RESENSI BUKU: Teologi Negatif dan Mistisisme Kotor dalam Nabi Kesengsaraan
Rifki Syarani Fachry dalam buku puisi “Nabi Kesengsaraan” sedang menggeser puisinya ke arah semacam teologi negatif.
Penulis Kim Al Ghozali15 Maret 2026
BandungBergerak – Nabi Kesengsaraan, buku puisi terbaru Rifki Syarani Fachry, mencolok sejak tampilan luarnya. Sampul bukunya bergambar seorang lelaki penuh borok di punggungnya–yang langsung membawa kita ke rujukan visual Ayub, nabi dalam tradisi Abrahamik, yang tubuhnya dipenuhi penyakit kulit sebagai ujian keimanan. Sedangkan di hadapannya seseorang lelaki berpakaian bersih namun wajahnya disembunyikan dengan ditempeli poster ikonik Juergen Klause, sekilas seperti keusilan estetik. Perjumpaan dua figur dalam sampul ini menyeret kita pada tanda: religuisitas dan estetika kotor akan mengisi halaman-halaman di dalamnya. Judulnya pun ditulis dalam dua aksara: Latin dan Arab pegon, sebuah pilihan yang menambah lapisan estetik sekaligus memberi isyarat bahwa pergulatan dengan tradisi tertentu akan menjadi urusan penting dalam buku ini. Lalu bagaimana dengan isinya, apakah benar seperti itu?
Buku ini dibuka dengan “Haliwawar”, puisi pendek yang segera membangun atmosfer: "Malam lilin / bulan belatung / Angin padamkan waktu / Anjing-anjing masih batu // Di layu / belajar bernafas, aku / Menghafal nama sendiri". Subjek “aku” muncul di tengah-tengah, di antara “anjing-anjing masih batu” dan “anjing-anjing itu bangun” di akhir tubuh puisi. Ia belajar bernafas dalam keadaan layu, menghafal nama sendiri seolah asing, menghitung berapa kali kematian mengulanginya. Aku sebagai subjek yang tak utuh, kehadirannya selalu dihantui kemungkinan ketidakhadirannya sendiri.
Pembelahan subjek menemukan momentumnya dalam puisi “Alpa”. “Aku” menghapus catatan lahir dan matinya sendiri yang “Kubuat kehidupan baru / yang kunamai ‘aku’ // Seorang nabi pertama / Di dunia / Hidup tanpa awal dan akhir / nasib dan takdir!" Alpa sebagai kesalahan, kelalaian, juga ketidakhadiran. Subjek menjadikan dirinya alpa dalam catatan keberadaan, lalu melahirkan “aku” baru yang merdeka dari nasib. Ironisnya, untuk menjadi nabi ia justru harus keluar dari seluruh narasi kenabian. Ia nabi tanpa wahyu, nabi bagi dirinya sendiri.
Dalam beberapa puisi di buku ini, Rifki sedang menggeser puisinya ke arah semacam teologi negatif. Ia tidak menghadirkan Tuhan sebagai sumber terang, sebaliknya Tuhan sebagai kekosongan yang terus berdenting di balik larik. Tuhan tampak sebagai retakan, sebagai bayangan yang tak kunjung selesai. Pembalikan sebagai pusat iman. Ketika subjek menasbihkan dirinya sebagai nabi yang tanpa awal dan tanpa takdir, ia sedang melakukan memperlihatkan bahwa ketuhanan hanya mungkin muncul melalui ketidakhadiran. Hal ini merupakan bentuk kenabian yang sunyi: nabi yang justru mengabarkan bahwa wahyu telah runtuh, dan dari reruntuhan itulah bahasa mulai bekerja kembali.
Pertanyaannya, mengapa harus nabi? Mengapa tidak memilih figur lain? Jawabannya mungkin karena nabi, dalam tradisi monoteistik, adalah yang menerima wahyu, berbicara atas nama Tuhan, menuntun umat. Dengan meminjam otoritas nabi lalu mengosongkannya dari semua muatan asli, Rifki melakukan semacam penodaan metodis. Yang suci dipinjam lalu dikembalikan dalam bentuk tak lagi dikenali. Dalam puisi judul “Nabi Kesengsaraan”, ia menulis: “Surga menangis melihatku hidup / Tuhan baik dan tuhan buruk meringkuk di larik puisi yang sama.” Tuhan yang baik dan buruk, yang meringkuk di larik yang sama! Mulai terlihat bahwa yang dicari bukan Tuhan yang tunggal dan maha sempurna, melainkan Tuhan yang remuk, yang tercerai-berai dalam bahasa.
Puisi “Mutaf” mempertegas keganjilan ini: “Aku dan kehidupan / adalah antonim yang mengubur / keberadaan / satu sama lain.” Mutaf yang berarti dimatikan. Subjek dan kehidupan tak mungkin hadir bersamaan; keberadaan satu hanya mungkin jika yang lain terkubur. Semacam pernyataan radikal: hidup bukan lawan mati, hidup melawan “aku”. Kesengsaraan bukan semata penderitaan, lebih dari itu adalah ketidakmungkinan untuk hidup sekaligus menjadi diri sendiri.
Kita melihat bagaimana Rifki membangun citraan-citraan yang secara konsisten mengaburkan batas sakral dan menjijikkan di Nabi Kesengsaraan ini. Dalam “Amitosis Surealis”: "Tuhan menyetubuhi mayat ibunya / –bayi kembar di rahimnya menangis / Iblis-malaikat bersujud melingkungi ranjang takdir." Ia mengkonstruksi mitologi baru di mana Tuhan berhubungan dengan mayat, melahirkan bayi yang menangis, disaksikan makhluk ganda. Sementara di dunia lain dalam puisi yang sama: "Anak-anak dikubur hidup-hidup orang tua mereka / Pria-wanita, tua-muda menyalib diri sendiri di lapangan upacara bendera." Yang personal dan politis bertemu dalam imaji yang sama-sama mengerikan.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Korpus Uterus, Peran Perempuan, dan Misi Penyelamatan
RESENSI BUKU: David Van Reybrouck dan Orang-orang Biasa di Panggung Sejarah Indonesia
RESENSI BUKU: Novel Tengah Tengah, Cinta, dan Pilihan yang Tak Pernah Utuh
Mistisisme dan Spiritualitas
Estetika Rifki menjelma menjadi semacam mistisisme kotor. Spiritualitas yang sengaja memilih tubuh-tubuh peyot, bangkai, dan nanah sebagai medium kontemplasi. Kesucian dalam puisi-puisi ini digulingkan ke lumpur agar dapat berbicara kembali. Bahasa pun terinkarnasi sebagai daging: bernanah dan terus mengeluarkan bau dunia. Larik-lariknya adalah luka. Di bawah permukaannya, kita membaca tubuh bahasa yang berusaha menjadi tuhan, sekaligus tubuh tuhan yang tak lebih dari serpih-serpih bahasa yang gagal mengenali dirinya sendiri.
"Kesedihan", puisi pendek untuk Arcos, bisa dibaca sebagai manifes emosional buku ini: "Kesedihan tak memiliki tanah air / Ia poliglot / Ia mondial." Kesedihan tak terikat identitas nasional atau sejarah tertentu. Ia bisa bicara berbagai bahasa, muncul kapan saja di antara kata-kata terbelah. Yang dipeluknya adalah "cinta / Perang dan kebebasan yang kalah"—bukan yang menang. Kesedihan sebagai afiliasi dengan yang kalah, dengan yang tersingkir. Di sini para “nabi kesengsaraan” menemukan tanah air bayangan mereka.
Salah satu puisi menarik untuk disorot adalah "Asylum", menjadikan rumah sakit jiwa sebagai metafora sentral: "Kesengsaraan adalah rumah sakit jiwa kosong yang kuhuni." Bayangan-bayangan bunuh diri duduk di kursi loket pengambilan obat, lorong-lorong bisu meniru tawa gila, jam-jam besuk keluarga melewatkan subjek. "Harapan dikunyah waktu yang lapar / Ranjang-ranjang besi ditiduri revolusi / & puisi." Dan di akhir: "& tuhan placebo!" Placebo obat palsu yang bekerja karena keyakinan. Tuhan adalah obat palsu yang tak menyembuhkan apa-apa. Subjek yang menghuni rumah sakit jiwa kosong itu mungkin satu-satunya yang sadar akan kepalsuan ini, tapi kesadaran itu justru memperdalam sakitnya.
Dalam "Lapar", Rifki menggunakan sudut pandang “kami” untuk bicara tentang kelaparan kolektif–lapar fisik sekaligus lapar makna: "Kami akan mati / Sekarang / kami tak tahu apa yang harus kami lakukan." Kelaparan melumpuhkan hasrat, melumpuhkan arah. Di tengah keputusasaan, muncul permintaan absurd: “mengapa kalian tak menelan kami / lalu melahirkan kembali kami sebagai ular.” Menjadi ular yang menjaga pohon khuldi (pohon keabadian) adalah hukuman abadi, tapi sekaligus perlawanan: mereka akan terus menghafal hasutan dan memuja Tuhan meskipun itu tak membuat mereka merasa lebih baik.
Perlu ditanyakan, apakah semua puisi mencapai intensitas yang diinginkan? Di beberapa tempat, terutama puisi pendek seperti “Jakarta” yang hanya dua baris: "Kemacetan ini entah / menuju ke pemakaman siapa." Kita menemukan kekuatan lewat penyederhanaan ekstrem. Tapi di tempat lain, saat citraan “gelap” digunakan berulang (mayat, darah, neraka, bunuh diri), ada risiko kelelahan pembaca. Intensitas bisa melandai jika tak ada kontras, jika setiap puisi bicara dalam nada yang sama.
Rifki juga menggunakan idiom keagamaan spesifik dari tradisi Islam–na'im, sa'ir, mutaf, kuffar–dengan cara yang mungkin terasa eksklusif bagi pembaca tak akrab. Tapi ini tampak letak kekuatan sekaligus keterbatasan kumpulan puisi ini: ia menulis dari dalam tradisi, sehingga pergulatannya dengan tradisi itu terasa otentik. Sebauh pergumulan menyakitkan karena dilakukan dengan bahasa yang sama yang hendak digugat.
Nabi Kesengsaraan mencoba menjawab pertanyaan: ke mana perginya Tuhan ketika ia tak lagi dipercaya tapi juga tak bisa dilupakan? Jawaban Rifki: Tuhan dibuang ke dalam puisi. Di sana ia berkumpul dengan mayat-mayat nabi, iblis-iblis yang menangis, pelacur-pelacur dari surga. Tapi puisi bukan tempat pembuangan netral. Di dalamnya, Tuhan terus bergerak, berubah bentuk. Ironi: untuk membunuh Tuhan, Rifki harus terus menulis tentang Tuhan. Untuk melupakan agama, ia harus terus menggunakan bahasa agama.
Maka bayangkan yang ditawarkan buku ini sebenarnya ruang tinggal: rumah sakit jiwa yang kosong, lalu kita huni bersama bayangan-bayangan bunuh diri dan tuhan-tuhan yang sudah mati. Dan seperti kata puisi "Ironi": "Puisi adalah dosa / Terbakar bersamaku di neraka." Mungkin itulah nasib para nabi kesengsaraan: terbakar bersama puisi yang mereka tulis, di neraka yang mereka ciptakan sendiri.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

