Solidaritas dari Bandung untuk Andrie Yunus
Masyarakat sipil Bandung memantau proses hukum terhadap teror penyiraman air keras kepada Andrie Yunus melalui #KamiMataAndrie.
Penulis Virliya Putricantika16 Maret 2026
BandungBergerak - Teror penyiraman air keras terhadap aktivis hak asasi manusia Andrie Yunus mencerminkan ancaman yang dihadapi oleh masyarakat sipil yang aktif menyuarakan ketimpangan sosial. Kejahatan yang menimpa pegiat KontraS tersebut memicu gelombang solidaritas dari Bandung melalui diskusi publik di Kedai Jante, Bandung, Minggu, 15 Maret 2026.
Solidaritas untuk Andrie Yunus datang dari berbagai pihak, dari pendamping hukum, jurnalis, hingga mahasiswa. Serangan terhadap Andrie dinilai ancaman serius terhadap masyarakat sipil dan demokrasi yang bertujuan menimbulkan rasa takut. Namun, teror ini diharapkan tidak menimbulkan ketakutan untuk tetap bersuara.
“Aku pikir keberanian itu bukan tanpa rasa takut tapi justru keberanian itu adalah soal melawan rasa takut itu sendiri. Jadi kayak enggak apa-apa di-embrace rasa takutnya tapi menurutku ya justru itu yang harus dilawan,” cerita Cindy Veronica, mahasiswa semester akhir, selepas mengikuti diskusi.
Slogan #KamiMataAndrie menjadi sarana pemantauan masyarakat sipil terhadap dalam pengusutan kasus Andrie, bukan hanya sehari atau dua hari, tapi sampai keadilan ditegakkan.
“Kemarin polisi dengan mudah menangkap masyarakat sipil di aksi Agustus–September 2025. Jadi kita menunggu agar polisi mempraktikkan hal yang sama dalam kasus ini,” jelas Heri Pramono, Direktur LBH Bandung.
Meskipun begitu, pengalaman masa lalu tetap membayangi. Pembunuhan aktivis HAM Munir Said Thalib pada 2004 masih menyisakan tanda tanya besar. Aksi Kamisan yang rutin digelar hingga kali ke-900 pun tak didengar.
Hal itu menunjukkan bahwa memperkuat basis gerakan masyarakat sipil, meski kecil, merupakan tugas harian yang membutuhkan kerja berkelanjutan.
Baca Juga: Teror Air Keras terhadap Aktivis KontraS Andrie Yunus tak Menyurutkan Perjuangan HAM
KontraS Meminta Kapolri Mengevaluasi Kinerja Kepolisian Daerah Papua
Keberanian yang Diuji
Rekam jejak Andrie Yunus menunjukkan keberaniannya dalam mengkritik kebijakan pemerintah, seperti rapat RUU TNI di hotel mewah tahun lalu. Peristiwa penyiraman air keras pada malam 12 Maret 2026 terjadi setelah Andrie menjadi narasumber podcast yang membahas remiliterisasi. Pelaku di lapangan terlihat di rekaman CCTV, namun penelusuran aktor intelektual memerlukan lebih dari sekadar bukti digital.
Heri Pramono menambahkan, refleksi kritis terhadap kejahatan terhadap masyarakat sipil tidak berhenti pada benar atau tidaknya bukti. Publik mengetahui banyak kemungkinan, dan masyarakat sipil dari berbagai latar belakang perlu memperkuat solidaritas untuk memantau dan mendorong penegakan keadilan.
Di sisi lain, berkaca dari kasus-kasus bernuansa pelanggaran HAM lainnya di Indonesia, pengungkapan kasus kerap membentur dinding.
“Akan ada banyak pertimbangan politik dalam mengungkap kasus ini,” refleksi Iqbal Lazuardi, Ketua AJI Bandung, saat diskusi.
Sementara itu, Aprilia Sekar, mahasiswa semester enam dan peserta sekolah hak asasi manusia untuk mahasiswa (Sehama), mengatakan agar masyarakat sipil terus bersuara dan bersolidaritas.
“Karena pemerintah sekarang tuh benci kalau tau masyarakat hari ini bisa bersolidaritas” jelas Aprilia.
Pernyataan Sikap Koalisi Bandung Melawan
Koalisi solidaritas Bandung termasuk LBH Bandung, AJI Bandung, Kertas Pulih, dan kelompok lain, menyampaikan sikap resmi mereka:
- Mengusut tuntas kasus yang menimpa Andrie Yunus.
- Memastikan negara serius dalam mengungkap kasus Andrie Yunus.
- Menghentikan segala bentuk represi terhadap warga negara.
- Menghormati secara penuh hak warga negara atas kebebasan berpendapat dan berekspresi.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

