• Berita
  • Tidak Pulang di Musim Lebaran, Ketika Biaya Mudik Terlalu Tinggi untuk Perantau

Tidak Pulang di Musim Lebaran, Ketika Biaya Mudik Terlalu Tinggi untuk Perantau

Tingginya harga tiket pesawat dan perjalanan yang memakan waktu panjang membuat sebagian perantau memilih tidak mudik. Rindu kampung halaman harus ditunda.

Pemandangan mudik satu keluarga di atas satu unit sepeda motor kembali banyak ditemui di jalur selatan via Nagreg. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak.id)

Penulis Awla Rajul18 Maret 2026


BandungBergerak - Di tengah gegap gempita arus mudik yang menyambut lebaran 2026, tak semua perantau memutuskan pulang kampung. Keputusan itu muncul setelah menghitung ulang biaya mudik yang semakin membengkak, terutama harga tiket pesawat yang melonjak tajam menjelang hari raya.

Siti Dzakiyyah, 30 tahun, salah satu perantau di Bandung yang tidak mudik ke kampung halaman di Pekanbaru, Riau. Kia, demikian ia akrab disapa, mempertimbangkan banyak alasan atas pilihan pahit itu. Alasan pertama adalah hitung-hitungan ekonomi. Alasan lainnya adalah waktu, bertambahnya anggota keluarga, hingga alternatif mudik di luar musim lebaran.

“Sebenarnya belajar dari tahun kemarin, kayaknya sekali pulang ngabisin 10 juta rupiah (dua orang, pulang-pergi). Karena kita orang Bandung enggak punya pesawat yang direct Bandung-Pekanbaru kan. Travel ke bandara aja udah habis 200an,” cerita Kia, Rabu, 4 Maret 2026.

Musim mudik 2025 lalu, Kia merupakan salah satu dari 154 juta orang yang menyemarakkan mudik lebaran. Dari Bandung, ia pulang ke kampung halamannya menggunakan pesawat di Pekanbaru, Riau.

Kini anggota keluarganya bertambah satu, seorang putra. Ia mempertimbangkan waktu dan tenaga yang akan dikeluarkan ekstra jika mudik. Dari Bandung, mula-mula ia harus menggunakan perjalanan darat ke bandara Soekarno Hatta yang memakan waktu tiga hingga empat jam. Barulah kemudian melakukan penerbangan ke Pekanbaru.

Sayangnya, beberapa penerbangan yang relatif murah tersedia di pagi-pagi buta. Hal itu menuntut waktu dan persiapan yang matang, apalagi ia mesti membawa bayi. Ia menggambarkan, harga tiket pesawat ke Pekanbaru selama musim lebaran bisa mencapai 1,5 juta rupiah lebih. Naik sekitar 30 persen dari hari biasa sekitar satu juta rupiah.

“Ada yang pagi banget, jam empat subuh. Buset, aku harus bawa bocil dari jam berapa?” ungkap Kia bercerita, yang merantau ke Bandung sejak 2013.

Kia merantau pertama kali ke Bandung pada 2013 sebagai seorang mahasiswa. Selepas kuliah, ia mendapatkan kesempatan pekerjaan di Jakarta. Setelah menikah, ia menetap di Bandung dan bekerja di bidang komunikasi secara remot.

Sebenarnya, ada trik supaya harga tiket lebih murah, yaitu melalui penerbangan transit ke Kuala Lumpur. Namun cara ini juga menuntut waktu dan tenaga lebih banyak. Belakangan, karena cara ini ramai dipakai – kebanyakan oleh orang Sumatra – maskapai internasional melakukan perubahan harga tiket. Alhasil harga tiket transit melalui Kuala Lumpur hanya selisih sekitar 200 ribu rupiah dibandingkan penerbangan langsung dari Jakarta.

“Makanya tahun kemarin tuh pulangnya langsung direct aja Jakarta ke Pekanbaru,” tambahnya.

Selain melalui udara, pilihan lain untuk mudik ke Pekanbaru adalah menggunakan jalur darat dengan bis. Namun Kia tidak mempertimbangkan cara ini karena secara harga tiket memang lebih murah, tapi menuntut biaya lain, yaitu makan selama di perjalanan.

Kia pun mempertimbangkan untuk mudik di luar musim lebaran saja di tahun ini. Selain biaya yang dikeluarkan akan lebih sedikit, suasana pulang kampung tidak akan disemarakkan oleh kemacetan arus mudik, bandara yang relatif lebih sepi, dan pembawaan yang tidak terburu-buru.

“Kita rencananya kumpul-kumpul aja, atau mau naik gunung yang dekat-dekat, rekreasi yang dekat-dekat ajalah pokoknya,” ungkapnya.

Selain itu, sebenarnya Kia punya harapan agar Bandara Husein Sastranegara beroperasi lagi seperti sedia kala. Kini bandara itu hanya menyediakan beberapa pilihan rute di Pulau Jawa menggunakan pesawat komersial kapasitas kecil.

Jika bandara ini beroperasi lagi dan menyediakan banyak rute, biaya mudik dari Bandung otomatis akan lebih murah. Waktu dan tenaga yang dikeluarkan juga lebih sedikit, dibandingkan harus melalui bandara Soekarno Hatta di Cengkareng.

Namun demikian, Kia tidak terlalu risau karena tidak mudik lebaran. Desember 2025 lalu, ia menyempatkan diri pulang untuk melepaskan rasa rindu pada kampung halaman dan orang-orangnya.

“Idulfitri sebenanrya momen ngumpul sama keluarga, selagi masih ada orangtua gitu ya. Kapan lagi gitu, apalagi setiap Idulfitri itu ngumpul keluarga besar. Jadi memang momen ngumpul. Pengen sih mudik, tapi, in this economy, kayaknya belum, deh,” kata Kia sambil terkekeh.

Baca Juga: Mudik: Ritual Komodifikasi Kerapuhan Kelas Pekerja
Mudik sebagai Dongeng Pembangunan

Umat melaksanakan salat Idula Fitri 1 Syawal, 30 Maret 2025, di halaman parkir gedung Graha Emerald, Bandung. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)
Umat melaksanakan salat Idula Fitri 1 Syawal, 30 Maret 2025, di halaman parkir gedung Graha Emerald, Bandung. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

Terbatas Pilihan Udara dan Laut

Sahlan, 29 tahun, seorang desainer grafis, perantau asal Bau Bau, Sulawesi Tenggara juga memlih tidak mudik di musim lebaran Idulfitri tahun ini. Alasan utamanya juga tidak jauh-jauh dari persoalan finansial dan waktu.

“Jadi mau enggak mau pilihan paling realistisnya sih pulang di lain waktu setelah lebaran. Saya biasanya ngegantinya di lebaran Iduladha,” kata Sahlan, Kamis, 5 Maret 2026.

Sahlan sudah tiga tahun tidak pulang kampung di momen lebaran Idulfitri. Menurutnya, kenaikan harga tiket di musim ini tidak “worth it”. Di momen biasa, harga tiket penerbangan ke Bau Bau dari Jakarta sekitar 1,8-2 juta rupiah. Sementara pada high season, seperti lebaran atau akhir tahun, harganya mencapai 3-3,5 juta rupiah.

Ada pilihan lain, yaitu menggunakan kapal laut melalui Tanjung Priok. Harganya memang jauh lebih murah, sekitar 800 ribu rupiah. Namun waktu perjalanannya panjang, tiga hari empat malam. Untuk pulang ke kampung halamannya di Sulawesi, pilihannya hanya tersedia jalur udara dan laut.

“Kerjaan saya online memang, tetapi intens komunikasinya. Jadi enggak bisa naik kapal, di tengah laut pasti jaringan akan susah. Sedangkan naik pesawat komunikasi bisa lancar, karena cepat, tetapi harganya yang tidak worth it,” ceritanya.

Sahlan pertama kali merantau ke Bandung di tahun 2014 sebagai seorang mahasiswa. Selepas kuliah, ia memutuskan berkarier di Bandung lantaran kesempatan kerja di bidangnya lebih menjanjikan di Pulau Jawa dibanding di kampung halamannya.

Sahlan menyebutkan, pilihan penerbangan ke Sulawesi, selain mahal, memang tidak banyak. Jadi, penerbangan melalui bandara Soekarno Hatta memang yang paling diandalkan. Namun demikian, ia mengkritik harga tiket pesawat domestik yang lebih mahal dibandingkan harga tiket pesawat internasional, misal ke Thailand maupun Kuala lumpur.

Jika dihitung-hitung, untuk pulang di musim lebaran Idulfitri, ia perlu merogoh kocek biaya transportasi saja sekitar 7-8 juta rupiah untuk satu orang, pulang-pergi. Angka itu sebenarnya masih bisa diusahakan bagi seorang lajang. Namun untuk yang sudah berkeluarga, akan lain ceritanya.

“Hampir delapan juta rupiah, belum oleh-olehnya,” kata Sahlan sambil tertawa. “Keluarga kita mungkin nungguin sosok anaknya yang pulang. Tapi keluarga lain kan biasanya nungguin oleh-olehnya.”

Ia rindu dengan suasana lebaran Idulfitri di kampung halaman. Itu bukan hanya momen kumpul bersama keluarga, tetapi juga momen bertemu dengan keluarga besar dan teman-teman yang juga merantau ke berbagai daerah.

“Idulfitri itu tempat kita ngobrol sama keluarga, enggak perlu ngeliat waktu, enggak perlu nunggu ada pembahasan tertentu. Mau sesederhana apa pun makanannya akan sama nikmatnya. Tidak ada yang berbeda mau orangtua cuma masak ikan aja aja misalnya. Karena yang kita nikmati momennya,” ungkap Sahlan.

Namun demikian, bulat sudah keputusan Sahlan tidak mudik di musim lebaran. Sebagai gantinya, ia akan pulang ke kampung halaman setelah Iduladha, untuk memecahkan celengan rindunya.

Tahun 2025 lalu, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mencatat sebanyak 154.623.632 orang yang melakukan mudik selama musim lebaran. Angka itu mencapai lebih dari setengah populasi penduduk Indonesia.

Musim lebaran tahun ini diprediksi akan berlangsung pada 13-19 Maret dan arus baliknya sekitar 24-30 Maret. Kementerian Perhubungan memprediksi jumlah pemudik di tahun ini akan mencapai sebanyak 143,9 juta orang.

Persoalan Tiket Maskapai Domestik

Bukan hanya Kia dan Sahlan, perantau yang tidak pulang di musim lebaran. Banyak perantau lainnya yang memilih tidak pulang atas berbagai alasan. Namun harga tiket domestik yang lebih mahal dibanding tiket penerbangan internasional sudah sering menjadi persoalan. Ini pula yang kerap membayangi para perantau dalam pertimbangannya pulang ke kampung halaman.

Belakangan, ketika bencana Sumatra, banyak yang mengkritik harga pesawat dari Jakarta ke Medan bisa mencapai delapan juta untuk satu kali penerbangan. Kabar ini kembali ramai, ketika Menteri Kesehatan Budi Gunadi mengeluhkan ini waktu hendak mengirimkan relawan ke Aceh untuk membantu korban banjir dan longsor. Relawan dari Kemenkes itu lantas melalui jalur transit ke Kuala Lumpur.

Anggota Komisi V DPR RI Fraksi PKS, Saadiah Uluputty menyoroti mahalnya tiket domestik. Ia menyebutkan, keluhan tiket domestik yang mahal sudah dikeluhkan berulang kali oleh publik.

Ia mendorong pemerintah untuk melakukan penyesuaian kebijakan, termasuk evaluasi tarif batas atas dan batas bawah. Ia juga menyarankan untuk meninjau ulang beban fiskal yang selama ini melekat pada penerbangan domestik.

“Kondisi ini tentu tidak ideal. Kami berharap pemerintah dapat melakukan penyesuaian harga tiket penerbangan domestik agar lebih terjangkau,” kata Saadiah, dikutip dari siaran pers MPR RI.  

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//