Belajar Menghormati Gunung di Jawa dari Pendakian Masa Lalu oleh Orang Belanda Carel Willem Wormser
Carel Willem Wormser mengajarkan kita untuk tidak melihat gunung sebagai objek, tetapi sebagai bagian dari ekosistem sosial dan budaya yang harus dihormati.
Penulis Riani Alya25 Februari 2026
BandungBergerak - Pendakian gunung di Indonesia kini semakin ramai, namun semangat di baliknya sering terlupakan. Bagi banyak pendaki, naik gunung bukan sekadar menaklukkan puncaknya, melainkan juga sebuah perjalanan spiritual dan penghormatan terhadap alam. Jauh sebelum fenomena ini menjadi tren, Carel Willem Wormser, ahli hukum Belanda sekaligus pemimpin redaksi dari surat kabar De Preangerbode, sudah lebih dulu menegaskan pentingnya menghormati gunung dan budaya sekitarnya.
Bagi Wormser, mendaki bukan hanya soal fisik atau pencapaian pribadi. Sebelum menapaki setiap puncak, ia akan lebih dulu memahami masyarakat setempat, budaya, pantangan (pamali), dan aturan-aturan yang berlaku, serta berinteraksi dengan penjaga gunung. Gunung baginya bukan sekadar medan petualangan, melainkan entitas yang layak dihormati.
“Dia menaiki gunung dengan segala resikonya, tapi dengan segala perhitungan sebelumnya,” ucap Gan Gan Jatnika, pegiat Komunitas Pendaki Gunung Bandung (KPGB) yang juga hadir dalam diskusi. Pendekatan ini jauh dari sekadar sensasi, dan lebih kepada pemahaman holistik tentang gunung yang menjadikan pengalaman mendaki lebih bermakna.
Wormser menuliskan pengalamannya selama mendaki gunung-gunung di Jawa dalam buku Pesona Gunung-Gunung Jawa yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh Malik Ar Rahiem. Buku ini dikupas di acara diskusi Ruang Kata #5 di Perpustakaan Bunga, Bandung, 20 Februari 2026, bersama Gan Gan Jatnika sebagai Pegiat KPGB, dengan moderator Nuzulia Purwanto dari KembangKata.
Baca Juga: PROFIL KOMUNITAS PENDAKI GUNUNG BANDUNG (KPGB): Mendaki Gunung, Melestarikan Alam, dan Mencatatnya
Cerita Bupati Bandung Martanagara yang Dikisahkan oleh Dirinya Sendiri
Menghormati Gunung, Bukan Menaklukkan
Dalam konteks pendakian gunung masa kini, pendekatan Wormser sangat relevan. Saat ini gunung-gunung semakin tercemar sampah dan rusak. Gan Gan juga menyoroti pelanggaran terhadap nilai-nilai lokal. Namun, ia juga mencatat bahwa pendakian memiliki potensi untuk menjadi agen perubahan.
“Bisa menjaga, speak up kalau ada kerusakan lingkungan, bisa memberikan timbal balik juga, jajan di warung,” ucap Gan Gan.
Ia mengingatkan salah satu esensi pendakian bukan soal menuju puncak gunung, tetapi juga berperan dalam melestarikan dan memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Gan Gan tidak memungkiri banyak aktivitas di gunung yang tidak beretika, tapi ada juga yang menyadari pentingnya budaya lokal. Misalnya, pendaki yang membeli makanan khas daerah atau berinteraksi dengan masyarakat setempat. Hal ini turut memperkenalkan kekayaan budaya lokal ke khalayak yang lebih luas.
Gan Gan menyambut baik lahirnya buku Pesona Gunung-Gunung Jawa. Buku ini pertama kali terbit pada tahun 1942. Carel Willem Wormser adalah seorang yang mencintai alam. Kecintaannya itu membuatnya berhasil mendaki setidaknya 74 gunung di Jawa, yang ia dokumentasikan dalam 29 sub bab di bukunya.
Jejak Franz Wilhelm Junghuhn
Malik Ar Rahiem, penerjemah buku Wormser, yang juga hadir dalam diskusi, mengungkapkan bahwa buku ini langka dan mahal. Ketika berada di Jerman, Malik menemukan versi PDF buku tersebut dalam bahasa Belanda, namun aksesnya terbatas untuk publik Indonesia. Karena tidak ada yang menerjemahkan, Malik memutuskan untuk mengalihbahasakan buku ini dengan bantuan teknologi, melalui proses penyuntingan dan pemeriksaan yang teliti untuk memastikan keakuratannya.
Malik menjelaskan bahwa buku Pesona Gunung-Gunung Jawa merupakan bagian dari tiga buku yang ditulis Wormser selama 33 tahun tinggal di Jawa. Buku pertama membahas tentang hukum, mengingat Wormser adalah seorang ahli hukum. Volume kedua, yang berfokus pada pendakian gunung, diterbitkan sebagai Pesona Gunung-Gunung Jawa. Sedangkan buku terakhir mengulas tentang jurnalistik dan pers di Jawa, sesuai dengan latar belakang Wormser sebagai seorang jurnalis.
Dalam buku tersebut, Wormser mencatat pendakian di beberapa gunung di sekitar Bandung, seperti Gunung Manglayang, Gunung Tangkuban Parahu, Gunung Palasari, Bukit Tunggul, dan Gunung Burangrang. Wormser berusaha menapaktilasi jejak ilmuwan Franz Wilhelm Junghuhn, yang lebih dari seratus tahun sebelumnya juga mendaki gunung-gunung di Jawa dan menuliskannya dalam bukunya.
Bagi para pendaki, buku Wormser dan karya Junghuhn memberikan gambaran evolusi gunung-gunung di Jawa dari waktu ke waktu. “Jadi bisa keliatan, kita punya gambaran bagaimana gunung ini berevolusi,” ucap Malik.
Namun, membaca buku ini tidak bisa lepas dari konteks kolonial. Malik mengakui adanya bias dalam penulisan, mengingat Wormser adalah seorang kolonialis, dan beberapa infrastruktur aksesibilitas yang ada di Jawa merupakan hasil pemerintahan kolonial.
Diskusi kali ini juga menyentuh tentang mitos-mitos gunung, yang sering dianggap sebagai alat konservasi tradisional. Beberapa mitos, seperti larangan menyebut nama tertentu atau cerita pesugihan, dianggap sebagai cara untuk melindungi alam.
Malik berpendapat bahwa mitos tersebut muncul karena ketakutan manusia terhadap alam yang sangat besar dan dahsyat, yang jauh lebih kuat dibandingkan manusia. Mitos tersebut, menurutnya, adalah cara orang zaman dahulu untuk melindungi gunung dan hukum-hukum yang ada pada waktu itu.
“Menurut saya itu adalah cocokologinya, kondisinya pada waktu itu alam tuh emang sebegitu ekstrimnya, orang itu sebegitu mudahnya mati, sebegitu lemahnya dibandingkan dengan alam,” ucap Malik.
Ia menjelaskan bahwa mitos yang berkembang pada masa itu berfungsi untuk mengingatkan manusia agar lebih berhati-hati dengan alam yang sangat ekstrem. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, terutama alat berat, mitos tersebut mulai terkikis. Manusia kini bisa merusak alam tanpa rasa takut, memotong pohon sepuasnya, dan mitos yang ada pun perlahan hilang.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

