• Berita
  • Melihat Masa Depan Buku Foto di Indonesia, Pelan tapi Tumbuh

Melihat Masa Depan Buku Foto di Indonesia, Pelan tapi Tumbuh

Pentas Buku Foto 2026 di Red Raws Center, Pasar Antik Cikapundung, Bandung. Ruang bagi kreativitas dan potensi buku foto tanah air.

Pesta Buku Foto 2026 diselenggarakan di Red Raws Center, Pasar Antik Cikapundung, Bandung, hingga 28 Februari 2026. (Foto: Fitri Amanda/BandungBergerak)

Penulis Fitri Amanda 26 Februari 2026


BandungBergerak - Sore di Red Raws Center, Pasar Antik Cikapundung, Bandung, meja-meja dipenuhi buku dan zine foto. Ada yang bentuknya seperti buku pada umumnya, ada yang menyerupai koran lipat, ada juga yang dibungkus peti kayu kecil. Beberapa orang duduk diam sambil membalik halaman. Sesekali mereka berhenti lebih lama di satu gambar, sambil menunggu waktu berbuka puasa.

Pentas Buku Foto 2026 singgah di Bandung setelah lebih dulu mampir ke Jakarta dan Yogyakarta. Kali ini, yang dipamerkan bukan hanya buku jadi, tapi juga dummy—versi purwarupa—dari Hong Kong Photozine and Dummy Awards 2025 dan Photobook Dummy Awards 2025. Totalnya puluhan judul dari berbagai negara.

Bagi Wahyu D, 45 tahun, perwakilan Raws Syndicate yang membawa acara ini ke Bandung, pergelaran semacam ini penting karena jarang ada ruang khusus untuk buku foto di Indonesia.

“Acara-acara pentas buku foto itu kan berusaha untuk mendekatkan buku foto pada masyarakatlah. Tidak hanya fotografi sendiri, tapi ya masyarakat yang ingin tahu buku foto itu seperti apa,” ucap Wahyu, Rabu, 25 Februari 2026.

Menurut Wahyu, geliat buku foto di Indonesia memang terasa belakangan dibanding negara lain. Tapi dalam beberapa tahun terakhir, pergerakannya cepat. Produksi makin banyak, diskusi mulai hidup, dan fotografer makin berani menjadikan buku sebagai medium utama, bukan sekadar pelengkap pameran.

Ledakannya mungkin tidak heboh. Tidak tiba-tiba viral. Tapi justru di situ menariknya. Perkembangannya cenderung stabil. Tidak naik drastis, tidak juga hilang. Pelan, tapi konsisten.

Baskara Puraga, 35 tahun, penikmat sekaligus pengamat buku foto, melihat ada kecenderungan menarik tahun ini. Banyak karya yang menggunakan arsip sebagai bahan utama. Narasi personal juga masih kuat.

Namun ia menyoroti materialnya buku fotonya. Kertas, teknik cetak, cara jilid, dinilai ikut menentukan pengalaman membaca.

Ia mengakui, soal material, Indonesia masih tertinggal. Pilihan kertas dan teknik produksi di luar negeri jauh lebih beragam. Namun bukan berarti kualitasnya kalah. Dalam beberapa tahun terakhir, selalu ada karya dari Indonesia yang masuk daftar pendek ajang internasional seperti Photobook Dummy World, bahkan meraih penghargaan.

Masalahnya bukan pada ide atau kualitas, kata Baskara. Hambatan terbesarnya justru ongkos kirim dan biaya produksi. Mengirim dummy ke luar negeri butuh dana besar. Bagi fotografer independen, itu bukan perkara ringan.

Karena itu, ia berharap ada dukungan yang lebih serius—entah dari lembaga, investor, atau pemerintah. Penghargaan khusus buku foto di dalam negeri juga masih minim. Sejauh ini, ruang apresiasi lebih banyak hadir lewat festival tahunan seperti JIP Fest. Padahal, penghargaan tingkat nasional bisa jadi dorongan penting bagi para pembuatnya.

Baca Juga: Pameran Bandung Photography Month 2025
Menyisir Kota Bandung, Menggali Identitas dan Kelas Sosial Lewat Fotografi

Isu Foto

Di tengah obrolan soal produksi dan distribusi, pembicaraan lalu bergeser ke soal isi. Buku foto bukan cuma soal visual yang rapi dan estetik. Konteks isu di dalamnya sama pentingnya.

Cacuy, 22 tahun, salah satu pengunjung, melihat buku foto sebagai medium yang bisa membuka pengetahuan baru. Di dalamnya terdapat lapisan isu yang dapat memperkaya perpektif pembaca.

Ia merasa fotografi seharusnya dekat dengan realitas sehari-hari, dan buku bisa jadi cara untuk mengajak berdialog.

“Jadi si isunya tuh terus dibicarakan gitu,” ungkap Cacuy

Pengunjung lain, Hana, 21 tahun, juga punya pandangan serupa. Baginya, buku foto membantu menyusun kepingan isu yang sebelumnya terasa tercerai-berai. Ia tidak mempermasalahkan jika konteksnya personal. Justru dari pengalaman yang intim itu, sesuatu bisa terasa politis. 

“Ternyata, dari hal yang personal itu bisa jadi sangat politis,” ujarnya.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

//