RESENSI BUKU: David Van Reybrouck dan Orang-orang Biasa di Panggung Sejarah Indonesia
Kisah sejarah di buku Revolusi karya David van Reybrouck terasa lebih hidup dan kekinian karena menghadirkan orang-orang biasa yang tersisih dari panggung sejarah.
Penulis Naufal Al-Zahra1 Maret 2026
BandungBergerak.id – Sebuah pepatah klasik sering kali disebut-sebut ketika masyarakat awam sedang membincang sejarah, history is written by the victors (sejarah ditulis oleh para pemenang), katanya. Siapakah para pemenang yang dimaksud? Biasanya mereka adalah orang-orang penting. Para pemimpin politik, panglima perang, dan pihak-pihak yang dicitrakan sebagai peniup angin perubahan positif bagi suatu komunitas masyarakat. Namun, belakangan, pepatah klasik tentang sejarah itu mulai terlihat kehilangan relevansinya.
Beberapa tahun terakhir, kita disuguhkan dengan publikasi kajian sejarah yang menghadirkan orang-orang biasa di balik ramainya panggung sejarah peradaban manusia. Salah seorang penulis yang membahas sepak terjang orang-orang biasa ini antara lain adalah David Van Reybrouck, Sejarawan Belgia lewat bukunya berjudul Revolusi: Indonesia and the Birth of Modern World (2020) yang baru saja diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 2025 lalu.
Sebagaimana tajuknya, buku ini menyoroti dinamika babak sejarah yang dialami Indonesia pada masa Revolusi yang bergulir sejak 1945 dan pengaruhnya bagi dunia modern. Namun, dengan gaya penuturan cerita yang khas, ia mengajak pembaca supaya memahami dulu konteks revolusi Indonesia dengan cara flashback ke Masa Kolonial Hindia Belanda dan Masa Pendudukan Tentara Jepang.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Merayakan Pertemuan Singkat dalam Funiculi Funicula
RESENSI BUKU: Student Hidjo, Seruan Kesetaraan di Balik Alur yang Datar
RESENSI BUKU: Korpus Uterus, Peran Perempuan, dan Misi Penyelamatan
Kapal Uap dan Ketimpangan Masyarakat Kolonial
Di sinilah, keunikan gaya menulis David mulai terungkap. Mula-mula ia membahas kerangka ketimpangan masyarakat kolonial yang dianalogikan ke dalam sebuah kapal uap. Siapa pun yang sudah membaca Revolusi, ia akan ingat dengan analogi tersebut karena berulang kali disebut. David mengilustrasikan kapal uap yang terdiri atas tiga dek. Melalui dek-dek kapal uap itu, ia terangkan tamsil kelas sosial masyarakat kolonial Hindia Belanda.
Dek kapal uap paling atas digambarkan sebagai kelas sosial elite Belanda, orang-orang kulit putih, dan para bangsawan yang beraliansi dengan mereka. Penghuni dek kapal kelas satu ini menikmati aneka hak istimewa dalam struktur masyarakat kolonial, seperti akses pendidikan yang eksklusif dan pendapatan ekonomi yang amat melimpah.
Sementara, dek kapal uap kedua ditamsilkan kelas sosial menengah yang terdiri dari bangsawan pribumi yang biasa saja, namun mendapatkan keuntungan berupa akses terhadap pendidikan sehingga menjadi kaum terpelajar. Beberapa model penghuni dek kelas dua ini antara lain seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Sjahrir. Mereka dilahirkan dari keluarga yang berkecukupan atau paling tidak, mempunyai latar sebagai pegawai rendah birokrasi kolonial. Karena mampu membaca masalah ketimpangan, penghuni dek ini tampil sebagai elite baru yang mewakili suara penghuni dek kelas tiga terhadap penghuni dek kelas satu.
Dek kapal uap ketiga yang diilustrasikan David menjadi ranah yang dihuni oleh mayoritas kaum bumiputra. Ia melukiskan dek ini dengan orang-orang biasa, yang tidak mempunyai akses terhadap pendidikan maupun sumber daya di bawah kuasa kolonial Hindia Belanda. Mungkin saja, penghuni dek kapal kelas tiga ini adalah kakek maupun nenek kita yang pernah merasakan hidup menderita. Akibatnya, penghuni dek paling bawah ini, kesulitan untuk mengubah nasib mereka. Satu-satunya cara paling memungkinkan untuk meningkatkan taraf hidup mereka ialah melalui aliansi dengan penghuni dek kelas dua.
Kekuatan Sumber Sejarah Lisan
Penggambaran David atas kondisi sosial ini dipoles dengan perspektif baru para narasumber yang merupakan pelaku atau saksi sejarah yang notabene orang-orang biasa. Sekilas, Revolusi kelihatan seperti mengulang riset sejarah revolusi Indonesia, namun kalau dicermati ia justru memberikan warna baru karena David mencoba menghadirkan dan mengolah kesaksian melalui sumber-sumber lisan.
David hilir mudik mengunjungi banyak negara untuk menjumpai para narasumber. Tidak kurang dari 20 orang pelaku dan saksi sejarah ia temui. Dari Belgia menuju Belanda, lalu terbang ke Indonesia, bertolak ke Nepal, kemudian melanglang sampai ke Jepang. Beberapa narasumber yang sukses ia minta kesaksiannya antara lain para veteran tentara Belanda dan Jepang, prajurit Inggris-Gurkha, saksi hidup masyarakat masa kolonial, hingga pelaku sejarah pergerakan dan revolusi yang masih hidup sampai abad ke-21. Alhasil, karena membawa kesaksian orang-orang biasa, buku ini cenderung bisa menyentuh sisi emosional para pembacanya.
Gambaran suasana hati para pelaku sejarah dilukiskan sedemikian rupa. Misalnya, David mengutip wawancara Soenaryo Goenwiradi, yang saat muda ikut perekrutan Heiho pada masa Pendudukan Jepang di Yogyakarta.
“Jepang itu pintar sekali! Bapak saya Muslim, tetapi siapa saja boleh masuk. Mereka sangat toleran. Setiap hari, bapak melatih para pemuda. Saya tertarik! Saya sehat, tetapi saya masih terlalu muda. Suatu hari, ada perekrutan besar-besaran di seberang Museum Sonobudoyo. Saya rasa Jepang butuh banyak tentara. Saya mendaftar dan diterima. Saya senang sekali. Umur saya baru empat belas tahun! Mereka bilang kepada kami, ‘Belanda itu penjajah’.”
Berbeda dengan buku Revolusi dan Nasionalisme Indonesia karya George McTurnan Kahin yang sekarang sudah tampak bergaya old school, buku Revolusi buah pena David van Reybrouck lebih hidup dan kekinian karena menghadirkan orang-orang biasa yang tersisihkan dari panggung sejarah. Sentuhan hidup ini terlihat jelas melalui kesaksian yang diolah dan dipadukan dengan gaya story telling David. Membaca karya ini, kita seolah-olah sedang diajak membaca buku novel sejarah Indonesia.
Informasi Buku
Judul: Revolusi: Indonesia dan Lahirnya Dunia Modern
Penulis: David van Reybrouck
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Genre: Sejarah
Tahun Terbit: 2025
Tebal Halaman: 730 hlm
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

