• Berita
  • Bandung Ameng Mengajak Kembali ke Masa Kecil dengan Permainan Tradisional

Bandung Ameng Mengajak Kembali ke Masa Kecil dengan Permainan Tradisional

Komunitas Bermain Bandung mengajak orang muda kembali melompat tali dan menertawakan masa kecil. Menunda sejenak gawai dan dunia digital.

Tiga pemuda bermain lompat tali di Taman Monju, Bandung, 14 Februarj 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)

Penulis Alysha Ramaniya Wardhana20 Februari 2026


BandungBergerak - Sekelompok orang muda berbaju warna-warni asyik bermain karet tali di Taman Monumen Perjuangan (Monju), Bandung. Tawa mereka sesekali pecah setiap kali karet tersangkut di kaki temannya. Walau hujan tutun, mereka tidak berhenti bermain.

Kegiatan bertajuk Bandung Ameng tersebut rutin diselenggarakan setiap Sabtu di Taman Monju oleh Komunitas Bermain Bandung. Mereka membuka ruang bagi teman-teman yang ingin memainkan permainan tradisional.

Kembali ke Masa Kecil

Di tengah sibuknya pekerjaan, Nur Fitri menemukan cara sederhana untuk mengisi waktu luangnya. Sudah berjalan enam bulan, setiap Sabtu sore, ia menempuh perjalanan dari Cimahi ke Taman Monju untuk bermain bersama Komunitas Bermain Bandung.

“Alasan join itu karena kebetulan aku pendatang baru dari sini ya. Jadi lebih ingin mencari teman aja sih sama mengisi waktu luang,” ungkap Fitri.

Namun, selama perempuan berusia 24 tahun itu bergabung dengan komunitas, yang ia temukan bukan sekadar kegiatan untuk mengisi waktu luang dan relasi. Komunitas ini membawanya bertemu dengan kenangan masa kecil ketika bermain lompat tali 13 tahun lalu

Fitri sempat berpikir bahwa permainan tradisional hanya milik anak kecil saja, bukan lagi untuk dirinya yang saat ini. Melalui Bandung Ameng, ia menemukan fakta yang berbeda.

“Lebih ke flashback masa lalu ya. Di mana masa kecil kita main ini terus ada lagi gitu. Kita mungkin mikirnya kalau udah besar gak ada lagi permainan ini dan gak banyak yang minat juga. Ternyata dengan adanya komunitas ini, banyak juga yang seumuran saya main permainan tradisional ini,” ungkap Fitri menjelaskan perasaannya.

Berbeda dengan hiburan digital yang interaksinya dilakukan melalui layar, permainan tradisional justru menghadirkan interaksi langsung. Tawa dan teriakan yang bersahutan dapat didengar tanpa perantara.

“Mungkin lebih ke bermain secara langsung ya. Secara kalau kita bermain hanya lewat gadget ya, itu kan hanya lewat aplikasi menggunakan handphone, jadi kan tidak bertemu secara langsung ya,” tutur Fitri.

Fitri juga menyadari bahwa permainan tradisional, terutama di kota-kota besar seperti Bandung sudah jarang terlihat. Menurutnya, kehadiran gawai menjadi salah satu penyebabnya.

Perubahan pola hiburan tersebut juga disoroti Fitri karena semakin sepinya ruang publik dari permainan tradisional. Bagi Fitri, menghadirkan kembali permainan tersebut menjadi cara untuk menjaga memori kolektif.

“Lebih ke mempertahankan budaya permainan zaman dulu ya. Jadi, kita walaupun sudah ada yang namanya gadget, kita jangan sampai lupa dengan yang namanya permainan tradisional ya, karena itu perlu ya,” jelas Fitri.

Baca Juga: PROFIL KOMUNITAS OUR HOME: Sekolah Tanpa Seragam untuk Anak Jalanan
Gotong Royong Reforestasi Nagara Padang, Menanam Pohon untuk Memulihkan Hutan

Komunitas Bermain Bandung di Taman Monju, 14 Februarj 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)
Komunitas Bermain Bandung di Taman Monju, 14 Februarj 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)

Menjaga Permainan Tradisional

Ketua Komunitas Bermain Bandung Mikyal mengatakan, komunitas ini hadir sebagai bentuk dari keresahan pendirinya, Akihiko. Ia merasa permainan tradisional semakin lama semakin dilupakan sehingga tercetuslah Komunitas Bermain yang sudah tersebar di Indonesia, seperti Komunitas Bermain Bandung.

Selama hampir dua tahun berjalan, ia melihat banyak peserta yang datang dengan cerita serupa, mereka teringat kembali dengan permainan tradisional yang menjadi memori masa kecil.

“Kayak nostalgia ya. Iya mereka kayak ngomong, aduh kangen banget nih sama permainan-permainan ini yang kita mainin masa kecil gitu. Akhirnya ya gitu, happy,” ungkap Mikyal.

Karena itu, Mikyal menilai menghidupkan kembali permainan tradisional merupakan hal penting. Melalui komunitas ini, ia berupaya untuk mengingatkan mereka yang pernah memainkannya sekaligus mengenalkan permainan tradisional kepada yang belum pernah mencoba.

Ia memandang permainan tradisional sebagai bagian dari warisan budaya. Permainan ini akan punah jika diabaikan oleh generasi penerus.

“Karena permainan tradisional ini juga merupakan adat dari nenek moyang kitalah ya. Peninggalan orang tua kita terdahulu. Terus kalau misalkan sampai akhirnya terlupakan dan tidak ada, sangat disayangkan gak sih apa yang menjadi autentik di kita akhirnya hilang,” jelasnya.

Permainan congkak oleh komunitas Bermain Bandung, 14 Februarj 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)
Permainan congkak oleh komunitas Bermain Bandung, 14 Februarj 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)

Permainan Tradisional dan Kearifan Lokal

Fenomena berkurangnya permainan tradisional juga dibahas dalam penelitian berjudul “Permainan Tradisional Sebagai Nilai-Nilai Kearifan Lokal” oleh Diky Hadyansyah, Rama Adha Septiana, dan Ali Budiman.

Mereka memaparkan hasil kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan di Desa Cipageran, Kecamatan Saguling, Kabupaten Bandung Barat.

Permainan tradisional mereka temukan sebagai kegiatan yang sudah jarang dilakukan oleh anak-anak di Desa Cipageran dalam kesehariannya. Globalisasi dan kemajuan teknologi disebut menjadi faktor yang memengaruhi berkurangnya praktik permainan tradisional. Kini permainan itu sudah tergantikan dengan berbagai game digital yang dianggap lebih praktis.

Dalam penelitian disebutkan, bahwa permainan tradisional merupakan warisan turun temurun dari generasi ke generasi. Permainan tradisional juga merupakan budaya yang mengandung nilai kearifan lokal, salah satunya seperti nilai pendidikan karakter yang dapat diturunkan kepada generasi muda.

Mereka menyebutkan, karakteristik yang dimiliki permainan tradisional sangat berpotensi untuk menjaga nilai-nilai kearifan lokal. Menjaga permainan tradisional juga perlu dilakukan agar mampu bertahan dari adanya pencampuran dengan budaya lain.

Para peneliti merupakan mahasiswa di STKIP Pasundan. Mereka menggunakan observasi lapangan dan pemberian kuesioner untuk memberikan edukasi dan kesadaran bagi warga Desa Cipageran mengenai permainan tradisional sebagai nilai-nilai kearifan lokal.

Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 86 persen dari 47 orang memahami materi edukasi yang diberikan dan diharapkan dapat menjadi penggerak budaya permainan tradisional di desa tersebut.

Tapi untuk menggerakan kembali permainan tradisional memerlukan kolaborasi antara aparat desa, warga, dan karang taruna sebagai pelaksana program serta warga sebagai partisipan. Dengan begitu, nilai-nilai kearifan lokal akan terjaga hingga generasi selanjutnya.

Langkah kecil untuk kembali ke permainan tradisional sudah dilakukan oleh Komunitas Bermain Bandung di Taman Monju. Di tengah hujan atau panas, suara tawa mereka tetap terdengar, seakan membuktikan bahwa permainan tradisional masih ada dan menunggu untuk dimainkan kembali.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//