• Komunitas
  • PROFIL KOMUNITAS MAGGOT BANDUNG BERSATU: Kerja Sunyi Mengurai Sampah Organik

PROFIL KOMUNITAS MAGGOT BANDUNG BERSATU: Kerja Sunyi Mengurai Sampah Organik

Komunitas Maggot Bandung Bersatu bertahan dengan swadaya, mengolah limbah organik dari hulu hingga produk bernilai ekonomi, namun masih terhambat minimnya dukungan.

Para Anggota Pegiat Maggot Bandung Raya, Kelurahan Tamansari dan Sekdis DLH Kota Bandung. (Sumber Foto: MBB)

Penulis Malika Shafa Nur Fadiya2 Februari 2026


BandungBergerak – Di bawah jalan layang Jembatan Pasupati, tepatnya di Taman Caskade, ember-ember berisi limbah organik datang silih berganti. Sampah dipilah, difermentasi, lalu diserahkan kepada larva lalat maggot yang rakus namun berjasa. Di sinilah Komunitas Maggot Bandung Bersatu (MBB) bekerja mengurangi ampah yang masih menjadi momok bagi kota berjuluk Paris van Java.

Komunitas MBB lahir dari keisengan para pegiat lingkungan. Salah satunya Eko, warga Kelurahan Tamansari. Berawal dari pertemuan sederhana para pegiat maggotisasi dari Bandung Timur hingga Bandung Barat, mereka sepakat membentuk sebuah wadah bersama. Komunitas ini menaungi pengalaman, pengetahuan, dan praktik maggotisasi, sekaligus tumbuh sebagai upaya kolektif menghadirkan solusi alternatif pengelolaan sampah di wilayah masing-masing.

“Awalnya hanya kumpul-kumpul pegiat maggot, tidak direncanakan, tapi yang datang banyak dan di luar ekspektasi,” ujar Eko, 13 Januari 2026.

Bekerja dari hulu terdekat, komunitas MBB di Tamansari mengelola sampah organik dari RW 1 hingga RW 20. Warga yang telah teredukasi mengantarkan sampah organik secara terpisah, mulai dari sisa buah, sayur, hingga nasi, ke titik pengolahan. Sampah tersebut kemudian dipilah ulang, difermentasi, dan diberikan kepada maggot.

Proses pengolahan ini tidak selalu ramah bagi semua orang. Bau menyengat, tekstur sampah yang basah, serta kerja manual yang berulang menjadi tantangan harian para pegiat maggot. Pekerjaan ini berlangsung tanpa jeda, bahkan ketika sebagian orang memilih beristirahat.

“Sampah tidak pernah berhenti. Walaupun kita tidur, sampah tetap ada,” katanya.

Saat sebagian orang menikmati akhir pekan, volume sampah justru terus berdatangan. Jumlahnya bisa mencapai ratusan ton per hari. Libur dua hari berarti beban kerja berlipat di hari berikutnya. Setiap pagi bukan menjadi awal yang ringan, melainkan waktu untuk mengejar tumpukan sampah yang belum sempat terurai.

Ironisnya, kerja berat ini hanya ditopang bantuan yang belum memadai. Dana maggotisasi di tingkat kelurahan berkisar 4–5 juta rupiah dan harus dibagi untuk sekitar 30 orang anggota komunitas MBB Tamansari. Kekurangan tersebut kerap ditambal dari penjualan sampah anorganik bernilai ekonomi, sekadar menutup sebagian kebutuhan operasional.

Produk Maggot Kering  dalam Kemasan Hasil dari Olahan Larva Black Soldier Fly (BSF), Kelurahan Tamansari, Bandung 13 Januari 2026. (Foto: Andika Putra Nugraha)
Produk Maggot Kering dalam Kemasan Hasil dari Olahan Larva Black Soldier Fly (BSF), Kelurahan Tamansari, Bandung 13 Januari 2026. (Foto: Andika Putra Nugraha)

Inovasi Tak Pernah Habis

Bagi Komunitas MBB, maggot bukan sekadar alat reduksi sampah, melainkan sebuah sistem sirkular tanpa sisa. Dari telur lalat, larva, pupa, hingga bangkai lalat, seluruhnya memiliki nilai guna. Maggot segar dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Maggot kering diolah menjadi tepung dan minyak dengan kandungan protein hingga 30 persen, bahkan dimanfaatkan untuk produk kecantikan.

Sisa pakan maggot yang telah terurai pun berubah menjadi kompos berkualitas tinggi untuk pertanian. Maggotisasi bukan proses linear yang berhenti di tengah jalan, melainkan lingkaran yang terus berputar dan menemukan fungsi barunya.

“Dari awal sampai akhir semuanya berputar dan kembali lagi ke awal. Tidak ada yang terbuang,” pungkasnya.

Namun persoalan muncul setelah produk tercipta. Jalur distribusi nyaris tidak ada. Pasar lokal belum terbentuk, sehingga penjualan masih mengandalkan pameran, relasi personal, atau jaringan sesama pegiat. Padahal peluang pasar global terbuka lebar. Salah satunya datang dari Jepang yang membutuhkan hingga 10 ton maggot per minggu, sementara kapasitas MBB baru mampu memenuhi sekitar 8 ton.

Di dalam negeri, ekosistem pendukung pun belum menunjukkan kehadiran. Tidak ada bank maggot, tidak ada skema penyerapan hasil produk, serta belum terbangun kesinambungan antara program pengolahan sampah dan hilirisasi produk.

Komunitas MBB menyadari maggotisasi kerap disebut sebagai bagian dari program pemerintah. Namun di lapangan, upaya ini berjalan sendiri. Pemerintah dinilai berhenti pada laporan administratif dan angka statistik, tanpa kehadiran nyata dalam pembangunan jaringan pemasaran, standardisasi produk, maupun pengembangan turunan industri.

Padahal, maggot tidak hanya berhenti sebagai pakan ternak, melainkan dapat masuk ke rantai industri yang lebih luas. Peluang kerja sama dengan industri besar terbuka lebar, bukan semata soal keuntungan, tetapi demi keberlanjutan pengelolaan sampah.

Selama ini, produk maggot yang dihasilkan komunitas kerap berakhir di ruang-ruang terbatas, seolah menjadi pengingat atas program setengah jalan: giat di hulu, buntu di hilir. Uluran tangan yang tak kunjung datang membuat kerja ini berjalan tanpa arah yang jelas.

“Kita juga mengharapkan, semoga mungkin rumah kita sendiri lebih sejahterakan dan merangkul, dan hasil produk kita bisa dieksplorasi,” harapnya.

Krisis Sampah Berkepanjangan

Kota Bandung berada dalam pusaran krisis sampah yang berkepanjangan. Sejak 12 Januari 2026 pembuangan sampah dari kota ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti dikurangi. Ini menyebabkan penumpukan berton-ton sampah setiap harinya di pembuangan sementara.

Krisis berkepanjangan ini menjunjukkan masih rapuhnya sistem pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Pemilahan sampah melalui metode maggotisasi kemudian muncul sebagai metode yang relatif cepat dan efisien. Bagi para pegiat lingkungan, maggot bukan hanya sekadar inovasi teknik, ia hadir sebagai respons atas sistem kota yang belum sepenuhnya mengelola sampah organik secara optimal.

Komunitas Maggot Bandung Bersatu (MBB)  hadir di tengah krisis itu. Gerakan kolektif ini terbentuk pada Desember 2024, berawal dari program rumah maggot yang digulirkan oleh Pemerintah Kota Bandung melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di 151 kelurahan.

Nur Hilawaty, Sekretaris MBB, menjelaskan komunitas ini tumbuh dari praktik sehari-hari di lapangan hingga menjadi wadah untuk membantu sesama anggota dalam pengolaan maggotisasi untuk sampah.

“Kami berkumpul karena kerja maggot itu tidak bisa jalan sendiri-sendiri. Ada kalanya satu tumah maggot kekurangan telur, baby, atau pupa, sementara yang lain punya. Di sinilah komunitas berfungsi, bukan hanya sebagai wadah, tapi sebagai sistem saling menopang,” ujar Nur, ketika ditemui di Taman Wira Angun Angun, Jumat, 23 Januari 2026.

Di balik itu, para pegiat juga menyadari satu hal penting sampah organik adalah kunci persoalan sampah di Bandung. Dari gunungan sampah yang dihasilkan setiap harinya, lebih dari 50 persen sampah organik yang bisa diolah dengan maggotisasi. Metode pengolahan konvensional membutuhkan waktu dan lahan luas, sementara maggot mampu mereduksi sampah dalam hitungan hari.

Baca Juga: Sampah Bandung, Cermin Krisis dan Harapan Kota Kreatif
Krisis Sampah di Bandung Raya, Pemerintah tidak Belajar dari Tragedi TPA Leuwigajah dan Kebakran TPA Sarimukti

Rumah Budidaya Pembesaran Maggot/ Black Soldier Fly (BSF), Kelurahan Tamansari, Bandung 13 Januari 2026. (Foto: Andika Putra Nugraha)
Rumah Budidaya Pembesaran Maggot/ Black Soldier Fly (BSF), Kelurahan Tamansari, Bandung 13 Januari 2026. (Foto: Andika Putra Nugraha)

Sebaran dan Pola Kerja di Tingkat Lingkungan

Saat ini, MBB menaungi pegiat maggot yang tersebar hampir di seluruh Kota Bandung. Setiap kelurahan rata-rata memiliki empat pegiat yang bertugas mengelola sampah organik di wilayahnya masing-masing. Skala pengolahan maggotisasi menyebar pada RT dan RW, namun dampaknya langsung terasa karena mengurangi beban TPS.

Selain bekerja di wilayah masing-masing MBB mengembangkan pola kerja kolektif yang disebut “MBB Jalan-Jalan” program ini bukan hanya sebagai kegiatan rekreasi, namun dibarengi dengan praktik saling mengunjungi rumah-rumah maggot antarwilayah untuk melihat langsung kondisi lapangan, berbagi pengalaman, serta saling membantu mengatasi kendala.

Program MBB Jalan-Jalan tidak memiliki jadwal tetap, ia berjalan mengikuti ritme pertemuan dan kebutuhan lapangan.

“Biasanya kalau ada yang singgah ke salah satu rumah maggot, lalu ngobrol dan punya rencana untuk adain MBB Jalan-Jalan, ya bisa dua minggu sekali,” ujar Nur.

Selain kerja-kerja rutin di tingkat kelurahan, MBB juga aktif membangun jejaring lintas wilayah. Salah satu upaya yang dilakukan adalah menggelar silaturahmi bersama komunitas maggot se-Bandung Raya. Pertemuan ini menjadi ruang temu antarpegiat untuk saling bertukar pengalaman, memperkuat solidaritas, sekaligus menyamakan visi pengelolaan sampah organik berbasis warga di tengah krisis sampah perkotaan.

MBB juga terlibat dalam kolaborasi pameran dan pembukaan ruang edukasi bagi masyarakat. Melalui pameran, produk turunan maggot seperti maggot kering, kompos diperkenalkan kepada publik sebagai bukti bahwa sampah organik memiliki nilai guna. Sementara ruang edukasi dimanfaatkan untuk membongkar stigma seputar maggot, menjelaskan proses pengolahan yang aman, serta mengajak warga melihat sampah dari sudut pandang berbeda.

Di wilayah seperti Tamansari, sampah organik dikumpulkan secara terjadwal, dipilah, difermentasi, lalu diberikan ke maggot. Dalam waktu satu hingga dua hari, sisa dapur rumah tangga dapat direduksi tanpa meninggalkan residu yang harus dibuang. Pola kerja ini diperkuat melalui berbagai kegiatan yang komunitas MBB lakukan, karena pengetahuan dan praktik baik dari satu wilayah dapat ditiru dan disesuaikan di wilayah lain.

Nur menegaskan bahwa kerja ini bukan soal besar-kecilnya skala, melainkan konsistensi di hulu.

“Walaupun cakupannya masih lingkungan kelurahan, kami bangga karena sampah organik di wilayah kami tidak dibuang ke TPS, artinya masalah diselesaikan dari sumbernya,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, MBB tidak berhenti pada fungsi reduksi sampah. Di berbagai wilayah, para pegiat mulai mengembangkan inovasi turunan maggot yang membuka potensi ekonomi sekaligus ekologis.

Maggot segar dimanfaatkan sebagai pakan ternak dan ikan. Sebagian diolah menjadi maggot kering dan tepung maggot yang memiliki kandungan protein tinggi. Di tingkat lanjut, beberapa pegiat mulai mengembangkan minyak maggot dengan kandungan protein 30 persen, yang berpotensi digunakan sebagai bahan pakan, pertanian, hingga kosmetik.

Sisa pengolahan maggot pun tidak terbuang. Residu organik berubah menjadi kompos dan media tanam, yang kemudian dimanfaatkan untuk buruan SAE atau Integrated Urban Farming Program. Melalui praktiknya, maggotisasi membentuk siklus tertutup artinya sampah organik diolah, hasilnya kembali ke tanah, dan tanah kembali memberi pangan.

Lahan dan Stigma

Di balik inovasi dan potensi tersebut, MBB menghadapi tantangan yang terus mengiringi. Persoalan lahan menjadi hambatan utama. Rumah maggot kerap berdiri di kawasan padat penduduk dan menghadapi penolakan warga akibat stigma bau.

Padahal, bau yang dihasilkan umumnya berasal dari proses fermentasi, bukan pembusukan sampah. Bau tersebut berbeda dengan bau dari proses pembakaran sampah plastik dengan insinerator yang memang beracun. Namun stigma yang terlanjur melekat membuat edukasi menjadi proses yang panjang.

Selain itu, dukungan struktural dinilai belum maksimal. Program maggotisasi berjalan, tetapi belum sepenuhnya diiringi skema lanjutan baik dalam penyediaan lahan, maupun penyerapan hasil inovasi.

Jika berhadapan dengan masa depan, MBB membayangkan pengelolaan sampah berbasis maggot yang lebih terintegrasi. Mereka berharap adanya lahan terpadu yang berfungsi sebagai pusat pengolahan, pelatihan, dan pengembangan produk inovasi maggot ruang temu antara warga, pegiat, akademisi, dan pemerintah.

Maggot tentu tak hanya berhenti sebagai pakan ternak melainkan masuk pada rantai industri yang lebih luas. Potensi kerja sama dengan industri besar tentu menjadi peluang yang sangat besar, bukan hanya semata soal keuntungan yang diraih, melainkan soal keberlanjutan pengelolaan sampah.

Di tengah krisis sampah Bandung yang kembali mengemuka, Maggot Bandung Bersatu membuktikan bahwa solusi tidak selalu datang dari proyek besar, terkadang ia tumbuh dari kerja sunyi warga dari dapur rumah, dari sisa makanan yang diolah dengan pengetahuan, ketekunan, dan inovasi.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//