• Berita
  • Ngariung Wanoja: Suara Perempuan yang Menolak Diam dalam Menghadapi Kekerasan

Ngariung Wanoja: Suara Perempuan yang Menolak Diam dalam Menghadapi Kekerasan

Ruang diskusi Ngariung Wanoja menjadi tempat bagi perempuan untuk berbagi kisah tentang kekerasan, diskriminasi, dan perjuangan mereka. Menumbuhkan solidaritas.

Diskusi Ngariung Wanoja di Bunga di Tembok, Bandung, 8 Maret 2026. (Foto: Insan Radhyan/BandungBergerak)

Penulis Insan Radhiyan Nurrahim, 16 Maret 2026


BandungBergerak - Diskusi Ngariung Wanoja di Bunga di Tembok, Bandung menjadi ruang berbagi cerita yang selama ini terpendam di antara sesama perempuan. Para peserta duduk melingkar, saling berbagi pengalaman yang belum pernah mereka ungkapkan sebelumnya.

Diskusi ini mulai membuka kenyataan bahwa menjadi perempuan di Indonesia berarti masih harus menghadapi berbagai kerentanan—baik di rumah, di tempat kerja, maupun di ruang publik. Cerita-cerita yang disampaikan mencerminkan kenyataan bahwa banyak perempuan masih berjuang untuk didengar dan dihargai.

Ananda S. Aryani, salah satu penyelenggara Forum Jakatarub, menjelaskan tujuan diadakannya forum ini. Bagi mereka, forum ini bukan hanya untuk memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women's Day), tetapi untuk menciptakan ruang aman bagi perempuan agar bisa saling mendengar dan memberi validasi.

Ananda yang juga aktif mendampingi kasus kekerasan seksual di Bandung, mengakui pentingnya menyediakan ruang bagi para korban untuk memulihkan diri tanpa takut dihakimi.

Dalam pertemuan ini, beragam isu muncul—dari relasi keluarga, kekerasan dalam rumah tangga, hingga masalah lebih luas seperti femisida. Ananda juga menyoroti bahwa banyak narasi perempuan yang masih dianggap sebelah mata atau bahkan disalahkan.

“Narasi perempuan sering kali dijadikan objek dan tidak didengar,” tambahnya, 8 Maret 2026.

Meski demikian, solidaritas antar perempuan tumbuh melalui cerita-cerita ini. Forum seperti Jakatarub, Intimuda, Iteung Gugat, dan Koalisi Perempuan Indonesia menganggap ruang seperti ini sebagai tempat untuk saling menguatkan. Di sini, mereka bisa berbagi pengalaman dan mengingatkan satu sama lain bahwa cerita mereka perlu didengar.

Peringatan Hari Perempuan Internasional di Bandung 2026 menunjukkan bahwa perjuangan perempuan masih panjang. Permasalahan perempuan yang harus dihadapi masih sangat kompleks—mulai dari kekerasan berbasis gender, ketimpangan di dunia kerja, hingga kerentanan perempuan di sektor pendidikan, media, dan industri kreatif.

Cerita Perempuan Hari Ini

Beberapa transpuan yang hadir dalam diskusi menceritakan kesulitan yang mereka hadapi ketika mencoba mendapatkan layanan kesehatan di fasilitas umum seperti puskesmas. Mereka juga berbagi pengalaman diskriminasi di tempat ibadah, yang seharusnya menjadi tempat inklusif bagi semua orang. 

“Tapi yang paling sakit hati itu ketika tiap Idulfitri, masih banyak banyak temen-temen transpuan yang dilarang solat ied karena dianggap najis dan haram oleh mereka (jamaah solat ied),” kata Ayumni, salah satu transpuan.

Diskusi juga menyoroti lambannya penegakan hukum dalam kasus kekerasan seksual. Banyak korban yang merasa tertekan oleh proses hukum yang panjang dan tanpa kepastian. Dalam beberapa kasus, laporan telah diajukan, tetapi proses penyelidikan berjalan dengan penuh tekanan, ancaman, dan gerak yang terbatas.

Menormalisasi Kekerasan

Dalam diskusi, banyak yang juga membahas bagaimana budaya patriarki memperburuk relasi kuasa antara laki-laki dan perempuan. Pemahaman tentang perempuan yang dianggap lemah dan patuh mengarah pada penyalahgunaan yang sering kali dinormalisasi. Peserta mengkritik bagaimana korban kekerasan sering kali dianggap “harus tampak lemah” atau bahkan disalahkan, terutama jika korban dianggap berpakaian tidak pantas atau tidak melawan. “Perfect victim” adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan anggapan bahwa korban harus memenuhi standar tertentu agar kisah mereka dipercaya.

Salah satu peserta, seorang siswi yang baru lulus dari SMA berbasis pesantren di Bandung, menceritakan pengalaman pelecehan verbal dan nonverbal yang dilakukan seorang guru. Meski kejadian ini dilaporkan, pihak sekolah hanya memberikan sanksi ringan berupa skorsing terhadap sang guru.

“Da bapa itumah emang udah kaya gitu,” ujar siswi tersebut, menirukan komentar guru yang menormalisasi pelecehan.

Baca Juga: Dari Femisida hingga Upah 500 Ribu Rupiah, Seratus Tuntutan Perempuan di IWD Bandung
Menolak Perampasan Suara Perempuan

Menghadapi Trauma dan Pemulihan

Nola (bukan nama sebenarnya) menceritakan perjalanan panjangnya sebagai penyintas kekerasan. Awalnya, ia menganggap hubungan yang penuh pertengkaran itu normal, namun seiring waktu, perasaan cemas dan ketakutan semakin mengganggu kesehariannya.

“Awalnya aku menganggap itu wajar. Roller coaster dalam hubungan, tapi lama-lama hari-hariku terasa seperti ada di medan perang,” kata Nola.

Nola akhirnya mencari pertolongan di Women Crisis Center (WCC) di Bandung. Proses pemulihannya tidak mudah. “Ada momen tiba-tiba nangis, gemetar, panik. Sampai pernah masuk IGD,” kata Nola.

Ia menyadari bahwa pemulihan bukan hanya tentang keluar dari situasi kekerasan, tetapi tentang proses panjang yang tidak selalu stabil.

“Yang dibutuhkan itu ruang aman untuk bercerita. Bukan langsung diberi solusi, tapi didengar dulu tanpa dihakimi,” jelasnya.

Pengalaman Nola mengingatkan bahwa kekerasan sering kali tidak datang dalam bentuk yang langsung dikenali sebagai bahaya. Ia justru menyelinap pelan melalui relasi yang awalnya dianggap wajar, dibungkus oleh kata “cinta”, “relasi kuasa”, atau sekadar “fase hubungan”. Banyak orang baru menyadarinya ketika tubuh sudah dipenuhi kecemasan, ketika hari-hari terasa seperti medan perang yang sunyi.

Cerita-cerita ini menunjukkan bahwa masalah memang datang dari pelaku, tetapi lingkungan sosial juga terlalu sering menormalisasi luka dan meminta penyintas untuk memaklumi segalanya. Karena itu, keberadaan ruang aman untuk bercerita bukan sekadar kebutuhan pribadi, melainkan bentuk perlawanan terhadap budaya yang selama ini lebih cepat menghakimi daripada mendengar.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//