• Berita
  • Membaca Semangat Baru Mikihiro Moriyama untuk Eksistensi Bahasa Sunda di Era Digital

Membaca Semangat Baru Mikihiro Moriyama untuk Eksistensi Bahasa Sunda di Era Digital

Buku Semangat Baru karya Mikihiro Moriyama menyelami hubungan saling mempengaruhi antara kolonialisme, budaya cetak, dan sastra Sunda Abad ke-19.

Foto bersama diskusi Dongeng Aki-Aki Dalam Semangat Baru, Kedai Jante, Jalan Garut, Kota Bandung, Minggu, 22 Februari 2026. (Foto: Muhammad Akmal/BandungBergerak)

Penulis Muhammad Akmal Firmansyah24 Februari 2026


BandungBergerak - Hampir setiap kajian mengenai bahasa dan sastra Sunda, nama Mikihiro Moriyama sering menjadi rujukan. Guru besar Nanzan University dikenal sebagai pengulas industri cetak dan perkembangan sastra Sunda di era kolonialisme Hindia Belanda pada abad ke-19.

Sejak awal mengenyam pendidikan sarjana pria asal negeri Sakura itu telah tertarik pada kajian keindonesiaan. Pertemuan dengan sastrawan Ajip Rosidi dan dorongan beberapa guru membuat dia semakin yakin dengan jalan akademiknya, hingga dia berhasil mempertahankan disertasi berjudul A New Spirit Sundanese Publishing and The Changing Configuration of Writing in Nineteenth Century West Java di Fakultas Sastra Universitas Leiden pada 2003.

Dua tahun kemudian, disertasi tersebut diterjemahkan dan diterbitkan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) diterjemahkan Suryadi MA dengan judul Semangat Baru, Kolonialisme, Budaya Cetak, dan Kesastraan Sunda Abad Ke-19. Kemudian hari, buku ini diterbitkan edisi revisi dengan judul serupa oleh Penerbit Komunitas Bambu.

Kajian Mikihiro Moriyama menggambarkan bagaimana pergeseran besar dari tradisi lisan dan manuskrip menuju budaya cetak di masyarakat Sunda. Kehadiran percetakan, buku sekolah, surat kabar, dan karya terjemahan dari Eropa mengubah cara urang Sunda memahami bahasa, sastra, dan pengetahuan.

Dalam kajiannya juga menjelaskan, membaca yang awalnya bersifat sosial yakni dangding (didendangkan) membacakan wawacan (puisi panjang) berubah menjadi membaca diam (silent reading), ikut membentuk kesadaran baru.

Dalam sastra, genre tradisional seperti wawacan mulai tergeser. Wawacan sempat dianggap bentuk tulis Sunda yang otentik, tetapi kemudian dipandang kurang memadai untuk “semangat baru” modernitas. Dari sinilah muncul bentuk tulisan baru: omongan (prosa), yang banyak berkembang melalui terjemahan dan saduran cerita Eropa, dan kelak menjadi cikal bakal novel Sunda modern.

Moriyama di dalam buku tersebut menjelaskan, kebijakan kolonial Hindia Belanda berperan penting pada proses ini. Melalui pendidikan formal, standarisasi bahasa, serta penerbitan buku, bahasa Sunda diposisikan sebagai entitas tersendiri.

Akan tetapi, kebijakan kolonial juga bersifat kontradiktif. Di satu sisi ia mendorong modernisasi, di sisi lain mengarahkan perkembangan budaya sesuai kepentingan administrasi dan ideologi kolonial.

Hasil riset Moriyama menguraikan tokoh seperti K F Holle, Raden Moehammad Moesa, dan Kartawinata yang menjadi figur penting yang menata ulang tradisi tulis Sunda. Raden Moehammad Moesa disebut memadukan unsur lokal dengan pengaruh barat. Secara keseluruhan, teks ini menegaskan bahwa modernitas tulis Sunda lahir dari pertemuan kompleks antara tradisi lokal, teknologi cetak, dan kekuasaan kolonial.

Relevansi Semangat Baru sebagai Cara Mempertahankan Jati Diri

Dalam konteks hari ini, Moriyama melihat Semangat Baru bukan sebagai jawaban instan, melainkan ajakan membaca perubahan dengan sikap kritis. Moriyama mengatakan, kondisi hari ini dibutuhkan posisi yang objektif dan kritis agar tidak terbawa arus zaman dan terseret oleh narasi dominan. Ia mengatakan, saat wacana publik sering kali dibentuk oleh pihak yang punya kuasa, individu mudah terseret arus opini tanpa membangun perspektif sendiri. Buku Semangat Baru menekankan bahwa sikap kritis merupakan cara mempertahankan jati diri, bukan semata-mata pilihan intelektual.

“Kalau kita mempertahankan sikap kritis. kita punya jati diri. Kita melihat sesuatu bukan sekadar mengikuti wacana yang dibuat oleh yang berkuasa, tetapi dari pemahaman kita sendiri dari wawasan, pandangan, dan perspektif kita. Dengan begitu, kita tidak akan mudah tersesat,” kata Moriyama kepada BandungBergerak, Minggu, 22 Februari 2026.

Ia juga mengatakan agar cara pandang buku hasil kajian tersebut diterapkan untuk melihat situasi sekarang.

Bahasa Sunda, kata Moriyama, dalam relevansi zaman ini tidak akan kehilangan jika penuturnya bangga menggunakannya. Menurutnya, krisis bahasa sering kali disebabkan krisis rasa percaya diri. Ia membandingkan bahasa Jepang dan Prancis yang hidup karena kebanggan kolektif, tak sekadar karena kebijakan formal.

“Seolah-olah orang Sunda elehan atau belum sepenuhnya memperlihatkan kebanggaan terhadap bahasa Sunda. Kalau kita bangga pada bahasa sendiri, bahasa itu tidak akan hilang,” ujarnya.

Ia menuturkan, bahasa Sunda kerap dianggap sulit karena undak-usuknya. Menurunya, bahasa pada dasarnya alat komunikasi. Terlalu membebani bahasa dengan kecemasan normatif justru bisa menjauhkan orang dari praktik berbahasa itu sendiri.

“Karena bahasa Sunda sering dianggap sulit undak-usuknya, pemakaiannya dan dianggap kurang sesuai dengan zaman sekarang. Sebenarnya tidak perlu terlalu dipikirkan. Yang penting dipakai saja sebagai alat komunikasi,” ungkapnya.

Moriyama menegaskan, faktor yang menentukan masa depan bahasa Sunda berada di dunia pendidikan. Pendidikan terpenting yakni lingkungan rumah, bukan hanya sekolah.

Ia juga mengatakan, bahasa bertahan bukan karena kurikulum semata, tetapi diwariskan dalam keseharian. Ketika orang tua merasa malu menggunakan bahasa sendiri, persoalan bukan pada linguistik, namun kultural.

Gagasan ini menunjukkan bahwa bahasa, dalam perspektif Moriyama, tidak semata sistem kata, tetapi bagian dari kesadaran sosial.

“Di rumah dan di sekolah menanamkan kebanggaan terhadap bahasa. Jangan sampai orang tua merasa malu memakai bahasa Sunda. Itu kurang baik untuk pendidikan,” jelasnya.

Moriyama menjelaskan, internet memberi tempat bagi bahasa Sunda. Ia menemukan niche-nya. Digitalisasi bahasa juga tidak hanya berlaku untuk Sunda. Internet memberi ruang bagi banyak bahasa yang sebelumnya tidak punya ruang.

Buku ini mengajak juga memahami perubahan teknologi secara adaptif dan menumbuhkan kebanggan kultural. Moriyama berpesan pada generasi muda agar belajar ketekunan dan keuletan.

“Ilmu itu butuh waktu, terutama dalam mencari bahan,” singkatnya.

Baca Juga: Renaisans Sastra Sunda dan Ajip Rosidi
Mengenal Kesusastraan Sunda dalam Sudut Kontemporer

Memaknai Perubahan Laku Orang Sunda Membaca “Semangat Baru”

Sementara itu, budayawan Hawe Setiawan menuturkan membaca hasil riset Mikihiro Moriyama melihat pergeseran besar dalam cara berpikir, membaca, dan memahami diri sejarah masyarakat Sunda. Menurutnya, gagasan “semangat baru” yang dibahas tak hanya perubahan teknis dalam tradisi tulis-menulis, melainkan transformasi kesadaran budaya. 

“Yang dibicarakan bukan cuma soal aksara atau buku. Tetapi bagaimana orang Sunda mulai mengalami perubahan cara membaca dunia,” kata Hawe dalam diskusi Dongeng Aki-Aki Dalam Semangat Baru, Kedai Jante, Jalan Garut, Kota Bandung, Minggu, 22 Februari 2026.

Hawe mengatakan, Moriyama melihat abad ke-19 sebagai periode krusial.  Masyarakat Sunda terutama pelajar dan kaum menak mulai berhadapan dengan tradisi keberaksaraan modern. Pergeseran dari aksara Pegon menuju aksara Latin, dari dangding menuju prosa, sampai perubahan dari tradisi membaca yang dilantunkan menuju silent reading, menjadi tanda-tanda perubahan tersebut.

Menurunya, membaca dalam hati bukan perubahan kecil. Dalam tradisi lisan, membaca adalah peristiwa sosial: wawacan dibacakan, didengar bersama, dialami secara komunal. Ketika membaca menjadi aktivitas individual, pengalaman itu berpindah ke ruang batin masing-masing.

“Di situ lahir kesadaran baru tentang individu. Membaca tidak lagi selalu menjadi pengalaman kolektif, tetapi personal,” ungkapnya.

Kajian Moriyama, kata Hawe, menempatkan industri cetak sebagai faktor penting dalam perubahan. Kehadiran percetakan memungkinkan teks diproduksi secara massal. Pikiran yang sebelumnya terbatas pada lingkaran kecil mulai melalui buku, majalah, dan pamflet.

Hawe mengatakan, industri cetak membuka kemungkinan baru bagi penyebaran pengetahuan. Ia juga menyebut, kajian Moriyama tidak melihat perubahan secara hitam putih. Pergeseran dari kelisanan menuju keberaksaraan bukan berarti tradisi lama lenyap. Sebaliknya, ia menjadi arena negosiasi antara praktik lama dan kebiasaan baru.

“Banyak hal yang tetap bertahan. Tradisi lisan tidak serta-merta hilang hanya karena hadirnya buku.”

Moriyama juga memberi cara pandang baru dalam membaca sejarah Sunda. Hawe menuturkan, kebudayaan tidak dipahami sebagai sesuatu yang statis tetapi sebagai proses yang terus bergerak, dipengaruhi teknologi, politik, serta perubahan sosial.

Semangat Baru di abad ke-21, kata Hawe, menghadirkan tantangan berbeda. Jika abad ke-19 ditandai keberaksaraan dan industri cetak, saat ini zaman digital.

“Apakah makna membaca juga berubah?” tanya Hawe. “Sekarang kita membaca atau sekadar scrolling?”

Hawe menegaskan, pertanyaan ini menunjukkan gagasan “semangat baru” bukan milik masa lalu. Semangat baru merupakan pintu untuk memahami bagaimana masyarakat Sunda, dan masyarakat modern secara umum, terus berhadapan dengan perubahan cara berkomunikasi serta memaknai pengetahuan.

“Pada akhirnya, kajian Moriyama membantu kita membaca perubahan dalam diri kita sendiri,” jelasnya.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//