Replast Lab: Dari Kampus ke Aksi Nyata Mendaur Ulang Sampah Plastik di Bandung
Berawal dari program KKN mahasiswa Institut Teknologi Nasional, Replast Lab tumbuh menjadi inisiatif bisnis daur ulang yang mengolah ratusan kilogram plastik.
Penulis Alysha Ramaniya Wardhana4 Maret 2026
BandungBergerak - Bermula dari kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tentang pengelolaan sampah tahun 2023, Wildan Julian Rafliansyah, Dafa Alif, dan Rizky Ramdhani tidak hanya menyelesaikan program akademik terkait pengelolaan sampah, tetapi melanjutkannya menjadi unit bisnis bernama Replast Lab. Para mahasiswa di Institut Teknologi Nasional (Itenas) Bandung ini mengelola sampah plastik dengan cara daur ulang.
“Mulai dari kelompok KKN yang ditugasin atas masalah sampah. Nah, setelah lulus KKN kita bertransformasi jadi sebuah bisnis recycle plastik,” ungkap Wildan, menceritakan awal mula Replast Lab,10 Februari 2026.
Nama Replast merupakan singkatan dari recycle plastic. Sebelumnya, mereka sempat menggunakan nama “Ngelastik” yang merujuk pada ngelebur plastik, tetapi nama tersebut diganti agar lebih mudah diingat dan bersifat universal.
Diketahui, produksi sampah di Kota Bandung masih menjadi persoalan yang belum selesai. Open Data Kota Bandung mencatat jumlah produksi harian sampah di tahun 2024 mencapai 1.491,22 ton. Dari jumlah tersebut, sebanyak 249,16 ton merupakan jenis sampah plastik.
Dalam kondisi volume sampah plastik yang mencapai ratusan ton setiap hari, sekelompok pemuda di Bandung mencoba menghadirkan solusi untuk mengatasi permasalahan tersebut. Keberadaan inovator-inovator seperti Replast Lab untuk darurat Kota Kembang sampah saat ini mendesak.
Inovasi Mengurangi Sampah Plastik
Melalui Replast Lab, ketiga pemuda ini berfokus pada pengolahan sampah plastik dengan jenis tertentu. Saat ini, mereka hanya menerima sampah plastik dengan jenis Polypropylene (PP), High Density Polyethylene (HDPE), dan Low Density Polyethylene (LDPE).
Bahan baku yang mereka gunakan diperoleh dari berbagai sumber. Plastik dapat dikumpulkan dari TPS di Bandung, kolaborasi dengan startup Owaste, donasi dari warga sekitar dan mahasiswa Itenas.
“Dari bahan bakunya kan kita kan kadang ambil dari TPS atau dikasih dari temen-temen sekitar atau dari warga sekitar juga, atau kadang dari kampus juga, kampus kami,” ujar Dafa.
Selama dua tahun berjalan, Replast Lab sudah mengolah sekitar 1,2 ton sampah plastik. Proses pengolahan dilakukan secara bertahap. Plastik yang mereka dapat akan dipilah terlebih dahulu berdasarkan warna. Setelah itu, plastik dibersihkan menggunakan sabun cuci piring untuk menghilangkan kotoran yang ada. Tahap pembersihan menjadi tahap yang menghabiskan banyak waktu.
“Ngebersihinnya yang paling susah karena kan kadang ada aja kotorannya yang emang gak bisa, susah dihilangin atau kadang ada jamur-jamur putih. Nah itu yang paling susah,” ungkap Dafa.
Setelah dibersihkan, plastik dipotong hingga kecil menggunakan mesin atau gunting. Lalu, dipanaskan agar plastik meleleh dan dicetak sesuai dengan produk yang dibuat.
Sebagian proses melelehkan plastik untuk produksi besar sudah dilakukan menggunakan mesin di workshop Replast, berlokasi di Jalan Ciburial, Kabupaten Bandung Barat. Namun, untuk produksi kecil masih dilakukan secara manual dan diproduksi dalam rumah di Jalan Karasak Tengah, Kota Bandung.
Dari plastik yang dikumpulkan, Replast Lab mengolahnya menjadi berbagai produk. Replast Lab menghasilkan anting, gantungan kunci, tatakan gelas, meja, kursi, hingga lemari. Produk kecil seperti anting membutuhkan dua hingga empat tutup botol plastik. Sementara tatakan gelas, menghabiskan 30 hingga 40 tutup botol plastik.
Dalam salah satu pesanan, Replast Lab memproduksi 100 kursi dan 25 meja. Pesanan tersebut menghabiskan hingga 450 kilogram sampah plastik yang berhasil diolah kembali, di mana satu kursinya dapat menggunakan 2 kilogram plastik atau sekitar 2000 tutup botol, dan untuk meja memerlukan 12 hingga 22 kilogram plastik.
Replast Lab juga sedang mengembangkan inovasi dengan menggunakan teknologi Near Field Communication (NFC) pada produk tertentu yang dapat terhubung ke sebuah tautan digital atau sebagai kartu membership.
“Nah sekarang lagi memajukan lagi inovasinya untuk menjadi NFCnya berfungsi untuk member kartu. Kayak coffee shop. Sekarang lagi dikembangin lagi teknologinya biar bisa mendetect kartu membership,” ungkap Wildan mengenai inovasi Replast Lab.
Selain memproduksi barang ramah lingkungan, workshop serta sesi edukasi pengolahan sampah bagi mahasiswa dan masyarakat umum juga sudah dilakukan oleh Replast Lab untuk meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai sampah.
Baca Juga: Sampah Bandung, Cermin Krisis dan Harapan Kota Kreatif
Krisis Sampah di Bandung Raya, Pemerintah tidak Belajar dari Tragedi TPA Leuwigajah dan Kebakran TPA Sarimukti
Permasalahan Sampah di Bandung
Wildan mengatakan bahwa persoalan sampah tidak hanya bertumpu pada satu faktor. Menurutnya, yang paling krusial tetap berkaitan dengan kebijakan pemerintah maupun kesadaran warga.
“Pasti ya balik lagi ya kesadaran warga karena sekarang juga kan udah ada inovasi tentang setiap satu RW ada petugas sampahnya. Tapi ya emang harus pelan-pelan untuk semua orang tuh tau kalo misalkan output sampah tuh jadi apa aja,” jelas Wildan.
Sementara itu, Dafa menilai regulasi pemerintah kemungkinan sudah berjalan. Namun, implementasi di lapangan belum sepenuhnya sejalan. Salah satunya, seperti sungai di belakang rumahnya yang masih banyak digunakan sebagai tempat pembuangan sampah sembarangan.
Wildan juga menyinggung soal kurangnya ketegasan regulasi dan birokrasi di salah satu program yang sedang dijalankan. Menurut Wildan, jika pengelolaan sampah tidak dibenahi, kejadian seperti longsor di Leuwigajah akan terulang kembali. Terlebih ketika Tempat Pembuangan Akhir (TPA) sudah overload dapat menyebabkan longsor.
Selain berdampak pada pengurangan sampah, Replast Lab yang bergerak dalam konsep ekonomi sirkular juga membuka lapangan pekerjaan baru.
“Tapi lapangan pekerjaan yang di mana udah banyaknya kan di bagian manufaktur buat bara, energi gitu ya. Nah, kita bikin sektor baru yang di mana masih kosong nih lapangan pekerjaan. Kita kalau udah scale up mungkin bisa lebih banyak juga, jadi 19 juta lebih banyak pekerjaan,” ungkap Wildan.
Dafa juga menambahkan, langkah yang paling sederhana untuk dilakukan masyarakat dalam mengatasi sampah dapat dimulai dengan memilih dan memilah. Jika sudah dapat melakukan hal tersebut, tahap selanjutnya akan lebih mudah untuk dilakukan, seperti menyumbangkannya ke tempat-tempat tertentu yang memanfaatkan sampah layaknya Replast Lab.
“Lebih ke memilih dan memilah sih. Setidaknya yang paling dekat dan yang paling mungkin bisa banget untuk dilakukan dari rumah, memilih dan memilah aja sih,” ujar Dafa.
Replast Lab berharap dapat membangun TPS yang bukan hanya sebagai tempat penampungan, tetapi juga dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku dan tempat pengolahan plastik.
Mereka menekankan agar sampah tidak terus menggunung dan berakhir di TPA, mengingat sampah masih memiliki peluang untuk dimanfaatkan kembali. Selain itu, Replast Lab mendorong warga Bandung untuk mengurangi penggunaan sampah plastik sekali pakai dan menggantinya dengan tote bag serta botol minum pribadi untuk menjaga lingkungan bersama.
Perkataan Replast Lab sejalan dengan pasal 67 dalam Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009, bahwa setiap orang berkewajiban untuk memelihara kelestarian fungsi lingkungan hidup serta mengendalikan pencemaran dan/atau kerusakan lingkungan hidup.
Sampah plastik yang sebelumnya hanya terbengkalai di TPS, di tangan Replast Lab diolah menjadi berbagai produk yang kembali memiliki fungsi dalam kehidupan sehari-hari. Dari limbah yang dianggap tidak bernilai, mereka menunjukkan bahwa sampah dapat bernilai di tangan yang tepat.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

