Mengapa Sungai Cikapundung Perlu Mendapat Sedekah Bumi?
Komunitas lingkungan Bandung Raya menuangkan eco-enzyme ke Sungai Cikapundung untuk memulihkan ekosistem sekaligus menekan lonjakan sampah organik selama Ramadan.
Penulis Awla Rajul11 Maret 2026
BandungBergerak - Aliran Sungai Cikapundung selama bertahun-tahun dibebani limbah domestik yang menjadi penyumbang utama pencemaran di sepanjang daerah alirannya. Di tengah kondisi itu, sejumlah komunitas penggerak lingkungan di Bandung Raya menggelar Aksi Sedekah Bumi dengan menuangkan 150 liter eco-enzyme ke sungai tersebut.
Aksi ini dilakukan sebagai upaya simbolik dan praktis untuk membantu memulihkan fungsi sungai serta menekan peningkatan sampah organik selama Ramadan. Kegiatan ini digagas oleh komunitas-komunitas penggerak lingkungan hidup se-Bandung Raya, dengan Jaga Bumi Ecomart & Community Hub sebagai tuan rumah aksi perdana.
Dalam kegiatan tersebut, berbagai komunitas menuangkan total 150 liter eco-enzym ke Sungai Cikapundung di kawasan Wisata Alam Cika-Cika pada Sabtu, 7 Maret 2026. Penuangan dilakukan setelah sesi berbagi mengenai eco-enzym dan rencana aksi sedekah bumi ke depan di Jaga Bumi Ecomart & Community Hub, Cihampelas Walk. Eco-enzym yang digunakan merupakan donasi dari berbagai komunitas, yayasan, dan individu.
Ketua Jaga Bumi Nusantara, Afif Aulia, 29 tahun, menyampaikan, aksi sedekah bumi pertama ini berfokus untuk memulihkan fungsi urat nadi bumi, yaitu sungai, melalui distribusi eco-enzym. Eco-enzym dipilih karena selama bulan Ramadan, timbulan sampah organik terbukti lebih tinggi dari hari biasanya.
Eco-enzym juga dipilih supaya lebih banyak orang yang sadar untuk mengolah sampah organik. Selain itu, aksi ini untuk menggenjotkan semangat produsen-produsen yang memproduksi eco-enzym.
“Satu sisi pengelolaan sampah makin naik di bulan Ramadan perlu diselesaikan. Di satu sisi juga bisa menciptakan gerakan biar makin banyak orang yang membuat eco-enzym,” ungkap Afif, setelah proses menuangkan eco-enzym ke sungai.
Eco-enzym adalah cairan yang dihasilkan dari proses pengolahan sampah organik. Cairan ini dihasilkan setelah proses tiga bulan, dengan metode fermentasi sampah organik (makanan, kulit buah, sayur), gula, dan air.
Olahan limbah organik punya banyak manfaat dan kegunaan. Eco-enzym bisa dimanfaatkan sebagai cairan pembersih, pupuk cair, dan pestisida alami. Eco-enzym merupakan salah satu metode pengolahan sampah organik praktis yang bisa dilakukan sejak dari sumber.
Untuk aliran sungai, kata Afif, eco-enzym juga punya banyak manfaat. Cairan ini mampu mempurifikasi air sungai dari kontaminasi, menetralkan bau dan gas yang terkandung di dalam air, meningkatkan kadar oksigen terlarut, pengendali bakteri patogen, hingga menstimulasi ekosistem perairan.
“Dengan naturalisasi ini ekosistem, ikan-ikan atau mikroorganisme yang tidak kelihatan bisa semakin hidup, mengingat banyak banget polutan-polutan yang masuk ke sungai. Nah ini mungkin cara sederhana yang bisa kita lakukan buat membersihkan itu, makanya sedekah untuk bumi,” jelas Afif.
Afif menyebut, jika metode ini dilakukan secara berkala dan konsisten, cara ini dinilai mampu membantu menyelesaikan persoalan timbulan sampah dan pencemaran sungai. Masyarakat yang sadar akan melakukan pemilahan dan pengolahan sampah. Sementara eco-enzym yang dilarutkan ke sungai akan bermanfaat untuk ekosistemnya.
Ragam Komunitas Terlibat
Selain Aksi Sedekah Bumi, para komunitas penggerak lingkungan se-Bandung Raya ke depannya akan melakukan aksi lain, seperti penanaman pohon bambu, sweeping sampah, urban farming di pemukiman padat, maupun barter limbah pakaian, dan lainnya.
Salah satu yang terlibat dalam aksi ini adalah Denna Medina, 29 tahun, founder Herb Infusion. Denna menerangkan, ia memang sudah terbiasa mengolah limbah dari herbal – bahan baku produk usahanya – menjadi eco-enzym.
Ia ikut aksi sedekah bumi atas kesadarannya untuk bertanggung jawab pada lingkungan, sekaligus berjejaring dengan kawan-kawan komunitas lainnya. Ia yang mengembangkan eco-enzym herbal – dinilai lebih harum karena bahan-bahan tertentu – juga tertarik untuk menyebarkan pemahamannya kepada kawan-kawan komunitas.
“Eco-enzym itu kan tergantung apa yang dicampur. Kalau misalkan (dicampur) contohnya akar wangi, cengkeh, itu bisa mengeluarkan wangi yang cukup harum. Bisa diterimalah terutama sama orang-orang yang belum terbiasa menggunakan eco-enzym,” kata Denna.
Denna menerangkan, aksi sedekah ini diharapkan mampu bermanfaat, terutama untuk lingkungan sekitar. Sebab, ia melihat masyarakat di sekitar Cika-Cika yang suka memancing di sungai. Eco-enzym akan membantu memulihkan ekosistem dan memberi manfaat bagi hewan maupun mikroorganisme yang mendiaminya.
“Biar lebih seimbang, terutama ekosistem yang ada di sungai. Banyak hewan-hewan yang enggak bisa kelihatan mata kita tapi mereka juga perlu hidup dengan baik,” ungkapnya.
Selain Denna, dua peserta lainnya yang ikut aksi sedekah bumi merupakan dua bersaudara asli Bandung yang besar di Kuala Lumpur. Keduanya tergerak ikut aksi ini karena setiap kali pulang ke Bandung, mereka merasakan perubahan lingkungan yang berarti, salah duanya adalah sampah yang semakin menumpuk hingga berakhir ke aliran sungai.
Mengolah Limbah Organik
Pemilahan dan pengolahan sampah sejak dari sumber merupakan upaya penting yang mesti dilakukan oleh masyarakat sejak dari rumah. Eco-enzym merupakan salah satu cara pengolahan sampah organik yang mudah dilakukan.
Cara mengolahnya adalah dengan menaruh sampah organik, gula, dan air di dalam wadah tertutup dengan komposisi 3:1:10 selama tiga bulan. Wadah tertutup perlu dibuka secara berkala untuk mengeluarkan gas.
Eco-enzym bermanfaat untuk banyak hal dalam kehidupan sehari-hari, urusan rumah tangga, hingga pertanian dan perkebunan. Pengolahan limbah ini memberikan siklus hidup bagi sampah, sehingga mampu menekan emisi.
Baca Juga: Membahas Manusia, Alam, dan Sampah di Pinggir Aliran Sungai Cikapundung
Renungan Musim Hujan, Jejak Duka di Sungai Cikapundung
Pencemaran Sungai Cikapundung
Yushi Rahayu, Iwan Juwana, dan Dyah Marganingrum, peneliti dari Institut Teknologi Nasional (Itenas), Bandung dalam penelitian yang dipublikasikan di jurnal Rekayasa Hijau (2018) menyoroti kondisi pencemaran di Daerah Aliran Sungai (DAS) Sungai Cikapundung yang merupakan anak sungai dari Sungai Citarum.
Sungai ini dimanfaatkan masyarakat sebagai sumber air baku, irigasi, dan kegiatan perikanan. Namun karena alirannya melewati wilayah padat penduduk di Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, dan Kabupaten Bandung, kualitas airnya rentan tercemar oleh aktivitas domestik.
Penelitian tersebut menyebutkan bahwa sekitar 80 persen pencemaran Sungai Cikapundung berasal dari limbah domestik, seperti limbah rumah tangga yang berasal dari aktivitas mandi, mencuci, dapur, serta kotoran manusia. Limbah ini masuk ke badan sungai akibat sistem pengelolaan air limbah yang belum memadai di kawasan permukiman.
Berdasarkan analisis kualitas air menggunakan metode indeks pencemar, kondisi air Sungai Cikapundung pada periode penelitian tergolong cemar sedang pada musim kemarau dan cemar ringan pada musim hujan. Perbedaan ini dipengaruhi oleh debit air sungai; pada musim hujan terjadi pengenceran alami karena volume air meningkat.
Penelitian juga menghitung beban pencemaran domestik yang masuk ke sungai, dengan perkiraan antara lain: TSS sekitar 25.383 kg/hari, BOD sekitar 17.537 kg/hari, COD sekitar 18.461 kg/hari, nitrogen total sekitar 889 kg/hari, dan fosfor total sekitar 96 kg/hari. Nilai tersebut menunjukkan besarnya tekanan pencemaran yang berasal dari aktivitas rumah tangga di wilayah DAS Cikapundung.
Secara umum, penelitian menyimpulkan bahwa limbah domestik merupakan penyumbang utama pencemaran Sungai Cikapundung, sehingga pengendalian pencemaran perlu difokuskan pada pengelolaan air limbah rumah tangga di kawasan permukiman sepanjang daerah aliran sungai.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

