RESENSI BUKU: Kumpulan Cerpen Matinya Seorang Penari Telanjang
Seno Gumira Ajidarma menyuguhkan kisah kriminal yang diderita seorang penari telanjang. Mengingatkan pada kasus-kasus yang sering terjadi belakangan ini.
Penulis Riani Alya29 Maret 2026
BandungBergerak - Di ranah sastra Indonesia, nama Seno Gumira Ajidarma tidak luput dari tulisan sosial dan politik. Tulisannya tajam seolah ingin mengatakan bahwa ia bukan seseorang yang jinak pada kekuasaan. Dalam buku antologi cerpen berjudul “Matinya Seorang Penari Telanjang” yang terbit tahun 2000, Seno tidak hanya menyuguhkan kisah kriminal yang diderita seorang penari telanjang, ia menghadirkan cerita kelam relasi kuasa, moralitas publik, dan kemunafikan orang-orang yang hidup dalam kesenangan.
Di buku kumpulan cerpen ini Seno menceritakan sisi gelap kehidupan, relasi kuasa, dan kemunafikan sosial dengan latar belakang kehidupan lampau, dunia malam, ruang redaksi, sudut-sudut kota, hingga sebuah ruang yang menyembunyikan konflik moral.
Seno tidak menjelaskan secara jelas apakah penari tersebut seorang korban, korban eksploitasi, atau bahkan simbol terhadap sistem sosial yang kejam. Seno membiarkan para pembaca mendalami kisah kelam dan absurd yang dialami penari tersebut.
Matinya Seorang Penari Telanjang
Secara garis besar novel ini menceritakan kematian seorang penari telanjang bernama Silla yang ditemukan dengan tubuh terpotong-potong di dalam kantong kresek, ia dibunuh oleh dua orang manusia tak berwajah yang menjadi suruhan pacarnya atau istri dari pacarnya.
Dalam kisah pembunuhan ini, Seno menawarkan dua kemungkinan. Silla bisa saja dibunuh oleh sosok tak berwajah yang menjadi suruhan istri kekasihnya, yang cemburu setelah mengetahui perselingkuhan suaminya. Namun, kemungkinan lain menunjukkan bahwa kekasih Silla sendirilah yang merancang pembunuhan itu. Ia ingin menikahi sahabat Silla, lalu menciptakan skenario seolah-olah istrinyalah pelakunya, bahkan sampai membawa istrinya ke rumah sakit jiwa.
Kasus ini menjadi penyelidikan yang dilakukan oleh berbagai pihak, seperti aparat kepolisian, pengelola klub malam, pengusaha, dan orang-orang berkuasa. Namun sejak awal, penyelidikan ini tidak pernah jernih, setiap orang yang terlibat selalu mencampuri kasus ini dengan urusan pribadinya.
Media mulai memberitakan kasus ini, namun mereka hanya mencari sensasional, alih-alih fokus pada kasus kematian ini. Yang disorot media justru latar belakang korban, gaya hidup, pekerjaan, dan moralitas.
Selain cerpen “Matinya Seorang Penari Telanjang”, Seno juga mengangkat kisah lain
antara lain, matinya seorang jurnalis yang sedang mendalami kematian anggota pemerintahan, wanita yang punya masalah kejiwaan karena ditinggal mati oleh suaminya, salah satu kerabat yang sering berkunjung ke rumah-rumah, hingga perjalanan panjang seorang wanita yang tidak akan pernah sampai ke lokasi tujuannya.
Baca Juga: RESENSI BUKU: Teologi Negatif dan Mistisisme Kotor dalam Nabi Kesengsaraan
RESENSI BUKU: Ketika Kekerasan Seksual di Ruang Digital Merembet ke Fisik
Gaya Penulisan
Sesuai dengan gaya penulisan Seno, novel ini mengandung kritik sosial dengan sudut pandang dan gaya penulisan yang kadang dibuat tak terduga. Gaya tulisan yang dingin namun tajam dan menusuk digunakan untuk memperjelas relasi kuasa yang selama ini mendominasi.
Meskipun terdapat makna dalam setiap kata yang digunakan, gaya penulisan dibuat sederhana sehingga pembaca dapat dengan mudah menangkap apa yang ingin disampaikan. Seno menggunakan dialog dan situasi untuk menyampaikan kritik yang vulgar dan tajam, hal ini membuat pembaca ikut masuk kedalam ceritanya.
Struktur yang dibuat tidak sepenuhnya linear membentuk sisi investigatif, hal ini membuat pembaca ikut merasakan dalam mencari kebenaran satu per satu yang ditutupi oleh suatu kepentingan.
Bagi sebagian orang gaya penulisan yang dibuat intelektual dan simbolik mungkin sulit untuk dipahami, karakter yang muncul tidak selalu dibangun melalui kedalaman psikologis dan emosional, mereka tampil hanya sebagai representasi gagasan. Bagi sebagian orang yang suka akan konflik intens, novel ini mungkin akan terasa flat.
Namun hal itu yang menjadi kekuatan tulisan yang dibuat Seno, ia tidak meromantisasi tragedi yang ada, melainkan menggalinya hingga akar.
Relevansi dengan Hari Ini
Meski buku ini terbitan lama, namun isu yang disuguhkan tetap relevan dibaca saat ini. Isu mengenai perempuan yang menjadi korban kejahatan, bagaimana moral dianggap sebagai alat kebenaran, dan bagaimana kekuasaan bekerja dalam diam.
Dalam dunia sekarang, buku ini menunjukan siapa sebenarnya yang bersalah akan kematian seseorang, apakah korban karena minimnya moral yang dia miliki, atau suatu pihak yang mengorbankan dia untuk kepentingan pribadinya. Saat ini media juga turut andil dalam mengutamakan kepentingan suatu pihak untuk keuntungannya.
Matinya Seorang Penari telanjang bukan cerita sensualitas, ini adalah novel tentang kekuasaan, kemunafikan, dan matinya empati publik. Melalui cerita ini Seno menunjukan bahwa sastra menjadi alat kritis yang lebih lantang dari pidato politik.
Informasi Buku
Judul: Matinya Seorang Penari
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: Galang Press, Yogyakarta
Tanggal Terbit: 2000
ISBN: 979-9341-05-1
Halaman: 250.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

