• Literasi
  • ULAS FILM: Merasakan Keberadaan Karakter Tak Terlihat Melalui Film Siti dan Sore

ULAS FILM: Merasakan Keberadaan Karakter Tak Terlihat Melalui Film Siti dan Sore

Tokoh dalam film tidak selalu memiliki wujud fisik. Seperti "laut" dalam film Siti dan "waktu" dalam film Sore:Istri dari Masa Depan.

Ilustrasi poster film Siti karya sutradara Eddie Cahyono. (Foto Sumber: imdb.com)

Penulis Lisa Nurjanah13 Maret 2026


BandungBergerak – Ketika selesai menonton Siti (2014)–film di bawah penyutradaraan Eddie Cahyono–saya teringat pada film Sore: Istri dari Masa Depan (2025). Setidaknya, ada satu persamaan dari kedua film ini, yaitu bagaimana kehadiran tokoh entitas bukan manusia, yang tidak terlihat, menjadi kunci terjadinya katarsis pada cerita. Jika melihat pada film luar, hal ini dapat dipahami melalui film seperti Final Destination dengan karakter Death, tidak terlihat, tetapi menentukan hidup atau matinya para karakter.

Pada film Sore garapan Yandy Laurens, “waktu” menjadi tokoh yang menunjukkan emosi atas perbuatan Sore (Sheila Dara). Diceritakan bahwa Sore kembali ke masa lalu demi bisa mengubah gaya hidup suaminya, Jonathan (Dion Wiyoko), menjadi lebih sehat sehingga bisa terhindar dari serangan jantung dan hidup lebih lama bersamanya. Meski termasuk karakter krusial, kita tidak tahu bagaimana persisnya wujud dari waktu. Cara bagaimana karakter waktu dihadirkan adalah melalui fenomena, kondisi atau warna langit, serta ketika Sore harus mengalami mimisan demi mengulang usahanya ke awal lagi. Emosi sang waktu di film ini berfungsi meneguhkan narasi bahwasanya ia adalah sesuatu yang memiliki agensi dan lebih berkuasa daripada manusia yang memanfaatkannya. Hukuman pun diberikan kepada Sore atas tindakannya yang akhirnya menyulut kemarahan waktu.

Hal serupa turut ditunjukkan dalam film Siti, yakni di mana sifat-sifat laut diperlihatkan melalui nasib dan upaya Siti bertahan hidup. Berlatar di Parangtritis, film ini menceritakan tentang Siti (Sekar Sari), seorang ibu yang harus bekerja menjual peyek jingking di siang hari dan menjadi lady companion (LC) sebuah bar karaoke saat malam hari. Di rumah, ia turut memegang peranan penting, karena harus mengurus rumah, suami, dan anak semata wayangnya, Bagas (Bintang Timur Widodo), yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar.

Meski dalam sinopsisnya disebutkan bahwa Siti turut mengurus mertuanya, saya tidak melihat mertua Siti sebagai sosok rapuh, melainkan seorang perempuan mandiri dan mampu menghidupi diri sendiri. Terbukti dengan kemampuan mertuanya yang, meski sudah berada di usia senja, mampu membantu Siti membayar utang cicilan kapal suami Siti, Bagus (Ibnu Widodo), yang juga merupakan anak laki-lakinya. Mertua Siti–Si Mbok (Titi Dibyo), dipanggil akrabnya–juga masih aktif mencari nafkah dengan menjual peyek, sebuah usaha yang dilakukannya sejak Bagus berusia kanak-kanak. Maka, saya melihat film ini tidak hanya sebagai perjuangan Siti saja, tetapi juga perjuangan si Mbok, dengan kondisi tidak ada suami dan anak terus terbaring sakit sepanjang hari.

Laut menjadi aspek krusial dalam hidup keluarga ini, mulai dari Si Mbok menghidupi Bagus melalui hasil penjualan peyek di pantai, sampai Bagus ketika dewasa telah berkeluarga dan menjadi nelayan. Sayangnya, ketika laut telah memberikan kesenangan, laut turut memberikan cobaan. Nahas, tragedi yang dialami Bagus membuat seluruh tubuhnya tidak mampu bergerak. Perahu yang digunakan dengan pembayaran skema cicilan itu pun belum lunas, sehingga Siti harus bekerja ekstra untuk membayarnya. Di tengah bekerja sebagai LC, Siti mengalami dilema ketika bertemu dan menjalin hubungan dengan seorang polisi bernama Gatot (Haydar Salishz).

Baca Juga: ULAS FILM: Panggil Aku Ayah, Film Adaptasi yang Membumi
ULAS FILM: Kekerasan yang Tak Diperlihatkan, Pemanfaatan Off-Screen Violence dalam Film Babon
ULAS FILM: Menilik Fenomena Akar Rumput di Pantura dalam Film Pangku

Karakter Tak Terlihat

Dari kedua film ini, baik waktu maupun laut dapat dipahami sebagai karakter invisible non-manusia, atau juga bisa disebut sebagai unseen character (karakter tak terlihat). Keduanya tidak hadir sebagai subjek yang bersuara, tetapi menentukan arah hidup tokoh-tokoh di dalamnya. Penggambaran ini dijelaskan melalui artikel studi Unseeing People: Towards a Clear View of Invisible Characters in Narrative Fiction, yang menjabarkan adanya tiga dimensi invisible characters.

Dimensi pertama adalah kekuasaan dan ketidakberdayaan (power and powerless), di mana karakter tidak terlihat seringkali digambarkan memiliki kekuasaan, misalnya seperti dewa ataupun Tuhan. Kekuasaan ini tergambar melalui nasib para karakter, layaknya yang dialami oleh Bagus dan Sore. Siti tidak mungkin melawan laut atas hal yang menimpa Bagus, serupa dengan Sore menghadapi waktu.

Dimensi kedua yaitu realisme dan non-realisme, yang berarti karakter tak terlihat bergerak di antara cerita realistis dan fantasi. Karakter tak terlihat bukan berarti supernatural, ia juga bisa hadir sebagai sistem maupun takdir. Sederhananya, genre cerita realistis bukan berarti tidak dapat menghadirkan karakter tak terlihat, sebab kehadirannya bergantung pada bagaimana ia dinarasikan. Pada film Sore, waktu termasuk entitas supernatural, sebab dalam ceritanya, Sore bisa kembali ke masa lalu. Sedangkan dalam film Siti, laut bukan entitas supernatural. Ia merupakan wujud dari interpretasi para karakter, yang lebih digambarkan sebagai takdir: Dapat memberikan rezeki, dapat pula mengambil.

Terakhir, dimensi ketiga adalah fokalisasi, yaitu sudut pandang dalam melihat cerita. Mengutip dari artikel Fokalisasi Perundungan dalam Film From the Ashes Karya Khalid Fahad (Kajian Naratologi Gerard Gennete), istilah ini dipopulerkan oleh Gérard Genette sebagai pengganti istilah perspektif atau sudut pandang. Fungsinya adalah membantu kita melihat posisi ketika menyampaikan informasi, baik sebagai pengamat, tokoh dalam cerita, maupun orang ketiga serbatahu. Fokalisasi terbagi lagi menjadi tiga, yakni fokalisasi nol, fokalisasi internal, serta fokalisasi eksternal.

Fokalisasi nol mendeskripsikan orang ketiga serba tahu yang lebih mengetahui banyak hal daripada tokoh, sehingga mampu menjelaskan aspek internal para karakter. Fokalisasi internal menunjukkan sudut pandang terbatas pada satu tokoh, sehingga penonton dapat menyelami batin karakter. Sementara, fokalisasi eksternal mengamati peristiwa dari luar tanpa mengetahui pikiran tokoh dan menciptakan jarak naratif. Melalui fokalisasi, tokoh tak terlihat dapat dirasakan keberadaannya karena susunan ceritanya, bukan hanya karena ia hadir secara langsung.

Film Sore menerapkan fokalisasi internal dalam tiga babak filmnya: Jonathan, Sore, dan Waktu. Pada babak waktu inilah, kita perlu berpikir tentang “kenapa?”. Kenapa, Sore selalu berakhir kembali di tempat tidur Jo. Kenapa, bisa muncul aurora merah ketika Sore mengubah kalimat perkenalannya kepada Jo. Semua ini terjadi bukan tanpa sebab. Waktu memiliki emosi, yang akhirnya membatasi kemampuan Sore.

Sementara, fokalisasi pada film Siti berfokus pada fokalisasi internal Siti, sebab kamera terus menyoroti kegiatan Siti dari pagi hingga larut malam. Laut dalam film Siti tidak memiliki emosi yang digambarkan secara eksplisit, kita merasakan laut mempunyai sifat karena dialog dan nasib karakter. Dari kecelakaan yang dialami Bagus, kita sebagai penonton dapat menginterpretasikan sifat laut. Pada pembukaan film, terdengar percakapan antara Bagus dan Siti:

“Kamu percaya surga, Mas?”

“Aku lebih percaya laut, Ti.”

Apabila dikomparasikan dengan surga selaku tempat yang dijanjikan untuk orang-orang “baik” di akhirat kelak, laut tidak pernah peduli siapa yang mengarunginya, dan sama sekali tidak menjanjikan apa-apa. Laut memberikan kehidupan, tetapi juga tidak menjanjikan ia akan terus demikian. Dalam dialog yang dituturkan si Mbok, “Laut yang memberi rezeki, laut juga yang mengambilnya,” memperlihatkan laut bisa memberikan kesenangan, tetapi juga menunjukkan keganasan. Laut tidak melihat orang baik untuk diselamatkan, melainkan ia melihat siapa yang sanggup bertahan menghadapinya.

Saya menginterpretasikan laut sebagai takdir. Pernyataan bahwa Bagus lebih mempercayai surga dibandingkan laut, merupakan bentuk kepercayaannya terhadap alur kehidupan dibandingkan balasan metafisis di akhirat kelak. Takdir tidak menjanjikan nasib baik hanya karena kita selalu berbuat baik, dan Bagus lebih memilih berpasrah atas takdirnya. Film Siti menawarkan akhir yang perlu diinterpretasikan oleh penonton, dan saya melihatnya sebagai tindakan Siti untuk mengadu nasib serta memasrahkan diri kepada laut.

Menonton dua film ini dan membandingkan kehadiran karakter tak terlihat dari keduanya, kita dapat melihat bagaimana tokoh dalam film tidak selalu memiliki wujud fisik. Namun, ia mempunyai kekuasaan yang sering kali tidak dapat dihadapi oleh para karakter manusia.

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Ahmad Fikri

COMMENTS

image
//