• Berita
  • Dua Pekan Warga Bertahan di Pengungsian Pascalongsor Cisarua: Akses Air Terbatas, Mata Pencaharian Hilang

Dua Pekan Warga Bertahan di Pengungsian Pascalongsor Cisarua: Akses Air Terbatas, Mata Pencaharian Hilang

Selain kesulitan air bersih dan kehilangan mata pencaharian, pengungsi diliputi trauma dan menunggu kejelasan bantuan serta relokasi di lereng Gunung Burangrang.

Lokasi bencana longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 5 Februari 2026. (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak)

Penulis Awla Rajul9 Februari 2026


BandungBergerak - “Tiba-tiba saya begini serasa mimpi buruk. Trauma. Ibu mah minta ke pemerintah dicepat-cepat aja, jangan lama-lama. Kalau memang dapat bantuan segera dapat, kalau mau dapat pindahan ada kepastiannya. Kalau ngungsi di sini terus enggak ada kepastian jadinya enggak tenang,” cerita Entin, salah satu korban bencana longsor Cisarua, Kamis, 5 Februari 2026.

Entin, 54 tahun, sudah dua pekan mengungsi di Gor Kecamatan Cisarua. Rumahnya yang berada di Kampung Babakan, Desa Pasirlangu, ikut tersapu oleh bencana longsor dan pergerakan tanah yang terjadi pada Sabtu dini hari, 24 Januari 2026 lalu. Selain rumah, ia juga kehilangan kebun yang berada di pekarangan rumahnya.

Ibu tiga orang anak ini sebenarnya merasa bosan dengan aktivitas di pengungsian. Kebanyakan kegiatannya adalah makan, beristirahat, atau beberapa kali waktu mengikuti kegiatan yang diselenggarakan relawan. Entin harus berserah diri, ia tidak bisa pulang lantaran kini rumah dan kebunnya sudah tersapu dan menjadi tumpukan batu-batu longsor dari Gunung Burangrang.

Entin menanam sayuran di kebun dan menernak kambing. Aktivitas hariannya padat. Sejak bangun pagi hingga menjelang matahari terbenam, ia mengerjakan banyak pekerjaan, mulai dari mengurus rumah, merawat tanaman sayuran, membersihkan kebun, memberi makan kambing, dan lainnya. Justru ketika ia di pengungsian dan tidak banyak melakukan kegiatan, ia mulai sakit-sakitan.

“Biasanya teh sok aktivitas, sekarang tiba-tiba begini lagi, makan lagi. Biasa mah kalau udah mandi, salat, ke kebun. Sekarang diam, kaki teh sakit,” ungkap Entin.

Entin lahir dan besar di Kampung Babakan, Pasirlangu, Cisarua. Ia mengaku berat meninggalkan tanah kelahirannya. Namun ia bersedia pindah jika harus direlokasi ke tempat lain yang lebih aman.

Selama tinggal di kampungnya, Entin tidak mengira akan terjadi bencana dahsyat longsor. Selama ini ia dan tetangga lebih sering membahas ancaman Sesar Lembang. Potensi ancaman longsor maupun pergerakan tanah sama sekali tidak pernah dibahas atau mendapatkan informasi dari pihak-pihak tertentu.

“Yang dibahas sama tetangga mah Sesar Lembang, yang kejadian (longsor) dari Burangrang,” ungkapnya.

Anak Entin, Ai, 32 tahun, mengatakan bencana terjadi begitu cepat dan tidak diduga-duga. Dalam sekejap, ia harus mengungsi, kehilangan rumah sekaligus mata pencaharian. Meski berharap kepastian bantuan dan relokasi dari pemerintah, namun ia belum bisa membayangkan akan bagaimana masa depannya.

“Saya gak kebayang gimana. Itu sama tetangga udah kayak saudara, pagi-pagi ramai ke warung, ke kebun, sekarang udah gak ada. Gak kebayang saya, kayak mimpi, saya gak tahu ke depannya gimana,” cerita Ai, ditemui bersama Entin.

Bersama suami, Ai menjankan usaha dagang pisang di Ciwastra, Kota Bandung. Setiap pukul tiga pagi, ia bersama suami berangkat ke Ciwastra yang jaraknya sekitar 20 kilometer. Selama dua minggu di pengungsian, usaha itu terpaksa berhenti. Ia juga belum membayangkan akan melanjutkan usaha itu atau tidak. Karena kebunnya yang berada di pekarangan rumah habis disapu longsor.

Selama dua pekan di pengungsian, ia mengaku sudah merasa bosan. Namun begitu, ia merasa terbantu atas kehadiran relawan yang memberikan bantuan dan dukungan moral. Anak pertamanya yang sekolah di pesantren, kini ikut sementara waktu bersamanya tinggal di pengungsian. Ia meminta keringanan kepada sekolah untuk memberikannya libur sementara waktu.

Ai sudah mendengar rencana pemerintah akan memberikan bantuan kepada korban bencana longsor, berupa uang mengontrak sementara dan relokasi. Namun ia mengaku belum menerima bantuan dan belum tahu kepastiannya. Ia meminta kepada pemerintah agar bantuan itu diberi kepastian segera.

“Kalau omongan (soal bantuan) memang ramai, tapi belum turun-turun. Saya ge nunggu-nunggu itu untuk kontrak (rumah),” kata Ai.

Lokasi pengungsi korban bencana longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 5 Februari 2026. (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak)
Lokasi pengungsi korban bencana longsor di Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 5 Februari 2026. (Foto: Awla Rajul/BandungBergerak)

Mereka yang Rumahnya Bertahan

Bencana longsor dan pergerakan tanah melanda Desa Pasirlangu, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Sabtu, 24 Januari 2026. Bencana itu setidaknya merenggut puluhan korban meninggal dunia, sebanyak 94 kantong jenazah per hari ke-13 ditemukan operasi SAR, Kamis, 5 Februari 2026. Dari angka itu, telah teridentifikasi sebanyak 71 jiwa. Sisanya masih diidnetifikasi oleh tim Disaster Victim Identification (DVI).

Bencana longsor ini menerjang permukiman dan merusak sekitar 34 rumah, perkebunan warga, dan peternakan dengan luasan longsor mencapai tiga kilometer. Longsor terjadi di tiga kampung di desa Pasirlangu, yaitu Kampung Pasirkuning, Babakan, dan Pasirkuda. Warga yang terdampak langsung diungsikan ke Gor Kecamatan. Sementara warga yang tidak terdampak langsung diminta siaga dan tanggap bencana.

Ketua RT01/RW11 Kampung Pasir Kuning, Desa Pasirlangu, Elan, 40 tahun, menyampaikan, 13 orang warganya meninggal dunia dan mengakibatkan empat rumah rusak total. Warga yang tidak terdampak langsung bencana longsor kini menghadapi kesulitan air dan belum bisa melanjutkan aktivitas berkebun karena akes jalan yang terputus.

Kebun Elan bahkan terdampak longsor, sebab kini sudah rata dengan tanah. Hingga kini ia belum mendapatkan informasi apakah kebunnya yang terdampak akan mendapatkan bantuan dari pemerintah atau tidak. Namun begitu, masyarakat yang rumahnya tidak terdampak langsung mendapatkan berbagai bantuan sembako yang disalurkan oleh berbagai pihak.

Selain itu, sejak bencana longsor, perkampungan itu kini menghadapi kesulitan air. Mereka mengandalkan mata air dari Gunung Burangrang. Aliran itu ini tertimbun bersamaan dengan tumpukan tanah dan bebatuan longsor. Masyarakat mendapatkan bantuan air yang diantar sehari sekali ditampung dengan toren. Elan menyebutkan, pasokan air baru lima hari belakangan mulai membaik, lantaran adanya bantuan rutin yang datang.

“Betulin lagi jalannya supaya perekonomian masyarakat seperti biasa lagi. Air juga sulit, kan itunya dari gunung kena longsor, putus saluran airnya. Paling ada yang ngasih bantuan air, ngirim sehari sekali untuk satu jalan,” jelas Elan ketika ditemui di rumahnya yang juga dipakai sebagai posko relawan Sispala Peduli Longsor Cisarua.

Elan menerangkan, masyarakat, termasuk dirinya, masih merasa was-was dan trauma. Apalagi setiap hujan turun, ia dan istrinya merasa khawatir bencana longsor susulan akan datang. Sejak hari pertama bencana, Elan “mengungsikan” anak pertamanya yang duduk di bangku kelas 6 SD ke rumah neneknya di Bandung.

Ia melakukan itu sebagai langkah antisipasi. Anak pertamanya itu juga belum mau pulang ke Pasirlangu, “masih takut longsor”, kata Elan. Ia juga mengungkapkan, sekolah selama dua pekan diliburkan dan belum ada kabar terbaru. Dua sekolah terdekat di kawasan bencana yaitu SD Karya Bakti dan SD 1 Pasirlangu. Sementara layanan kesehatan berjalan baik, ditambah posko-posko kesehatan yang dibuka oleh tim gabungan dan para relawan.

Warga lainnya, Ajat, 45 tahun, juga menerangkan selama dua pekan pascabencana, ia belum melakukan aktivitas harian seperti biasanya. Kebun miliknya tidak bisa diakses karena jalannya terputus oleh longsoran.

“Kebun saya enggak kena, cuma akses jalannya yang kena. Kalau akses jalan belum dibetulin ya enggak bisa (aktivitas). Soalnya satu-satunya jalan itu tertutup (longsoran),” kata Ajat, Kamis, 5 Februari 2026.

Ia meminta kepada pemerintah supaya perbaikan akses jalan bisa ditangani segera. Ajat juga berharap pemerintah bisa menyalurkan bantuan tepat sasaran. Di samping itu, Ajat mengaku merasa sangat terbantu dengan kehadiran relawan sejak hari pertama bencana. Relawan memberikan dukungan emosi dan menemani di saat was-was.

94 Kantong Jenazah, Bantuan Mengontrak dan Relokasi

Operasi SAR pencarian korban longsor dilangsukan selama 14 hari hingga Jumat, 6 Februari 2026. Per kamis, 5 Februari 2026, tim gabungan menemukan dua kantong jenazah, total kantong jenazah yang ditemukan mencapai 94. Sekitar 20 kantong jenazah masih dalam proses identifikasi tim Disaster Victim Identification (DVI).

Lokasi longsoran yang mencapai tiga kilometer panjangnya dibagi kepada beberapa sektor untuk memudahkan pencarian. Pencarian korban longsor dilakukan oleh tim SAR gabungan, relawan, dan alat berat.

Bupati Bandung Barat Jeje Ritchie Ismail mengatakan, usai masa tanggap darurat dicabut, pemerintah akan fokus melakukan transisi pascabencana. Ia juga mengungkapkan, pemerintah menyalurkan bantuan sumbangan untuk hunian sementara bagi rumahnya yang hilang sebanyak 10 juta rupiah dan untuk 56 keluarga (KK) lainnya mendapatkan bantuan 5 juta rupiah.

“Itu buat hidup sementara dan juga buat sewa rumah, bisa juga tinggal sama keluarga juga. Jadi fokus kita selanjutnya adalah transisi ke pascabencana,” kata Jeje, Kamis, 5 Februari 2026.

Jeje menyebut, karena pemerintah sudah menyalurkan bantuan tempat tinggal sementara, masyarakat yang mengungsi sudah diperbolehkan meninggalkan pengungsian. Pemerintah juga tengah mengkaji rencana relokasi untuk warga yang kehilangan rumahnya.

“Lokasinya nanti akan kita kumpulkan dinas, kita cari yang terbaiklah. Kalau ini harus kita musyawarah juga kan. Saya pinginnya secepat mungkin, karena kan memang kita harus memikirkan mata pencaharian warga, banyak yang kehilangan pekerjaan,” ungkapnya.

Sebelumnya, Gubernur Dedi Mulyadi menyalurkan bantuan uang kontrak rumah 10 juta rupiah per KK bagi warga terdampak longsor serta santunan 25 juta rupiah untuk keluarga korban meninggal dunia. Pemerintah juga memberikan bantuan 5 juta rupiah per KK kepada 60 KK di zona merah yang harus direlokasi.

Di kawasan lokasi bencana, beragam relawan membuka posko. Ada yang membantu pencarian korban, memberi dukungan moral dan emosi bagi korban terdampak langsung dan tidak langsung, adapula yang memberikan perhatian khusus kepada anak-anak. Misalnya, di Masjid Jami’ di kawasan Kantor Kecamatan Cisarua, setiap setelah maghrib, Pelajar Islam Indonesia menyelenggarakan kegiatan belajar mengaji untuk 44 orang anak-anak pengungsian.

Baca Juga: Longsor Cisarua Menyapu Kampung Pasir Kuning, Delapan Orang Dilaporkan Tewas, 82 Orang masih Dicari
Terancam Longsor, Tercekik Kebijakan

Geologi dan Sosial

Bencana longsor di Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, dipicu oleh kombinasi faktor alam dan nonalam. Kajian awal Tim Fakultas Teknik Geologi (FTG) Universitas Padjadjaran (Unpad) menunjukkan longsor berasal dari kawasan Gunung Burangrang, dengan material lapukan vulkanik yang jenuh air dan mudah kehilangan kekuatan. Kondisi ini memicu longsoran tipe debris flow, berupa aliran lumpur yang bergerak cepat mengikuti morfologi lembah hingga mencapai permukiman warga yang berjarak jauh dari sumber longsoran utama.

Tim FTG Unpad melakukan peninjauan langsung ke lokasi bencana menggunakan teknologi drone untuk memetakan jalur aliran material dan memahami mekanisme longsor secara spasial. Hasil pemantauan menunjukkan karakter material dengan tingkat plastisitas tinggi sehingga sangat rentan bergerak saat curah hujan tinggi, yang memperbesar daya rusak longsoran.

Dari perspektif sosial, Guru Besar Geografi Pariwisata dengan bidang keahlian Geografi Manusia, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Enok Maryani menegaskan bahwa longsor Cisarua tidak dapat dipahami semata sebagai bencana alam. Tekanan penduduk, keterbatasan lahan, kemiskinan, serta lemahnya pengawasan tata ruang mendorong masyarakat bermukim dan beraktivitas di lereng curam yang rawan bencana.

“Bencana sudah terjadi ribuan tahun lalu, yang menjadi persoalan hari ini adalah tekanan penduduk yang semakin besar dan keterbatasan akses masyarakat terhadap lahan yang layak untuk digarap,” ujar Enok, dalam keterangan resmi

Enok menekankan pentingnya mitigasi jangka panjang melalui evaluasi tata ruang, edukasi kebencanaan, dan pelibatan masyarakat. Ia juga mendorong pengembangan mata pencaharian yang lebih ramah lingkungan agar keselamatan warga dan keberlanjutan lingkungan dapat berjalan beriringan, sehingga risiko bencana serupa dapat ditekan di masa mendatang.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//