Sunyi di Garasi Kecil, Menyalakan Literasi Bersama Rin Matcha Library
Di sebuah perpustakaan kafe mungil di Jalan Lobak, Bandung, Naufal Alfauzy merawat kebiasaan membaca di tengah arus digital dan bayang-bayang penyitaan buku.
Penulis Natalia Daniella Carla Sitorus3 Maret 2026
BandungBergerak - Gawai-gawai dimatikan. Gelas-gelas diletakkan pelan di atas meja. Satu per satu pengunjung membuka halaman buku—hanya terdengar desis napas dan seruput matcha. Selama satu hingga satu setengah jam, tak ada notifikasi, tak ada percakapan. Hanya buku dan pembacanya.
Kegiatan Book Club tersebut salah satu acara rutin di Rin Matcha Library setiap Sabtu sore. Perpustkaan sekaligus kafe mungil ini menempati garasi kecil di Jalan Lobak, Kota Bandung. Setelah membaca senyap, Sabtu sore selalu diisi dengan diskusi tentang apa yang didapatkan pengunjung dari halaman-halaman buku.
Di balik berdirinya library cafe berpintu hijau ini, ada peran Naufal Alfauzy yang juga pendiri Rin Matcha Library. Naufal ingin kafe perpusnya turut menyemarakkan iklim literasi di tengah hiruk-pikuk Kota Bandung.
“Saya sulap rumah teman saya ini. Ya, ini garasi sebenarnya, jadi library jadi-jadian,” ucap Naufal, saat ditemui BandungBergerak di, 29 Januari 2026.
Garasi kecil yang dipenuhi rak buku ini memberikan kesan yang dekat di antara para pengunjung. Selain bisa membaca beragam buku sambil menikmati minuman khas kafe ini, iced matcha latte, pengunjung yang suka minuman hangat juga disediakan air panas.
Interaksi pengunjung semakin intim dengan hadirnya acara rutin seperti Book Club. Ada juga board game Dungeons & Dragons (D&D), film club, dan workshop zine making.
Koleksi Buku yang Beragam
Jumlah buku yang kurang dari seribu ini tidak menghambat keberagaman koleksi buku di Rin Matcha Library. Dari buku klasik hingga buku teoritis, tersedia di mini library ini. Sejumlah buku yang membahas teori konspirasi juga menjadi koleksi Rin Matcha Library.
“Koleksi buku di sini sebenarnya buku klasik, tapi kebanyakannya memang berbahasa Inggris. Karena saya lagi kuliah di psikologi, saya ada beberapa buku psikologi,” kata Naufal.
Untuk menambah koleksinya, Naufal biasa memburu buku-buku bekas. Sekitar 75 persen koleksi buku di perpustakaan kafe ini adalah buku-buku bekas.
Baca Juga: Menggabungkan Sastra dan Anime ala Jims, Menintrepetasikan Keresahan dalam Zine
Hadiah Sastra Rancage Mengandung Kritik terhadap Kegagalan Sistem Pendidikan Nasional

Literasi di Tengah Arus Teknologi dan Penyitaan Buku
Di era digital dan tingginya arus perkembangan teknologi ini, kebiasaan orang untuk membaca buku sudah jarang sehingga meninggalkan budaya literasi. Kurangnya literasi ini juga didukung akibat banyaknya media sosial yang menyajikan informasi dalam format singkat, seperti short video.
Padahal, literasi menjadi aspek yang sangat penting di kehidupan sehari-hari. Naufal juga memilih untuk tetap setia di bidang literasi karena baginya, itu mengubah.
“Nggak cuma mengubah saya, tetapi mengubah banyak orang di luar sana. Gara-gara satu buku, mindset saya berubah. Dan gara-gara mindset saya berubah, hidup saya berubah,” ucapnya.
Setelah melihat dan merasakan betapa pentingnya membangun kebiasaan literasi dengan membaca buku, Naufal sangat menyayangkan tindakan penyitaan buku yang terjadi pada tahun terkait demonstrasi Agustus 2025.
“Kita sebagai penggerak literasi di sini ingin mengedepankan perubahan dengan cara membaca. Bagaimana kalau misalnya perubahan dengan cara membaca itu dihilangkan dengan disita gitu, ya,” ungkap Naufal.
Namun, menurutnya penting juga untuk tetap mawas diri sebagai pembaca buku. Ia berpesan bahwa tidak semuanya yang kita lihat, baca, dan konsumsi di media itu benar faktanya.
Ia mengingatkan untuk selalu memverifikasi kebenaran dari informasi yang didapat, bukan mementingkan seberapa banyak informasi yang dapat ditampung.
Dira, salah satu pengunjung Rin Matcha Library membagikan sedikit cerita dari berbagai kegiatan yang diikutinya di Rin Matcha Library.
“Aku ikut komunitas D&D, jadi emang main board game. Setiap Sabtu itu, aku selalu datang buat ikut Unplug Book Club. Aku juga kadang ikut kegiatan lain, kayak zine making,” ucap Dira.
Sebagai pengunjung setia Rin Matcha Library, bagi Dira, literasi sangat penting. Menurutnya, dengan membaca buku kita dapat menambah informasi dan wawasan.
“Kalau zaman sekarang memang banyak yang sudah agak kurang literasinya, ya. Sekarang sudah terlalu sering menggunakan gadget, kita tuh sering lupa untuk membaca buku fisik,” ungkap Dira.
Dira berpendapat bahwa library independen seperti Rin Matcha Library penting didukung. Di perpustakaan kecil ini kebiasaan membaca buku berawal.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

