• Opini
  • Menonton Persib Bermain, Mengingat Mimpi yang Tanggal

Menonton Persib Bermain, Mengingat Mimpi yang Tanggal

Anak-anak daerah terhalang mimpi bermain untuk Persib, entah karena himpitan ekonomi, hilangnya tempat bermain, atau posisi yang diambil pemain asing.

Tofan Aditya

Pengelola Komunitas dan Program BandungBergerak.id, dapat dihubungi di [email protected]

Konvoi bobotoh membuat macet total Jalan Pajajaran, Kota Bandung, saat menyambut kedatangan juara BRI Liga 1 2023/2024 Persib Bandung, 1 Juni 2024. (Foto: Prima Mulia/BandungBergerak)

27 Maret 2026


BandungBergerakSaya tidak ingat kapan terakhir kali duduk menyaksikan 90 menit penuh Persib bermain. Sebulan lalu? Setahun lalu? Tiga tahun lalu? Entahlah, sudah lama sekali rasanya. Kalau tak salah ingat, kali terakhir menonton pun bukan karena betul-betul ingin. Kalau bukan karena diseret teman dekat dan menjaga circle pergaulan, saya pasti enggan.

Berjarak dan dingin. Itulah dua kata yang paling pas untuk menggambarkan hubungan saya dengan Persib belakangan ini. Jujur saja, kita menjadi asing.

Padahal, ketika masih bocah ingusan, Persib—dan sepak bola—adalah satu-satunya semesta saya. Jika ditanya apa kekhawatiran terbesar dalam hidup saat itu, saya akan mantap menjawab: mampukah Maung Bandung mencuri poin penuh di kandang lawan? Atau, bagaimana caranya melipir dari setumpuk PR sekolah demi menguasai remot TV dan menonton laga tandang?

Bagi anak kampung seperti saya, sepak bola menjadi tempat pelarian dari kakunya tembok pendidikan, juga dari dunia menjemukan yang terlalu sering dikuasai dan dirusak oleh orang dewasa. Di depan layar kaca, kita bebas untuk bersorak dan menangis, tertawa dan memaki. Sungguh masa-masa yang menyenangkan.

Romansa Biru dan Cerita Masa Lalu

Saya ingat betul jersei pertama saya. Kaos berwarna biru kebanggaan dengan harga kisaran 30 ribu rupiah. Ibu belikan di pasar tumpah Pemkot Cimahi pada Minggu pagi. Di punggungnya tertera angka 15 dengan nama Zaenal Arief. Baju itu selalu menemani saya bertempur di lapangan berdebu (yang gawangnya terbuat dari sandal) dan gang-gang sempit, utamanya ketika menghadapi partai hidup-mati melawan anak-anak kampung sebelah. Rasanya magis, seolah ketajaman dan gairah "Abo" mencetak gol menular langsung ke diri saya.

Mengingat Persib di rentang waktu antara pertengahan 2000-an hingga 2015 adalah masa bagaimana kesetiaan terus diuji. Masih lekat dalam ingatan bagaimana di waktu-waktu tersebut kita melewati musim-musim yang keras. Puasa gelar serupa kemarau panjang tak berkesudahan. Bongkar-pasang pemain dan pelatih terus dilakukan. Kendati begitu, dukungan tak pernah surut, tribun stadion tidak pernah suwung. Harap terus dinanti, tak pernah mati.

Hingga akhirnya, saat itu tiba. Persib melawan Persipura di Final ISL 2014. Saya tidak akan menceritakan detail pertandingannya. Yang jelas, laga berlangsung mendebarkan. Napas kita semua tertahan melihat adu balas gol, sampai akhirnya laga diseret menuju adu penalti. Ketika tendangan Achmad Jufriyanto merobek jala gawang, tangis saya pecah bersama jutaan pasang mata lainnya. Penantian hampir dua dekade tuntas. Keesokan harinya, jalanan kota Bandung lumpuh total. Lautan biru tumpah menyambut kepulangan para pahlawan lapangan.

Euforia itu berlanjut setahun setelahnya di Final Piala Presiden 2015. Puluhan ribu Bobotoh membirukan Jakarta, Gelora Bung Karno seperti markas sendiri. Persib memenangkan pertandingan dengan skor telak 2-0. Ketika Atep, anak kebanggaan Cianjur itu mengangkat piala tinggi-tinggi di tengah gemuruh stadion, rasanya saya dan seluruh masyarakat tatar Sunda ikut terangkat harkat dan martabatnya.

Di luar dua momen tersebut, masih banyak sebetulnya cerita pengalaman batin saya sebagai suporter bola. Saya merasa sepak bola ini, klub ini, benar-benar bilik bersama. Diperjuangkan oleh nama-nama yang keringatnya kita kenal betul baunya. Ya, Persib saat itu.

Kini, ketika saya kembali duduk di depan layar menyimak Persib bertanding, ada sesuatu yang berbeda, yang patah. Lapangan hijaunya mungkin masih sama, gemuruh penontonnya juga tak jauh beda. Hanya saja, peluit wasit dan teriakan pemain kini lebih sering kalah nyaring oleh suara tenggat waktu, notifikasi pekerjaan, dan derak lelah tulang keseharian.

Dan kalau boleh jujur, bukan cuma beban kedewasaan yang membuat saya berjarak. Ada keterasingan lain yang muncul saat melihat susunan daftar pemain. Lebih dari separuh skuad inti diisi nama-nama asing. Semua penyerang Persib adalah asing. Beberapa pemain memang sudah dinaturalisasi, tapi tetap saja asing!

Kita tak bisa pungkiri, sepak bola modern—yang tak lebih dari industri hiburan yang dikendalikan korporasi—menuntut kemenangan instan yang pragmatis. Manajemen klub beroperasi dengan logika Return on Investment. Kita paham, deretan pemain asing (termasuk pemain naturalisasi) merupakan jalan pintas meraih trofi dan menjaga nilai komersial. Apakah kita senang saat Persib menang? Tentu saja! Namun di balik hiruk-pikuk selebrasi itu, rasanya kita kehilangan satu hal yang fundamental, yakni identitas.

Saya merindukan era di mana kita bisa menatap ke tengah lapangan dan melihat cerminan diri kita sendiri dalam bentuk urakan tapi gigih. Saya rindu melihat Atep memakai ban kapten,  membawa aura ketenangan yang membuat kita percaya bahwa pertandingan akan berlangsung baik-baik saja. Saya rindu melihat Tantan, si "Kujang Lembang", berlari menyusur sayap dengan ngotot tak keruan, membawa serta mentalitas pantang menyerah serupa aspal jalanan Kota Kembang.

Memori saya juga selalu kembali pada Eka Ramdani, si "Ebol" yang berpostur mungil. Ketika bermain sebagai jenderal lapangan tengah, dia membuktikan kalau kecerdasan dan ketenangan anak daerah mampu mengatur ritme sebuah tim besar. Dan, jangan lupakan Hariono. Meski tidak lahir di tanah Pasundan, "Mas Har" adalah simbol kesetiaan. Ia memberikan darah, keringat, dan rambut gondrongnya untuk menjaga lini tengah tidak ditembus lawan.

Kita mengidolakan barisan pemain lokal ini bukan semata karena mereka bisa membawa kemenangan. Kita mengidolakan mereka karena mereka merepresentasikan diri kita di atas lapangan.

Baca Juga: Kontroversi Sponsor Persib Bandung
Laga Persib vs. Persija, Calo Tiket, dan Loyalitas yang Diperas

 

Tanggalnya Mimpi Menjadi Pemain Sepak Bola

Lantas jika saya begitu mencintai sepak bola, mengapa saya meninggalkannya?

Dulu, saya sempat bergabung dengan sebuah Sekolah Sepak Bola (SSB) semenjana di pinggiran kota. Bermodalkan sepatu pul murah, saya merawat angan-angan. Saya bermimpi suatu saat nama saya dielu-elukan oleh komentator di stadion, mengenakan jersei kebanggaan, dan bisa mencetak gol dengan selebrasi mencium logo di dada kiri. Saya ingin menjadi pemain betulan, bukan penonton belaka.

Namun, ketika saya mulai beranjak dewasa dan masa depan harus segera diputuskan, orang tua saya mewanti-wanti. "Udahlah, nggak usah mimpi ketinggian main bola. Nggak menjanjikan. Mau makan apa nanti? Mending fokus sekolah, jadi PNS saja. Biar hidup enak."

Saya tidak lekas menghakimi apa yang orang tua saya katakan dengan gegas, saya tahu mereka sebetulnya peduli. Sepak bola boleh saja asal dijadikan sebagai hobi, bukan pekerjaan, lanjutnya. Saya mengerti, memang kenyataannya bermain bola di negeri ini tidak bisa menjamin dapur tetap ngebul. Menembus tim utama Persib kelewat sulit kalau tidak ditunjang dengan modal finansial dan koneksi yang tak sedikit.

Mungkin, pengalaman saya hanyalah satu dari ribuan cerita serupa. Lapangan-lapangan tarkam berdebu dan sekolah sepak bola tidak pernah kekurangan nama-nama potensial untuk diasah. Saya lihat betul. Hanya saja, realitas di luar taktik lapangan yang membuatnya berhenti.

Kita bisa menengok bagaimana perampasan ruang hidup telah mencekik talenta lokal sejak di akar rumput. Bagaimana anak-anak ini bisa mengasah skill ketika lapangan-lapangan sepak bola perlahan digusur, disemen, dan disulap menjadi perumahan komersial atau ruko-ruko elite? Ruang bermain mereka direbut oleh negara dan mafia tanah. Sementara di saat yang sama, klub kebanggaan mereka lebih memilih menggelontorkan miliaran rupiah untuk mendatangkan striker dari Amerika Latin atau bek dari Eropa ketimbang repot-repot bersabar, menyemai, dan memanen bibit dari tanahnya sendiri.

Melihat anak daerah mengempaskan mimpinya bermain untuk Persib sungguh menyakitkan. Sepak bola kehilangan sisi puitisnya ketika ia berhenti menjadi tempat bagi anak-anak lokal untuk mengangkat derajat diri, keluarga, dan daerahnya. Saat mimpi itu kian mustahil dicapai—entah karena himpitan ekonomi, hilangnya tempat bermain, atau posisi yang diambil asing—Persib perlahan terdegradasi menjadi sekadar etalase hiburan berbayar. Ia bukan lagi keluarga besar. Ia tak lebih tontonan akhir pekan untuk melepas penat.

Menonton Persib bermain hari ini, bagi saya, menjadi perayaan ingatan sekaligus peratapan kehilangan. Tenang saja, saya masih akan berdiri dan bersorak untuk setiap gol, kemenangan, dan titel juara. Namun dalam diam, saya meratapi nama-nama asing di punggungnya, sambil menelan getir bahwa mimpi anak-anak kampung dan gang-gang sempit—termasuk mimpi saya sendiri puluhan tahun silam—mungkin memang sengaja dibuat tanggal, ditelan oleh kejamnya kehidupan dan pragmatisnya industri.

Semoga masih ada anak-anak yang bisa mewujudkan mimpi menjadi pemain Persib. Ya, semoga masih ada.

***

*Kawan-kawan dapat mengikuti kabar terkini dari BandungBergerak dengan bergabung di Saluran WhatsApp bit.ly/ChannelBB

Editor: Iman Herdiana

COMMENTS

image
//