Menyisir Kota Bandung, Menggali Identitas dan Kelas Sosial Lewat Fotografi
Pameran fotografi Raws Attack Class tidak hanya seni, tetapi mengajak berefleksi tentang kondisi sosial, identitas budaya, dan dinamika kehidupan kota Bandung.
Penulis Maisan Rachman4 Februari 2026
BandungBergerak – Di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung, pameran foto yang bertajuk "1 Km Dari Cikapundung: Menyisir Nadir, Mengingat dalam Hadir" menampilkan karya tujuh pemburu visual yang telah menjelajahi kota selama satu bulan. Para fotografer mengabadikan kehidupan urban Kota Bandung melalui lensa kamera.
Selama sebulan, mereka bergerak dalam radius satu kilometer dari Cikapundung, sungai terpanjang di Kota Bandung, mencatat dan merekonstruksi realitas kehidupan kota yang terkadang tersembunyi. Foto-foto yang dipajang tidak hanya menggambarkan objek sehari-hari, tetapi juga menceritakan kisah sosial dan budaya yang hidup di dalamnya.
Salah satu foto yang menarik perhatian adalah gerobak pedagang kaki lima berwarna biru, sebuah simbol identitas kota yang sederhana namun sangat khas. Selain itu, ada foto yang menangkap lekuk tubuh yang sering menjadi objek tatapan tak diinginkan, serta foto-foto toilet umum yang menggambarkan kelas sosial.
Pameran ini menampilkan karya-karya yang lebih dari sekadar dokumentasi visual. Setiap foto berbicara tentang masyarakat, ruang publik, dan tradisi lokal yang tetap hidup meski terjebak dalam modernitas kota. Melalui karya-karya ini, para peserta tidak hanya menunjukkan keindahan visual, tetapi juga memperkenalkan kritik sosial terhadap ketimpangan yang ada dalam ruang publik.
Mereka adalah anggota angkatan 22 dari Raws Attack Class, sebuah kelas fotografi yang diadakan oleh komunitas foto Raws Syndicate. Pameran yang diselenggarakan di Galeri Foto Red Raws Center, Pasar Antik Cikapundung, 7 Februari 2026.
BERAKtivitas: Menggali Kelas Sosial Melalui Toilet Umum
Salah satu karya yang mencuri perhatian adalah “Beraktivitas” karya Audrey Kayla yang memotret berbagai bentuk dan interior toilet umum, dari ventilasi hingga ubin yang menghiasi dinding-dindingnya. Foto-foto ini tidak hanya menyoroti objek fisik, tetapi juga menggali kelas sosial pengunjung toilet.
Kayla menyampaikan bahwa toilet, meski merupakan ruang yang sering dianggap sepele, memiliki cerita besar tentang kelas sosial. Sebagai perempuan yang kerap merasa rentan di toilet umum, ia merasa penting untuk menunjukkan bagaimana ruang ini, meskipun terkesan umum, memiliki pengaruh besar terhadap pengalaman masyarakat dalam beraktivitas.
“Karena masyarakat itu bisa dilihat dari bentuk toilet juga, akhirnya nyambung sama berbagai toilet ini, ada kelas sosialnya juga meskipun yang dateng ya yang beneran kebelet,” ujar Kayla.
Menurut alumnus Unpar ini, toilet dengan segala bentuknya menggambarkan kelas sosial masyarakat. Meskipun banyak yang datang hanya karena kebutuhan mendesak, bentuk toilet bisa mencerminkan bagaimana sebuah tempat memisahkan kelas-kelas sosial. Ia juga menambahkan bahwa toilet yang kurang memadai di daerah seperti Braga dan alun-alun Kota Bandung mengindikasikan ketimpangan sosial yang masih ada.
Karya ini juga bersifat interaktif. Foto-foto tersebut dilengkapi dengan coretan yang berasal dari tangan-tangan apresiator, menambah kesan bahwa toilet umum adalah ruang yang sering terpapar oleh aktivitas bebas dan bahkan vandalism. Kayla mengakui bahwa coretan di toilet sering kali menjadi bagian dari identitas tempat tersebut, sebuah fenomena yang ia ingin tangkap dalam karyanya.
Identitas dan Keterasingan dalam Karya Zelda Mumtaza
Karya lainnya berjudul “Ketidaksesuaian Identitas Wisata” oleh Zelda Mumtaza. Foto ini menghadirkan figur seorang pengunjung yang mengenakan busana adat Jawa Tengah lengkap dengan kain batik dan blangkon, berdiri diam di tengah kesibukan jalan Asia Afrika yang terkenal dengan aktivitas wisatawan.
Foto-foto tersebut, yang juga dipajang bersama secangkir kopi hitam dan setoples camilan, mencerminkan kebingungan Zelda tentang identitas budaya yang sering kali hilang atau tergeser dalam konteks urbanisasi dan pariwisata.
Zelda, yang lahir di Kebumen dan besar di Bogor, menceritakan pengalaman pribadinya dalam karya ini.
“Aku ini apa sih, budaya aku dari mana, aku lahir di Kebumen, besar di bogor, moralitas dan tradisinya tuh Jawa Barat banget gitu jadi aku bingung aku pas masa kecil gak bisa ngomong bahasa Sunda tapi terpaksa bergaul sama temen-temen yang pakai bahasa daerah Sunda,” ujarnya.
Karya ini berusaha menggambarkan ketidaksesuaian antara pengunjung wisata yang mengenakan pakaian adat Jawa Tengah di kota yang memiliki identitas sendiri. Zelda mengkritik bagaimana praktik dokumentasi wisata terkadang mengabaikan otentisitas daerah yang sedang dikunjungi.
Melalui karyanya, Zelda berharap apresiator bisa lebih menghargai dan memahami identitas kota atau daerah yang mereka kunjungi. Ia menginginkan agar tradisi daerah tetap terjaga dan tidak tergerus oleh arus globalisasi yang seringkali mencampuradukkan identitas budaya.
Baca Juga: PROFIL RAWS SYNDICATE: Upaya Menambal Ekosistem Fotografi yang Bolong
Membedah Zine Penyitaan Buku di Raws Syndicate, Mengarsipkan Literatur yang Dirampas di Bandung

Fotografi Sebagai Refleksi Kehidupan Kota
Pameran foto "1 Km Dari Cikapundung: Menyisir Nadir, Mengingat dalam Hadir" yang digelar oleh para peserta Raws Attack Class berawal dari ketertarikan masing-masing pameris yang datang ke Kota Bandung dengan latar belakang yang berbeda-beda. Menurut kurator pameran Prawira Bhaktinagara, perjalanan para pameris menjelajahi kota dan merefleksikan apa yang mereka temui adalah inti dari karya-karya yang dipamerkan.
“Dengan pameris berkeliling kota, kita bisa membantu merefleksikan apa-apa yang terjadi di kota tergantung mereka berasal dari mana. Ketertarikan mereka biasanya kan lahir dari identitas, film yang mereka tonton, musik yang mereka dengar, buku yang mereka baca. Saya di sini cuman sebagai micin, memantapkan gagasan yang mereka punya,” ujar Prawira, setelah artist talk Sabtu, 31 Januari 2026.
Raws Attack Class, yang merupakan program kelas fotografi yang diadakan oleh komunitas foto Raws Syndicate, mengajak para peserta untuk belajar secara langsung selama tiga bulan. Kegiatan ini terdiri dari sepuluh pertemuan, dengan tugas akhir berupa pameran yang terbuka untuk siapa saja yang berminat di dunia fotografi.
Pameran ini bukan hanya sebuah ajang pamer karya, tetapi juga sebagai sarana untuk mengajak kita semua merefleksikan kehidupan di tengah kota. Bagi Bhaktinagara, pameran ini seharusnya tidak menjadi acara satu kali saja, melainkan sebuah titik awal bagi para pameris untuk terus berkembang.
“Harapannya ya jangan jadiin ini pameran pertama dan terakhir. Harapannya sih pandangan mereka terhadap kota tetap sama dengan identitas mereka, istilahnya kota membentuk masyarakat, masyarakat membentuk kota. Ini kan karyanya mereka berpikir secara sistematis, dari gagasan, riset, menjadi bentuk pameran. Meskipun mereka tidak menjadi seniman, setidaknya mereka punya bekal berpikir secara sistematis untuk mendapatkan solusi dari apa yang dikerjakan,” paparnya.
Bagi Prawira, meskipun para peserta tidak berencana menjadi seniman profesional, ia berharap mereka tetap membawa bekal berpikir sistematis yang akan bermanfaat dalam hidup mereka ke depan. Dengan begitu, proses kreatif yang mereka jalani tidak hanya berhenti pada seni, tetapi juga pada cara mereka melihat dan memahami dunia di sekitar mereka.
“Setidaknya mereka punya bekal berpikir secara sistematis untuk mendapatkan solusi dari apa yang dikerjakan,” ujarnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

