• Cerita
  • Ajengan Anjing, dari Belenggu Fatwa ke Alternatif Sejarah Lokal

Ajengan Anjing, dari Belenggu Fatwa ke Alternatif Sejarah Lokal

Lewat Mama Aleh, yang terinspirasi dari tokoh keagamaan di lingkungan terdekat penulis, anjing dilihat bukan melulu sebagai masalah atau dosa.

Diskusi buku Ajengan Anjing, Sabtu, 14 Februari 2026 di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung. (Foto: dokumentasi Bunga di Tembok)

Penulis Maisan Rachman17 Februari 2026


BandungBergerak – Pada tahun 2021, informasi tentang Hesti Sutrisno, seorang perempuan muslimah tertutup dan bercadar asal Bogor, yang mengurusi 70 ekor anjing di rumah khususnya, viral. Orang-orang menggunjingkan keputusan yang seolah bertolak belakang dengan simbol-simbol keyakinan yang dia kenakan tersebut. Pada akhirnya, Hesti harus merelakan sebagian besar anjing direlokasi karena penolakan kelompok masyarakat.

Pada tahun yang sama, beberapa bulan lebih awal, Si Logo, anjing peliharaan Ridwan Malik yang dirawat sejak kecil, ditemukan tewas akibat diracun. Masih dalam perasaaan sedih dan marah, Ridwan lantas menemukan kabar viral tentang Hesti itu. Ia pun mulai mempertanyakan kehidupan hewan peliharaannya tersebut dalam perspektif agama.

“Maksudnya, secara posisi gitu, anjing di dalam tradisi Islam itu gimana sih?” ujar Ridwan menceritakan bagaimana awal penulisan buku Ajengan Anjing dalam diskusi bertajuk “Menyelami Makna Hidup Lewat Sudut Pandang Anjing” di Perpustakaan Bunga di Tembok, Bandung, Sabtu, 14 Februari 2026. Akmal Firmansyah hadir sebagai penanggap dalam diskusi yang dimoderatori Riani Alya ini.

Untuk menjawab pertanyaan itu, Ridwan melakukan apa yang dilakukan oleh setiap penulis: banyak-banyak membaca. Ada sedikitnya lima buku yang dijadikan sumber rujukan utama menulis novel, yaitu empat buku karya Quraish Shihab Membaca Sirah Nabi Muhammad SAW dalam Sorotan Al-Qur'an dan Hadis-Hadis Shahih, Islam yang Saya Anut, Islam yang Saya Pahami, dan Islam yang Disalahpahami, serta buku karya Abu Fadil Al Fayyad Hikayat Anjing dalam Tradisi Islam dan Alam. Dari kelima buku tersebut, Ridwan menemukan pengetahuan baru bahwa posisi Anjing sejak zaman pra-Islam bahkan setelah datangnya Islam termasuk dalam hewan domestik. Ia dekat dengan kehidupan muslim.

“Bahkan ada cerita dia (anjing) bisa sering (muncul) ketika Nabi Muhammad sedang melaksanakan salat gitu ya. Di mihrab itu ada anak-anak anjing tuh seringkali bermain-main gitu ketika Kanjeng Nabi sedang melaksanakan salat,” tuturnya.

Penemuan ini melahirkan pertanyaan-pertanyaan baru bagi Ridwan: kenapa anjing yang seharusnya menjadi hewan domestik itu sekarang seringkali mendapatkan perlakuan yang tak mengenakkan? Kenapa bahkan seringkali masyarakat mengukur moralitas seseorang yang memelihara anjing? Apa penyebab semua ini?

Selain buku-buku rujukan, Ridwan juga menceritakan pengalaman hidupnya di lingkungan pesantren sebagai latar yang secara kuat menyokong penulisan novel. Mama Aleh, salah satu tokoh dalam Ajengan Anjing, terinspirasi dari tokoh keagamaan di lingkungannya, dan lewat tokoh inilah anjing dilihat bukan melulu sebagai masalah atau dosa. Malahan sosok anjing bisa menjadi kekuatan untuk menyentil kesadaran orang-orang untuk mempertanyakan ulang tudingan bahwa orang yang memelihara anjing itu pasti amoral.

“Si Mama Aleh ini nih yang jadi jembatan keilmuan gitu,” katanya. “Ya antara (lain) boleh kok itu ajengan itu memelihara anjing, boleh kok orang itu memelihara anjing.”

Baca Juga: Mendaras Ajengan Anjing, Menyalak dari Sisi Harak
Menyisir Kota Bandung, Menggali Identitas dan Kelas Sosial Lewat Fotografi

Menyodorkan Sejarah Alternatif

Dalam esainya yang terbit di BandungBergerak “Mendaras Ajengan Anjing, Menyalak dari Sisi Harak”, Akmal Firmansyah menjelaskan perbedaan antara seruan dewan-dewan fatwa organisasi keislaman di Indonesia dan kenyataan bagaimana masyarakat kerap kali menjauhi anjing bukan hanya karena haram dimakan tapi juga karena proses penyucian dari air liur dan kotorannya dianggap sulit. Namun benang merahnya sebenarnya tegas: "pentingnya berbuat baik terhadap makhluk hidup". 

Ketika ada seorang ulama, yang kepadanya dilekatkan penguasaan ilmu keislaman secara mumpuni, memungut seekor anjing dan lalu memeliharanya, percakapan atau perdebatan kian menarik. Ada kontradiksi yang (sengaja) dibenturkan.

“Yang menarik dari Ajengan Anjing itu adalah tadi ya, bahwa di Islam itu memang regulasi si anjing teh khusus gitu: ada yang bilang haram, ada yang bilang makruh. Dan itu silang pendapat para alim ulama atau para intelektual Islam,” ujar Akmal yang juga tumbuh dalam budaya pesantren.

Bukan melulu urusan fatwa, Akmal mengapresiasi bagaimana Ajengan Anjing memaparkan secara kritis sejarah tradisi keislaman di Indonesia yang seringkali mengagung-agungkan seseorang yang memiliki darah keturunan Nabi Muhammad. Tidak jarang pengagungan semacam ini diceritakan kembali lewat hal-hal yang berbau mistik.

Aroma lokal yang kuat dalam novel ini juga menarik disimak, terutama genealogi intelektual dan obrolan mengenai kosmologi di Tatar Priangan. Akmal secara khusus menukil adegan ketika Mama Aleh terbang ke Sancang.

Membicarakan Sancang, Akmal mengajak pembaca untuk mengenali sejarah Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII) di wilayah Garut sebagai latar belakang novel. Ia menyayangkan pendekatan cerita yang lebih condong kepada tradisi mistik dibandingkan latar belakang sejarah yang kokoh. Tidak ada pembahasan memadai tentang aksi gerombolan, juga tentang sepak terjang Resimen Sapu Jagad. Latar sejarah yang demikian kuat seolah dijadikan pintu masuk saja.  

“Nah, pas pembahasan Mama Aleh itu menarik. Ridwan nyodorin sejarah alternatif pesantren di Jawa Barat,” ujarnya.

Menyapa Publik Luas

Novel Ajengan Anjing yang ditulis oleh Ridwan Malik pertama kali diterbitkan pada akhir tahun 2024 oleh Penerbit Maliré. Pada tahun 2025, novel ini meraih penghargaan sastra Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) Republik Indonesia dan juga masuk dalam Daftar Panjang Penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2025.

Meski mengambil topik yang sangat terhubung dengan dunia Islam dan secara khusus dengan budaya pesantren, novel ini nyatanya diterima oleh publik secara luas. Pembaca dapat mengambil relevansi dengan nilai-nilai kemanusiaan dan ekologi yang juga tersirat dalam cerita. Ridwan Malik menceritakan bagaimana novelnya ini disambut dengan baik di Bali, pulau dengan mayoritas penduduk memeluk Hindu.

Cerita dalam novel Ajengan Anjing menjadi refleksi untuk kehidupan sosial lewat penulisan sastra profetik melalui sudut pandang seekor anjing, binatang yang seringkali dijauhi oleh umat beragama Islam. Ia mengingatkan kita untuk kembali pada humanisme, dan pada keyakinan bahwa agama adalah rahmat bagi siapapun termasuk bagi hewan najis sekalipun: rahmatan lil alamin.

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

//