Pangan Centils: Menghubungkan Pangan, Tubuh, dan Budaya
Pangan Centils menghubungkan anggotanya dengan lingkungan melalui makan bersama, permainan tradisional, journaling, hingga alunan tarawangsa.
Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 6 Februari 2026
BandungBergerak - Pagi yang cerah di Kama Karsa Dago Pakar, Bandung, Minggu, 1 Februari 2025 dipenuhi orang-orang membawa tas kain, rantang, botol minum, alas duduk, bibit, hasil panen, buah buahan, dan masih banyak lagi. Beberapa datang sendiri, sebagian lain dengan pasangannya. Tikar-tikar dibentangkan, membuat lingkaran-lingkaran kecil sambil “ngariung”.
Di kebun sederhana inilah Pangan Centils berisikan cerita dan tradisi lokal setempat digelar. Sebuah perjumpaan yang lahir dari keinginan untuk membuka interaksi, mempertemukan manusia dengan pangan, lingkungan, karya, dan sesamanya tanpa sekat.
Di Jawa Barat, makan bersama dikenal lewat botram/ngaliwet dengan tetangga atau keluarga. Duduk melingkar, berbagi lauk, berbagi cerita. Tradisi itulah yang menjadi salah satu inspirasi utama kegiatan ini. Namun, bagi Dea, salah satu pegiat di Salira Sarerea, Pangan centils bukan sekadar soal makan.
Sebenarnya yang menjadi titik temu pangan centils adalah mereka yang sedang berbicara tentang sosial impact hub dan media kolektif. Kerangka berpikir ini menjadi pemantik para teman teman pegiat pangan, kesenian, dan komunitas alam, komunitas baca dan komunitas tradisional bertemu pada hari itu.
“Kayaknya kita butuh satu wadah yang pangan tuh yang lebih cair aja, lebih santai,” ujar Dea dari Salira Sarerea.
Pangan bagi mereka tidak berdiri sendiri. Ia terhubung dengan tanah, musik, tradisi, emosi, dan cara manusia merawat dirinya. Dari kesadaran itulah Pangan centils diadakan. Sebuah gebrakan awal tahun yang tidak terpikir oleh siapapun bahkan bagi para pegiat pangan sebelumnya.
Centils sendiri merujuk pada era 2000-an awal dengan kultur musik, fesyen, paduan warna yang menabrak dan menjadi tren saat itu. Centil bukan genit, melainkan gaya ekspresi diri perempuan yang berani, mencolok, menggunakan warna cerah, aksesori berlebihan, hingga gaya bahasa yang ekspresif.

Kembali Sejenak Menjadi Anak-anak
Setelah peserta berkumpul, permainan tradisional dimulai. Uniknya saya tidak mendapati anak anak disini, remaja tanggung hingga dewasa terlihat berbaur bermain pepeletokan, bedil jepret, hingga lompat karet. Dari kejauhan terdengar tawa yang bersahut ketika tembakan tidak mengenai target. Ini merupakan pemandangan yang jarang ditemui di tengah perkotaan utamanya zaman sekarang.
Permainan-permainan tradisional itu dibawa oleh Padepokan Organo melalui program Petra Nusa. Edi sebagai salah satu penggeraknya melihat permainan tradisional sebagai ruang belajar yang alami.
Zaman dulu ketika Edi masih kecil sekitar tahun 70-an, anak-anak menciptakan mainannya sendiri tanpa membeli ke toko. Dari bambu, karet, kayu, dan apa pun yang ada di sekitar bisa dijadikan mainan. Dari situ anak anak kecil sudah memiliki kreativitas, kerja sama, dan keberanian bereksplorasi.
“Zaman dulu tuh permainan tradisional itu enggak ada gender, enggak ada oh ini laki-laki, ini perempuan. Semua permainan tuh sama aja. Permainan lompat tali main karet misalnya,” kata Edi ketika berbicara inklusivitas permainan zaman dulu.
Upaya komunitas ini dalam melestarikan mainan tradisional selain datang ke acara komunitas seperti ini adalah datang ke sekolah-sekolah dasar. Mereka sudah biasa mensosialisasikan permainan tradisional ketika mata pelajaran atau ketika hari Rabu Nyunda.
“Setelah kita ajarkan, mereka bisa bermain di rumah mereka masing-masing dengan barang apa adanya yang ada dirumah,” tutur Edi.
Baca Juga: Tarawangsa dalam Panggung Modern Pidangan Rumawat Padjadjaran
Nestapa Tarawangsa di Kampung Kota, Berpentas di Gang Sempit dan Tidak Masuk Kurikulum Pembelajaran

Nada yang Mengalirkan Tubuh
Menjelang acara berakhir, suasana berubah pelan-pelan. Beberapa orang mulai duduk bersila sambil memejamkan mata. Di depan mereka ada sebuah bebunyian tradisional bernama tarawangsa, musik itu dibawakan oleh grup bernama Tarawangsa Astungkara.
Ketika gesekan pertama terdengar, ruang seolah melambat, satu peserta berdiri menari mengikuti irama musik yang pelan. Sementara yang lain masih bersila dan menutup mata, ada yang bermeditasi, relaksasi, bahkan istirahat sejenak dari berisik pikiran selama mereka berkegiatan dari pagi.
Nada tarawangsa khas Rawabogo Ciwidey mengalir perlahan, berulang, membentuk alunan yang panjang, kadang menghentak. Beberapa momen pemain tarawangsa sedikit meneteskan air mata entah kenapa. Sederhana namun dalam.
Pemain tarawangsa pun menghentikan penampilannya di tengah-tengah, mengajak peserta untuk maju lebih dekat saja, dan memutuskan mematikan amplifier atau pengeras suara. Peserta yang menari pun semakin larut dalam suara gesekan tarawangsa, tidak memperdulikan siapa yang melihatnya gerakannya.
Dea mengatakan bahwa tarawangsa memiliki metode yang holistik—tentang diri, bumi alit dan, bumi ageung. Ia berbicara tentang rasa yang sulit dijelaskan, seperti ada alunan yang membuat merinding di saraf tubuh.
“Waktu pertama kali dengerin, rasanya rileks. Sensasi di saraf tubuh yang enggak bisa dijelasin,” ujar Dea.
Pangan Centils pada akhirnya bukan sekadar agenda komunitas atau pertemuan akhir pekan, melainkan ruang belajar tentang bagaimana manusia kembali terhubung dengan pangan, tubuh, budaya, dan sesamanya secara utuh.
Melalui makan bersama, permainan tradisional, journaling, hingga alunan tarawangsa, aktivitas tersebut melahirkan sebuah ingatan yang menempatkan relasi empati dan lingkungan sekitar yang terhubung.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

