• Buku
  • RESENSI BUKU: Membaca Catatan Harian Cindo, Merangkul Melankolia Identitas

RESENSI BUKU: Membaca Catatan Harian Cindo, Merangkul Melankolia Identitas

Menulis mengubah rasa kehilangan yang menghancurkan menjadi kekuatan kreatif yang mampu memulihkan keutuhan jiwa.

Buku Catatan Harian Cindo karya Anne Shakka diterbitkan oleh Penerbit Semut Api. (Foto: Kurniasih)

Penulis Kurniasih25 Maret 2026


BandungBergerak – Tidak banyak kawan baik saya yang mempunyai garis keturunan Tionghoa, meski tidak bisa juga dikatakan sedikit. Entah dari lingkungan kerja ataupun komunitas, selalu ada kawan keturunan Tionghoa yang saya kenal baik. Namun mengetahui lapisan kegelisahan atas dasar ras, bahkan ketakutan di dalamnya, jarang benar-benar saya dapatkan.

Anne Shakka punya cerita berbeda. Riset S2-nya yang berjudul Cilik-Cilik Cina: Autoetnografi Politik Identitas (2019) adalah eksplorasi metode autoetnografis tentang identitas kecinaan yang dalam konteks Indonesia tidaklah sederhana. Pemilihan diksi Cina alih-alih Tionghoa memuat kaitan erat dengan sejarah, politik, dan rasa hormat; ia merupakan upaya reklamasi istilah. Penulis sengaja menggunakan kata tersebut untuk menyoroti kembali luka sejarah atau identitas yang selama ini dianggap sensitif.

Pada tahun 2026 ini, saya membaca buku lain Anne yang masih berbicara tentang kecinaan tetapi dengan gaya dan eksplorasi yang berbeda: Catatan Harian Cindo (2026) oleh Penerbit Semut Api. Di sini, dia sering kali terasa seperti bercermin pada retakan identitas yang selama ini disembunyikan.

 Memegang Kendali Makna

Bagi banyak orang, narasi tentang etnisitas dan sejarah keluarga bukan sekadar kumpulan cerita masa lalu, melainkan sebuah ruang di mana "kehilangan yang belum selesai" bersemayam. Kehilangan ini tidak selalu berupa kematian fisik, melainkan juga akar budaya yang tercerabut, bahasa ibu yang terputus, atau rasa asing di tanah kelahiran sendiri: sebuah kekosongan yang dalam psikoanalisis Freud disebut sebagai benih dari melankolia.

Melankolia berbeda dengan duka biasa karena ia bersifat patologis: subjek tidak benar-benar memahami apa yang hilang dari dalam dirinya. Ketika seseorang tumbuh dalam bayang-bayang trauma sejarah atau stigma identitas, ego mereka cenderung "menelan" objek yang hilang tersebut, menjadikannya bagian dari diri yang terus-menerus diserang oleh rasa bersalah atau kesedihan yang tak jelas ujung pangkalnya. Melankolia ini membuat masa lalu tetap hidup sebagai hantu yang gentayangan dalam keseharian, membuat seseorang merasa terasing dari identitasnya sendiri tanpa tahu cara untuk merelakannya.

Nah, dalam Catatan Harian Cindo, Anne–seperti ia tuliskan secara eksplisit juga pada esai berjudul Imlek, Angpau, dan Kue Keranjang: Sebuah Usaha Mencari Bahasa Baru dalam Membicarakan Kecinaan–mengakui bahwa menulis sebagai korban diskriminasi, penindasan negara dan seputar pembantaian sungguh melelahkan. Momen ketika ketakutan sebagai korban itu bisa terlampaui ketika dia menghadiri gerakan Gejayan Memanggil dan berbaur dengan gelombang aneka ragam masyarakat, membuatnya merasa kegelisahan tentang kecinaan sudah selesai.

Namun uniknya, dalam esai yang sama Anne menceritakan bagaimana kultur kecinaan seperti perayaan imlek dan permainan barongsai justru melanda sebuah keluarga Jawa yang sama sekali tidak terafiliasi dengan keturunan kecinaan, yaitu keluarga kawannya sendiri. Sementara Anne, yang jelas-jelas memiliki garis keturunan Cina, malah sama sekali asing dengan perayaan-perayaan tersebut.

Proses penulisan buku ini saya yakin tidak mudah, dan itu tergambar dalam pembabakan tematik babnya. Tema Identitas dan Narasi Tentangnya terdiri dari 10 esai dengan judul-judul yang unik, seperti “(Masih) Menjadi Cina” atau misalnya “Becoming Not (Only) Chinese”. Bersama dua tema lain: Media dan Representasi serta Politik dan Aktivisme, ketiganya memuat beragam kelindan dengan kecinaan mulai dari diri hingga lanskap global.

Menulis, dalam konteks ini, hadir sebagai sebuah tindakan bedah jiwa untuk mengeluarkan "objek yang tertelan" tersebut ke permukaan; ia adalah proses memberikan bentuk pada sesuatu yang sebelumnya tidak berwujud. Dengan menyusun kata demi kata, seseorang dipaksa untuk mengidentifikasi rasa sakit yang anonim. Kehilangan yang tadinya merupakan kabut tebal dalam batin mulai menipis saat ia dipindahkan ke atas kertas, berubah dari emosi yang melumpuhkan menjadi narasi yang bisa dibaca dan dipahami secara sadar.

Proses transformasi ini oleh Freud disebut sebagai working through. Melalui tulisan, kita tidak lagi sekadar menjadi korban pasif dari sejarah yang kelam, tetapi menjadi narator yang memegang kendali atas maknanya. Menulis tentang diskriminasi, tradisi yang memudar, atau konflik batin sebagai seorang “Cindo” adalah upaya untuk memecah keheningan yang selama ini memelihara melankolia. Kertas menjadi ruang aman di mana kemarahan dan kesedihan yang biasanya diarahkan ke dalam diri sendiri dialirkan keluar, mengubah penghakiman menjadi refleksi yang lebih empati terhadap diri sendiri.

Menulis adalah jembatan yang menghubungkan duka masa lalu dengan harapan masa depan. Melalui tulisan, kehilangan yang belum selesai itu tidak lantas hilang, tetapi mendapatkan tempatnya yang layak dalam sejarah pribadi kita. Ia bukan lagi menjadi beban yang menyesakkan, melainkan bagian dari identitas yang telah diakui. Seperti sebuah catatan harian yang jujur, menulis membantu kita berdamai dengan melankolia, mengubah rasa kehilangan yang menghancurkan menjadi kekuatan kreatif yang mampu memulihkan keutuhan jiwa.

Metode menulis yang berupaya berdialog dengan ego serta muatannya, menurut saya, merupakan jalan sunyi yang dibutuhkan oleh orang-orang yang berupaya untuk merelakan apa yang sudah terjadi tanpa harus lupa pada sejarah.

Baca Juga: Mereguk Festival Ngopi Sepuluh Ewu Cingkir Banyuwangi
Jejak Kolonialisme dan Kekayaan Budaya Lokal dalam Exhuma

Merayakan Pencarian

Pada akhirnya, Catatan Harian Cindo bukan sekadar memoar tentang etnisitas, melainkan sebuah peta navigasi bagi siapa pun yang sedang tersesat dalam labirin identitasnya sendiri. Melalui keberanian Anne Shakka untuk mengeja kembali luka dan kegelisahan, melankolia yang selama ini menjadi hantu pendiam berhasil dijinakkan sebagai sebuah narasi yang berdaya.

Menulis ternyata bukan hanya cara paling elegan untuk mengingat, tetapi juga untuk "melepaskan" tanpa harus kehilangan akar. Ia membuktikan bahwa identitas tidak harus menjadi penjara yang memisahkan kita, melainkan bisa menjadi ruang tamu yang terbuka bagi kemanusiaan yang lebih luas, di mana label "Cina" atau "Jawa" melebur dalam empati yang sama.

Perjalanan menuju "ego" yang utuh memanglah sebuah jalan sunyi, tapi jalan tersebut tidak lagi gelap berkat tulisan yang jujur. Buku Catatan Harian Cindo mengajak kita semua—baik yang membawa beban sejarah keturunan maupun yang sekadar menjadi saksi—untuk berhenti memandang identitas sebagai retakan yang memalukan. Sebaliknya, retakan itulah tempat cahaya kesadaran masuk. Dengan mengakui kehilangan dan merayakan pencarian, kita tidak lagi sekadar menjadi korban dari sejarah yang statis, melainkan arsitek dari masa depan yang lebih inklusif, di mana setiap orang berhak memiliki rumah dalam bahasanya sendiri.

Informasi Buku

Judul: Catatan Harian Cindo

Penulis: Anne Shakka

Tahun: 2026

Penerbit: Semut Api, Yogyakarta

 

 

 

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Tri Joko Her Riadi

COMMENTS

image
//