Walk with Me, Cibural: Dari Daun Gugur hingga Cerita Hantu
Sajian seni performa “Walk with Me, Ciburial” adalah sebuah usaha untuk merasakan secara langsung kehidupan warga yang tak akan tertulis dalam buku sejarah.
Penulis Yopi Muharam29 Januari 2026
BandungBergerak – Seorang perempuan mengenakan jubah putih bergerak kaku di antara penonton. Beberapa untai tali menjuntai keluar dari sela-sela jubah itu. Oleh para penonton, tali tersebut dikaitkan dengan resin yang memuat sejumlah bunga, daun, rambut, dan bebegig (orang-orangan) sawah.
Sementara di luar, seorang pria berumur lewat paruh baya sudah menunggu dengan galah sepanjang enam meteran yang di ujung atasnya tertempel aluminium selayaknya umbul-umbul. Ia menjadi semacam pemandu arah perjalanan rombongan kecil menyusuri gang-gang di Kampung Ciburial, Dago Pakar, Kota Bandung.
Pria pembawa galah itu adalah Alan Schacher, sementara perempuan berjubah itu WeiZen Ho. Turut berjalan kaki bersama mereka sejak dari studio Gelanggang Olah Rasa (GOR), sejumlah warga dan anak-anak setempat. Sore itu, Selasa, 27 Januari 2026, sepanjang jalan Dago Pakar yang biasanya padat oleh lalu lalang kendaraan relatif lengang. Hanya sesekali motor dan mobil melintas.
Tidak sedikit warga bertanya-tanya tentang rombongan yang terlihat amat mencolok ini, terutama karena pakaian yang dikenakan WeiZen dan galah yang dibawa Alan. Sebagian warga mengira ini syuting film, sementara yang lain menduga rombongan sedang melakukan ritual.
Di pertengahan perjalanan, di samping sebuah masjid, Ario Mahardika, salah seorang seniman Bandung, ikut berkontribusi dalam pertunjukan, memanfaatkan sebuah keranda jenazah yang sudah tak terpakai sebagai medium. Bakaran sampah seperti lakban hitam, kaca, dan plastik, dia gantungkan satu persatu di kerangka keranda tersebut, memunculkan instalasi abstrak.
Perjalanan rombongan kecil sore itu ditutup oleh penampilan Alan di sebuah rumah kosong. Kali ini galah yang digunakannya berbeda, dengan sebuah jubah hitam terkait di ujung atasnya. Di ruang tengah, Alan memutar-mutar galah, membuat jubah itu seolah melayang di udara sebelum nanti ia kenakan untuk menutupi badan.
Pada saat bersamaan, WeiZen dan Ario berjalanan mundur menuju ruangan lain yang lengang. Di bagian dapur, WeiZen meraba-raba tembok usang dengan tangannya. Sementara itu, Ario memilih ruang sempit di sebelah pintu masuk. Di sana, ia menabrakkan dirinya ke dinding sehingga membuat suara bising.
Sebelum bubar, ketiga seniman saling menukar sepatu dengan warga yang hadir menyaksikan. Aksi ini meniru peristiwa yang terjadi tepat 30 tahun lalu ketika Ketua RW 8 Asep Hendra dan istrinya melakukan tradisi munjungan setelah pernikahan. Mengenakan sepatu boots, kaki Asep lecet di tengah perjalanan sehingga memutuskan untuk bertukar sepatu dengan sang isrti yang ketika itu memakai sneakers.

Dari Daun hingga Hantu
WeiZen dan Alan merupakan pasangan seniman tamu asal Australia yang sedang mengeksplorasi budaya masyarakat dan sejarah Kampung Ciburial. Dalam seni performa (performance art) “Walk with Me, Ciburial”, mereka melibatkan warga, terutama ibu-ibu dan anak-anak. Mereka mengumpulkan daun, bunga, buah, dan benda-benda lain yang ditemukan di jalan-jalan Ciburial untuk kemudian diawetkan dengan menggunakan resin oleh WeiZen. Salah satu daun yang paling menarik, dan sudah pasti akan dia bawa pulang sebagai kenang-kenangan, adalah daun waru yang biasa digunakan warga untuk menggosok badan ketika mandi.
“Mungkin menurut orang lain ini (benda-benda itu) enggak berharga, tapi buat dia (Wei) tuh berharga banget,” ujar penerjemah ketika menyampaikan kesaksian sang perempuan seniman kepada warga dalam sesi berbagi cerita pascapenampilan.
WeiZen mengaku sangat terkesan menyaksikan hidup keseharian warga, dan mendengarkan langsung beragam cerita dari mereka. Baginya, sajian seni performa “Walk with Me, Ciburial” adalah sebuah usaha untuk merasakan secara langsung kehidupan yang tak akan tertulis dalam buku sejarah. “Recorded history is never complete without people memory,” tuturnya.
Alan membagikan kisah tentang galah yang ia bawa. Material aluminium yang dikaitkan di ujung atas di awal perjalanan melambangkan penerangan yang dibutuhkan di tempat-tempat gelap atau minim cahaya. Sementara itu, jubah hitam yang menggantikannya di ujung penampilan merupakan representasi dari kepercayaan masyarakat sekitar terhadap hantu.
Alan mengaku kagum dengan keuletan orang Indonesia dalam mengakali segala sesuatu demi memecahkan sebuah persoalan. Ia mencontohkan seorang penjual bakso yang berjualan dengan memodifikasi sepeda motor. Sesuatu yang menurutnya sama sekali tidak mudah untuk dilakukan.
“Dia berusaha mencari cara membawa galahnya agar bisa melewati rumah dan kabel listrik, dan dia berusaha mencari jalan keluarnya, seperti bagaimana orang Indonesia menyelesaikan masalah,” ujar Ferial Affif, yang berperan sebagai fasilitator kedua seniman, membahasakan ulang cerita Alan.

Baca Juga: Wayang Potehi di Tjap Sahabat, Menghidupkan Kembali Tradisi Tionghoa di Era Kontemporer
Cekungan Lanskap Bandung dan Hidup Keseharian dalam Garis Pelukis Rakyat Sudjana Kerton
Kesenjangan Sosial di Kawasan Komersial
Asep Hendra, Ketua RW 08 Ciburial, mengatakan bahwa kolaborasi penampilan seni dengan seniman luar negeri ini merupakan yang pertama kali terjadi selama ia menjabat ketua RW. Ia berharap, kegiatan-kegiatan seni serupa dapat terus diadakan di masa mendatang, dan memberi warga berbeda bagi kampung. Apalagi, menurut Asep, Ciburial memiliki titik-titik seni yang potensial. Salah satunya, pendopo yang sering dijadikan tempat berkesenian, terutama pencak silat. Bangunan yang sama, yang dilalui dalam perjalanan seni performa, juga difungsikan sebagai ruang berkumpul warga untuk bermusyawarah.
Nama Ciburial diyakini berasal dari kosa kata Sunda 'ci' yang berarti air dan 'burial' yang berarti besar. Secara harafiah, nama ini bermakna air besar yang keluar dari tanah, dan sangat mungkin terkait dengan kekayaan mata air dan bahkan air terjun yang dimiliki.
Secara administratif, Kampung Ciburial merupakan bagian dari Desa Ciburial, Kecamatan Cimeunyan, Kabupaten Bandung, yang terdiri dari 12 RW. Ciburial selama ini dikenal dengan potensi wisata alamnya, seperti Tahura (Taman Hutan Rakyat Ir. Djuanda), Maribaya, dan beberapa air terjun, seperti Curug Lebak Lalai dan Curug Omas.
Berkat potensi keindahan alam ini, Ciburial tumbuh sebagai kawasan komersial, salah satunya ditandai dengan kemunculan banyak kafe yang digandrungi orang muda dan keluarga.
Penelitian yang ditulis oleh Annisa Lazuardina dan Shabrina A. Ghassani berjudul ‘Dampak Pariwisata terhadap Kehidupan Lokal di Kawasan Wisata’ menyebut bahwa pertumbuhan pesat Ciburial sebagai kawasan komersial dengan banyak kafe tidak diiringi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM) lokal untuk menjadi koki atau barista. Pemuda-pemudi Ciburial memilih untuk bekerja di rumah makan dan kafe yang berdiri di rumah mereka karena belum mampu bersaing dengan usaha investor besar. Sebagian besar warga juga belum memahami seluk-beluk perizinan usaha.
Menurut kedua penulis, temuan-temuan tersebut menghambat perkembangan desa wisata Ciburial. Dan lebih dari itu, terjadi kesenjangan sosial antara masyarakat dengan pendatang, sebagaimana terlihat dari gaya hidup yang dijalani.
“Keterbatasan dalam pelatihan-pelatihan yang diadakan oleh pemerintah setempat juga membuat kecemburuan sosial satu sama lainnya,” tulis Annisa dan Shabrina, dikutip BandungBergerak, Selasa, 27 Januari 2026.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

