• Berita
  • Merawat Jejak Ajip Rosidi

Merawat Jejak Ajip Rosidi

Dari Yayasan Rancage hingga Perpustakaan Ajip Rosidi, warisan literasi dan kebudayaan yang terus dihidupkan lintas generasi.

Seniman Tisna Sanjaya melukis di wajah seniman pantomime Wanggi Hoed di Perpustakaan Ajip Rosidi Bandung, Rabu siang, 28 Januari 2026. (Foto: Yopi Muharam/BandungBergerak)

Penulis Yopi Muharam30 Januari 2026


BandungBergerak - Di atas kanvas yang belum kering, wajah penguasa itu perlahan berubah menjadi penguasa saat ini. Tangan Tisna Sanjaya bergerak tenang dalam live painting bertajuk Orba, seolah sedang menyiapkan kelahiran kembali bagi kekuasaan yang runtuh oleh reformasi 1998.

Di sela-sela coretan kuas seniman sekaligus dosen ITB itu, tubuh-tubuh berbalut batik berdiri dalam barisan sunyi di seberang Toko Buku Bandung, Rabu siang, 28 Januari 2026.

Seniman pantomime Wanggi Hoed memimpin langkah dengan dua angklung di tangannya. Ia bergerak maju dan mundur, luwes dalam kesenyapan, seakan menuntun rombongan menyeberangi waktu.

Perlahan, mereka memasuki pelataran Perpustakaan Ajip Rosidi di Jalan Garut Nomor 2, Kota Bandung. Di sana, karpet merah terbentang. Wanggi melangkah di atasnya—bukan sebagai selebrasi, melainkan sebagai perjalanan—membuka sebuah peristiwa seni yang mengikat tubuh, bunyi, dan ingatan.

Wanggi Hoed mendekati Tisna Sanjaya yang masih melukis. Tanpa kata-kata Tisna menyambutnya dengan kuas yang dioleskan ke Wanggi, lalu menuliskan satu nama: Ajip Rosidi.

Pertunjukkan kolaborasi seni lukis dan pantomime itu membuka acara “Ngalap Ajip”, peringatan hari lahir budayawan Ajip Rosidi. Ngalap Ajip Rosidi terdiri dari rangkaian acara diskusi, pameran buku, pameran foto, pameran karya Ajip Rosidi, pemutaran film, musikalisasi puisi, dan lain-lain yang dihelat lima hari sampai 1 Februari 2026.

Hafidz Azhar, Ketua Pelaksana kegiatan, menyebut acara ini lahir dari kolaborasi sejumlah komunitas dan lembaga. Dengan tajuk Ngalap Ajip, kegiatan yang dipersiapkan dalam waktu kurang dari satu pekan ini dirancang sebagai ruang perjumpaan lintas generasi, sekaligus upaya mendekatkan kembali sosok Ajip Rosidi kepada publik.

Istilah ngalap, menurut Hafidz, berakar dari tradisi pesantren yang dimaknai sebagai ikhtiar mencari berkah. Dalam konteks kegiatan ini, Ngalap Ajip dimaknai sebagai usaha menelusuri kebaikan yang ditinggalkan Ajip Rosidi—jejak pemikiran, sikap, dan warisan kebudayaannya.

“Anggap saja kita sedang ngalap berkah dari gedung ini, sekaligus merasakan manfaat yang selama ini dihadirkannya,” ujar Hafidz saat membuka acara.

Ia menyadari, bagi sebagian orang, Ajip Rosidi mungkin hanya dikenal sebagai sebuah nama. Melalui kegiatan ini, publik diajak untuk menengok lebih dekat perjalanan hidup serta warisan intelektual Ajip Rosidi—bukan sekadar sebagai tokoh, melainkan sebagai ingatan yang terus hidup dan layak dirawat bersama.

Warisan Ajip Rosidi

Hawe Setiawan, Wakil Ketua Pusat Studi Sunda (PSS), mengenang kiprah almarhum dalam merintis sejumlah lembaga kebudayaan. Salah satu warisan awal Ajip adalah pendirian Yayasan Rancage pada dekade 1980-an. Yayasan ini bertujuan mendorong keberlanjutan dan perkembangan kegiatan kreatif menulis serta penerbitan buku dalam bahasa daerah, khususnya bahasa Sunda.

Seiring waktu, Yayasan Rancage berkembang dan merangkul bahasa daerah lain, seperti Jawa, Bali, Lampung, Batak, Madura, hingga Banjar. Warisan berikutnya adalah berdirinya Pusat Studi Sunda pada 2002 yang berfokus pada pengelolaan perpustakaan dan kegiatan literasi.

“Rancage itu yayasan yang kegiatan utamanya mengapresiasi penerbitan buku yang ditulis dalam bahasa daerah,” ujar Hawe, dosen sastra Universitas Pasundan.

Pada 2003, Ajip juga menggagas penerbitan jurnal ilmiah *Sundalana*, jurnal penelitian yang berfokus pada kajian kesundaan. Bagi Hawe, benang merah dari seluruh inisiatif tersebut berpijak pada satu hal yang sama.

“Kalau dicari jangkar kulturalnya, semua itu berangkat dari kegiatan literasi,” lanjutnya.

Hawe juga mengenang kisah unik setelah Ajip wafat. Beberapa minggu setelah kepergian Ajip, Hawe bersama dua rekannya dari Rancage bermalam di gedung Perpustakaan Ajip Rosidi. Menjelang subuh, salah seorang rekannya, Dadan Sutisna, terbangun dan menceritakan mimpi didatangi mendiang Ajip.

Dalam mimpi itu, Ajip disebut meminta agar makamnya dipindahkan dan dikebumikan di Jalan Garut, lokasi perpustakaan. Hawe menanggapinya dengan tawa. Menurutnya, mimpi tersebut barangkali merupakan isyarat agar gedung itu terus dihidupkan melalui kegiatan kebudayaan dan literasi.

“Saya kurang ahli menafsirkan mimpi,” ujarnya sambil terkekeh.

Hawe berharap gedung perpustakaan tersebut dapat menjadi pusat kreativitas dan pelestarian budaya, sekaligus meneruskan jejak langkah Ajip. “Salila gedung ieu dipaké kagiatan kabudayaan, anak turunan simkuring teu kedah campur tangan,” ujar Hawe menirukan ucapan Ajip semasa hidup.

Baca Juga: Stand-up Poetry ala Bandung Berpuisi, Merayakan Kata-kata di Tengah Sempitnya Ruang Berekspresi
Perjalanan Mengoleksi Karya Ajip Rosidi, Sebuah Memoar

Cerita di Balik Gedung Perpustakaan

Rachmat Taufik Hidayat, Direktur Pustaka Jaya, mengenang Ajip sebagai sosok yang gemar bersilaturahmi. Ia bercerita bagaimana Ajip selalu menyempatkan diri mengunjungi orang-orang yang dikenalnya, baik yang lebih tua, seangkatan, maupun yang lebih muda.

“Kalau mau ke Jakarta atau ke Bandung, dia pasti singgah dulu ke rumah teman-temannya,” kata Rachmat. Ketika mendengar sahabatnya sakit di Bandung, Ajip kerap langsung menjenguk ke rumah sakit.

Rachmat juga mengungkapkan bahwa rumah Ajip Rosidi di Jalan Asmi, Bandung, pernah menjadi tempat persinggahan seniman dan budayawan. Seniman dari luar kota yang datang ke Bandung kerap menginap, makan, dan berdiskusi di sana.

“Kadang satu dua hari dari berbagai kelompok. Ada pelukis, sastrawan, pengamat politik, sampai aktivis,” kenang Rachmat.

Salah satu kisah menarik adalah cara Ajip membantu para pelukis pada masa ketika harga lukisan masih sangat murah. “Para pelukis datang ke rumah Pak Ajip, kadang meminjam uang dan membayarnya dengan lukisan,” tutur Rachmat.

Dari situlah koleksi lukisan Ajip Rosidi terkumpul dalam jumlah besar, termasuk karya Affandi. Kelak, lukisan-lukisan tersebut menjadi modal untuk membeli gedung yang kini digunakan sebagai Perpustakaan Ajip Rosidi.

Sedikitnya 30 lukisan milik Ajip dilelang melalui Bali Lelang Christie’s Hong Kong. Salah satunya, lukisan karya Affandi, terjual seharga 1,5 miliar rupiah. Secara keseluruhan, hasil lelang mencapai lebih dari 2 miliar rupiah dan digunakan untuk membeli gedung perpustakaan seharga 2,75 miliar rupiah yang dibayar tunai pada Desember 2010.

Sebelumnya, Ajip sempat berencana membeli rumah peninggalan Atmakusumah Astraatmadja di Jalan Cilaki.

“Katanya mau cari uang dulu. Tapi ketika uangnya sudah ada, rumah di Cilaki itu ternyata sudah terjual,” ujar Rachmat.

Ajip Rosidi di Pameran Foto

Ajip Rosidi lahir di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat, pada 31 Januari 1938 dan meninggal 29 Juli 2020. Sepanjang hidupnya, ia mendedikasikan diri pada dunia sastra dan kebudayaan sebagai penulis, sastrawan, editor, penerjemah, hingga dikenal sebagai maestro kebudayaan Sunda modern.

Ketertarikannya pada sastra tumbuh sejak usia sangat muda. Ia mulai menulis dan mempublikasikan karya saat masih belasan tahun. Ajip tidak menuntaskan pendidikan sekolah menengah atas di SMA Taman Siswa Jakarta dan menempuh pendidikan secara otodidak. Meski demikian, pada dekade 1980-an ia sempat mengajar di sejumlah perguruan tinggi di Jepang, seperti Osaka Gaidai dan Tenri Daigaku.

Ratusan buku telah ia hasilkan, mencakup karya fiksi, nonfiksi, dan sastra. Atas kontribusinya, Ajip menerima berbagai penghargaan, di antaranya Hadiah Sastra Nasional (1957 dan 1974), Hadiah Seni (1993), Sepuluh Putra Sunda Terbaik (1994), serta gelar doktor kehormatan (honoris causa) bidang ilmu budaya dari Universitas Padjadjaran pada 2011.

Di tingkat internasional, Ajip menerima Kun Santo Zui Hoo Sho dari Pemerintah Jepang (1999), Hadiah Mastera dari Brunei Darussalam (2003), serta Professor Teeuw Award dari Belanda (2004).

Pameran foto yang digelar di dua ruang Perpustakaan Ajip Rosidi menampilkan perjalanan hidup Ajip, sejak masa kanak-kanak, pernikahan, hingga usia senja. Sejumlah foto memperlihatkan Ajip bersama tokoh-tokoh besar Indonesia, seperti Sukarno, Ali Moertopo, hingga Affandi.

Melalui pameran ini, pengunjung diajak menyusuri jejak hidup Ajip Rosidi—melangkah perlahan di lorong-lorong sunyi untuk menengok kembali kiprah seorang tokoh yang meninggalkan warisan panjang bagi kebudayaan.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//