• Berita
  • Setelah Revitalisasi Taman di Bandung: Layar Mati, Sungai Kotor, Trek Hutan Ditutup

Setelah Revitalisasi Taman di Bandung: Layar Mati, Sungai Kotor, Trek Hutan Ditutup

Program penataan ruang publik di Bandung menuai keluhan warga. Dari Taman Film tanpa layar, toilet minim air, hingga trek Babakan Siliwangi yang belum bisa diakses.

Taman Film di bawah Jembatan Pasupati, Bandung, 27 Februari 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)

Penulis Tim Redaksi9 Maret 2026


BandungBergerak - Revitalisasi ruang publik menjadi salah satu program yang dilakukan dalam satu tahun kepemimpinan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan. Alun-alun kota Bandung, Taman Lansia, Hutan Kota Babakan Siliwangi, dan kawasan di bawah Jembatan Pasupati menjadi bagian yang diklaim dilakukan perbaikan.

Apakah revitalisasi sudah menjawab kebutuhan masyarakat Kota Bandung, atau malah sebaliknya? 

Revitalisasi Setengah Jalan di Bawah Jembatan Pasupati

Kawasan bawah Jembatan Pasupati menjadi salah satu dari empat taman yang dilakukan revitalisasi. Taman tersebut biasa digunakan dari berbagai kalangan umur untuk bermain hingga bersantai.

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung, dalam rilisnya di bandung.go.id mengatakan, taman tersebut telah ditata sedemikian rupa menjadi zona olahraga dengan fasilitas lapangan futsal, basket, taman bermain, dan trek sepeda anak.

Meski begitu, pengunjung masih merasa kurang puas terhadap revitalisasi yang dilakukan sepanjang 2025, terutama revitalisasi terhadap Taman Film di bawah Pasupati kawasan Tamansari.

Disebut Taman Film karena terdapat televisi besar yang disediakan untuk menonton bersama. Namun, layar tersebut justru tidak berfungsi dan dipenuhi dengan coretan, serta kabel listrik yang semrawut mengganggu pemandangan pengunjung.

“TV-nya kayak hitam-hitam gitu dan hilangin kabel-kabelnya,” ungkap Azka, salah satu pengunjung Taman Film.

Lina dari komunitas Bandung Book Party yang setiap minggunya mengadakan kegiatan di Taman Film menilai bahwa setelah revitalisasi taman ini memang mengundang lebih banyak pengunjung. Namun, toilet yang disediakan masih luput dari revitalisasi.

“Minusnya di toilet, kadang toiletnya itu gak ada airnya gitu loh. Jadi kadang kalo ini tuh harus ke masjid dulu yang di atas atau yang di bawah,” ujar Lina.

Perempuan tersebut juga mengungkapkan bahwa televisi di Taman Film masih belum bisa digunakan, ia mengira revitalisasi yang dilakukan akan memperbaiki layar tersebut.

“Soalnya belum bisa digunain, ternyata masih sama. Kirain tuh bakalan diperbaiki tuh sama layar-layarnya juga, ternyata enggak,” ungkapnya.

Tidak hanya itu, sebuah perpustakaan kecil juga ditambahkan ketika revitalisasi berlangsung. Namun sayangnya, perpustakaan itu tidak pernah terisi oleh buku-buku sebagaimana mestinya.

Revitalisasi juga dinilai hanya fokus kepada estetika saja, dengan penambahan lukisan-lukisan berwarna, tanpa mengutamakan kebutuhan sebenarnya.

“Kalau yang aku liat kayaknya lebih ke estetika sih. Karena kalau untuk kebutuhan, mereka tuh kayak kagok gitu gak sekalian. Toiletnya juga kalau misalkan mereka mengutamakan kebutuhan kan pasti mereka nyediain toilet atau tempat sholat,” jelas Lina.

Taman Lansia, Bandung, Februari 2026. (Foto: Riani Alya/BandungBergerak)
Taman Lansia, Bandung, Februari 2026. (Foto: Riani Alya/BandungBergerak)

Fasilitas Bertambah, Sungai Terabaikan

Taman Lansia juga dilakukan revitalisasi. Dalam rilisnya, Pemkot Bandung telah melakukan revitalisasi pada taman tersebut dengan menambahkan handrail bagi lansia.

Ona sebagai pengunjung di Taman Lansia merasa fasilitas yang diberikan sudah cukup baik, tetapi untuk bagian handrail yang disediakan masih memerlukan perbaikan agar keamanan lebih terjaga untuk para pengunjung lanjut usia (lansia).

“Tapi dari fasilitas itu sih udah oke, cuma kurang rapet gitu. Mungkin gak rapet banget ya, cuma lebih banyak lagi gitu, jaraknya kurang berdekatan,” ujar Ona.

Pendapat lain diungkapkan oleh Giri, sebagai pengunjung yang setiap hari datang ke Taman Lansia. Ia menilai revitalisasi yang dilakukan masih belum maksimal. Toilet yang tersedia belum ramah disabilitas dan handrail yang jaraknya masih terlalu berjauhan.

Giri juga menambahkan, Sungai Cikapayang yang mengalir di Taman Lansia masih memprihatinkan dan terhitung kotor dengan sampah.

“Kali itu masih kotorlah ya. Masih kotor, masih belum bersihlah gitu,” ungkap Giri.

Aliran Sungai Cikapayang yang melintas di kawasan Taman Lansia seharusnya bisa menjadi elemen alami yang membuat fungsi ruang publik semakin kuat, menambah kesejukan serta ekosistem taman, serta menjadi daya tarik bagi pengunjung.

Egar dari River Clean Up Bandung mengungkapkan bahwa kondisi sungai yang ideal setidaknya harus bersih dan tidak terdapat sampah sama sekali, kebersihan itu juga harus atas persetujuan banyak pihak karena butuh komitmen yang besar.

“Apalagi ruang publik ketika disiapkan ada area hijau, digunakan untuk berkumpul, berkegiatan, elemen-elemen untuk kesehatan. Adanya pengairan, ekosistem di taman juga kebantu,” ucapnya.

Ia mengatakan bahwa aliran sungai tersebut berada di area terbuka dan mudah terlihat, sehingga dapat membentuk persepsi pengunjung terhadap kualitas taman itu sendiri.

Trek Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung, Februari 2026. (Foto: Riani Alia/BandungBergerak)
Trek Hutan Kota Babakan Siliwangi, Bandung, Februari 2026. (Foto: Riani Alia/BandungBergerak)

Hutan Kota Belum Dapat Dinikmati

Hutan kota di Bandung hanya sedikit, salah satunya Babakan Siliwangi (Baksil). Meski sempat direvitalisasi dan dibuka kembali pada Desember 2025, hutan kota ini masih mendapat banyak komentar dari pihak sekitar, sebab belum semua bagian mendapat perbaikan.

Hanya gapura dan taman bagian depan yang dilakukan perbaikan menjadi lebih cantik dan enak dilihat, di bagian bawah trek juga disediakan lampu-lampu untuk penerangan di malam hari, serta beberapa trek kayu untuk berjalan yang dicat ulang.

Bucek, seorang pengelola parkir di kawasan tersebut, mengatakan bahwa inti dari daya tarik Baksil adalah jalur trek kayu yang mengelilingi kawasan hutan kota, yang biasa digunakan untuk jalan pagi, olahraga, atau sekadar menikmati udara segar.

“Sebenarnya kan pengunjung pengennya memutar (jalan) main kesini tuh, sedangkan area jembatannya (trek kayu) gak dibuka,” ucap Bucek.

Trek kayu tersebut sempat dibuka pada 25 Desember lalu, namun tidak lebih dari satu minggu kembali ditutup, karena terjadi insiden: seorang pengunjung terjatuh di area pijakan yang sudah rapuh. Kejadian tersebut sempat viral di media sosial dan dua hari setelahnya, trek kembali ditutup hingga saat ini.

Perhatian Bucek tertuju pada tidak adanya spanduk atau informasi mengenai penutupan trek tersebut, yang mengakibatkan banyak pengunjung yang kebingungan dan bertanya-tanya. Banyak masyarakat yang datang dari luar kota seperti Bekasi dan Kuningan yang merasa kecewa karena tak bisa menikmati trek secara keseluruhan.

Sampai saat ini belum ada informasi resmi mengenai kapan trek tersebut dibuka secara keseluruhan. Bucek mengatakan, pihak mengelola hanya menyampaikan masih menunggu pengecekan wali kota.

Penutupan jalur ini cukup berdampak pada kunjungan setiap harinya, kawasan yang biasanya ramai pengunjung untuk berolahraga dan jalan-jalan pagi kini tampak lebih sepi. Hal ini tentunya berdampak pada pedagang dan Bucek sendiri sebagai pengelola parkir.

“Sekarang kondisinya seperti ini (sepi) dampaknya ke semua penjaga, jualannya pada sepi, parkiran apalagi, jadi berkurang,” ucapnya.

Hal yang sama dirasakan oleh Robby, seniman yang sejak tahun 2013 memanfaatkan Baksil sebagai tempat bekerja dan mencari nafkah.

“Sekarang tambah sepi loh, sekarang (pengunjung) agak-agak mundur gitu gak seperti dulu,” ucap Robby.

Ia juga mengatakan dulu banyak mahasiswa dari berbagai kampusyang berkunjung ke pameran atau sekadar melihat hasil dari karya seni yang dibuat para seniman. Namun, sekarang sudah jarang yang berkunjung.

Selain kunjungan seni, cafe yang ada juga mengalami penurunan pelanggan, Robby beranggapan hal ini terjadi juga karena banyakcafe baru.

Alun Alun Bandung Ditata, tapi Luarnya?

Berbeda dengan ketiga kawasan tersebut, Alun Alun Bandung saat ini masih dalam tahap revitalisasi sehingga kawasan tersebut belum kembali dibuka untuk umum sejak 2025. Namun, kawasan sekitar taman Alun-Alun menjadi sorotan. Fenny, salah satu pengunjung mengatakan, saat dia berjalan kaki di trotoar pada jam tertentu, taman sangat penuh dan sesak.

“Waktu itu kaya crowded banget di situ,” ucapnya.

Selain area trotoar, area yang terdapat tulisan “Alun Alun Bandung” menjadi tempat para kendaraan umum seperti Angkutan Kota (angkot) dan Metro Jabar Trans (MJT) mencari penumpang. Hal itu merupakan salah satu alasan yang membuat Fenny kesulitan untuk bergerak kesana kemari.

“Kayak gak ada halte yang memang keliatan halte gitu loh. Cuma ada pemberhentiannya, penumpang kebanyakan berdiri atau duduk di bangku dengan yang ada (tulisan) Alun-Alun gitu loh,” ujar Fenny.

Menurut Fenny area pemberhentian angkutan umum belum memenuhi nyaman dan tertata. Trotoar yang disediakan juga masih kurang memadai.

Baca Juga: Ruang Publik atau Ruang Borjuis?
Ruang Publik di Bandung Cenderung Kaku dan Berjarak

Kawasan Alun-Alun Bandung setelah revitalisasi, 26 Februari 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)
Kawasan Alun-Alun Bandung setelah revitalisasi, 26 Februari 2026. (Foto: Alysha Ramaniya Wardhana/BandungBergerak)

Antara Estetika dan Kebutuhan Warga

Menanggapi berbagai keluhan yang ada, Muhammad Farhan, mengatakan revitalisasi yang dilakukan di Kota Bandung memang belum sepenuhnya maksimal. Ia mengatakan revitalisasi akan kembali dilaksanakan bersamaan dengan perbaikan jalan.

“Nanti dilanjut sepaket sama perbaikan jalan,” ucapnya.

Sebelum melakukan revitalisasi, pihaknya sudah terlebih dahulu melakukan pengkajian guna mengetahui apa-apa saja yang harus dilakukan dalam perbaikan. Farhan mengaku, pengkajian yang dilakukan sesuai dengan kerangka yang berlaku.

“Normatif sih, kita lakukan sesuai dengan kerangka acuan kerja, dan detail engineering design,” kata Farhan.

Dihubungi terpisah, Jejen Jaelani dosen Institut Teknologi Sumatera sekaligus pemerhati budaya urban mengatakan bahwa revitalisasi merupakan bagian dari perawatan ruang publik. Tetapi, di Kota Bandung, revitalisasi relatif dilakukan hanya untuk mempercantik saja.

“Jadi pembangunan itu atau revitalisasi itu relatif dilakukan hanya untuk mempercantik saja, mengecat ulang gitu ya. Tidak sampai ke hal-hal yang sifatnya esensial, yang fungsional,” jelas Jejen.

Padahal, Jejen menjelaskan bahwa faktor utama yang paling penting dalam revitalisasi taman kota adalah kenyamanan dan keamanan pengunjung. Meski begitu, dalam upaya revitalisasi, hal yang penting tersebut sering kali dilewatkan.

Seperti pada Hutan Kota Babakan Siliwangi, Jejen mencontohkan bahwa seharusnya revitalisasi dilakukan dengan memperbaiki trek sebagai penunjang keselamatan, tetapi malah dibiarkan.

“Padahal misalnya yang diperlukan di dalam revitalisasi Hutan Babakan Siliwangi itu perbaikan trek dan yang menunjang faktor utama keselamatan kan gitu ya. Tetapi kemudian yang terjadi malah treknya dibiarkan gitu ya,” ungkapnya.

Jejen menilai penyebab revitalisasi masih belum sesuai dengan kebutuhan warga disebabkan oleh adanya pendekatan revitalisasi yang masih didorong oleh logika proyek.  Pemerintah dinilai hanya fokus pada penyerapan anggaran dan penyelesaian proyek, sehingga proses perencanaan tidak selalu didasarkan pada evaluasi yang mendalam.

“Ya tentu biasanya logika yang berjalan di pemerintah ya, ketika dilakukan revitalisasi, logika yang digunakannya logika proyek aja gitu ya, yang penting ini anggaran turun, kemudian proyek bisa berjalan. Sehingga revitalisasi itu tidak menyentuh akar permasalahan,” ungkap Jejen.

Sebagai solusi, Jejen mengatakan bahwa pemerintah perlu melakukan riset mendalam mengenai kebutuhan masyarakat sebelum melakukan revitalisasi. Selain itu, Jejen juga menyoroti kebanyakan distribusi ruang publik hanya terpusat di pusat kota saja.

“Seharusnya kan ruang publik itu dia tersebar di berbagai kecamatan, di berbagai kelurahan gitu ya sehingga kemudian warga di dalam kehidupan sehari-hari dia bisa mendapatkan ruang yang lebih luas untuk beraktivitas ya. Olahraga, bisa berkumpul, piknik, dan seterusnya,” jelasnya.

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//