Stand-up Poetry ala Bandung Berpuisi, Merayakan Kata-kata di Tengah Sempitnya Ruang Berekspresi
Dari panggung open mic hingga zine kolektif, Bandung Berpuisi menjadi tempat bersuara orang muda, sekaligus upaya merawat puisi secara mandiri di Bandung.
Penulis Ryan D.Afriliyana 30 Januari 2026
BandungBergerak - Sore menjelang malam, seorang pemuda dengan gaya khas rapper membuka Open Mic Bandung Berpuisi Vol. 16. Ia dikenal dengan nama Rey. Penampilannya kerap membuatnya dicap urakan oleh lingkungan sekitar.
"Di-bully bukan secara fisik tapi mungkin kayak dianggap remeh sama orang-orang sekitar, kayak diangggap tidak punya masa depan yang bagus atau berandalan lah," tutur Rey.
Puisi berjudul "Saga si Bocah Nakal" yang dibacakannya berkisah tentang pengalaman perundungan di masa lalu. Puisi itu menjadi pembuka acara Sabtu Sore yang digelar di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, 24 Januari 2026.
Bagi Rey, puisi menjadi alat perlawanan. Ia kembali naik panggung membawakan puisi kedua dengan suara lantang.
“Kini mereka yang semasa kecil mem-bully hanya bisa melihat aku dalam instastory,” ucap Rey dalam puisi “Nostalgia Emosi”.
Usai Rey menutup penampilannya, suasana tidak lantas mereda. Panggung justru menjadi ruang pengakuan lain, kali ini tentang cinta yang tak sempat selesai.
Penampil berikutnya adalah Iza (bukan nama sebenarnya). Ia pertama kali mengikuti Bandung Berpuisi pada Vol. 11, 19 Juli 2025. Dalam puisinya kali ini, Iza menyampaikan kebahagiaan yang tak pernah ia sampaikan kepada mantan kekasihnya.
"Menemukanmu adalah satu-satunya keberuntungan yang tak perlu ketebus dengan harga. Jika om-om pelanggan LC ingin ia dicintai sepanjang durasi, maka aku ingin kamu untuk loving me unconditionally," kenang Iza dalam puisinya.
Suasana kian hangat ketika Dini naik ke panggung membacakan puisi berjudul “Secarik Rindu untuk Ayah”. Puisi itu ia tulis saat masih duduk di bangku SMA.
"Benar ucapanmu, kau tak ke mana-mana. Ragamu tetap hadir, tapi hadirmu tak ada. Kuberikan segala cintaku, tuhanku, ibuku, ibuku, ibuku, satu lagi ayahku," kata Dini penuh dengan emosi.
Puisi tersebut merupakan ungkapan kerinduannya pada sosok ayah yang hadir secara fisik, tetapi absen menjalankan peran.
"Orangnya ada, tapi peran yang enggak ada," tutur Dini. "Sampai dia pergi pun enggak ada."
Jika Dini berbicara tentang kehilangan yang personal, Adinda mengajak audiens pada perenungan yang lebih sunyi tentang waktu dan kefanaan. Melalui puisinya yang berjudul “Lebih Lama”, Adinda menyampaikan pesan untuk bertahan dalam perjalanan hidup.
"Tidak ada yang pernah benar-benar abadi. Semua akan tiba pada suatu masa. Tapi sekali lagi, aku ingin hidup lebih lama," sepatah kata penutup puisi Adinda.
Sore itu, hampir sepuluh orang dari berbagai latar belakang tampil membacakan puisi, mulai dari penulis, mahasiswa, hingga masyarakat sipil. Open mic ini terbuka bagi siapa saja yang ingin merayakan kata-kata.
Baca Juga: Puisi dan Pop Culture
Mari Kita Melawan dengan Puisi
Dari Keresahan Pribadi Menjadi Bandung Berpuisi
Ruang aman yang terasa intim sore itu tidak hadir begitu saja. Bandung Berpuisi lahir dari keresahan pribadi sekaligus minimnya ruang apresiasi dan panggung bagi puisi, terutama setelah pandemic Covid-19.
Beni Anwar, inisiator Bandung Berpuisi, melihat kegiatan berpuisi, baik open mic maupun sebagai selingan acara musik, kian jarang ditemui.
"Tidak ada ruang bagi sastrawan puisi terutama bagi orang-orang yang suka berpuisi. Akhirnya terbentuk Bandung Berpuisi," ujar Beni saat ditemui BandungBergerak.id Rabu 28 Januari 2026.
Gagasan tersebut sebenarnya telah ia rancang sejak 2022 di Kedai Jante. Namun, rencana itu tak kunjung terealisasi dan hanya berhenti sebagai obrolan. Kesempatan baru muncul ketika Kedai Nusalayaran melakukan rebranding menjadi Kedai Dermaga.
"Sampai pada akhirnya, kayaknya di beberapa tahun ke belakang, Kedai Dermaga minta soal aktivasi, saya menyodorkan ide puisi," ungkap Beni.
Kolaborasi itu melahirkan Dermaga Berpuisi yang berjalan dalam beberapa volume hingga Kedai Dermaga tutup. Dari pengalaman tersebut, nama Bandung Berpuisi dipilih dengan harapan dapat menjadi gerakan yang lebih luas dan diadopsi di berbagai titik, khususnya di Bandung.
"Makanya waktu pertama mah namanya juga masih kolaborasi sama kedai Dermaga jadi Dermaga Berpuisi gitu," tutur Beni.
Selain open mic rutin sebulan sekali, Bandung Berpuisi juga membuka submission karya puisi yang dikurasi editor dan diterbitkan dalam bentuk zine sebagai bacaan alternatif.
Zine dipilih sebagai medium karena dinilai lebih punk, menunjukkan sikap, dan lebih terjangkau dibandingkan mencetak buku. Meski begitu, Bandung Berpuisi tetap mengedepankan inklusivitas. Siapa pun diperbolehkan menyuarakan puisinya, dengan tetap memperhatikan batasan dan etika.
Bandung Berpuisi juga merespons isu-isu sosial. Salah satunya melalui zine edisi perdana bertema "Kota dan Kita" yang menyoroti kondisi sosial dan politik di Bandung.
Beni menilai seni dapat menjadi medium yang relatif aman untuk menyampaikan kritik di tengah meningkatnya represi apparat negara.
“Menurut saya, justru lebih aman ketika mediumnya karya seni,” ujarnya.
Terkait potensi pembredelan karya, Bandung Berpuisi menyatakan siap menghadapi risiko tersebut.
“Kalau memang ada, ya silakan. Kita wani,” tegas Beni.
Ruang Berekspresi
Pandangan tersebut sejalan dengan kajian Masruroh dalam jurnal “Analisis Pertanggungjawaban Pemerintah atas Represi Ekspresi Seni: Studi Kasus Pembatalan Pameran Tunggal Seniman Yos Suprapto” (Vol. 3 No. 12, Desember 2025) karya Friska Hardiyanti Komala dan Devi Marlita Martana dari Universitas Udayana.
Kajian ini menyebut karya seni strategis untuk menyampaikan kritik sosial, politik, budaya, dan tata kelola pemerintahan, meski kebebasan berekspresi kerap berhadapan dengan praktik pembatasan oleh negara.
Bagi Bandung Berpuisi, berdikari bukan sekadar pilihan teknis, melainkan sikap. Salah satu cita-cita mereka adalah membangun industrinya sendiri—seperti Stand Up Comedy—agar puisi memiliki nilai ekonomi yang jelas dan dapat menjadi profesi yang menjanjikan.
Beni percaya tujuan tersebut bisa dicapai tanpa mengorbankan nilai-nilai yang dipegang.
“Ada nilai berharga dari karya yang kita jaga,” katanya.
Sejak awal berdiri, Bandung Berpuisi tidak pernah menerima bantuan atau hibah dari pihak mana pun. Mereka bergerak secara mandiri dengan memanfaatkan peluang yang ada. Bantuan eksternal dinilai sulit diakses karena berbagai hambatan, seperti persoalan legalitas, jejaring, dan senioritas.
“Independen. Tujuannya memang bikin ekosistem sendiri, industri sendiri, dan pada akhirnya berdikari,” ujar Beni.
Hingga kini, Bandung Berpuisi telah merealisasikan 16 volume kegiatan. Sumber pendanaan berasal dari kolaborasi, dana pribadi, swadaya, serta penjualan zine dan merchandise.
Ke depan, Bandung Berpuisi berencana menggelar festival. Meski tanpa dukungan dana dari pihak mana pun, mereka ingin membuktikan bahwa berdikari adalah sesuatu yang mungkin.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

