• Berita
  • Bandung Zine Fest 2026: Tetap Keren, Tetap Melawan

Bandung Zine Fest 2026: Tetap Keren, Tetap Melawan

Dari isu buruh sawit hingga kritik sosial, Bandung Zine Fest 2026 menjadi ruang temu ribuan karya independen yang memilih proses lambat di tengah dominasi algoritma.

Suasana hari pertama Bandung Zine Fest yang bertempat di Galeri Seni Tjap Sahabat, Jalan Cibadak 168A Bandung, 7 Februari 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)

Penulis Riani Alya11 Februari 2026


BandungBergerak - Di antara deretan zine warna-warni di Bandung Zine Fest 2026, terselip kisah tentang buruh sawit perempuan dan pestisida yang meracuni tubuh serta lingkungan. Dari meja kecil di Tjap Sahabat, suara yang kerap diabaikan itu difoto kopi, diperbanyak, disuarakan.

Zine tersebut dibuat oleh Maer bersama komunitasnya, Collective Sweg. Zine ini lahir dari pembelajaran mereka selama satu tahun tentang perkebunan sawit dan dampak pestisida yang meracuni buruh serta lingkungan, ditulis dari perspektif feminis.

Komunitas ini juga membawa zine foto dan kumpulan cerita pendek yang mereka temukan di kebun sawit. Stiker-stiker bertema sawit makin melengkapi meja mereka.

Bagi Maer dan Sweg, zine bukan sekadar lembaran kertas, melainkan alat advokasi dan media bercerita bagi warga terdampak. Di dalam zine mereka terdapat tulisan yang ditulis langsung oleh buruh sawit perempuan.

Buruh sawit perempuan kerap dianggap “tak terlihat”. Karena itu, komunitas Sweg bersama para peneliti perempuan membuka ruang aman bagi mereka yang selama ini diabaikan. Pendekatan dilakukan melalui percakapan tentang keseharian perempuan di kebun sawit. Berbagai cerita tersebut kemudian dikumpulkan dan disusun menjadi zine.

Isu pestisida tak terpisahkan dari perkebunan sawit. Penggunaan bahan berbahaya yang menyebabkan keracunan pada buruh dan lingkungan ternyata dapat dimanipulasi demi kepentingan tertentu. 

“Yang paling mencengangkan, kami menemukan botol pestisida dengan label berwarna seolah tidak berbahaya. Setelah dicek, simbol itu seharusnya digunakan untuk label berbahaya. Jadi kami menemukan manipulasi label di Kalimantan Barat,” ujar Maer, kepada BandungBergerak.

Hasil pembelajaran mereka menunjukkan bahwa dampak terparah pestisida adalah kematian mendadak. Selain itu, ada pula penyakit yang muncul berkala, seperti kanker. Kasus-kasus ini banyak ditemukan di Malaysia dan Amerika Latin.

Maer dan Sweg merupakan satu dari sekian banyak peserta Bandung Zine Fest (BZF) 2026 dengan tema “Amplifying Zines”. Hajat tahunan para pegiat zine, zinemaker, dari Bandung dan luar Bandung ini memamerkan ribuan zine.

Di sebelah meja Maer terdapat Lazy Sunday, komunitas zine dari Jakarta yang untuk kedua kalinya mengikuti Bandung Zine Fest. Lazy Sundai menunjukkan bahwa zine bukan hanya bahan diskusi, tetapi juga praktik yang dijalankan melalui proses lambat dan partisipatif. Mereka mengemasnya dalam bentuk photobooth dengan hasil akhir berupa zine. Meski memakan waktu, pengunjung dapat menyaksikan langsung proses pembuatannya.

Lazy Sunday berfokus pada zine komik, namun juga menghadirkan zine foto dan kalender dengan isu-isu yang dekat dengan keseharian, seperti cerita anak sekolah, fotokopi, dan birokrasi.

“Acaranya seru banget. Bandung Zine Fest selalu seru, bisa ketemu teman baru dan teman lama,” ujar Talita, pegiat zine Lazy Sunday.

Pengunjung dari luar Bandung, Gilbert dari Sumatera Utara, baru mengenal zine lewat BZF. Ia tertarik dengan kreativitas para senimannya. Ia pun merasa tertantang untuk bikin zine.

“Semoga acara seperti ini ke depannya makin bagus dan tetap ada,” ujar Gilbert.

Suasana hari pertama Bandung Zine Fest yang bertempat di Galeri Seni Tjap Sahabat, Jalan Cibadak 168A Bandung, 7 Februari 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)
Suasana hari pertama Bandung Zine Fest yang bertempat di Galeri Seni Tjap Sahabat, Jalan Cibadak 168A Bandung, 7 Februari 2026. (Foto: Maisan Rachman/BandungBergerak)

Zine Tetap Keren

Ajun, panitia Bandung Zine Fest 2026 menyebut, tema “Amplifying Zines” di BZF tahun ini

bukan sekadar slogan, melainkan ajakan konkret untuk membangun jejaring, berbagi karya, serta menegaskan kembali zine sebagai medium kreatif independen yang relevan di masa kini. Pemilihan tema dilandasi keinginan untuk menghidupkan kembali semangat membuat zine.

“Ingin mengajak para zinemaker secara seluruh untuk memperkuat dan menghidupkan lagi kegiatan membuat zine sebagai media bersuara, baik itu suara secara individu ataupun kelompok,” kata Ajun, kepada BandungBergerak.

BZF 2026 diharapkan menjadi momentum bersama untuk menunjukkan bahwa zine tetap “keren” dan mampu menjadi medium alternatif yang penting hari ini. Tahun ini, tercatat 46 booth berpartisipasi dalam perhelatan tersebut. Selain itu, terdapat format dropzine, yakni kolektif dari sejumlah zinemaker yang tidak dapat hadir langsung pada hari pelaksanaan.

Peserta datang dari berbagai kota di Indonesia, bahkan dari luar negeri, dengan ragam genre yang beragam. Jumlah zine yang dipamerkan dan dijual tidak dapat dipastikan secara rinci, namun diperkirakan mencapai ribuan eksemplar. Setiap booth membawa berbagai judul dengan bentuk, ukuran, dan pendekatan yang berbeda.

Sejumlah nama yang cukup dikenal di skena zine turut meramaikan acara, di antaranya Supergunz, Wawbaw, Golosor Times, Alternative, dan Lazy Sunday Zine Club, serta banyak kreator lainnya. Keragaman konten menjadi ciri utama BZF tahun ini. Pengunjung dapat menemukan zine bertema ilustrasi, budaya lokal, kritik sosial, musik, cerita keseharian, pengalaman personal, hingga fotografi.

Berdasarkan catatan buku tamu, Ajun mengatakan, selama dua hari penyelenggaraan tercatat empat buku tamu terisi penuh. Setiap buku memuat sekitar 350 lembar, sehingga total pengunjung diperkirakan mencapai 1.400 orang.

BZF 2026 digelar di Ruang Tjap Sahabat, yang memberi suasana lebih intim karena seluruh kegiatan terpusat dalam satu ruang. Tahun ini acara terasa lebih ramai, bukan hanya karena antusiasme peserta, tetapi juga rangkaian kegiatan pendukung yang memperkaya agenda. Selain pameran zine, terdapat pameran karya almarhum Amenkcoy—pegiat zine sekaligus seniman asal Bandung—yang menjadi penghormatan khusus.

Berbagai kegiatan lain seperti workshop, talkshow seputar zine, bedah buku, hingga lelang zine di penghujung acara turut menarik minat pengunjung untuk terlibat lebih jauh. Kombinasi pameran, diskusi, dan aktivitas interaktif menjadikan Bandung Zine Fest 2026 bukan sekadar ajang jual-beli, melainkan ruang temu dan perayaan bersama bagi komunitas zine.

Baca Juga: Zine yang tak Lekang Ditelan Zaman
Zine Bandung 24 Jam, Carut Marut di Balik Romantisasi Kota Kembang

Zine Bukan Artefak

Bandung Zine Festival 2026 menjadi ruang refleksi bagi para pegiat zine. Ada kegelisahan tentang masa depan zine di era digital ini, yang dibahas di diskusi berjudul “Is Print Really Dead”, 7 Februari 2026. Diskusi ini mengajak pengunjung untuk mempertahankan dan menyebarluaskan zine sebagai media bacaan, bukan hanya artefak masa lalu yang dikenang.

Ilham Fadillah dari Komunitas Consumed mengatakan, saat ini media sudah beralih fungsi. Jika dulu media menjadi sumber informasi utama, sekarang informasi bisa dengan mudah didapatkan melalui media sosial yang terus update. Dalam konteks ini, zine jelas tidak bisa bersaing.

Dinda Anindita dari komunitas zine Berkawan Sekebun mengatakan, komunitasnya tidak hadir untuk mengikuti algoritma, mereka menggunakan pendekatan personal dan relasi untuk mengenalkan karya-karya yang mereka buat.

Berkawan Sekebun membuka lapak berukuran 2 x 2 meter di Pasar Cihapit. Lapak ini dijadikan sebagai “rumah” bagi karya dan senimannya. Menurutnya, lapak ini sebagai titik berdiri sendiri sehingga komunitasnya bisa tetap menjaga independensi.

“Kita tidak mengikuti algoritma, justru liatnya dari POV personal,” ucap Dinda, kepada BandungBergerak.

Mengenai keberlanjutan, baik Dinda maupun Ilham, sepakat bahwa karya cetak bukan suatu hal yang murah. Mereka masih mencari titik temu antara keberlangsungan bisnis dan idealisme. Langkah yang sedang digeluti mereka adalah konsistensi penerbitan dan membangun kedekatan personal.

Dinda menambahkan, Berkawan Sekebun tidak menggunakan rumus baku dalam memonetisasi karyanya. Bahkan mereka tidak menggunakan media sosial untuk mempromosikannya, melainkan memanfaatkan strategi dari mulut ke mulut untuk menjaga pola ekonomi agar terus berjalan.

Namun ia juga tidak melarang jika banyak orang yang mengunggah karyanya ke media sosial. Menurutnya hal itu merupakan salah satu cara agar karyanya dapat diketahui banyak orang juga asal caranya tetap organik.

Dengan begitu, Dinda menyatakan, justru akan menarik banyak kalangan lintas usia dan latar belakang, mulai dari anak sekolah hingga seniman, bahwa karya cetak seperti zine masih eksis.

“Media cetak bagi saya, justru balik lagi ke media cetak, karena kita super resah sama yang namanya media sosial,” ucapnya.

Bagi Dinda, zine merupakan media kesenangan. Dalam proses pembuatannya ia bebas bereksperimen dan menuangkan segala pikirannya.

“Menulis itu menyenangkan, menggambar itu menyenangkan, melayout, menikmati prosesnya, kembali menikmati prosesnya. Jangan mikirin ada yang beli atau ngga, pokoknya nikmatin aja dulu prosesnya,” ucapnya.

Di tengah dunia yang dikuasai algoritma dan arus informasi serba cepat, lembaran-lembaran fotokopian di Bandung justru memilih bergerak lambat—dan bersuara lebih keras. Bandung Zine Fest 2026 menjadi ruang bagi para zinemaker untuk menegaskan bahwa media cetak independen belum mati, bahkan terus menguat.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//