• Narasi
  • Bupati Cianjur yang Terhormat, Sampai Kapan Jalan Kami Gelap dan Berlubang?

Bupati Cianjur yang Terhormat, Sampai Kapan Jalan Kami Gelap dan Berlubang?

Berkendara di Cianjur kayak main tebak-tebakan, tapi ini nyawa taruhannya.

Reza Khoerul Iman

Pengelola Data dan Media Sosial BandungBergerak, bergiat di Komunitas Aleut

Kondisi Jalan Raya Bandung-Cianjur di kawasan Selajambe, Kabupaten Cianjur yang minim penerangan pada malam hari, Selasa, 17 Maret 2026. (Foto: Reza Khoerul Iman/BandungBergerak)

18 Maret 2026


BandungBergerak – Bapak Bupati dan Wakil Bupati Cianjur yang terhormat, pernahkah Anda melaju di jalan gelap tanpa penerangan memadai yang membuat setiap meter perjalanan terasa seperti laga mempertaruhkan nyawa? Ngeri, Pak! Saya mengalami itu di Cianjur, dan saya akan menceritakannya.

Dalam perjalanan mudik lebaran pada Selasa, 17 Maret 2026 kemarin, dari sekitar Rajamandala hingga rumah saya di Gekbrong, lebih dari separuh jalannya minim penerangan. Hanya lampu-lampu dari kendaraan, rumah, dan pedagang-pedagang di pinggir jalan yang membantu menerangi.

Kengerian berkendara di petang dan malam hari semakin bertambah ketika hujan turun, Pak. Pandangan seluruhnya menjadi serba terbatas: lampu kendaraan tak cukup menembus gelap, sementara jalanan di depan berlubang dan tak rata. Bapak tahu itu?

Di beberapa ruas jalan, saya harus ekstra hati-hati. Kadang menghindar ke kiri atau ke kanan. Kadang justru masuk ke lubang yang tidak terlihat sama sekali. Dan setelahnya, hanya ada dua kemungkinan: selamat atau celaka.

Begitulah cara saya berkendara di wilayah yang Bapak pimpin. Kayak main tebak-tebakan, tapi ini nyawa taruhannya.

Tidak Sendirian

Ironisnya, Pak, situasi ini bukan hal baru. Tiap pulang dari Bandung, saya selalu merasakan kengerian yang sama. Dan saya yakin, saya tidak merasakan ini sendirian. Banyak warga Cianjur yang malahan setiap hari harus menembus gelap gulita ketika melintasi jalan, tanpa jaminan keselamatan yang seharusnya menjadi hak mereka.

Saya periksa di kolom komentar akun media sosial Instagram Bapak Bupati Mohammad Wahyu dan Wakil Bupati Ramzi di @wahyuramziofficial, lha ternyata benar bahwa persoalan jalan gelap dan berlubang sudah berkali-kali dikeluhkan warga. Ada konten rekap satu tahun kepemimpinan Bapak-bapak berdua yang diklaim telah menciptakan Cianjur era baru dengan salah satu cirinya berupa infrastruktur membaik, tapi justru dibanjiri komentar tak sedap. Warga sepertinya tidak percaya klaim-klaim Anda.

"Jalan baru lingkar dugika Rawabango tah Pak ancur pisan jalanna, seeur barolong, seeur oge nu cilaka. Mana PJU na teu harurung paroek kacida"

"Jalan ti Panembong dugi Cipanas perhatoskeun Pak, komo ari wengi sok paroek"

"Jalan Rancagoong dugika Warungkondang Gekbrong teu acan aya PJU na Pak"

Lebih miris lagi, di tengah keluhan-keluhan seperti ini, saya justru melihat Bapak Wakil Bupati Ramzi masih disibukkan dengan aktivitas sebagai presenter di program televisi nasional. Meskipun dinilai tidak menyalahi aturan, tapi apakah bapak rela terus-terusan asyik melenggang di layar kaca nan gemerlap semetara rakyat setiap hari bertaruh nyawa di jalan raya yang gelap dan berlubang?

Atau jangan-jangan memang tidak pernah ada niat dari Bapak-bapak untuk mengubah keadaan ini! Jangan-jangan kami kepedean aja menaruh harapan pada orang nomor satu dan nomor dua di kabupaten kami!

Saya memeriksa pekerjaan konstruksi terkait penerangan jalan di laman Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kabupaten Cianjur dengan kata kunci “PJU”, “penerangan”, dan “lampu”. Bapak-bapak tahu: pekerjaan terakhir terkait pemeliharaan atau pengadaan lampu jalan tercatat pada 2025, itu pun berupa pengadaan kap lampu khas Gentur! Program yang benar-benar terkait pengadaan dan pemasangan penerangan jalan terakhir kali digulirkan pada 2019 dengan nilai pagu Rp600.000.000 dan Harga Perkiraan Sendiri (HPS) Rp599.520.861. Artinya, sudah lewat hampir tujuh tahun yang lalu!

Saya, keluarga, dan warga Cianjur kian muak: kondisi itu seolah dibiarkan menjadi bagian dari keseharian kami!

Baca Juga: Tidak Pulang di Musim Lebaran, Ketika Biaya Mudik Terlalu Tinggi untuk Perantau
Mudik sebagai Dongeng Pembangunan

Bukan Keberuntungan

Saya bersyukur, Pak, masih bisa menulis keluhan ini karena artinya saya masih diberi keselamatan setelah melewati berkilo-kilo meter jalan yang gelap dan berlubang. Bagaimana dengan warga lain yang tidak beruntung: mereka yang terkecoh oleh gelap atau terperosok oleh lubang di jalan? Keluhan atau bahkan makian mereka mungkin tidak sempat terucap.

Pak Bupati dan Wakil Bupati, berkendara di jalan raya seharusnya tidak menjadi pertaruhan hidup dan mati; ia adalah aktivitas harian yang dibutuhkan warga untuk belajar, bekerja, atau sekadar bermain mengurangi tekanan hidup dalam kondisi ekonomi yang berat hari-hari ini. Sampai di rumah mungkin adalah prestasi tiap hari, tapi semestinya bukan tentang undian siapa beruntung dan siapa tidak. Pemerintah, yang kami gaji dengan uang pajak, seharusnya melakukan segala upaya terbaik untuk menjamin keselamatan setiap warga. Itulah hakikat kerja Bapak-bapak semua: melayani publik.

Sudah sekian kali mudik lebaran ke Cianjur, dan saya masih harus main undian untuk bisa sampai di rumah. Tahun depan jangan lagi deh. Ngeri, Pak, ngeri!

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//