• Berita
  • Di Balik Harapan Besar pada AI, Ada Eksploitasi Pekerja dan Masalah Etika

Di Balik Harapan Besar pada AI, Ada Eksploitasi Pekerja dan Masalah Etika

Indonesia melakukan investasi besar-besaran di bidang AI. Dikampanyekan pejabat negara. Ada banyak aspek tersembunyi di balik narasi manis tentang AI.

Suasana dalam diskusi Mempertanyakan Kecerdasan Buatan di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 31 Januari 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)

Penulis Retna Gemilang3 Februari 2026


BandungBergerak - Kecerdasan buatan (AI) sering digembor-gemborkan oleh pejabat pemerintah sebagai peluang baru, seolah-olah menjadi jalu instan untuk melakukan segalanya. Namun, banyak aspek penting yang tidak disebutkan di balik narasi manis AI, seperti transparansi, akuntabilitas, keamanan, halusinasi, dan disinformasi.

Terlebih soal peluang dan tantangannya bagi jurnalisme. Kehadiran AI seperti Gemini, ChatGPT, Open AI, Google Pixels, bahkan Grok memang dapat membantu produktivitas jurnalistik, tapi juga memiliki risiko yang sangat tinggi.

Aspek-aspek yang tak tersingkap di balik narasi besar AI dibahas di diskusi publik bersama AJI Bandung Adi Marsiela, Jaring.id Kholikul Alim yang bekerja sama dengan Pulitzer Center di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 31 Januari 2026.

Di diskusi SABTU SORE bertajuk "Menggunakan Mempertanyakan Kecerdasan Buatan", Adi Marsela sepakat bahwa kecerdasan buatan dapat meningkatkan produktivitas jurnalis, mulai dari tahap perencanaan liputan, pemantauan isu, hingga pengumpulan dan analisis data dalam skala besar dari internet.

Menurutnya, kecerdasan buatan memiliki keunggulan dalam menarik data kuantitatif berskala besar, mendeteksi pola, serta memproses dokumen secara cepat dan efisien. Pemanfaatan AI mencakup pencarian data awal, analisis tren dan audiens, perumusan ide liputan, penyaringan informasi, penyuntingan bahan, penyusunan kerangka laporan, analisis data lanjutan, personalisasi konten, hingga diseminasi laporan kepada publik.

Sebagai gambaran, manusia akan kesulitan mengontrol data excel yang terdiri dari ribuan baris. Kehadiran AI akan membantu menyarikan data ini.

"Yang bisa dibantu AI untuk jurnalis, ini yang paling besar, waktu. Kenapa? Karena dia untuk bantu bikin judul, sudut pandang atau angle, kemudian ide cerita, menulisnya juga lebih cepat, apalagi yang bantuan transkrip, ya," jelas Adi.

Namun, hingga saat ini AI masih tetap memiliki keterbatasan. Keakurasian membaca data masih patut diwaspadai. Adi mencontohkan, ketika gawai memindai foto menjadi teks dalam bentuk dokumen, pasti terdapat kekeliruan dalam membaca data. Diperlukan sentuhan manusia untuk mengedit data tersebut.

Dalam konteks jurnalistik, Adi mewaspadai tentang bias informasi yang disampaikan oleh AI. Informasi dan pemberitaan yang dimasukkan oleh pengembang aplikasi didominasi oleh narasi yang berasal dari Amerika Serikat ataupun barat. Bias tersebut bisa berupa rasisme dan keberpihakan terhadap elite global.

Dalam hal rasisme, banyak pengembang aplikasi AI berasal dari negeri barat, sehingga preferensi yang banyak digunakan adalah orang-orang berkulit putih. Adi mencontohkan, saat memberikan perintah kepada AI untuk menggambarkan penjahat, maka AI akan menggambarkan orang dengan kulit berwarna atau lebih gelap.

Risiko lainnya adalah transparansi dan hak cipta. Kecerdasan buatan dapat dengan mudah menarik informasi dari media massa dan media sosial. Contoh, AI Gemini dapat memberikan kesimpulan informasi tanpa perlu audiens mengklik website sumber resminya. Menurut Adi, kecenderungan ini berpotensi melanggar etikas soal hak cipta, di samping menurunkan tingkat algoritma dan traffic media online.

Terakhir, isu privasi juga jadi persoalan penting. AI banyak menyalahgunakan data pribadi dan membocorkan data. Beberapa waktu lalu Grok menjadi mainan baru untuk mengganti foto seseorang menjadi konten pornografi palsu. Banyak yang menjadi korban, terlebih perempuan dan anak-anak.

"Privasi yang dilanggar, kalau menurut saya," ungkap Adi.

Membantu, Bukan Menggantikan Peran Jurnalis

Adi juga menegaskan, kehadiran teknologi kecerdasarn buatan seharusnya membantu, bukan menggantikan peran. Dalam pandangan jurnalistik, jurnalis harus lebih unggul soal konteks isu, interpretasi, verifikasi sumber data, dan pertimbangan etika. Bisnis media, ujarnya, adalah bisnis kepercayaan. Saat jurnalis dan media menyajikan berita yang tidak valid dari AI, integritas media dan kepercayaan publik akan menurun.

"Ketika publik enggak percaya karena dia (AI), meskipun banyak liputan bagus, tapi sekali salah, orang tuh pasti lebih ingat salah, ya," paparnya.

Pada 2024 lalu, AJI melakukan riset ke beberapa media nasional dan lokal mengenai "Asesmen Penggunaan Kecerdasan Buatan (AI) dalam Media di Indonesia" dengan forum group discussion (FGD). Hasilnya menyebut, sudah banyak media yang memanfaatkan AI dari beberapa hingga seluruh proses pengerjaannya. Narasi dengan tim investigasinya, INews, dan Kompas.com memanfaatkan AI di seluruh proses pengerjaannya.

Adi memaparkan, dari seluruh media di Indonesia, baru Kompas.com saja yang memiliki aturan tertulis tentang penggunaan AI dengan kesesuaian nilai-nilai perusahaan. Media lain, masih hanya berbasis lisan dan memaksimalkan aturan yang diterbitkan Dewan Pers dan Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI). 

"Sialnya, perusahaan akan melihat ini sebagai alasan untuk efisiensi dan itu yang sebenarnya kurang menguntungkan untuk jurnalis. Makanya jurnalis harus mampu bekerja memanfaatkan AI," sarannya.

Bukan cuma menggunakan AI, Adi menyarankan jurnalis untuk lebih banyak meliputi isu AI. Pemberitaan sekarang lebih banyak menyoroti prestasi dan peluang AI di masa depan saja. Masih minim berita pengkritikan AI dan dampak buruknya yang akan menyinggung isu sosial, geopolitik, dan lingkungan.

"Sangat jarang (jurnalis) yang mau menelisik lebih dalam soal pemanfaatan AI dan dampak buruknya. Kenapa dibilang dampak buruk? Karena kita pakai produk luar negeri, terus orang juga literasi digital belum baik," tegasnya.

Masih banyak risiko yang dimiliki oleh AI, salah satunya soal halusinasi. Semakin banyak data yang dibaca tanpa sumber resmi, maka makin halusinasi AI menginterpretasikan data. 

"Kalau orang yang enggak tahu datanya, 'kan tertipu sama AI, jadi ada halusinasi," kata Adi.

Baca Juga: Peluang dan Tantangan Kecerdasan Buatan (AI) sebagai Teknologi Masa Depan
Kecerdasan Buatan, Sebuah Ancaman bagi Umat Manusia?

Foto bersama diskusi Mempertanyakan Kecerdasan Buatan di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 31 Januari 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)
Foto bersama diskusi Mempertanyakan Kecerdasan Buatan di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 31 Januari 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)

Eksploitasi Pekerja dan Sumber Daya Alam

Kholikul Alim atau biasa disapa dengan Aal menjelaskan, kini Indonesia tengah melakukan investasi di bidang AI. Aal melaporkan, 9,16 triliun rupiah investasi startup AI hadir di Indonesia selama lima tahun terakhir. Bahkan tumbuh sebanyak 141,5 persen (east venture). Pertumbuhan ini, menurutnya, belum termasuk pembangunan pusat data yang terus bertumbuh.

Bekasi, Karawang, dan Batam menjadi kota yang dipakai untuk pusat data AI yang didukung oleh tenaga surya dan batu bara. Di balik potensi keuntungannya yang tinggi, tentu ketiga kota ini dihadapkan dengan dampak buruknya. Beban kerja yang tinggi, sumber tenaga kerja murah, dan sumber daya alam seperti lahan murah hingga eksploitasi sumber air untuk mendinginkan mesin-mesin komputer GPU.

Di balik investasi besar-besaran itu ini Aal melihat ironi. Ketika pusat data banyak dibangun di Indonesia, tapi teknologi pengembangan AI tetap disimpan di Eropa.

"Jadi, kita cuma (menyimpan) remah-remah yang kemudian enggak terkait dengan teknologinya," katanya.

Aal juga mewanti-wanti kepada audiens diskusi untuk tidak permisif dalam menggunakan AI, seperti kata “tolong” dan “terima kasih”. Karena dampaknya akan berpengaruh pada eksploitasi air. Saat kata-kata tidak penting digunakan, AI akan bekerja lebih keras dan mesinnya akan lebih panas bekerja. Dalam kondisi ini mesin AI membutuhkan banyak sekali air untuk mendinginkan mesin.

Selain itu, dengan banyaknya variabel data yang disimpan di mesin AI akan makin banyak pula ruang penyimpanan yang dibutuhkan. Hal ini berpengaruh pada minimnya stok dan meningkatnya harga SSD, RAM, dan GPU di pasaran. Karena, kata Aal, banyak perusahaan besar AI memborong spare part ini untuk memperbanyak ruang penyimpanan.

"Kalau (diibaratkan) saya tahun ini punya RAM satu, tahun depan saya harus punya RAM tiga, tanpa tahu tujuannya mau ke mana," jelas Aal.

Masalah lain terkait ketenagakerjaan. Dengan adanya AI eksploitasi tenaga kerja semakin masif. Halusinasi data yang dimiliki AI membuat profesi data anotator bekerja berkali-kali lipat. Tugasnya adalah mengevaluasi dan membenarkan halusinasi data yang setiap harinya terus bertambah.

Profesi ini pun banyak menyasar ke negara-negara berkembang, seperti Indonesia, Filipina, Kongo, dan lainnya. Dengan alasan biaya tenaga kerjanya yang murah, data anotator diharuskan bekerja setiap hari tanpa  henti.

Kecerdasan buatan yang digadang-gadang dapat membantu dan meringankan kerja, pada akhirnya hanya memperpanjang masa kerja manusia. Bahkan menghilangkan banyak profesi pekerjaan di masa depan. 

"Padahal janji teknologi adalah memperpendek waktu kerja, (tapi) teknologi hanya memudahkan eksploitasi kita," pungkas Aal.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//