RESENSI BUKU: Perlawanan Sunyi Kaum Hawa Melalui Cerpen
Antologi cerpen "Perempuan yang Menulis Langit dari Bandung" memperlihatkan bagaimana perlawanan tidak dengan teriakan, tetapi dengan bercerita.
Penulis Retna Gemilang19 Maret 2026
BandungBergerak - Ketika suara perempuan Bandung turut merekam, merawat, dan merayakan pengalamannya secara kolektif melalui sastra. Maka lahirlah antologi cerita pendek bertajuk "Perempuan yang Menulis Langit dari Bandung." Memuat 13 cerpen dari penulis perempuan dari beragam latar profesi dan generasi. Buku ini diterbitkan oleh Langgam Pustaka dengan Sindikasi Aksara sebagai co-publishing. Saat saya membaca buku ini, saya merasa dekat dan terhubung dengan cerita-ceritanya.
Melalui cerpen ini, ada pesan perempuan yang tersampaikan dengan baik, yaitu perlawanan. Perlawanan bukan dalam arti sempit pemberontakan. Tapi perempuan juga bisa melawan dengan merekam apa pun yang dilaluinya secara sunyi, yakni menulis. Dari seorang jurnalis, akademisi, pekerja seni, aktivis, mahasiswa, hingga pekerja domestik, mencerminkan realitas sosial dan polemik yang mereka alami di Kota Bandung.
Buku ini menyajikan 13 cerita pendek yang mudah dibaca. Mulai dari Mahasiswa Kok Gitu karya Salma Nur Fauziyah, Avatar karya Lupita Lestari, Nur karya Ahlan Sukma, Sasmita karya Ginaya Keisya, Dari Jubah Ini Aku Bicara karya Ranti Amalia Putri, Di Balik Tak Berceritanya Laki-Laki karya Nurlayla. Hingga judul Rumah Tanpa Atap karya Nuzulia Purwanto, Luka Kebebasan karya Tiwi Kasavela, Selamat Malam karya Suci Atmarani, Rawallangi, Gadis Penunggang Angin karya Foggy FF, Musim Bahagia karya Lisa Nurjanah, Sayap Cakrawala karya Kania, dan Pukul Setengah Tiga Dini Hari karya Vina Melisk.
Dari beragam judul dan cerita, saya pribadi menyukai Avatar yang mengisahkan tentang peran ganda yang melekat kuat dimiliki perempuan sebagai istri, ibu, dan juga karyawan. Ada juga judul Dari Jubah Ini Aku Bicara juga memiliki daya cerita khas, mulai dari kultur, agama, dan “mengeksploitasi” suara perempuan atas dasar kepatuhan.
Peran Ganda Perempuan
Kisah Avatar diawali dengan keseharian rutin Anita. Bangun pagi, mengurus bayinya, memasak sarapan, menyiapkan baju dan perlengkapan kerja suami hingga dirinya, mengantar bayi untuk dititipkan di orang tua Anita, dan berangkat kerja bersama. Saban hari ia lakoni kesibukan pagi itu. Belum lagi kesibukan kantor yang membuatnya sering lembur.
Meski Anita dan suaminya bekerja, keuangan bulanan tetap saja belum bisa menutup kebutuhan rumah tangga. Apalagi untuk membayar asisten rumah tangga (ART). Tentu fenomena ini menggambarkan realitas sosial masa kini. Bagaimana kaum menengah begitu terjepit dengan penghasilan yang tidak sebanding dengan pengeluaran bulanan yang terus membengkak. Sehingga memaksa Anita turut berkontribusi menambah penghasilan. Ia memilih menjadi penyeimbang segala elemen, Avatar dengan peran gandanya: istri, ibu, dan juga karyawan.
"Pendapatan, emosi, tenaga, dan keharmonisan, semua elemen itu harus ia kuasai supaya kehidupannya terus stabil. Sedikit saja ia limbung, rasanya seluruh keseimbangan juga bisa runtuh," (halaman 18).
Di saat yang sama, Anita mengalami kelelahan fisik dan mental yang luar biasa, menahan semuanya agar tetap seimbang. Hingga mempertanyakan eksistensinya sebagai Avatar. Mengapa Sang Pencipta tidak memihak perempuan? Pikirannya meliar, benarkah Dia perempuan? Ia tidak ingin dihadiahi apa pun, melainkan hanya dimengerti.
Semua keseharian dan pertanyaan ini layaknya dialami semua perempuan. Terasa dekat dan terkoneksi. Membuat kita sebagai pembaca pun ikut berpikir: Apakah pada akhirnya kita hanya akan berakhir menjadi Avatar?
Baca Juga: RESENSI BUKU: Teologi Negatif dan Mistisisme Kotor dalam Nabi Kesengsaraan
RESENSI BUKU: Novel Tengah Tengah, Cinta, dan Pilihan yang Tak Pernah Utuh
Kuasa Perempuan Terenggut dengan Kultur Agama
Sebagai negara yang menempati urutan pertama dengan populasi muslim terbesar di dunia, tentu kita sering melihat kaitannya agama dan kultur di Indonesia. Kultur budaya yang agamis ini sering kali merefleksikan bagaimana patriarki itu bekerja.
Kehadiran perempuan, bahkan suaranya begitu aurat. Pernyataan "perempuan harus tunduk dan tahu batasan" atau “taat tanpa mempertanyakan”, melanggengkan relasi kuasa perempuan begitu dibatasi. Bagi kebanyakan jemaah laki-laki, pernyataan ini sering ditelan bulat-bulat tanpa kembali dipertanyakan secara kritis. Menunjukkan bagaimana dominasi kuasa terekam kuat melalui forum kajian atau halaqah.
Hal ini tergambar jelas melalui tokoh Raras Saraswati dalam judul cerpen “Dari Jubah Ini Aku Bicara”. Raras tumbuh berbeda dari perempuan lainnya, karena terlalu vokal menyuarakan haknya. Ia dianggap sebagai simbol pembangkangan, sedang kultur mereka tak suka perempuan yang melawan.
Raras tinggal bersama keluarganya dan hidup berkomunitas di Laskar Umat secara agamis yang dipimpin oleh Guru Usamah. Di lain waktu, Raras dijodohkan secara sepihak dengan laki-laki yang tak pernah ia kenal. Pada ibunya, Sukarsih, ia menolak keras. Pada bapaknya, Koswara, ia melawan dengan mengurung diri di kamar saat prosesi lamaran. Pada gurunya, Usamah, ia berdiri tegak menyuarakan hak perempuan di majelis klarifikasi akhlak.
“Program Syiar Rumah Berkah adalah sistem jodoh paksa. Saya bukan menolak agama. Saya menolak diperkosa atas nama agama,” (halaman 48).
Ibunya takut, namun di lain sisi ia bangga dengan keteguhan anaknya. Sukarsih merasakan hal serupa saat ia dijodohkan dengan Koswara saat masih muda. Tapi ia menyerah dan memilih mengikuti arus. Sukarsih bangga karena rantai pola itu mulai terputus dari gerakan yang diinisiasi oleh Raras.
Bukan cuma menyadarkan ibunya, suara Raras ternyata membangun kesadaran jemaah perempuan lain, teman hingga gurunya. Pergerakan “Sajadah Perempuan” mulai tumbuh dengan membuat diskusi dan kajian tafsir secara diam-diam, namun perlahan merekah. Perlahan, pergerakan ini mulai mengancam Usamah atas hilangnya kendali sebagai yang dituakan. Raras kembali disidang, bahkan kini diskors secara moral. Ia diusir dari komunitas dan hidup terpisah.
Ibunya yang melihat perlawanan Raras, membuat jiwanya juga ikut tergerak. Ia akhirnya ikut bersuara di majelis bahwa semua perempuan sepakat atas ketidakadilan kuasa yang selama ini mereka alami.
“Jangan paksa kami diam. Karena kami ini juga makhluk Tuhan. Yang punya rahim, tapi juga punya nalar. Yang bisa melahirkan, tapi juga bisa memilih jalan hidupnya sendiri,” ujar Sukarsih (halaman 53).
Dari cerpen ini kita bisa melihat bahwa satu pergerakan kecil dapat memberikan makna yang berarti. Meski harus melawan kultur yang mengatasnamakan agama dan dilanggengkan tanpa kembali mempertanyakan. Raras dan Sukarsih menjadi tokoh perlawanan yang begitu kuat. Perlawanan tak selalu berupa menggulingkan rezim. Tapi juga bisa melalui kajian tafsir yang tidak maskulin dan berpihak kepada perempuan.
Informasi Buku
Judul Buku: Perempuan yang Menulis Langit dari Bandung
Penulis: Salma Nur Fauziyah, Foggy FF, Suci Atmarani, Tiwi Kasavela, Nuzulia Purwanto, Ranti Amalia Putri, Kania, Lisa Nurjanah, Ginaya Keisya, Sukma, Nurlailah, Lupita Lestari, Vina Melisk
Genre: Antologi Cerpen
Penerbit: Langgam Pustaka
Tebal buku: vii + 172 halaman
ISBN: 978-634-251-030-8.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

