Jalan Para Pemudik Lebaran: Perang Tiket, Puluhan Jam di Jalan, dan Waktu Libur yang Sempit
Kisah Taufik dan Wiwid menggambarkan perjuangan perantau di Bandung yang memilih mudik meski harus menghadapi rintangan.
Penulis Adi Marsiela21 Maret 2026
BandungBergerak - Taufik Fathurahman, seorang mahasiswa Universitas Sali Al-Aitaam, sudah empat tahun merantau di Bandung. Setiap tahunnya, ia merasakan dilema yang sama menjelang Lebaran: mudik atau tidak. Meski banyak kerabat di Bandung, kampung halaman di Banten selalu memanggilnya.
Namun, perjalanan panjang dengan segala tantangannya membuat Taufik sering kali meragukan apakah ini keputusan yang tepat. Di musim mudik tahun lalu, ia mengalami perang tiket, siapa cepat dia dapat. Hal tersebut membuat para pemudik harus berebut.
"Sampai terminal pun kita harus rebutan kursi sama yang antre. Sistemnya tuh enggak pakai sistem tiketing kalau saya tuh jadi siapa yang masuk ke bus itu, itu otomatis sudah dapat jatah satu tiket," kata Taufik saat ditemui BandungBergerak di kediamannya di Bojongsoang, Kab. Bandung, Selasa 3 Maret 2026.
Perjalanan dari Bandung ke Banten tidak singkat. Selain harga tiket yang tinggi, sistem transportasi yang tidak teratur kerap membuat perjalanan semakin menantang.
Taufik sering harus menunggu berjam-jam di terminal hanya untuk mendapatkan kursi yang kosong. Terkadang, ia harus melewatkan tiga bus yang penuh sebelum akhirnya bisa berangkat.
Tak jarang, biaya tambahan untuk bagasi yang tidak sesuai prosedur juga menjadi beban tambahan. Biasanya mereka mengenakan tarif 5.000 rupiah sampai 10.000 rupiah per bagasi.
Bagi Taufik, perjalanan ini tidak hanya soal jarak, tetapi juga soal biaya. Sekali berangkat, perjalanan Taufik dari Bandung ke Banten dapat menghabiskan uang 200 ribu rupiah.
Ongkos tersebut sangat memberatkan bagi mahasiswa tanpa penghasilan tetap seperti Taufik. Untuk menutupi biaya tersebut, ia mengandalkan pekerjaan freelance yang tak menentu, yang terkadang cukup, namun sering kali juga tidak cukup.
Selain itu, waktu yang harus ditempuh Taufik untuk sampai ke Banten memakan waktu sekitar 9-12 jam, sedangkan waktu libur yang ia dapatkan sangat terbatas.
"Tidak memungkinkan berlama-lama di rumah sih, karena setelah H+3 lebaran ada acara lagi yang harus cepat-cepat kembali ke Bandung," ucapnya.
Namun, meski menghadapi segala kesulitan ini, Taufik tetap memutuskan untuk mudik setiap tahun.
Kerinduan akan keluarga selalu memanggilnya pulang, meski waktunya terbatas dan perjalanan penuh tantangan. Dalam setiap perjalanan mudik, ada lebih dari sekadar tujuan fisik—ada harapan untuk bertemu keluarga setelah sekian lama.
Mudik di Bandung memang bukan hanya masalah jarak atau biaya, tetapi juga melibatkan aspek sosial dan emosional yang mendalam. Berdasarkan data dari Dishub Jabar, sekitar 2,5 hingga 3 juta orang dari wilayah Bandung Raya diperkirakan akan melakukan perjalanan mudik saat Lebaran. Jumlah yang sangat besar ini menggambarkan betapa pentingnya momen mudik bagi warga Bandung yang sebagian besar adalah perantau.
Bandung Raya, dengan jumlah penduduk mencapai 8,9 juta jiwa, menjadi kota yang penuh dinamika. Sebagai kota metropolitan terbesar kedua setelah Jakarta, tingkat urbanisasi di Bandung sangat tinggi. Berdasarkan data BPS, kepadatan penduduk di Bandung pada 2024 diperkirakan lebih dari 15.000 jiwa per kilometer persegi.
Angka ini menunjukkan bagaimana Bandung menjadi pusat ekonomi dan pendidikan, namun juga menghadapi tantangan terkait dengan transportasi, kemacetan, dan tingginya biaya hidup.
Selain Taufik, ada juga Wiwid Rahmadani, seorang perantau yang memilih mudik menggunakan program mudik gratis pemerintah. Meskipun biaya yang lebih terjangkau, Wiwid harus menghadapi prosedur yang rumit, termasuk harus berkumpul di Jakarta, meskipun ia tinggal di Bandung.
"Kalau kita misal di luar Pulau Jawa pun kayak yang paling jauhnya kayak Kalimantan atau Sulawesi gitu. Dia tetap harus ke Jakarta dulu buat ikutan mudik gratis itu," ujar Wiwid kepada BandungBergerak via daring, Selasa 3 Maret 2025.
Meskipun demikian, bagi Wiwid, mudik menggunakan biaya sendiri memberi fleksibilitas yang lebih besar meski biayanya jauh lebih mahal, dengan tiket pesawat Jakarta-Padang mencapai sekitar 1,6 juta rupiah sekali jalan.
"Nah, itu persiapan dana, persiapan waktunya juga kita harus mengatur waktu kayak kita liburnya kapan, bisa ngambil tiketnya kapan, habis pulang kapan, terus balik ke sininya lagi kapan. Itu sih yang harus dipertimbangin buat mudik," kata Wiwid.
Wiwid bisa saja memilih memilih jalur darat. Namun, perjalanan dengan bus bisa memakan waktu lebih dari 30 jam, jauh lebih lama dibandingkan dengan jalur udara. Waktu tempuh yang lama ini diperparah oleh kemacetan yang sering terjadi di sepanjang rute mudik.
Ongkos pun tidak murah. Wiwid harus menabung jauh-jauh hari untuk biaya perjalanan.
“Nabungnya udah dari 6 bulan sebelumnya. Jadi kita udah ada estimasi buat nabungnya berapa gitu-gitu," tutur Wiwid.
Selain itu, waktu libur yang terbatas akibat jadwal kuliah menjadi kendala besar. Meskipun perjalanan dan waktu yang terbatas begitu menguras tenaga, kerinduan untuk bertemu keluarga tetap menjadi alasan utama baginya untuk terus melanjutkan perjalanan.
Wiwid mengakui bahwa meski sudah melewati perjalanan panjang, waktu singkat yang ada di kampung halaman tetap terasa kurang untuk melepas rindu. "Pastinya enggak cukup ya waktu segitu. Cuma ya mau gimana lagi, kayak pas kuliah juga harus ngikutin jadwal," keluhnya
Baca Juga: Mengelola THR di Tengah Euforia Belanja Lebaran
Puasa, Sakral, dan Komersial
Kemacetan di Jalur Mudik
Kemacetan menjadi kendala utama bagi para pemudik jalur darat, seperti yang pernah dirasakan Taufik dan Wiwid. Sebagai gambaran, Kementerian Perhubungan melalui Badan Kebijakan Transportasi (BKT) mencatat, potensi pergerakan masyarakat selama Lebaran 2025 mencapai 146,48 juta jiwa, atau sekitar 52 persen dari total penduduk Indonesia.
Berdasarkan survei tersebut, Jawa Barat menjadi daerah asal perjalanan terbanyak, dengan 30,9 juta orang (21,1 persenDiikuti Jawa Timur dengan 26,4 juta orang (18 persen), Jawa Tengah 23,3 juta orang (15,9 persen), Banten 7,9 juta orang (5,4 persen) dan DKI Jakarta 6,7 juta orang (4,6 persen).
Untuk tujuan perjalanan, Jawa Tengah menjadi yang terbanyak dengan 36,6 juta orang (25 persen), diikuti Jawa Timur 27,4 juta orang (18,7 persen), Jawa Barat 22,1 juta orang (15,1 persen), Yogyakarta 9,4 juta orang (6,4 persen), dan Sumatera Utara 6,2 juta orang (4,2 persen).
Mudah atau sulit, bagi perantau seperti Taufik dan Wiwid, mudik tetap menjadi momen yang penuh harapan dan kerinduan. Meskipun waktu libur yang singkat dan biaya yang tinggi, mereka tetap memilih untuk kembali ke kampung halaman, karena bagi mereka, mudik lebih dari sekadar perjalanan.
***
*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

