat yang berlalu-lalang. Kota yang hidup adalah kota yang mampu memberikan rasa aman bagi semua penghuninya, tanpa terkecuali.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

