Gotong Royong Reforestasi Nagara Padang, Menanam Pohon untuk Memulihkan Hutan
Sebanyak 40 pemuda menanam 1.800 pohon di Batu Tumpeng, Nagara Padang, untuk memulihkan fungsi hutan lindung dan merespons banjir akibat alih fungsi lahan.
Penulis Ryan D.Afriliyana 19 Februari 2026
BandungBergerak - Sebanyak 40 pemuda melakukan penanaman 1.800 bibit pohon secara sukarela di Batu Tumpeng, Situs Gunung Nagara Padang, Kabupaten Bandung, Minggu, 15 Februari 2026. Aksi ini menjadi upaya pemulihan lahan gundul sekaligus respons atas banjir yang melanda Rawabogo, Kampung Ciparigi, pada 4 Desember 2025 dan 2 Februari 2026.
Kegiatan ini diinisiasi gabungan komunitas Sunda Hejo bersama komunitas Patanjala, petani, masyarakat Ciwidey, serta pemuda dari berbagai wilayah Bandung Raya. Sekitar 40 pemuda terlibat dalam program sukarela ini.
Menurut Rizal Muhammad, salah satu pegiat lingkungan, alih fungsi lahan di kawasan tersebut telah berlangsung cukup lama. Praktiknya mencakup pembukaan lahan untuk berbagai keperluan, termasuk pertanian dan potensi pengembangan pariwisata yang tidak sesuai peruntukan.
Dampak paling nyata dari alih fungsi lahan ini adalah hilangnya daya serap air di permukaan tanah. Ketika hutan dan vegetasi alami digantikan oleh lahan pertanian atau bangunan, air hujan tidak lagi dapat meresap ke dalam tanah secara optimal.
Banjir yang terjadi di Kampung Ciparigi yang merupakan pertemuan Sungai Nyalindung dan Cangkorah adalah bukti nyata dari dampak rusaknya alam. Dengan begitu, reforestasi tersebut diharapkan dapat mengembalikan fungsi hutan lindung menjadi ruang penyerapan air di musim hujan.
Selain pengembalian fungsi lahan dan mengembalikan fungsi ekologis, kegiatan ini juga turut merespons satwa liar seperti monyet-monyet dan macan tutul yang turun ke area pemukiman warga.
"Kita juga harus memenuhi kebutuhan mereka (satwa liar), biar dia tidak kita tinggal di dalam gitu kan, tanpa harus bermain ke daerah yang memang disebut tempat baladan," kata Rizal kepada BandungBergerak via daring, Rabu, 18 Februari 2026.
Bibit pohon yang ditanam dalam program reforestasi ini adalah pohon keras dan buah-buahan, seperti rasamala, puspa, kayu cendana, beringin, nangka, kopi, pohon mahoni, hingga karet kebo. Dengan ditanamnya pohon-pohon tersebut, diharapkan ekosistem dapat kembali pulih dan satwa-satwa liar bisa mendapatkan cukup makanan di hutan.
Rizal menegaskan, reforestasi ini tidak sekadar seremonial. Para pegiat lingkungan berkomitmen untuk merawat pohon-pohon yang telah ditanam.
Tantangan Pariwisata
Upaya rehabilitasi kawasan Nagara Padang menghadapi tantangan serius, terutama dari ekspansi pariwisata di Bandung Selatan yang dinilai berpotensi mempercepat kerusakan lingkungan. Kebijakan dalam UU Cipta Kerja, sebagaimana disorot Walhi dalam kertas posisi Ancaman Nyata Omnibuslaw, disebut mempermudah pelepasan kawasan hutan dan memberi celah pengampunan pelanggaran kehutanan.
Rizal mengkhawatirkan pembukaan Situs Nagara Padang untuk pariwisata tanpa perencanaan matang justru akan memperparah kerusakan. Ia menilai pengembang kerap mengabaikan etika kawasan.
Rizal menekankan pentingnya peran warga lokal dalam menjaga wilayahnya, termasuk melalui peraturan desa yang mengatur batas kawasan yang boleh dan tidak boleh dialihfungsikan. Ia berharap ada sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan penegak hukum, disertai penguatan edukasi lingkungan.
Baca Juga: Menuju Festival Sa Pu Alam di Bandung, Hutan Adalah Ibu yang tak Boleh Dilukai
Rumus Baru Wisata Berkelanjutan di Kawasan Bandung Utara, Wisatawan Jadi Penjaga Alam
Harus Sadar Kawasan
Mirsi Nira Insani, peserta yang baru pertama kali mengikuti reforestasi di Nagara Padang, menilai gotong royong menjaga lingkungan kini semakin langka. Ia tergerak karena melihat konsistensi komunitas yang menanam pohon secara sukarela selama bertahun-tahun.
Sebagai satu-satunya perempuan dalam kegiatan tersebut, Mirsi menghadapi medan terjal dan licin hingga beberapa kali terjatuh. Ia mengaku tidak mampu membawa bibit atau bambu karena medan yang berat. Namun, tantangan itu tidak ia anggap sebagai penghalang bagi perempuan untuk terlibat.
Mirsi berharap semakin banyak perempuan berpartisipasi dalam kegiatan lingkungan. Ia menekankan pentingnya kesadaran bahwa bumi adalah titipan generasi mendatang yang harus dijaga bersama.
"Bisa dibilang kita ini minjam dari anak cucu kita gitu ya. Bukan, bukan sedang menikmati apa ya, bukan sedang mewarisi tapi kita sedang meminjam dari anak cucu kita seperti itu," tegasnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp Kami

