RESENSI BUKU: Novel Tengah Tengah, Cinta, dan Pilihan yang Tak Pernah Utuh
Novel Tengah Tengah karya Valerie Patkar bukan sekadar novel romansa. Ia tentang manusia yang sulit berpihak. Ia berbicara tentang hidup yang tidak hitam putih.
Penulis Mikaela Dian Sasami8 Maret 2026
BandungBergerak.id – Novel Tengah Tengah karya Valerie Patkar hadir sebagai potret manusia modern yang hidup di wilayah abu-abu. Buku ini terbit 12 Maret 2025 oleh Bhuana Sastra dan langsung menarik perhatian pembaca urban. Ceritanya sederhana, tetapi lapis maknanya dalam. Maika hidup sebagai figur “di antara” yang sulit berpihak. Ia tidak sepenuhnya kalah, tetapi juga tidak pernah benar-benar menang. Hidupnya dipenuhi kompromi, penundaan, dan pengorbanan personal. Situasi ini terasa dekat dengan realitas sehari-hari masyarakat kota besar. Banyak orang hidup ragu, lelah, dan terjebak ekspektasi sosial. Novel ini membaca kegelisahan itu secara jujur dan emosional.
Kondisi Maika merefleksikan konsep people-pleaser dan self-effacement. Carl Rogers dalam On Becoming a Person (1961) menjelaskan konflik antara self-concept dan ideal self. Individu sering hidup demi penerimaan sosial. Identitas personal lalu terkikis perlahan. Maika mengalami konflik itu dalam bentuk yang sangat manusiawi. Ia memilih damai di luar, tetapi gaduh di dalam. Kondisi ini lazim pada generasi muda urban. Tekanan akademik, keluarga, dan relasi sosial membentuk identitas yang rapuh. Novel ini tidak menggurui, tetapi mengajak pembaca bercermin pelan-pelan.
Posisi “tengah-tengah” Maika dekat dengan gagasan ambiguitas eksistensial. Jean-Paul Sartre dalam Being and Nothingness (1943) menegaskan manusia terjebak antara kebebasan dan kecemasan. Hidup selalu berada di ruang antara pilihan. Maika hidup di ruang itu setiap hari. Ia tidak berani ekstrem, tetapi juga tidak sepenuhnya pasrah. Rio, sebaliknya, hadir sebagai figur eksistensial yang berani memilih. Ia hidup di ujung-ujung keputusan. Pertemuan keduanya membentuk dialektika psikologis yang menarik. Yang satu ragu, yang lain tegas. Yang satu menahan, yang lain melompat.
“Tengah-tengah” menjadi simbol identitas liminal. Victor Turner dalam The Ritual Process (1969) menyebut fase liminal sebagai ruang transisi identitas. Individu belum menjadi, tetapi juga bukan lagi. Maika hidup dalam fase liminal permanen. Ia tidak lagi anak, tetapi belum menjadi dirinya sendiri. Ia tidak sepenuhnya lemah, tetapi juga belum berdaya. Simbol ini kuat dan konsisten dalam narasi. Kota, ruang, dan relasi digambarkan sebagai zona antara. Bogor, Jakarta, dan New York menjadi metafora perpindahan identitas.
Relasi Maika dan Rio tidak dibangun sebagai romansa klise. Hubungan mereka penuh jeda, jarak, dan konflik batin. Psikologi relasi modern melihat cinta sebagai proses negosiasi identitas. Erich Fromm dalam The Art of Loving (1956) menyebut cinta sebagai praktik kesadaran, bukan sekadar emosi. Novel ini menunjukkan cinta sebagai kerja batin. Cinta bukan pelarian, tetapi pertemuan dua luka. Maika belajar batas. Rio belajar empati. Hubungan mereka tumbuh melalui kegagalan kecil yang jujur.
Dalam konteks sosial, novel ini berbicara tentang generasi yang hidup di bawah tekanan performativitas. Media sosial membentuk ilusi kebahagiaan konstan. Kompas, dalam artikel “Generasi Cemas dan Budaya Performa” (Kompas, 12 Oktober 2023), menyoroti meningkatnya kecemasan generasi muda urban. Maika adalah representasi naratif dari data itu. Ia hidup dalam budaya tampil baik, tetapi rapuh secara batin. Novel ini tidak menghakimi, tetapi memotret. Ia tidak menyederhanakan, tetapi mengurai.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Student Hidjo, Seruan Kesetaraan di Balik Alur yang Datar
RESENSI BUKU: Korpus Uterus, Peran Perempuan, dan Misi Penyelamatan
RESENSI BUKU: David Van Reybrouck dan Orang-orang Biasa di Panggung Sejarah Indonesia
Hidup seperti Maika
Struktur alur maju-mundur memperkuat psikologi tokoh. Kilas balik bukan sekadar teknik naratif, tetapi strategi makna. Trauma masa lalu hadir sebagai struktur batin, bukan sekadar memori. Dalam psikologi trauma modern, Bessel van der Kolk dalam The Body Keeps the Score (2014) menjelaskan trauma hidup dalam tubuh dan ingatan emosional. Maika dan Rio membawa masa lalu dalam cara berpikir mereka. Luka tidak hilang, hanya berubah bentuk. Novel ini menangkap dinamika itu secara halus.
Bahasa novel ini sederhana, tetapi reflektif. Pilihan diksi populer membuatnya mudah diakses. Ini penting dalam sastra populer urban. Pembaca tidak diajak mengagumi bahasa, tetapi mengalami cerita. Gaya ini sejalan dengan tren sastra populer kontemporer Indonesia. Narasi tidak elitis, tetapi intim. Bahasa menjadi jembatan, bukan dinding. Emosi terasa dekat, tidak berjarak.
Dalam kehidupan sehari-hari, banyak orang hidup seperti Maika. Mereka bekerja, berprestasi, dan berfungsi sosial. Namun di dalam, mereka kosong dan ragu. Fenomena ini dikenal sebagai functional depression. WHO dalam laporan Depression and Other Common Mental Disorders (2017) menyebut depresi fungsional sebagai masalah global. Novel ini tidak menyebut istilah klinis, tetapi menggambarkan gejalanya. Kesepian, kelelahan, dan kehilangan makna hadir diam-diam.
Posisi “tengah-tengah” juga menyangkut persoalan etika. Aristoteles dalam Nicomachean Ethics menyebut kebajikan sebagai jalan tengah. Tetapi jalan tengah bukan selalu aman secara psikologis. Maika hidup di tengah, tetapi tidak bahagia. Ini kritik halus terhadap mitos moderasi absolut. Tidak semua keseimbangan sehat. Kadang manusia perlu berpihak pada diri sendiri. Novel ini menyampaikan pesan itu tanpa slogan.
Relasi keluarga dalam novel ini memperkuat narasi luka struktural. Keluarga disfungsional membentuk identitas rapuh. Psikologi perkembangan melihat keluarga sebagai matriks kepribadian. John Bowlby dalam teori attachment menjelaskan ikatan awal membentuk relasi dewasa. Maika membawa luka attachment dalam relasi cintanya. Rio membawa trauma lain. Pertemuan mereka menjadi ruang penyembuhan bersama. Cinta hadir sebagai proses reparatif.
Kekuatan novel ini ada pada kejujuran emosional. Ia tidak menjanjikan solusi instan. Ia tidak menawarkan kebahagiaan instan. Ia menawarkan proses. Ini sejalan dengan realitas hidup modern. Hidup bukan soal jawaban, tetapi keberanian menghadapi pertanyaan. Novel ini mengajarkan keberanian itu dengan cara naratif, bukan moralistik.
Tengah-Tengah bukan sekadar novel romansa. Ia adalah refleksi sosial, psikologis, dan eksistensial. Ia berbicara tentang manusia yang sulit berpihak. Ia berbicara tentang hidup yang tidak hitam putih. Dalam dunia yang menuntut kepastian, novel ini merayakan ketidakpastian. Dalam budaya yang memuja kecepatan, novel ini memuliakan proses. Maika adalah kita semua dalam versi sunyi. Dan mungkin, itu sebabnya cerita ini terasa begitu dekat.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

