Peran Orang Tua di Rumah, Kunci Pendidikan Moderasi Beragama Anak
Fenomena intoleransi yang masih hidup dalam realitas sosial Indonesia menunjukkan bahwa pembangunan kerukunan beragama belum sepenuhnya berhasil.

Renny Maria
Mahasiswa Pascasarjana Program Studi Pendidikan Agama Kristen IAKN Manado
10 Februari 2026
BandungBergerak.id – Sepanjang tahun 2025, Indonesia kembali mencatat banyak peristiwa intoleransi yang mencederai nilai toleransi beragama yang menjadi fondasi masyarakat nasional. Kasus intoleransi ditandai dengan insiden seperti pembubaran retret pelajar Kristen di Sukabumi pada bulan Juni 2025 dan perusakan rumah doa di Padang pada bulan Juli 2025. Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada bulan Agustus 2025 mencatat setidaknya delapan kasus intoleransi di berbagai wilayah seperti Sukabumi, Depok, dan Padang yang sebagian besar berkaitan dengan aksi menolak kegiatan ibadah atau pengrusakan rumah doa umat beragama minoritas. Peristiwa intoleran tersebut bukan sekadar masalah administratif atau sosial semata, tetapi juga menciptakan tekanan psikologis, terutama pada anak-anak yang menjadi saksi atau korban langsung kejadian tersebut. Laporan ini menggambarkan bahwa fenomena intoleransi bukan kasus tunggal yang terisolasi, melainkan tren sosial yang masih mengemuka di tengah masyarakat Indonesia. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) secara khusus mengecam tindakan intoleransi yang terjadi di Padang karena berdampak negatif secara psikologis pada anak-anak, termasuk menimbulkan rasa takut dan kehilangan rasa aman. KPAI menegaskan kebutuhan pendampingan psikososial bagi anak korban perlu diberikan.
Fakta ini mencerminkan bahwa kebebasan beragama dan toleransi tidak selalu berjalan seiring dengan jaminan hukum Pancasila atau undang-undang tentang kebebasan beragama, karena implementasi nilai toleransi masih menghadapi hambatan nyata di masyarakat. Jika kondisi ini dibiarkan, generasi muda akan tumbuh dalam lingkungan yang penuh prasangka, stigma sosial, dan potensi konflik antar-kelompok keyakinan yang pada akhirnya dapat melemahkan persatuan dan keharmonisan sosial bangsa.
Situasi intoleransi yang masih mengemuka di Indonesia menunjukkan bahwa upaya pendidikan moderasi beragama perlu dimulai lebih dini dan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya di ranah sekolah atau komunitas, tetapi terutama di rumah, di mana anak pertama kali belajar memahami hubungan sosial, norma, dan nilai. Orang tua adalah pendidik pertama dan utama dalam keluarga. Pendidikan moderasi beragama bukanlah sekadar pengenalan ritual atau doktrin agama tertentu, tetapi juga pengembangan sikap menghormati perbedaan, kemampuan dialog, pemahaman nilai universal kemanusiaan, dan rasa empati terhadap sesama. Orang tua sebagai pembimbing utama anak memiliki peran strategis dalam model pembelajaran nilai tersebut karena keluarga merupakan lingkungan pertama di mana anak berinteraksi, mengamati, dan meniru perilaku sosial orang-orang terdekat mereka. Ketika orang tua mampu menunjukkan sikap tulus menghargai perbedaan keyakinan, menjelaskan pentingnya toleransi secara konsisten, dan menanamkan nilai moderasi dalam kehidupan sehari-hari, anak akan mampu membangun kerangka berpikir yang inklusif dan toleran terhadap keberagaman. Anak yang tumbuh dalam keluarga dengan komunikasi terbuka dan nilai toleransi yang kuat cenderung memiliki kompetensi sosial yang lebih mapan, termasuk kemampuan resolusi konflik, keterampilan empati, dan menghormati perbedaan. Oleh karena itu, rumah sebagai unit sosial pertama dan paling berpengaruh harus menjadi basis pendidikan moderasi beragama jika bangsa ini ingin membentengi generasi penerus dari potensi intoleransi dan diskriminasi.
Baca Juga: Moderasi Beragama dan Budaya Bangsa
Mememeriksa Kembali Jaminan Kebhinekaan dari Konstitusi, Menyikapi Intoleransi terhadap Warga Ahmadiyah di Banjar
Merayakan Keberagaman, Menumbuhkan Ruang Dialog di Tengah Stigma Intoleransi
Peran Orang Tua di Rumah
Peran orang tua dalam memberikan pendidikan moderasi beragama di rumah mencakup beberapa aspek penting yang saling melengkapi. Pertama, orang tua perlu menjadi teladan dalam sikap toleran, menghormati keyakinan lain, dan menunjukkan penghargaan terhadap keragaman nilai sosial. Praktik hidup yang toleran sejalan dengan nilai-nilai agama yang juga perlu diajarkan dan diterapkan di keluarga. Praktik ini akan memberikan contoh nyata bagi anak selain sekadar teori abstrak tentang moderasi beragama. Ketika anak melihat orang tua berinteraksi dengan tetangga atau teman yang berbeda keyakinan dengan penuh hormat dan empati, mereka belajar bahwa keberagaman bukan ancaman, tetapi kekayaan kehidupan sosial yang perlu dijunjung tinggi dalam bermasyarakat. Nilai toleransi dipelajari sejak dini melalui teladan perilaku orang tua. Kedua, membangun komunikasi keluarga yang terbuka dan reflektif tentang isu-isu sosial beragama dapat membantu anak memahami konteks moderasi secara kritis, serta membentuk kemampuan berpikir yang tidak cepat menghakimi perbedaan. Diskusi tentang nilai toleransi beragama, pengalaman sejarah tentang konflik agama yang pernah terjadi, atau membaca cerita tentang tokoh yang berperan dalam menjaga kerukunan umat beragama dapat memperluas wawasan anak dan menguatkan pemahaman nilai moderasi. Ketiga, orang tua dapat bekerja sama dengan sekolah dan komunitas untuk memperkuat pendidikan moderasi beragama, karena ini bukan tugas orang tua semata, tetapi bagian dari ekosistem pendidikan sosial yang saling mendukung. Dian, Wahyu dan Yayuk (2025) dalam kajiannya pada Peran Lingkungan Keluarga Dalam Membentuk Sikap Moderasi Beragama Pada Anak menyimpulkan perlunya penguatan kapasitas keluarga melalui program dukungan dan kolaborasi dengan lembaga pendidikan serta pemimpin agama untuk menciptakan ekosistem sosial yang inklusif dan harmonis. Ketika pendidikan moderasi dilakukan secara terpadu antara keluarga, sekolah, pemimpin agama dan masyarakat maka dampaknya lebih berkelanjutan dan kuat dalam membentuk karakter anak yang inklusif.
Pentingnya keterlibatan orang tua dalam pendidikan moderasi beragama juga dapat dipahami melalui lensa tantangan era modernisasi yang semakin kompleks. Globalisasi dan digitalisasi telah mengubah cara anak berinteraksi, berkomunikasi, dan memperoleh informasi termasuk informasi yang sering kali bernuansa ekstrem atau provokatif yang dapat memperkuat sikap intoleran jika tidak dikawal dengan pengetahuan nilai yang kuat. Anak-anak saat ini lebih cepat terpapar konten yang menunjukkan ujaran kebencian, narasi diskriminatif, atau pesan intoleran melalui media sosial yang tanpa filter dapat menjadi ancaman serius terhadap perkembangan karakter anak dan kecerdasan sosial anak jika tidak ada bimbingan keluarga sebagai benteng nilai moral yang kuat. Laporan situasi intoleransi tahun 2025 mencatat adanya peningkatan narasi negatif di ranah publik dan sosial (asiacentre.org). Karena itu, keterlibatan orang tua tidak hanya sebatas menyampaikan pesan toleransi, tetapi juga mengajarkan anak untuk memilah informasi secara kritis dan menjunjung tinggi nilai kemanusiaan di tengah arus informasi digital.
Jika orang tua gagal menjalankan peran pendidikan moderasi di rumah, anak dapat tumbuh dengan pemahaman agama yang sempit atau ekstremisme nilai yang dapat memperlemah persatuan dan keharmonisan sosial bangsa. Sebaliknya, apabila orang tua secara aktif mendidik anak dengan nilai moderasi beragama, dampaknya menjadi kontribusi langsung terhadap penguatan kerukunan, penghormatan antar umat beragama, dan meminimalisasi potensi konflik sosial di masa depan. Pendidikan moderasi beragama tidak hanya relevan bagi kehidupan spiritual individu, tetapi juga sebagai instrumen penting dalam menjaga keutuhan bangsa Indonesia yang majemuk dan pluralistik.
Fenomena intoleransi yang masih hidup dalam realitas sosial Indonesia sepanjang tahun 2025 menunjukkan bahwa pembangunan kerukunan beragama belum sepenuhnya berhasil diterapkan di semua strata masyarakat, termasuk terhadap generasi muda yang masih rentan terhadap pengaruh buruk nilai intoleran. Oleh karena itu, keterlibatan orang tua dalam mendidik anak di rumah dengan pendidikan moderasi beragama bukan hanya sebuah pilihan, tetapi kebutuhan strategis untuk memastikan anak tumbuh menjadi warga negara yang mampu menghormati perbedaan, berdialog secara damai, dan berkontribusi positif dalam kehidupan sosial yang plural. Ketika setiap orang tua mengambil peran aktif dalam mentransfer nilai moderasi secara konsisten, maka kita tidak hanya mendidik individu yang cerdas secara sosial tetapi juga memperkuat pondasi sosial bangsa secara keseluruhan. Dampak besar dari pendidikan moderasi beragama yang efektif di rumah akan terasa dalam kehidupan bermasyarakat yang lebih harmonis, minim konflik, dan lebih mampu menghadapi tantangan globalisasi dengan landasan nilai yang kuat. Pada akhirnya, pendidikan moderasi beragama yang diawali di rumah akan menjadi modal paling berharga dalam menjaga keutuhan dan kedamaian Indonesia.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

