Pro dan Kontra Masuk Unpad dengan QR, Menimbulkan Antrean di Gerbang Utama
Unpad Jatinangor sedang menguji coba aplikasi SAUNPAD sebagai akses masuk dan keluar lingkungan kampus. Jumlah portal yang sedikit dikeluhkan mahasiswa.
Penulis Tim Redaksi11 Februari 2026
BandungBergerak - Pemandangan tak biasa terjadi di portal gerbang masuk Unpad Jatinangor sebulan belakangan ini. Antrean pengendara motor kerap tak terhindarkan di pintu gerbang utama sekitar Tugu Makalangan. Mereka menunggu giliran memindai kode QR melalui aplikasi SAUNPAD sebelum bisa masuk area kampus.
Di sekitar gerbang tertempel imbauan mengenai cara baru masuk area Unpad dengan pemindaian QR SAUNPAD. Namun penerapan aplikasi ini menuai keluhan dari mahasiswa dan pengemudi ojek online (ojol). Media sosial Unpad juga dipenuhi berbagai komentar.
“Dengan adanya QR di pintu masuk dan keluar Unpad ini masih kurang mateng ya. Ide-idenya mungkin dari pihak rektoratnya karena bisa dilihat juga dari media sosial dari mana pun itu, dengan adanya penambahan portal itu malah bikin macet,” ujar salah seorang mahasiswa Unpad berinisial MI, ketika ditemui BandungBergerak.
Keluhan serupa juga diungkapkan oleh mahasiswi berinisial AD, yang sehari-hari menggunakan kendaraan bermotor. Menurutnya, seandainya kebijakan portal tersebut ada kaitannya dengan program green campus, ia tidak mempermasalahkannya. Yang jadi persoalan adalah jumlah portal yang terbatas sehingga menyebabkan antrean atau kemacetan.
“Cuma dari sisi lainnya, menurut saya itu menghambat juga sih karena jumlahnya gak sesuai gitu loh,” ungkap AD.
Ia menyebut, di kawasan Gerbang Lama (Gerlam) dekat Tugu Makalangan yang merupakan gerbang utama, hanya memiliki satu portal untuk sepeda motor. Sementara akses utama masuk Unpad adalah Gerlam.
“Jadi menurut saya itu menghambat banget sih, apalagi kalau nanti pas masuk kuliah itu pasti macet parah banget saya yakin,” lanjut AD.
Sistem ini tidak hanya berdampak kepada mahasiswa, tetapi juga kepada ojol yang mendapatkan pesanan ke kawasan Unpad. Salah satunya ujar Reza, yang menilai sistem SAUNPAD tidak efisien.
“Kalau untuk di sisi ojol ya, kurang efisien karena pertama kan kita ojol kan biasanya lewat Gerlam. Waktu kan istilahnya lebih efisienlah. Cuma sekarang kan harus lewat gerbang di atas mungkin kalau misalkan nganter ke Fakultas Farmasi, rektorat, atau perikanan itu gak nguras bensin. Tapi, kalau misalkan sampe kayak vokasi, kedokteran, Fisip itu kan nguras waktu juga, nguras bensin juga,” ujar Reza.
Reza memberikan masukkan agar akses keluar masuk menggunakan e-money sehingga memudahkan pihak ojol untuk masuk Unpad.
“Meski nanti driver harus top up ke e-money kalau misalkan di atas lima menit atau sepuluh menit itu harus bayar ya, entah itu dua ribu atau seribu. Tapi itu lebih efisiennya kita bisa lewat Gerlam,” tutur Reza.
Akses keluar masuk khusus tamu dan ojek online (ojol) hanya terletak di pintu masuk C yang berada di dekat gedung Bale Wilasa. Sebelum diberlakukan sistem ini, tamu dan ojol dapat masuk melalui pintu D. Tetapi setelah sistem ini berlangsung, mereka harus menempuh sekitar 2 km dari pintu D menuju pintu C untuk masuk ke kawasan Unpad.
Baca Juga: Tetap Bersuara Setelah KUHAP Disahkan, Kritik Bukan Penghinaan
Peringatan 16 Hari Anti Kekerasan Berbasis Gender di Unpar, Seruan Keamanan Digital di Tengah Maraknya Kekerasan Daring
Evaluasi Sistem
Direktur Sarana, Prasarana, dan Manajemen Aset Unpad, Edward Henry mengatakan, tujuan diadakannya portal otomatis tentunya untuk menjaga ketertiban dan keamanan kendaraan. Selain menjaga ketertiban, sistem ini bertujuan untuk mendeteksi jumlah kendaraan yang masuk guna menghitung emisi karbon di lingkungan kampus. Hal ini diberlakukan untuk memenuhi komitmen kampus dalam menjaga lingkungan, salah satu program menuju Green Campus.
Sistem baru ini mulai diberlakukan Unpad sejak 26 Januari 2026, sebagai bagian dari sistem pengelolaan akses kendaraan ke dalam kampus. Saat ini, sistem tersebut masih dalam masa percobaan hingga 14 Februari 2026.
Edward menjelaskan bahwa portal yang digunakan oleh Unpad menerapkan sistem kamera sebagai alat utama. Kendaraan yang sudah terdaftar dalam aplikasi SAUNPAD akan terdeteksi oleh kamera, sehingga plang portal akan terbuka ketika mendeteksi nomor kendaraan. Opsi lain diberikan dengan cara pemindaian kode QR dalam aplikasi tersebut. Dalam aplikasi SAUNPAD, sivitas dapat mendaftarkan lebih dari satu kendaraan.
Diketahui, Unpad merupakan kampus negeri yang berdiri tahun 1957. Rektor pertama kampus ini adalah Iwa Koesoemasoemantri (1899-1971). Kampus perkuliahannya dipusatkan di Jatinangor ini memiliki pulihan ribu mahasiswa dari berbagai fakultas.
*Liputan ini dikerjakan reporter BandungBergerak Alysha Ramaniya Wardhana dan Riani Alya

