PROFIL KOMUNITAS LAYARKITA: Konsisten Menyalakan Ruang Diskusi Film di Bandung
Di tengah arus hiburan instan, komunitas LayarKita memilih film-film lama yang sarat makna dan menjadikannya bahan percakapan mendalam lintas generasi.
Penulis Riani Alya24 Februari 2026
BandungBergerak - “Jadi kita memutar film berbagai jenis dan berbagai genre. Kita tidak pernah memutar film baru. Kalau pengin menonton film baru ya ke bioskop. Kalau pengin memutar film hiburan ya ke bioskop,” ucap Tobing JR, menjelaskan kegiatan komunitas LayarKita, di Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung 10 Februari 2026.
LayarKita punya kegiatan rutin menonton film dan diskusi setiap Selasa sore di Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung. Kursi-kursi yang disediakan tidak selalu terisi penuh, kadang hanya terisi belasan bahkan hanya satu orang. Bagi komunitas LayarKita, konsistensi adalah sikap, bukan sekadar jadwal.
Berdiri pada tahun 2003 dengan nama awal My Cinema, LayarKita merupakan sebuah komunitas dengan misi ‘merayakan kemanusiaan’ melalui film, buku, dan musik. Komunitas ini digagas oleh Tobing JR bersama kedua rekannya.
Awalnya kegiatan dilaksanakan di gereja, namun untuk menghindari stigma dan membuka diri lebih luas ke publik, My Cinema berganti tempat dan mengubah namanya menjadi LayarKita pada 2011. Hingga saat ini Layar Kita menjadi ruang alternatif bagi siapa saja yang ingin menonton dan berdiskusi secara mendalam di Museum Konferensi Asia Afrika.
Tobing merasa saat itu banyak komunitas pembuat film, namun tidak ada komunitas yang secara rutin mewadahi penikmat dan pengamat film. Maka dari itu Tobing membuat komunitas Layar Kita untuk memberi ruang agar orang-orang dapat berdiskusi dan membahas secara dalam film yang mereka tonton.
Hanya Tersisa Satu Bidang
Sejak awal, tim LayarKita rutin menggelar diskusi di Universitas Padjadjaran (Unpad) Jatinangor, lalu rutin setiap dua kali dalam satu minggu mengisi siaran radio, mendiskusikan buku dan film.
Namun saat pandemi Covid-19 menyerang, banyak perubahan yang diambil. Keterbatasan ruang, waktu, dan sumber daya membuat tim Layar Kita menutup diskusi buku, siaran radio, dan beberapa diskusi film yang rutin mereka lakukan.
Saat ini LayarKita hanya rutin menggelar nobar setiap hari Selasa pukul empat sore di Museum Konferensi Asia Afrika, Bandung. Film yang ditayangkan merupakan film-film lama yang berbobot dan memberi ruang bagi siapa pun untuk berdiskusi.
Tidak ada genre tertentu yang mereka sering putar. Salah satu pertimbangan adalah bobot film. Film berbobot menurut LayarKita berdasar pada konteks saat itu, contohnya saat ulang tahun Asia Afrika, mereka akan menayangkan film yang berhubungan dengan Asia dan Afrika. Tanggal 30 Maret merupakan hari film nasional, maka sepanjang bulan Maret mereka akan menayangkan film-film Indonesia.
Kurasi film dilakukan atas dasar pengalaman para anggota itu sendiri, jika para anggota merasa film yang mereka tonton bagus, maka akan mereka putar, atau film-film yang sedang hangat diperbincangkan oleh para sineas dunia. Film-film karya sutradara besar seperti Zhang Yimou dan Akira Kurosawa kerap masuk dalam daftar putar.
“Kiblatnya perfilman dunia, Hollywood terutama, sangat banyak film-film Asia yang bagus, diadopsi oleh Hollywood,” jelas Tobing.
Tidak jarang juga LayarKita mengundang sutradara dari film yang akan mereka putar. Salah satunya film yang menjadi pemenang Citra Best Picture tahun 2016. Film dengan judul Atambua 39,8 derajat mereka putar langsung bersama dengan sutradaranya Riri Riza. Mereka juga kerap mengundang narasumber dari lingkungan kampus, seperti Bambang Sugiharto, Guru Besar Filsafat Unpar.
Tidak Hanya Nonton Bersama
Setelah film selesai diputar, selalu ada diskusi mengenai film tersebut, setiap anggota dapat berpendapat mengenai semua yang ada dalam film. Sesi diskusi ini menjadi waktu untuk para penonton bertukar pikiran mengenai semua yang ada dalam film, mulai dari alur cerita, tokoh, hingga pemilihan sudut pandang kamera.
Sejak awal, LayarKita memutar film secara gratis. Film yang mereka tayangkan diperoleh melalui akses yang tersedia dengan syarat tidak ada penarikan tiket.
Penonton yang hadir juga beragam dan dari berbagai kalangan, jumlah perminggunya rata rata 10 hingga 20 orang, pernah mencapai 30 hingga 70 orang saat berkolaborasi dengan komunitas Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) yang menayangkan 5 film karya mereka. Namun tidak jarang jumlah penonton sangat sepi, pernah suatu ketika hanya Tobing yang menonton seorang diri.
Tobing mengatakan film yang justru kerap ramai penonton adalah film-film yang tidak lazim, seperti karya-karya Tarkovsky. Menurutnya, film dengan alur tidak linier, ritme lambat, dan sarat pesan visual yang tersirat justru memantik rasa ingin tahu penonton, terlebih jika memiliki latar sejarah produksi yang kuat.
Ia menilai penonton yang datang umumnya terbagi dua: penikmat film yang memang mencari pengalaman sinematik berbeda, serta mereka yang sekadar penasaran. Tidak jarang ada penonton yang memilih pulang saat jeda dan tidak kembali ke ruang pemutaran. Namun bagi Tobing, hal itu bukan persoalan.
“Apresiasi kan tergantung orang-orang,” ujarnya.
Bagi Tobing, masalah utama saat ini banyak sineas muda yang miskin referensi. Ia sering menemukan orang yang ingin membuat film namun tidak mempunyai film kesukaan, tidak mengenal sutradara, bahkan tidak menonton film.
Dengan beranggotakan tiga orang pengurus aktif, LayarKita hadir sebagai komunitas alternatif untuk menonton dan selalu berdiskusi mengenai film. Di tengah budaya menonton yang serba cepat, LayarKita memilih menjadi ruang yang lambat, mereka duduk, menonton, berpikir, lalu bertukar pikiran.
Selama layar masih bisa menyala, setiap Selasa sore akan selalu ada film yang terputar untuk menjadi media pembelajaran bagi siapa saja yang ingin masuk ke dalamnya.
Baca Juga: PROFIL KOMUNITAS OUR HOME: Sekolah Tanpa Seragam untuk Anak Jalanan
PROFIL KOMUNITAS MAGGOT BANDUNG BERSATU: Kerja Sunyi Mengurai Sampah Organik
Raise the Red Lantern
Peserta diskusi film bebas menyampaikan pendapat tentang berbagai aspek film, mulai dari alur cerita, karakter, hingga pemilihan sudut dan komposisi kamera. Diskusi ini menjadi ruang bertukar pikiran dan memperdalam pemahaman bersama.
Salah satu film yang baru diputar adalah Raise the Red Lantern karya Zhang Yimou. Film klasik Tiongkok ini mengangkat tema tradisi dan kuasa patriarki, serta dipilih dalam rangka memperingati Tahun Baru Imlek. Selain dikenal sebagai salah satu karya terbaik Zhang Yimou, film ini juga menawarkan banyak refleksi tentang budaya dan tradisi.
Pemutaran film tersebut dihadiri enam penonton. Yogi, salah satu penonton sekaligus pengurus LayarKita, mengaku terkesan dengan komposisi visual film ini. Menurutnya, penggunaan sudut kamera dan gambar yang cenderung statis selaras dengan tema patriarki yang diangkat.
“Film ini menggambarkan Songlian (pemeran utama) seperti berada dalam penjara, seperti burung dalam sangkar emas, dan menurut saya itu sangat tepat,” ujar Yogi.
Tia, penonton lainnya, menilai komposisi dan framing film ini sangat indah. “Secara visual film ini sangat cantik, tetapi kecantikan yang terasa menyakitkan,” katanya.
Sejak awal, Tia sudah menduga akhir cerita film tersebut. Ia menilai isu poligami dalam film merupakan siklus yang terus berulang dari masa ke masa. Tia juga melihat lentera merah yang menjadi elemen penting film bukan sekadar simbol, melainkan memiliki “karakter” tersendiri.
“Menjelang akhir film, saya sadar lentera itu seperti punya karakter. Bagi saya, lentera menjadi representasi harga diri perempuan. Di awal, ia digunakan sebagai alat untuk mengendalikan perempuan yang diatur sesuka hati oleh tuannya,” ujarnya.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

