• Berita
  • Menelusuri Lima Vihara di Malam Tahun Baru Imlek di Bandung

Menelusuri Lima Vihara di Malam Tahun Baru Imlek di Bandung

Catatan saat 80 orang peserta mengikuti Tour Malam Imlek di Bandung oleh Jakatarub untuk mengenal makna imlek sekaligus merawat toleransi dan dialog lintas iman.

Peserta Tour Malam Imlek yang digelar Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) di vihara-vihara Kota Bandung, 16 Februari 2026. (Foto: Malika Shafa Nur Fadiya/BandungBergerak)

Penulis Malika Shafa Nur Fadiya19 Februari 2026


BandungBergerak – Aroma dupa tipis menyebar di udara saat rombongan peserta melangkah masuk ke Vihara Satya Budhi, di Tahun Baru Imlek Senin malam, 16 Februari 2026. Bangunan vihara didominasi warna merah, hijau, dan kuning, dengan dinding dihiasi relief lukisan dewa-dewa Tiongkok seperti Dewa Guan Gong yang menunggang kuda.

Di bawah cahaya lampion yang memantul ke lantai, 80 orang peserta Tour Malam Imlek yang digelar Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB), larut mendengarkan penjelasan tentang sejarah dan makna Tahun Baru Imlek.

Jocaste pengurus Jakatarub menyebutkan, kegiatan ini merupakan agenda rutin setiap perayaan Tahun Baru Imlek sebagai ruang perjumpaan lintas iman sekaligus pengenalan tradisi Tionghoa kepada publik.

“Tiap tahun kita adakan, tujuannya untuk mengenalkan asal-usul dan makna Imlek sekaligus merawat toleransi dan banyak yang belum tahu bahwa selain Buddha dan Konghucu ada juga Tao, kita ingin mengenalkan itu,” ungkap Jocaste.

Rute Tour Malam Imlek dimulai dari Jalan Kelenteng dan berakhir di Jalan Cibadak, menyambangi lima titik dari Vihara Satya Budhi, Vihara Tanda Bhakti, Vihara Dharma Ramsi, Vihara Kong Miao, dan Tao Kwan Sinar Mulia, menggunakan konsep post to post dengan misi dan tantangan di setiap lokasi, termasuk teka-teki silang (TTS) bertema Imlek. Peserta yang berhasil menyelesaikan tatantangan berkesempatan mendapat hadiah.

Menurut Nadya Pontoh dari Jakatarub, kawasan Andir dipilih karena banyak vihara yang berdiri berdekatan, sehingga mudah dijangkau.

“Konsep tour dan spesifiknya mengambil daerah Andir karena disini kita melihat bahwa banyak sekali Vihara yang berdekatan dan dapat dijangkau dalam waktu yang dekat,” katanya.

Tahun ini, Imlek memasuki tahun ke-2577 dalam kalender lunar. Berdasarkan penjelasan edukator Vihara Satya Budhi Kristanto Kurniawan, pergantian shio dalam perhitungan astrologi timur terjadi pada 4 Februari 2026 pukul 04.07 WIB, bertepatan dengan momen linchun atau awal musim semi. Dalam tradisi Tiongkok, musim semi menandai awal harapan baru setelah siklus musim dingin.

Tour Malam Imlek yang digelar Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) di vihara-vihara Kota Bandung, 16 Februari 2026. (Foto: Malika Shafa Nur Fadiya/BandungBergerak)
Tour Malam Imlek yang digelar Jaringan Kerja Antar Umat Beragama (JAKATARUB) di vihara-vihara Kota Bandung, 16 Februari 2026. (Foto: Malika Shafa Nur Fadiya/BandungBergerak)

Jejak Tri Dharma dan Sejarah Pembatasan

Di Vihara Satya Budhi, peserta diajak memahami konsep Tri dharma atau Sam Kauw: Buddha Mahayana, Taoisme, dan Konghucu. Istilah Sam Kauw dikenal luas di Indonesia sebagai sebutan bagi perpaduan tiga ajaran tersebut.

Kristanto menjelaskan, Dharma Ramsi sebagai vihara tertua di Bandung yang berdiri pada tahun 1954. Namun sejarah tempat ibadah Tionghoa tak lepas dari pembatasan politik. Pada masa orde Baru, Intruksi Presiden No. 14 Tahun 1957 membatasi ekspresi agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Banyak kelenteng kemudian beralih nama menjadi vihara demi menyesuaikan regulasi yang berlaku.

Di Vihara Tanda Bhakti, peserta juga mendengar penjelasan bahwa setiap vihara memiliki tuan rumah atau sosok yang dihormati yang berbeda-beda, di vihara ini tuan rumahnya adalah Tan Seng Ong. Namun ukurannya tampak lebih kecil dibanding altar Buddha. Hal itu bukan tanpa sebab, saat vihara didirikan pada masa Presiden Suharto, istilah kelenteng tidak diperbolehkan. Karena itu, bangunan harus dinamai vihara dan penonjolan simbol disesuaikan, sehingga yang diperbesar adalah Buddha Satya Budhi.

Vihara Tanda Bhakti sendiri telah ada sejak 1976, meski awalnya masih berupa bangunan kecil di bagian bawah saja. Seiring berjalannya waktu dan dukungan jemaat, bangunan vihara diperluas hingga memiliki dua lantai pada 1981. Perubahan fisik ini menjadi bagian dari jejak adaptasi komunitas Tionghoa dalam menghadapi situasi politik saat itu.

Kebijakan pembatasan tersebut akhirnya dicabut melalui Keputusan Presiden No. 6 Tahun 2000 oleh Presiden Gus Dur, yang memulihkan hak konstitusional warga Tionghoa untuk menjalankan kegiatan keagamaan dan adat tanpa izin khusus. Sejak itu, ruang ekspresi publik kembali terbuka.

Jejak pembatasan itu masih diingat oleh Fam Kiun Fat, Wakil Ketua Majelis Agama Konghucu Indonesia (MAKIN) Bandung, yang akrab disapa Koh Akyun. Ia memperkenalkan diri dengan tegas menggunakan nama Tionghoanya.

Pada masa Orde Baru, banyak warga Tionghoa didorong untuk mengganti nama menjadi nama bernuansa Indonesia sebagai bagian dari kebijakan asimilasi. Mengubah nama dianggap sebagai bentuk “penyesuaian” identitas agar mudah diterima secara admistratif maupun sosial. Namun, bagi Koh Akyun nama adalah bagian dari akar dan sejarah keluarga. Ia pun mengingat kembali masa ketika Konghucu tak diakui dalam kolom agama KTP.

“Saat membuat KTP, saya menolak mengganti nama meski dianjurkan. Kolom agama Konghucu juga tidak tersedia dan berakhir dikosongkan,” ungkapnya.

Baca Juga: Imlek dan Evolusi Identitas Sosial Setempat
Sepi Malam Imlek di Tahun Politik

Regenerasi dan Keterbukaan

Pantulan cahaya memantul dari cermin-cermin besar di belakang patung Buddha di Vihara Tanda Bhakti. Cermin-cermin tersebut menjadi simbol pantulan aura kebajikan sekaligus diyakini mampu memantulkan energi negatif agar tidak menetap di ruang ibadah.

Di pelataran vihara, lampion-lampion merah bergantung berjajar. Pada permukaannya tertera nama-nama para donatur yang berdana untuk pemasangan lampion. Nama-nama itu tak sekadar tulisan. Dalam setiap ibadah, nama tersebut akan disebutkan dalam doa, didoakan agar para penyumbang mendapat berkah kesehatan, kebahagiaan, dan kesejahteraan. Cahaya lampion menjadi simbol harapan yang digantungkan bersama.

Heni, pengurus Vihara Tanda Bhakti, bercerita tentang regenerasi kepengurusan. Awalnya Vihara ini didirikan oleh marga Tan, tetapi kini kepengurusan terbuka bagi siapa pun yang memiliki rasa memiliki dan ingin mengabdi.

“Siapa pun yang ingin mengabdi yang penting punya niat membantu dan mau memajukan vihara,” katanya.

Ia juga menjelaskan makna tuakim, kertas kuning yang biasanya dibakar sebagai simbol penyatuan doa kepada Tuhan yang Maha Esa. Asap yang mengepul dipercaya menjadi perantara harapan yang dipanjatkan. Di altar, tata cara penghormatan diatur berurutan dimulai dari Tuhan yang Maha Esa, para Buddha dan Bodhisatwa, hingga tuan rumah vihara.

Merawat Toleransi

Kegiatan ini terbuka bagi siapa pun mulai dari orang muda, orang tua, lintas latar belakang. Selain Tour Malam Imlek Jakatarub rutin menggelar agenda lain seperti buka puasa lintas agama saat Ramadan nanti, serta bekerja sama dengan komunitas dan rumah ibadah. Merawat toleransi tidak cukup lewat seremoni saja, namun juga perlu lewat perjumpaan yang setara dari percakapan sehari-hari.

“Kita ingin orang-orang melihat perbedaan dengan inklusif, jangan sampai perbedaan jadi hal buruk, sesuai dengan slogan kita yaitu dialog antariman berawal dari dialog antarteman,” ujar Jocaste.

Upaya merawat toleransi menjadi relavan jika dikaitkan dengan regulasi negara yang mengatur kehidupan beragama. Di tengah itu masih banyak diskriminalisasi kelompok minoritas atau tafsir keagamaan berbeda yang masih mereka hadapi sampai saat ini. Dalam konteks itulah ruang-ruang dialog lintas iman menjadi wadah penting sebagai jembatan sosial sebelum perbedaan berujung pada prasangka atau pelaporan hukum.

Bagi David Anugerah, mahasiswa yang mengikuti Tour Malam Imlek, pengalaman berkeliling lima vihara menjadi pembelajaran agar setiap orang bisa lebih toleransi, yang jika dilihat di media sosial masih banyak sikap intoleran yang menjalar.

“Semoga kita bisa lebih toleransi lagi, soalnya masih banyak sikap intoleran di media sosial, kegiatan ini sebagai gerbang awal untuk lebih menghargai agama orang lain dan lebih terbuka,” tungkasnya.

Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh perwakilan dari berbagai agama dan berlangsung secara khidmat. Setiap langkah kaki peserta menyusuri lima vihara menjadi simbol perawatan ingatan dan harapan bahwa toleransi tak lagi sekadar kata, namun cara hidup yang disusuri dan dirawat bersama oleh umat manusia.

 

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//