Mencari Ruang Katarsis di Zaman yang Serba Tak Sabar
Masyarakat memerlukan cukup ruang untuk memproses konflik dan frustrasi tanpa harus saling melaporkan, membungkam, atau meledak dalam kemarahan tak terkendali.

Joel Roberto Dos Santos
Penulis Independen
11 Maret 2026
BandungBergerak – Kita tahu beberapa waktu terakhir, media sosial Indonesia diramaikan oleh laporan terhadap seorang komedian. Bukan pertama kali dan sepertinya bukan yang terakhir. Tapi di balik hiruk-pikuk polarisasi antara yang membela kebebasan berekspresi dan yang menuntut pertanggungjawaban, ada pertanyaan yang lebih mendasar dan jarang kita singgung yakni ke mana sebenarnya kita dapat melepaskan seluruh emosi lama yang tertahan itu?
Saat ini kita hidup dalam zaman yang menggelitik. Kita memiliki banyak platform untuk berbicara, tapi rasanya semakin tidak didengar. Kita memiliki banyak ruang untuk tertawa, tapi semakin mudah tersinggung. Situasi ini sungguh menguji kesabaran akal, budi, dan hati. Di tengah semua itu, kita kehilangan suatu konsep yang sangat kuno namun penting yaitu ruang untuk katarsis. Mungkin sangat asing di telinga kita, namun kita harus melihat apa itu katarsis yang jarang terdengar.
Katarsis? Sederhananya adalah proses pelepasan dan pemurnian emosi yang tertahan. Kata ini berasal dari bahasa Yunani “katharsis” yang artinya “pembersihan” atau “pemurnian”. Kita dapat membayangkan ketika mengeluarkan air mata setelah lama menahan sedih atau tertawa lepas setelah berhari-hari dalam situasi tegang, itulah katarsis.
Di masa lalu Aristoteles pernah berbicara soal katarsis–pada pelepasan emosi melalui seni, khususnya tragedi. Ketika dalam drama, penonton menangis menyaksikan jatuhnya seorang raja dan dalam tangis itu mereka memurnikan diri dari ketakutan dan kesedihan mereka sendiri. Katarsis bukan hanya soal melepaskan emosi, tapi mentransformasikannya menjadi sesuatu yang menyembuhkan.
Tapi hari ini, katarsis kita terfragmentasi. Coba lihat, ketika kita scroll media sosial untuk pelampiasan, kita nonton stand-up comedy untuk curhat bareng-bareng, kita bikin meme untuk mengolok situasi yang sebenarnya membuat kita frustrasi. Semuanya sah-sah saja, terkadang mungkin perlu. Namun lagi-lagi masalahnya, kita hidup di masyarakat yang mudah tidak nyaman dengan katarsis orang lain.
Ketika seseorang tertawa untuk sesuatu yang kita anggap serius, kita merasa diserang. Ketika seseorang mengkritik sesuatu yang kita percayai lewat humor, kita merasa dilecehkan. Padahal barangkali, mereka sedang melakukan hal yang sama dengan kita mencari cara untuk tetap waras di tengah dunia absurd.
Baca Juga: Mudik sebagai Dongeng Pembangunan
Kedaulatan Negara dalam Jebakan Struktur Global
Disarankan Di Bandung: Negara Kecil di Bibir Jurang
Tekanan Tanpa Katup
Kita harus akui bahwa masyarakat saat ini sedang berada dalam fase transisi yang melelahkan dan memberatkan. Ekonomi tidak menentu, harga naik terus, lapangan kerja semakin kompetitif, sementara ruang publik untuk menyuarakan keluh-kesah semakin sempit–entah karena takut viral dengan cara yang salah, takut di-bully, atau bahkan takut dilaporkan.
Bayangkan seperti sebuah panci presto tanpa katup pengaman. Itu yang terjadi pada masyarakat tanpa ruang katarsis yang sehat. Tekanan terus menumpuk, frustrasi soal kemacetan yang tidak pernah selesai, banjir yang semakin memburuk, keluhan tentang pelayanan publik yang mengecewakan, kekecewaan pada janji-janji politik yang tidak pernah terwujud, kelelahan menghadapi birokrasi yang berbelit, hingga kecemasan eksistensial tentang masa depan.
Lalu ke mana semua itu pergi? Sebagian meledak dalam bentuk kemarahan di media sosial, debat kusir yang tidak produktif, saling hujat antar kubu, atau witch-hunting terhadap siapa saja yang berbeda pandangan. Sebagian lain terpendam menjadi stres kronis, kecemasan, bahkan depresi yang angkanya terus meningkat di kalangan anak muda Indonesia.
Tampaknya stand-up comedy menjadi salah satu ruang katarsis paling efektif di Indonesia selama dekade terakhir. Bukan karena komedian pintar membuat kita tertawa, tapi karena mereka berani mengatakan hal-hal yang kita sendiri takut ucapkan. Mereka menjadi corong kolektif untuk frustrasi bersama. Mungkin ini terlihat seperti mengorbankan satu domba untuk disembelih, namun kenyataannya begitu. Ketika seorang komedian mengejek absurditas birokrasi, penonton tertawa bukan karena itu lucu, tapi karena mereka mengalaminya. Ketawa itu adalah pengakuan bersama: "Iya, memang begitu. Kita semua tahu ini terlalu nekat." Dan dalam pengakuan itu ada kelegaan katarsis.
Tapi inilah paradoksnya, semakin katarsis itu menyentuh hal-hal yang penting dan sensitif, semakin besar peluangnya untuk ditolak. Karena tidak semua orang siap menerima bahwa hal-hal yang mereka anggap sakral bisa menjadi objek kritik, apalagi melalui tawa. Di sinilah kita terjebak dalam dilema sosial yang pelik. Di satu sisi, kita butuh ruang untuk mengkritik, mempertanyakan, dan tertawa pada ketidaksempurnaan sistem dan institusi. Di sisi lain, kita juga punya hak untuk merasa tersinggung dan meminta pertanggungjawaban. Pertanyaannya: bagaimana kita menyeimbangkan keduanya tanpa membunuh ruang katarsis itu sendiri?
Kita membutuhkan bukan hanya toleransi pada perbedaan pandangan, tapi empati pada kebutuhan emosional satu sama lain. Memahami bahwa ketika seseorang tertawa pada sesuatu yang kita anggap serius, belum tentu mereka meremehkan, bisa jadi mereka sedang mencari cara untuk tidak tenggelam dalam kegalauan mereka sendiri. Maka, kita juga perlu membedakan antara kritik yang membangun (bahkan lewat satir dan humor) dengan kebencian yang destruktif. Kita perlu belajar bahwa tidak semua yang membuat kita tidak nyaman adalah ancaman, kadang ketidaknyamanan itu justru awal dari refleksi.
Tapi yang paling penting, kita perlu menciptakan lebih banyak ruang katarsis yang aman. Bukan hanya panggung komedi atau thread X, tapi juga ruang-ruang off-line seperti kelompok diskusi, komunitas seni, kegiatan sosial yang memungkinkan kita melepaskan emosi dengan cara yang sehat dan konstruktif. Karena pada akhirnya, masyarakat yang sehat bukan masyarakat tanpa konflik atau frustrasi. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang punya cukup ruang untuk memproses konflik dan frustrasi tanpa harus saling melaporkan, tanpa harus saling membungkam, tanpa harus meledak dalam kemarahan yang tidak terkendali.
Tawa yang Bertahan
Mungkin kita tidak akan pernah sepakat tentang apa yang boleh dan tidak boleh ditertawakan. Mungkin akan selalu ada ketegangan antara kebebasan berekspresi dan rasa hormat pada kesucian. Tapi di tengah semua itu, satu hal yang pasti adalah kita semua butuh tempat untuk melepas beban. Jangan sampai dalam upaya melindungi satu kelompok dari rasa tersinggung, kita justru menciptakan masyarakat yang sesak, di mana semua orang menahan emosinya sendiri, takut salah bicara, takut salah tertawa. Pada akhirnya masyarakat seperti itu bukan masyarakat yang damai, melainkan masyarakat yang diam dan bisu dalam ketakutan.
Sejarah mencatat bahwa humor selalu menemukan celah, bahkan di masa paling kelam. Karena tawa adalah bentuk resistensi paling primitif dari bentuk penegasan bahwa meski kita tertekan, kita masih manusia, masih bisa menemukan absurditas dalam kesulitan, masih bisa memilih untuk tidak tenggelam dalam kesedihan. Katarsis sejati bukan tentang menyakiti orang lain, tapi tentang menyembuhkan diri sendiri. Dan dalam proses penyembuhan itu, kita harus cukup bijak untuk membedakan antara kritik yang menyakitkan tapi perlu didengar, dengan serangan yang memang bertujuan melukai. Karena ketika ruang untuk katarsis menyempit, yang tersisa hanya tekanan, tekanan, dan tekanan yang terlalu lama tidak dilepaskan setelah itu akan mencari jalannya sendiri untuk meledak.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

