Asterisk di Kata Perempuan: Simbol Perlawanan di Peringatan International Women's Day Yogyakarta
Simbol asterisk menegaskan perjuangan yang inklusif bagi ragam identitas gender. Menyuarakan kritik terhadap ketimpangan, perampasan ruang hidup, hingga dampak MBG.
Penulis Virliya Putricantika11 Maret 2026
BandungBergerak - Kata “perempuan” ditulis dengan tambahan tanda asterisk atau bintang kecil di aksi peringatan International Women's Day, Titik Nol Kilometer Yogyakarta, 8 Maret 2026 lalu. Simbol tersebut menjadi penanda penting dalam aksi yang mengusung tema Perempuan* Hempaskan Penindasan.
Melalui aksi tersebut, perjuangan melawan penindasan tidak hanya berpusat pada perempuan cis (mereka yang terlahir sebagai perempuan dan mengidentifikasi diri sebagai perempuan sepanjang hidupnya), melainkan juga merangkul pengalaman dan perjuangan ragam identitas gender lain.

Siapa pun yang hadir di titik aksi, termasuk kawan-kawan ragam gender, memiliki ruang yang setara.
Sejak pukul tiga sore kawan-kawan penyelenggara memastikan semua kebutuhan perayaan ini disiapkan dengan baik. Untunglah sore itu hujan tidak turun, sehingga kami bebas bergerak tanpa kerepotan memegangi payung. Agenda ini tentunya menyediakan berbagai lapakan seperti buku dan tato kontemporer.

Kawan-kawan yang hadir pun mengenakan pakaian sebagai bagian dari ekspresinya. Dresscode pertemuan di jalan kali ini merah muda dan hitam, padu padan pakaian peserta terlihat di sana, mulai dari pakaian kasual hingga berkain.
Perayaan dimulai dengan aksi teatrikal, seseorang yang dibalut dengan pakaian merah dengan dress kuning berjalan dengan sepatu heels-nya. Ia memegang palet lukis di tangan kirinya dan kuas di tangannya mengusap garis lengkung berwarna putih di wajahnya. Selanjutnya ia menghampiri peserta aksi untuk turut melukis di area kepalanya. Merespons kebebasan atas tubuh.

“Seharusnya tubuh kita memiliki ruang aman. Tapi kenyataannya tidak selalu kita berada di ruang aman,” sebuah refleksi dari Kolektif Ketunggu.
Momentum ini menjadi ruang suara atas penindasan yang masih terjadi pada perempuan*. Ketimpangan yang sudah ada sejak dulu masih terus hidup karena sistem yang patriarki selalu diberi akses.
Baca Juga: Dari Femisida hingga Upah 500 Ribu Rupiah, Seratus Tuntutan Perempuan di IWD Bandung
Setelah Revitalisasi Taman di Bandung: Layar Mati, Sungai Kotor, Trek Hutan Ditutup

Keresahan Masyarakat yang “Dirawat”
Sudah dua tahun masyarakat Indonesia dipimpin oleh orang yang diduga melanggar HAM. Selama itu pula hidup perempuan* ditindas atas izin struktural yang terus dirawat. Berbagai peminggiran terus dilakukan atas kebutuhan dan ruang hidup yang terjadi secara sistematis.
Keputusan penyelenggara negara bergabung dengan Board of Peace perlu diakui sebuah kemunduran. Seolah tidak menyadari bahwa secara tidak langsung Indonesia menyetujui untuk menjadi kaki tangan genosida yang tengah terjadi.

Belum lagi pembangunan industri energi di berbagai daerah justru merampas ruang hidup masyarakat dengan adanya alih fungsi lahan besar-besaran. Kesekiankalinya, perempuan* merasakan beban yang berlipat ganda. Seperti ibu-ibu di Sagea, Halmahera, Maluku Utara, yang sampai hari ini melawan pembangunan tambang. Puisi yang dibuat dan dibacakan salah seorang peserta menceritakan kondisi kampung halamannya itu.
Namun langkah mama-mama Sagea tetap berlanjut
Karena perjuangan ini bukan tentang hari ini saja
Melainkan tentang besok yang masih mereka wariskan kepada anak cucu nanti.

Satu per satu orator silih berganti, menyampaikan keresahannya. Menyampaikan kritik yang jelas layak didengar. Karena kekerasan negara tidak melulu menyerang fisik, tapi juga di sektor lainnya, yang kita tahu salah satunya Makan Bergizi Gratis (MBG). Program yang diniatkan untuk mengatasi stunting dan memenuhi gizi anak, tapi justru memakan banyak korban juga.
“Ia adalah jumlah perut-perut kecil yang sejak lahir dijaga dengan doa dan keringat orang tuanya. Permintaan maaf tidak cukup untuk menyelesaikan masalah ini. Hentikan semua kekonyolan ini dan stop MBG,” orasi dari Ibu Berisik setelah jam berbuka puasa.

Data terbaru menunjukkan kasus keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) terjadi di sejumlah daerah di Indonesia. Berdasarkan kompilasi data yang dipublikasikan akun Sahabat Gizi, Jawa Barat mencatat jumlah kasus keracunan MBG tertinggi dengan 2.051 kasus. Posisi berikutnya ditempati DI Yogyakarta dengan 905 kasus dan Jawa Tengah dengan 468 kasus.
Sementara itu, data Badan Gizi Nasional (BGN) mencatat terdapat 70 insiden keracunan MBG yang berdampak pada 5.914 penerima manfaat. Sebaran kasus meliputi wilayah Sumatera sebanyak 9 kasus dengan 1.307 korban, Pulau Jawa 41 kasus dengan 3.610 penerima terdampak, serta wilayah Kalimantan, Sulawesi, Maluku, Papua, Bali, dan Nusa Tenggara sebanyak 20 kasus dengan 997 korban.

BGN menyebut sejumlah penyebab utama keracunan yang teridentifikasi antara lain kontaminasi bakteri pada bahan makanan dan air. Bakteri yang ditemukan meliputi E. coli pada air, nasi, tahu, dan ayam; Staphylococcus aureus pada tempe dan bakso; Salmonella pada ayam, telur, dan sayur; serta Bacillus cereus pada mie. Selain itu, juga ditemukan bakteri Coliform, Pseudomonas (PB), dan Klebsiella yang berasal dari air terkontaminasi.
Satu simbol, satu hari perayaan dan banyaknya suara rakyat masih perlu perjalanan panjang untuk bisa didengar. Tapi rakyat selalu memiliki satu sama lain meski pertemuan itu terjadi hanya di jalan.
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

