RESENSI BUKU: Student Hidjo, Seruan Kesetaraan di Balik Alur yang Datar
Seruan kesetaraan dalam novel Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo dianggap mencoreng wibawa pemerintah kolonial sehingga dicap sebagai "bacaan liar".
Penulis Muhamad Faqih15 Februari 2026
BandungBergerak.id – Sebagian orang mungkin sudah familier dengan nama Mas Marco Kartodikromo dari novel Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Anata Toer. Mas Marco Kartodikromo adalah seorang jurnalis asal Blora. Dalam karier jurnalistiknya, Mas Marco sering keluar masuk penjara. Sebab, ia sering melemparkan kritik tajam kepada pemerintah kolonial Belanda lewat tulisan-tulisannya.
Novel berjudul Student Hidjo karya Mas Marco Kartodikromo adalah salah satu media untuk menyampaikan kritiknya terhadap pemerintah kolonial. Novel ini sebenarnya kumpulan cerita bersambung yang dimuat di surat kabar Sinar Hindia pada 1918. Cerita bersambung itu kemudian dibukukan oleh penerbit N.V. Boekhandel en Drukkerij Masman & Stroink di Semarang tahun 1919.
Student Hidjo memuat kisah keseharian seorang lulusan HBS bernama Hidjo yang berlayar meninggalkan Solo demi melanjutkan pendidikannya di Belanda. Ayahnya ingin Hidjo melanjutkan sekolahnya di Belanda supaya orang lain menghormati keluarga mereka.
“Kadang-kadang saudara kita sendiri, yang juga turut menjadi pegawai Gouverment, dia tidak mau kumpul dengan kita. Sebab dia pikir derajatnya lebih tinggi daripada kita yang hanya menjadi saudagar atau petani. Maksud saya mengirimkan Hidjo ke Negeri Belanda itu, tidak lain supaya orang-orang yang merendahkan kita bisa mengerti bahwa manusia itu sama saja. Buktinya anak kita juga bisa belajar seperti regent-regent dan pangeran-pangeran”.
Dari perkataan ayah Hidjo, Mas Marco menunjukkan bagaimana di era kolonial pendidikan dipandang sebagai jalan untuk mengangkat martabat dan status sosial. Agaknya, pandangan itu masih terasa hingga kini. Saya masih melihat sebagian orang mengejar kampus-kampus bergengsi tetapi bukan demi pengetahuan atau pengembangan diri, melainkan demi gengsi dan validasi.
Setelah tinggal di Belanda, perilaku Hidjo perlahan-lahan berubah. Ia tidak lagi mengenal batasan dalam bergaul dengan gadis Belanda bernama Betje.
Hal yang terlintas selama saya membaca novel ini adalah Hidjo itu orang yang hoki. Sebab, Ia selalu didekati dan diajak jalan-jalan oleh perempuan-perempuan cantik, baik gadis Jawa ataupun Belanda.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Bisri Muhamad dan Mawar Tanpa Mengapa
RESENSI BUKU: Serigala Betina, Perempuan Liar, dan Perempuan Penyihir
RESENSI BUKU: Merayakan Pertemuan Singkat dalam Funiculi Funicula
Gambaran Westerninasi Bumiputra
Novel ini memberikan kita sedikit gambaran bagaimana kehidupan zaman Politik Etis di Jawa. Politik Etis sesungguhnya adalah upaya pembaratan atau westernisasi pribumi oleh pemerintah kolonial. Sekolah-sekolah yang dibangun Belanda di Hindia Belanda adalah sarana untuk memperkenalkan budaya Eropa kepada pribumi.
Budaya atau adat Eropa yang diperkenalkan lewat sarana pendidikan itu mulai mempengaruhi bahasa, etika bergaul, dan cara berpakaian pribumi. Dengan demikian, tak heran jika kita menjumpai Hidjo dan tokoh lainnya sering berbicara dalam bahasa Belanda.
Membaca Student Hidjo jangan harap kita disuguhkan sebuah kisah yang serumit, penuh plot twist, dan konflik dramatis yang menegangkan. Novel yang digadang-gadang sebagai pelopor sastra perlawanan ini tentu mengundang ekspektasi yang tinggi. Saya sendiri pada awalnya mengira novel ini akan mengisahkan pergolakan masa pergerakan nasional.
Setelah rampung saya membaca, ternyata kisah novel ini lebih berfokus pada kisah asmara si Hidjo. Sarekat Islam sempat muncul menggelar Vergadering di Sriwedari, Solo tapi tidak berdampak apa-apa pada jalan cerita. Hubungan percintaan antara Hidjo dengan perempuan-perempuan yang ia kenal juga tidak menjadi konflik. Klimaks alur ceritanya pun terkesan kurang nendang. Maka dari itu, tidak berlebihan jika saya menyebut kisah Student Hidjo ini datar.
Tetapi, menurut saya, bayangan kita tentang zaman penjajahanlah yang terlalu jauh dari kenyataan. Bagi sebagian orang, zaman penjajahan Belanda dibayangkan sebagai zaman yang penuh penindasan. Karena memang, narasi sejarah Indonesia yang ada dalam mata pelajaran sejarah cenderung menampilkan orang Indonesia sebagai objek yang ditindas dengan kejam oleh orang Belanda, seperti yang tampak pada narasi sistem tanam paksa.
Pembayangan seperti itu tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak benar. Penindasan Belanda sesungguhnya tidak selalu tampak terang-terangan lewat kekerasan langsung. Penindasan Belanda lebih bersifat sistematis, yaitu lewat aturan legal pemerintah. Misalnya, hukum yang lebih berpihak kepada orang Belanda atau sekolah yang hanya boleh dimasuki pribumi golongan atas.
Seruan Kesetaraan
Kisah Student Hidjo memang terkesan datar jika dibaca di zaman sekarang. Namun, jika kita membayangkan kondisi sosial pada zaman itu, Mas Marco sebenarnya menyuarakan isu kesetaraan. Seruan kesetaraan ini pula yang membuat novel ini dianggap mencoreng kewibawaan pemerintah kolonial sehingga dicap sebagai "bacaan liar".
Sistem kolonial kala itu membentuk kesadaran mutlak bahwa kaum pribumi adalah kaum rendahan. Melalui novel inilah Mas Marco mencoba merekonstruksi ulang kesadaran pribumi bahwa orang Belanda maupun pribumi itu sejatinya setara, sama-sama bisa berperilaku buruk, miskin, dan doyan selingkuh.
Kisah perselingkuhan tokoh Belanda bernama Walter, seorang Controleur Djarak, mengandung pesan bahwa orang Belanda juga bisa berselingkuh. Dalam kisah perselingkuhan itu, sang Controleur tega meninggalkan istrinya begitu saja yang sedang hamil karena jatuh cinta dengan perempuan bangsawan Jawa, Woengoe.
Namun, kisah barusan tidak secara langsung menyampaikan pesan kesetaraan. Mas Marco malah menyampaikan isu kesetaraan secara blak-blakan melalui adegan pertemuan antara kedua orang Belanda, Controleur Walter dan Sergeant Djepris, alih-alih melalui jalan cerita Hidjo sebagai tokoh utamanya.
Terlepas dari itu semua, mungkin kisah perselingkuhan Controleur Walter dan pertemuannya dengan Sergeant Djepris itu ditulis karena Mas Marco melihat pribumi memiliki sifat inferior yang tinggi kala itu. Orang Belanda adalah orang yang lebih beradab dalam pikiran kaum pribumi. Mas Marco bermaksud mengubah pandangan kaum pribumi yang inferior itu melalui Student Hidjo.
Informasi Buku
Judul: Student Hidjo
Penulis: Mas Marco Kartodikromo
Penerbit: Narasi
Jumlah halaman: vi + 186 hlm
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

