RESENSI BUKU: Korpus Uterus, Peran Perempuan, dan Misi Penyelamatan
Novel Korpus Uterus karya Sasti Gotama rasanya cukup berhasil membuat kembali merenungkan dan memaknai ulang kepemilikan tubuh dan peran perempuan.
Penulis Devi Israeni22 Februari 2026
BandungBergerak.id – Beberapa waktu lalu, saya membaca sebuah novel berjudul Korpus Uterus karya Sasti Gotama. Karya Sasti ini cukup banyak berseliweran di FYP TikTok saya dan dengan bahasan sinopsis yang menarik. Berkisah tentang Panuluh, anak laki-laki yang lahir pada tahun 1966 dari Ibu bernama Kalimah, seorang korban pemerkosaan. Panuluh beberapa kali coba digugurkan oleh Kalimah, namun gagal. Akhirnya pada percobaan yang entah ke berapa, Kalimah memilih menyerah dan membiarkan Panuluh tumbuh suka-suka di dalam rahimnya.
Dibesarkan tanpa kehangatan dan kasih sayang, Panuluh kemudian mencari jalannya sendiri. Takdir membawanya bertemu dengan keempat perempuan penghuni Gang Dolly–yak, gang yang itu. Saat tumbuh besar, Panuluh bertekad menjadi ahli aborsi. Motivasinya kuat, untuk menyelamatkan para janin agar tidak lahir dari situasi yang tak memungkinkan bagi perempuan untuk menjadi ibu dan menyelamatkan para perempuan dari kehidupan yang tak mereka inginkan.
Rasanya, membaca dan memaknai Korpus Uterus sungguh campur aduk sekali. Sasti Gotama memberikan pembaca perspektif yang luas. Pertama, pembaca diajak melihat dunia dari kacamata Panuluh, seorang anak yang merasa dibuang dan diabaikan. Dari sudut pandang Panuluh pula, pembaca juga diajak memahami bagaimana nasib para perempuan yang menjadi korban kekerasan seksual, perempuan yang hanya dianggap sebagai alat reproduksi dan kehilangan nilai ketika tidak lagi sesuai dengan standar dan norma sosial.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Serigala Betina, Perempuan Liar, dan Perempuan Penyihir
RESENSI BUKU: Merayakan Pertemuan Singkat dalam Funiculi Funicula
RESENSI BUKU: Student Hidjo, Seruan Kesetaraan di Balik Alur yang Datar
Logika Hitam dan Putih
Lembar demi lembar, Sasti juga terus memotret berbagai realitas yang menghadirkan banyak perdebatan dan keberpihakan. Rahim dalam gambaran Sasti disuguhkan sebagai sesuatu yang dapat memberikan kehidupan, sekaligus kematian. Bukan hanya bagi sang janin, tapi juga bagi perempuan yang mengandung.
Dalam beberapa kisah yang dihadirkan, terutama dalam konteks kekerasan seksual, Sasti menyuguhkan dilema kepada para pembaca. Jika janin dipertahankan dan dilahirkan, perempuan yang mengandung kehilangan kehidupannya. Namun, jika perempuan berusaha mempertahankan hidupnya, maka sang janin tak pernah berkesempatan melihat dunia.
Pada titik inilah, Korpus Uterus tampil dalam logika hitam dan putih. Sasti seolah tidak memberi pembaca pilihan lain, berpihak pada sang janin atau pada perempuan yang oleh masyarakat segera diposisikan sebagai ibu. Keberpihakan ini juga mencerminkan diskursus lama soal perempuan dan tubuhnya, sebuah perdebatan yang berlangsung lintas generasi, mungkin sudah terjadi dari zaman neneknya nenek-nenek saya.
Seolah-olah tubuh dan peran perempuan milik bersama, milik kemaslahatan umat, milik moral dan norma sosial masyarakat. Maka ketika sang pemilik tubuh–perempuan itu sendiri, mengambil keputusan yang tidak sesuai dengan standar masyarakat, kebanyakan dari kita bising. Kita suka sekali cuap-cuap soal mana yang baik dan tidak baik, mana yang benar dan salah, mana yang boleh dan tidak boleh.
Persis seperti tokoh-tokoh yang ditampilkan Sasti dalam novelnya, mulai dari dokter, polisi, sampai jurnalis, semua sibuk memaparkan sudut pandang mereka tentang misi penyelamatan–menyelamatkan moral, menyelamatkan hidup sang janin, hidup sang ibu, sampai menyelamatkan rahim itu sendiri. Barangkali, memang perempuan perlu untuk diselamatkan. Karena saat terjadi kasus kekerasan seksual, banyak sekali perempuan yang sudah menjadi korban dan merugi, tapi masih harus mendapat nasihat kemanusiaan.
Peran Perempuan
“Menggugurkan sama dengan membunuh”, “kasian janin itu tidak bersalah” begitu kebanyakan kata mereka. Pada akhirnya, para korban harus berusaha menjalani hidup bersama jejak-jejak kekejian pelaku yang tumbuh subur dalam tubuh mereka. Perempuan dibuat seolah tidak punya pilihan, diatur sedemikian rupa agar tunduk pada apa yang dipilihkan. Perempuan menjadi korban relasi kuasa dalam masyarakat yang patriarkis.
Dari kisah Sasti juga tergambar realitas lain. Ketimpangan relasi kuasa pada akhirnya tidak hanya menempatkan perempuan sebagai korban, tapi juga menyeret janin ke dalam situasi yang sama. Keputusan atas tubuh dan peran perempuan kerap dipersempit dan dipilihkan oleh masyarakat. Maka dalam banyak situasi, perempuan dan janinnya kerap hadir sebagai subjek yang tidak memiliki ruang untuk memilih. Janin bahkan menjadi bagian dari konsekuensi tragis dari kekerasan dan ketidakadilan yang lebih besar.
Lalu, ketika para perempuan dalam kisah Sasti digambarkan memilih jalannya sendiri, muncul perdebatan baru soal peran perempuan sebagai ibu yang ideal. Apakah perempuan yang mengabaikan anak-anak mereka patut dipanggil ibu? Apakah perempuan yang dianggap tidak sesuai standar moral masyarakat, tidak boleh dipanggil ibu? Atau apakah para perempuan yang tak bisa memberi keturunan, tidak pantas menjadi seorang ibu?
Melalui novel Korpus Uterus, Sasti rasanya cukup berhasil membuat para pembaca kembali merenungkan dan memaknai ulang kepemilikan tubuh dan peran perempuan. Kepemilikan tubuh dan peran perempuan begitu kompleks, tak hanya dimiliki oleh perempuan itu sendiri. Sehingga barangkali benar bahwa tubuh dan peran perempuan akan terus menjadi diskursus dan misi penyelamatan yang tidak pernah berkesudahan dari sebuah sistem yang timpang.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

