• Cerita
  • Cekungan Lanskap Bandung dan Hidup Keseharian dalam Garis Pelukis Rakyat Sudjana Kerton

Cekungan Lanskap Bandung dan Hidup Keseharian dalam Garis Pelukis Rakyat Sudjana Kerton

Lebih dari proses artistik, guratan tinta yang hadir dalam sketsa Sudjana Kerton adalah dokumen ingatan sejarah kota.

Lukisan Gunung Manglayang karya Sudjana Kerton. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)

Penulis Bawana Helga Firmansyah16 Januari 2026


BandungBergerak – Di atas kertas yang menguning dan bergelombang, guratan pastel menangkap lanskap pegunungan di arah timur cekungan Bandung. Hutan-hutan berwarna kebiruan bersinggungan dengan garis-garis kecokelatan yang membentuk kontur, merepresentasikan perkebunan sebagai sumber kehidupan masyarakat. Ketiadaan figur-figur manusia dalam karya berdimensi 80 x 60,5 sentimeter ini memberi kesan wilayah utara Bandung yang sunyi. Jauh dari riuh hari ini.

Dijuduli Gunung Manglayang, karya ini turut dipamerkan dalam “Bandoeng Doeloe Memories Through the Eyes of Sudjana Kerton” di Plataran Bandung dari 16 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026. Menyajikan ingatan Sudjana Kerton akan tanah kelahirannya, sebagian besar karya berbentuk drawing dan karya grafis berupa litografi serta cukil kayu. Bukan sekadar urusan artistik, karya-karya Sudjana mendorong apresiator membaca kembali dinamika zaman di Bandung.

Dalam sesi tanya jawab pembukaan pameran, Tjandra Kerton mengenang kedekatan ayahnya dengan lanskap pegunungan dan kehidupan rakyat kecil seperti yang turut hadir dalam pameran ini.

“Yeah, my, my father’s, of course as growing up in Bandung and he was a memory man. Soreang pasti di zaman tahun (19)30 atau (19)31. Jadi di sana kan orang membajak sawah pakai kerbau. So, my father that is imprinted image in his mind,” tuturnya.

Sketsa berjudul Pinggir Djalan karya Sudjana Kerton. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)
Sketsa berjudul Pinggir Djalan karya Sudjana Kerton. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)

Melukis Hidup Keseharian di Masa Revolusi

Selain memvisualkan unsur-unsur lanskap, melalui goresan-goresan tinta, Sudjana Kerton turut menangkap kehidupan sehari-hari yang bersemangat dan jujur dalam lanskap urban Kota Bandung di masa awal kemerdekaan. Diciptakan dalam rentang tahun 1948-1949, ketika Republik Indonesia masih terlalu muda untuk memiliki kestabilan ekonomi dan politik, sketsa-sketsa tinta di atas kertas tersebut tak bisa dilepaskan dari dinamika kehidupan yang terjadi di sekeliling seniman.

“Dalam masa sekitar proklamasi kemerdekaan RI, pertempuran yang sering terjadi hampir memustahilkan pengadaan material atau media lukis. Yang relatif lebih mudah didapatkan adalah kertas, tinta Cina, arang (charcoal), dan pena,” tulis Herry Dim Hery Dim dalam esai “Sudjana Kerton Pelukis Kemerdekaan yang Merdeka” yang termuat di majalah Matra edisi khusus, Februari 1997, dan kemudian turut terhimpun dalam buku Sejarah Terpisah: Sudjana Kerton dalam Seni Rupa Modern Indonesia.(2003) yang diterbitkan oleh Sanggar Luhur, Bandung. .

Dalam Pinggir Djalan, 1949, 25 x 30 sentimeter, Sudjana memvisualkan beberapa figur yang sedang duduk, sementara beberapa lain tampak berdiri membawa barang. Kita bisa menduga mereka sebagai sekumpulan pedagang kaki lima yang kerap dijumpai di trotoar jalan. Goresan-goresan dalam karya ini terkesan cepat dan dinamis menampilkan beberapa figur manusia, tanpa menuntut detail tetapi berhasil menangkap suatu gerak.

Detail keseharian lain dapat dinikmati dalam Anak-Anak Bermain Gambar, 1948-1949 32,5 x 25 sentimeter. Karya tinta di atas kertas ini menangkap sudut pandang tampak atas yang menampilkan anak-anak yang berkerumun dengan ekspresi serius dengan permainannya.

Pada rentang tahun yang sama, Sudjana memberi gambaran yang cukup detail mengenai polisi militer. Goresan-goresannya menggambarkan detail komponen dan lipatan pada seragam, dalam sketsa tersebut menampilkan pula senjata laras pada figur yang diambil pada sudut pandang menyamping dan tampak belakang.

Herry Dim menyandingkan kemahiran Sudjana membuat sketsa dengan nama-nama penting dalam jagat seni rupa Indonesia mulai dari Barli hingga Affandi dan Hendra Gunawan. Mereka inilah, bersama juga Angkama, Wahid, dan Kustiwa, yang pada masa perjuangan sekitar 1945 dikenal sebagai “pelukis front” yang “merekam garis depan perang kemerdekaan sambil kadang-kadang ikut memanggul senjata”.

Dalam wawancara dengan Ridi Winarno untuk penyusunan skripsi sarjana ISI tahun 1991, Sudjana Kerton menjelaskan mengenai karya-karyanya yang kerap menangkap karakter kehidupan masyarakat kecil. Ia mengaku “sedang mencari bagaimana sebetulnya orang Indonesia itu” dengan mempelajari kebiasaan-kebiasaan serta penampakan fisik mereka. Caranya ya dengan menyatu dengan dinamika keseharian mereka.

“Bapak itu sudah dari dulu, dari permulaan tahun (19)45-an sudah melukis masyarakat sehari-hari. Kebiasaan. Mungkin karena ayah dulu punya sawah, orang bekerja, kotor. Bapak waktu itu sudah benar-benar menyatu,” tutur sang seniman.

Suasana pameran Bandoeng Doeloe Memories Through the Eyes of Sudjana Kerton di Plataran Bandung, Selasa, 16 Desember 2025. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)
Suasana pameran Bandoeng Doeloe Memories Through the Eyes of Sudjana Kerton di Plataran Bandung, Selasa, 16 Desember 2025. (Foto: Insan Radhiyan Nurrahim/BandungBergerak)

Baca Juga: Membiarkan Tembok Berbicara
Manusia dan Gula Kawung, Keseimbangan Alam dalam Pameran Menjaras Memori Kolektif

Memahami Pelukis Rakyat yang Bebas

Tjandra Kerton mengenang masa-masa kecilnya saat tinggal di sebuah apartemen kecil di New York. Sang ayah sedang melukis di atas easel. Saat ditinggal sebentar, si anak mengambil kuas dan mulai mencoret wajah ayahnya sendiri. Ketika sang ayah kembali, ia marah: “You wrecked my face!”

Bagi Tjandra, si anak, momen tersebut justru menjadi pengantar awal pada dunia seni berupa perjumpaan pertama dengan kanvas, warna, dan ekspresi. Sejak kecil ia tahu ayahnya adalah seorang seniman, tetapi seperti kebanyakan anak lain, makna dan bobot profesi itu baru benar-benar terasa ketika dewasa.

We knew he was an artist from childhood, but we didn’t really understand the significance,” tutur Tjandra.

Demikian juga percakapan-percakapan tentang sejarah seni rupa Indonesia tak jarang gagal memahami peran penting seorang Sudjana Kerton. Namanya kerap luput disebut. Prinsip berkaryanya yang tidak terafiliasi apa pun sempat membuat dirinya terkucilkan, membuatnya dijuluki lone wolf, pengembara yang sendirian. Meski karya-karyanya dekat dengan filosofi kerakyatan–yang pada masa itu condong dengan kelompok kiri–sempat diapresiasi oleh tokoh PKI Alimin dan Musso, Sudjana menolak tawaran menjadi bagian propaganda politik.

“Pak, saya pelukis kemerdekaan yang bebas,” ucap Sudjana dalam buku Pelukis Kemerdekaan yang Merdeka (1997) karya Herry Dim (1997).

Sudjono Kerton, kelahiran Bandung, 22 November 1922, mula-mula belajar melukis secara otodidak. Periode 1940-an menjadi titik awal sang pelukis menekuni teknik menggambar dengan berguru kepada seniman berkebangsaan Belanda, Joe Pluimentsz di kawasan Dago, Bandung.

Sudjana memulai kariernya di lembaga kebudayaan Jepang Keimin Bunka Sidhoso dan menjadi jurnalis gambar atau seniman sketsa di surat kabar patriot pimpinan Usmar Ismail pada masa revolusi. Inilah periode penting yang turut memperkuat landasan filosofisnya dalam berkarya.

Pada awal 1950-an, Sudjana mendapatkan beasiswa di Amsterdam, Belanda sekaligus mengambil kesempatan untuk belajar di Acacemie de Grand Chaumiere Paris, Prancis. Dua tahun berselang, ia pergi ke Amerika untuk bergabung dengan The Art Student League di New York dan belajar seni lukis pada Yaseo Kunoyosi dan seni grafis pada Harry Sternberg dan Will Barnet.

Tahun-tahun persingunggan dengan dinamika seni rupa dunia ini, sebelum kembali ke Bandung pada 1976, menjadi periode penting berikutnya bagi perkembangan karya Sudjana. Pada tahun 1964, karya cukilan kayu “Homeward” yang memvisualkan keluarga petani dan kerbaunya dalam bentuk kartu Natal, memenangkan kompetisi yang diselenggarakan oleh UNICEF.

Pameran “Bandoeng Doeloe Memories Through the Eyes of Sudjana Kerton” yang diselenggarakan secara kolaboratif oleh Artmoments, Sanggar Luhur, dan Plataran Bandung merupakan usaha mengangkat kembali karya-karya sang pelukis yang meninggal pada 6 April 1994 di usia 71 tahun.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//